Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

KH Hasyim Muzadi: Karakter Islam adalah Kelembutan

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, Jawa Barat KH Hasyim Muzadi menegaskan bahwa karakter Islam ada pada kelembutannya. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

KH Hasyim Muzadi: Karakter Islam adalah Kelembutan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi: Karakter Islam adalah Kelembutan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi: Karakter Islam adalah Kelembutan

“Karakter Islam terletak pada kelembutannya,” ujar Kiai Hasyim ketika menjadi narasumber Forum Bahtsul Masail Kongres Ke-17 Muslimat NU, Jumat (25/11) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

Forum Bahtsul Masail tersebut membahas tentang ujaran kebencian (hate speech) yang kian marak di dunia maya. Selain Kiai Hasyim, hadir juga sebagai narasumber Imam Besar Masjid Istiqlal, dan pakar IT Muhammad Bachir.

Sementara itu, KH Nasaruddin Umar menjelaskan beberapa ciri yang dapat dikategorikan dengan hate speech. "Ujaran kebencian itu adalah fitnah, menghasut dan penyebaran berita bohong," terangnya.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Pertama, imbuhnya, adalah penghinaan. Kedua berbuat tidak menyenangkan itu bisa digugat baik itu tertulis di media ataupun secara langsung penyampaiannya.





Rekomendasi kongres

Sidang Komisi Rekomendasi Kongres Ke-17 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan rekomendasi terkait maraknya ujaran kebencian atau hate speech terutama di media sosial, media tradisional, media online, dan kehidupan nyata.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selain ujaran kebencian, sidang yang berlangsung Jumat (25/11) malam di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta ini juga menelorkan rekomendasi terkait kekerasan seksual pada anak, NAPZA, kesenjangan ekonomi, ketahanan keluarga, bonus demografi, terorisme, kebijakan publik, dan penguatan internal kelembagaan.

Hate speech yang terbukti memunculkan kerasahan di tengah masyarakat disikapi secara serius oleh Muslimat NU. Rekomendasi terkait hate speech itu ditujukan kepada Polri dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kepada Polri, Muslimat NU merekomendasikan pertama, agar melakukan pengkajian yang lebih komprehensif terkait hate speech dalam rangka penyusunan kerangka regulasi yang mengatur secara khusus untuk menindak hate speech.?

“Di samping Surat Edaran Kapolri No SE/b/X/2015 Tentang Penanganan Ujaran Kebencian (hate speech),” ujar Pimpinan Sidang Komisi Rekomendasi Hj Machsanah A.

Kedua, mempromosikan pendidikan publik tentang anti-hate speech atas dasar apapun, serta bahaya dan konsekuensi yang ditimbulkannya bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

“Ketiga, memberikan informasi yang cukup kepada masyarakat tentang dampak hate speech agar tidak saling menghujat, memfitnah, dan perilaku tidak baik lainnya,” lanjut Machsanah.

Kepada MUI, Muslimat NU juga merekomendasikan agar membuat pedoman atau acuan yang lebih komprehensif tentang paham dan aliran tertentu.

“Misalnya mengkafirkan dan menganggap sesat terhadap suatu aliran,” tandas Machsanah.

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hikmah, Habib, Sholawat VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 14 Februari 2018

Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil

Surabaya, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Aktivitas solidaritas untuk aktivis anti-tambang Salim Kancil dan Tosan terus bergulir, Jumat (2/10) lalu, sedikitnya 100 massa dari berbagai ormas yang ada di Surabaya mengadakan doa bersama dan istighotsah di Taman Apsari, tepat di depan gedung Grahadi Surabaya Jawa Timur.

Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)
Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)

Lintas Ormas di Surabaya Gelar Istighotsah untuk Salim Kancil

Aliansi ini terdiri dari para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kota Surabaya, PCNU, Walhi Jawa Timur, Pusat Hak Asasi Manusia, Gusdurian, Ecoton, CRIS Foundation, CMARS, LPBP Waduk Depat, Kolektif Mata Rantai, dan LBH Kota Surabaya.

KH Saiful Halim yang memimpin acara tersebut menyatakan, acara ini digelar guna mendoakan almarhum Salim Kancil agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan yang Maha Esa dan kebenaran yang telah diperjuangkannya tidak sia-sia. “Kami juga berdoa untuk masyarakat yang berada di sepanjang pantai pesisir selatan agar tidak ada yang menjadi ‘Salim’ berikutnya, sebagai korban konflik sosial,” harap Kiai Saiful.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menurut dia, pembukaan penambangan pasir besi di sepanjang pesisir selatan dari Banyuwangi hingga Lumajang menuai protes dari masyarakat, sehingga pemerintah kabupaten setempat harus tegas menolak penambangan yang menjadi pemicu konflik horisontal antarmasyarakat.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ketua PC IPNU Surabaya, Agus Setiawan mengatakan, tragedi berdarah di Desa Selok Awar-awar Lumajang bisa saja terjadi di wilayah-wilayah lain, apabila tidak ada langkah preventif sejak dini. “Karena masyarakat sudah tegas menolak penambangan pasir di sana,” tegasnya.

Sementara itu Direktur CMARS, Inoeng, dalam orasinya menyatakan, kasus terbunuhnya aktivis anti-tambang Salim Kancil harus menjadi pelajaran semua pihak dan agar pemerintah tidak gegabah untuk menerbitkan izin penambangan yang sudah jelas ditolak oleh masyarakat setempat, harus ada upaya evaluasi dalam pembangunan daerah.

"Kami mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus pembunuhan dan penganiayaan terhadap Salim Kancil dan Tosan yang menjadi korban kekerasan para penguasa desa setempat. Tangkap dan adili aktor intelektual dibalik terbunuhnya Salim Kancil," tegasnya.

Sebelumnya, aksi serupa juga telah banyak diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia, termasuk melalui penandatangan petisi di situs elektronik change.org. Petisi yang menuntut pengusutan tuntas kasus Salim Kencil tersebut ditujukan kepada Kapolri, Pemkab Lumajang, LPSK, Komnas HAM, dan KPAI. (Najih/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Habib, Pondok Pesantren VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 06 Februari 2018

RSI Siti Hajar Sidoarjo Adakan Seminar Sukses Dapatkan Buah Hati

Sidoarjo, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo mengadakan seminar awam bertajuk sukses mendapatkan buah hati. Acara tersebut diadakan di ruang pertemuan Darun Naim Lt. 3 dan diikuti sekitar puluhan peserta, terdiri dari pasien dan masyarakat umum.

 

Seminar diisi narasumber profesional di bidangnya. Di antaranya dokter spesialis kandungan dr Raz Fides Umi yang menjelaskan kondisi pra kehamilan dan dokter spesialis andrologi dr Harry Pantjoro, menjelaskan tentang  faktor yang berpengaruh dan penanganan gangguan infertilitas pria.

RSI Siti Hajar Sidoarjo Adakan Seminar Sukses Dapatkan Buah Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Sidoarjo Adakan Seminar Sukses Dapatkan Buah Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Sidoarjo Adakan Seminar Sukses Dapatkan Buah Hati

 

Panitia seminar awam dr Singgih Adi Saputra mengatakan, seminar sukses mendapatkan buah hati ini membahas tentang berbagai hal. Dari mulai konseling, bagaimana cara mendapatkan keturunan atau buah hati, pengertian hamil, bagaimana kehamilan yang sehat dan risiko kehamilan.

 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Para peserta diharapkan aktif dan bertanya tentang dirinya sendiri atau bagaimana KB yang benar,” kata Singgih, Sabtu (13/1), Juga bagaimana mendapatkan anak kembar, apakah mitos dan fakta seputar kehamilan. Semua diungkap di sini, lanjutnya.

 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ia menjelaskan, seminar memberikan pemahaman seputar sukses mendapatkan buah hati. Juga merupakan rangkaian kegiatan Harlah RSI Siti Hajar Sidoarjo ke-55, sekaligus mengenalkan kepada masyarakat luas bahwa RSI Siti Hajar Sidoarjo juga mempunyai spesialis kandungan (obgyn) yang mumpuni dan spesialis andrologi.

 

"Biasanya orang-orang itu konseling andrologi langsung ke Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya, tapi di sini masyarakat bisa bertanya langsung kepada kedua narasumber,” tandasnya. Karena rumah sakit kebanggaan nahdliyin di Sidoarjo ini juga mempunyai spesialis kandungan dan andrologi yang juga mumpuni.

 

Banyaknya orang menikah, lanjut Singgih, keberadaan Siti Hajar juga diharapkan menjadi rumah sakit BKIA dan berusaha memunculkan kembali, serta menarik animo masyarakat. Karena saat ini masih banyak pasangan menikah. Selama masa itu, banyak pasangan yang ingin mengetahui bagaimana cara berhubungan, kehamilan yang sehat, juga menjaga kehamilan yang benar.

 

Diharapkan, dengan seminar itu, peserta mendapatkan ilmu tentang kehamilan, obgyn, kewanitaan dan ilmu tentang cara mendapatkan buah hati yang sehat.

 

dr Raz Fidez Umi menjelaskan, panduan sukses mendapatkan buah hati di antaranya kesiapan fisik, mental, pemeriksaan kesehatan, skrining generik, gaya hidup sehat, nutrisi yang tepat, hingga pengetahuan kesehatan reproduksi,

 

"Gaya hidup sehat meliputi olahraga, juga tidak merokok,” jelasnya. Nutrisi yang tepat dapat dilakukan dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna. Secara keseluruhan tubuh harus sehat. Nutrisi yang ada di tubuh paling penting. Karena ketika ada pertemuan sperma dengan ovum itu bisa tumbuh, lanjutnya.

 

Sementara dr Harry Pantjoro menyebutkan, andrologi ilmu yang mempelajari tentang masalah infertilitas pria atau kesuburan pria, seksualitas, hormon pria (ageing), penuaan (andropause), Keluarga Berencana atau KB pria.

 

"Sperma itu sangat penting, karena dari sperma akan menentukan genetik laki-laki atau perempuan. Di usia 40 tahun ke atas sperma kurang bagus. Dari itu, diharapkan pasangan konsutasi di usia 35 tahun," tandasnya. (Moh Kholidun/Ibnu Nawawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Sholawat, Quote, Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 30 Januari 2018

Empat Unit Kerja Kelitbangan di Lingkungan Badan Litbang dan Diklat

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan tahun 2016 mempunyai capaian target yang dikategorisasi menjadi penelitian dan pengembangan. 

Empat Unit Kerja Kelitbangan di Lingkungan Badan Litbang dan Diklat (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Unit Kerja Kelitbangan di Lingkungan Badan Litbang dan Diklat (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Unit Kerja Kelitbangan di Lingkungan Badan Litbang dan Diklat

Adapun kegiatan Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan yang ditargetkan jumlah penelitian sebanyak 29 laporan dalam tahun 2016 tercapai 100%, dan terdistribusi pada 4 (empat) unit kerja kelitbangan di lingkungan Badan Litbang dan Diklat.

Penelitian pada Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan menghasilkan Penelitian Best Practice Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Penelitian Indek Pendidikan Agama di SMA, Penelitian Jaringan Pendidikan di Pondok Pesantren, Penelitian Pendidikan Keagamaan Non Formal Berbasis Komunitas, Penelitian Raudlatul Athfal (RA) Unggulan. 

Berikutnya adalah Penelitian Evaluasi Kurikulum 2013 Mata Pelajaran PAI di Sekolah dan Madrasah, Penelitian Evaluasi Program Beasiswa Pendidikan Santri Berprestasi (PBSB) di Lingkungan Kementerian Agama, Penelitian Pemanfaatan Bantuan Pendidikan Agama dan Keagamaan di Madrasah Aliyah, Penelitian Pengelolaan Guru Madrasah. 

Selain itu juga Penelitian Isu-Isu Aktual Pendidikan Agama dan Keagamaan, dan Penelitian Aktivitas Mahasiswa Indonesia di Cairo, Mesir (Dalam dan Luar Kampus). 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sementara pada Balai Litbang Agama Jakarta terdapat Penelitian Kesiapan LPTK-PTKIN Dalam Menyiapkan Calon Pendidik Profesional di Bagian Barat Indonesia, Penelitian Model Pendidikan Agama Pada SMP Berbasis Pesantren, Penelitian Pengembangan Tipologi Madrasah Aliyah di Indonesia Bagian Barat (Studi Pengembangan MA Akademik dan Madrasah Keagamaan). 

Selanjutnya Penelitian Kebutuhan Pendidikan Keagamaan Islam Non Formal dan Informal, dan Penelitian Isu-isu Aktual Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan.

Penelitian pada Balai Litbang Agama Semarang menghasilkan Penelitian “Transmisi Ajaran Kelompok Keagamaan dalam Konstelasi Kebangsaan”, Penelitian "Indeks Kepuasan Guru Terhadap Kinerja Pengawas Madrasah di Jawa Tengah”, Penelitian “Indeks Pendidikan Multikultural Pada Sekolah Umum di Indonesia”, Penelitian “Pelaksanaan Model Pendidikan di Pondok Pesantren (Studi Pergeseran Pondok Pesantren Salafiyah menjadi Pondok Pesantren Modern di DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah)”. 

Kemudian Penelitian Insidental (Kasus), terdiri dari: Layanan Pendidikan Agama Bagi Siswa Minoritas Pada SMA/K di Kabupaten Gunung Kidul, dan Pendidikan Agama Dalam Kebinekaan Pada SMA Kristen 1 Salatiga.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ada pun Penelitian pada Balai Litbang Agama Makasar meliputi Pemetaan Kapasitas Pesantren di Kalimantan Timur, Indeks Kualitas Madrasah Aliyah, Eksperimental Tentang Pembinaan Karakter, Sistem Pembelajaran Sekolah Islam Terpadu, Internalisasi Pendidikan Agama dalam Keluarga di Berbagai Komunitas (Pendidikan Agama Keluara Pengrajin). 

Selanjutnya Pespektif Kebijakan dan Problemalika Pendidikan Agama dan Keagamaan, Respon Warga Sekolah terhadap Radikalisme, Sinergisitas Kinerja Guru PAI dan Pengawas dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran pasa Sekolah Menegah Pertama, dan Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan (Kompetitf). (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta, Habib, Pemurnian Aqidah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 08 Januari 2018

Apa Perbedaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi?

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Sebagian besar masyarakat masih belum menbedakan antara kontra radikalisasi dan deradikalisasi. Tiap kali dilangsungkan pertemuan antara pemerintah dengan para pemangku kepentingan yang komitmen memerangi tindakan radikalisasi, nyaris selalu disalahkan.

Demikian penegasan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamidin, saat menjadi pembicara dalam "Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya Bersama Media, OKP, dan Ormas"di hotel Millenium, Jakarta, Kamis (23/3).

Apa Perbedaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Perbedaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Perbedaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi?

"Seperti workshop kali ini, terdapat kelompok yang menyatakan bukan bagian dari deradikalisasi," tegas Hamidin.

Diterangkan, deradikalisasi lebih pada pencegahan lewat pendekatan kekeluargaan, sementara kontra radikalisasi berupa mengajak semua stakeholder guna memerangi radikalisme.

"Seperti yang kita lakukan saat ini, termasuk kontra radikalisasi. Sebab, kita sepakat dan sama-sama berkomitmen memerangi radikalisasi,"paparnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sementara itu, deradikalisasi tercermin dari upayanya melakukan pendekatan kepada pelaku terorisme yang dibui. Polanya berupa pendekatan kekeluargaan dan bersentuhan langsung dengna pelaku radikalisasi.

"Saya sering bermakmum kepada para pelaku teroris yang di penjara. Saya jadi makmum saat shalat berjamaah dengan mereka. Selanjutnya, saya sisipkan pencerahan supaya mereka tidak lagi terbelenggu pada paham radikalisme yang berujung pada tindakan terorisme," ujar Hamidin.

Hamidin menegaskan, perkembangan teknologi mengarah pada nilai positif dan negatif. Media, OKP, dan ormas harus berperan besar dalam mencegah terjadinya terorisme.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dalam kesempatan itu, Hamidin mengungkap banyak hal berkenaan dengan terorisme yang digalang ISIS. Mulai dari perencanaan strategisnya, polarisasi organisasinya, sistem kaderisasinya, dan manajemen konflik dan isu yang dilakukan secara massif.

Hamidin berharap media dan masyarakat berperan positif terhadap mantan pelaku terorisme yang sudah bertobat. Karena bila diasingkan, potensi untuk kembali jadi teroris tergolong besar. (Hairul Anam/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Habib, PonPes, Doa VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 05 Januari 2018

Etika Islam dalam Bermedsos

Oleh Muhammad Afiq Zahara



Dalam antologi puisi panjangnya, In The Mecca, Gwendolyn Brooks (1917-2000 M) mengatakan: “One reason that cats are happier than people is that they have no newspapers—satu alasan kenapa kucing lebih bahagia dari manusia adalah, bahwa mereka tidak memiliki koran (sekarang, media online).”

Etika Islam dalam Bermedsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Etika Islam dalam Bermedsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Etika Islam dalam Bermedsos

Ya, kucing hidup tanpa perlu mengkhawatirkan fitnah dan hoaks. Mereka tidak perlu memahami besarnya pengaruh fitnah dan hoaks atas pribadi seseorang dan lingkungan tertentu; mereka tidak perlu memahami kejamnya pembunuhan karakter dan ujaran kebencian. Asal perut kenyang, mereka bahagia. Sederhana saja.

Sekarang ini hoaks telah dibudidayakan seperti hewan ternak, tersebar dimana-mana dan disebarkan oleh siapa saja. Daya kritis manusia dalam memahami berita seakan mati rasa. Apapun yang dibaca, jika sesuai dengan selera, dimakan mentah-mentah dan dipercaya. Jika tidak sesuai dengan selera, langsung divonis sebagai berita bohong.

Ini masalah serius. Melihat berita dengan ‘selera’ telah menghalangi terciptanya kultur tabayyun (konfirmasi informasi) di masyarakat kita. Pemilahan berita tidak berdasarkan fakta jurnalistik. Selama berita itu sesuai dengan ‘selera’, kita akan menyebarkannya kemana-mana, melalui media sosial (medsos) yang telah hampir dipakai seluruh penduduk Indonesia.Lalu, bagaimana agama menyikapi hal ini?

Sikap agama jelas, tidak ada ruang untuk kebohongan (hoaks) dalam agama. Anehnya, ada orang yang mengatakan, penyebaran hoaks adalah bentuk kepasrahan kepada Allah, dalam arti berjuang di jalanNya. Ada pula yang menganggap wajar penambahan sebuah berita, apalagi jika berhubungan dengan agama. Ini adalah hal yang benar-benar aneh.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dalam tradisi Islam, terdapat disiplin ilmu musthalah al-hadîts. Saya tidak akan membicarakan panjang lebarilmu tersebut. Saya hanya ingin mengatakan, dalam memahami berita umat Islam seharusnya mengacu pada ilmu tersebut. Tidak mudah mengambil kesimpulan dan harus melakukan kroscek kritis dari mulai sumber berita, siapa yang memberitakannya sampai proses pengikisan penambahan berita bohong yang menyertainya.

Imam al-Syâfi’i dalam al-Risâlah menyebutnya sebagai al-kadzib al-khafi (kebohongan yang halus), yaitu “dzalika al-hadîts ‘an man lâ yu’rafu sidquhu—menyebarkan hadits dari orang yang tidak diketahui kejujurannya.” (Muhammad bin Idrîs al-Syâfi’i, al-Risâlah, hlm 401).?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Artinya, sebelum benar-benar mengetahui kejujuran orang yang memberitakannya secara langsung dan meneliti secara kritis sumber berita tersebut, kita sebaiknya menahan diri untuk menyebarkannya. Jika berita itu benar, kita tidak mendapatkan dosa. Jika berita itu bohong, kita telah turut serta dalam menyebarkan fitnah.

Di era berkemajuan ini, media telah membawa zaman ke arah ‘mediakrasi’, sehingga propaganda disebut pengetahuan dan gosip disebut berita. Setiap hari kita disuguhi berita-berita semacam itu. Efeknya, cara pandang kita terhadap dunia perlahan-lahan bergeser, dari justifikasi logis-kritis menjadi justifikasi propagandis, meski bisa dikatakan tidak semua orang termakan oleh hal itu.

Bagaimana dengan penyebaran berita hoaks sebagai bentuk syiar agama? Jawabannya sama, ketika berkaitan dengan fitnah (pembunuhan karakter) agama tidak memberikan ruang, dengan alasan apapun, “al-fitnah asyaddu min al-qatl—fitnah lebih jahat dari pembunuhan.”

Bahkan, jika kita perluas kajiannya, Nabi Ibrahim pernah berbohong ketika diajak kaumnya untuk menyembah berhala, Ia mengatakan(Q.S. al-Shaffat [37]: 89): “fa qâla innî saqîm—sesungguhnya aku sakit. ”Kebohongan itu menjadi penghalang dirinya memberi syafaat di hari akhir. Ketika sekumpulan orang mendatanginya untuk meminta syafaat, Ia menjawab:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sungguh Tuhanku, hari ini, telah murka (kepadaku) dengan kemurkaan yang belum ada misal sebelumnya, sesungguhnya aku telah berdusta tiga kali...” (H.R. Imam Bukhari).

Perbedaannya adalah, tidak ada unsur fitnah ataupun pembunuhan karakter dalam kebohongan Nabi Ibrahim. Tidak ada pribadi yang dirugikan. Meski demikian, Allah tetap menganggapnya sebagai dusta, sehingga Nabi Ibrahim tidak memiliki hak memberi syafaat kepada umatnya, seperti Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Manusia pilihan yang tidak pernah berbohong sekalipun.

Lah kita, tidak memiliki kemaksuman seperti Nabi Ibrahim, tidak memiliki amal ibadah seperti Nabi Ibrahim. Tanpa pertimbangan yang matang, dengan berani menyebarkan berita bohong atau membuatnya. Andai amal Nabi Ibrahim adalah gunung, satu kerikilnya saja masih terlalu besar untuk dibandingkan dengan amal yang kita kumpulkan sampai mati.

Kita harus berhati-hati dalam membaca berita. Lakukan critical analysis (al-tahlîl al-naqdlî, analisa kritis), penyelusuran sumber (takhrîj dan kritik sanad) dan evaluasi konten berita (kritik matan). Jangan dimakan mentah-mentah dan disebarkan begitu saja. Pembacaan kritis ini sangat diperlukan agar terhindar dari budidaya fitnah dalam bentuk berita. Sebaik-baik berita yang kita baca, lebih baik berita yang kita dengar dan lihat secara langsung, sami’nâ wa atha’nâ.

Saya menutupnya dengan perkataan Mark Twain (1835-1910): “If you don’t read the newspaper, you’re uninformed. If you read the newspaper, you’re mis-informed—jika kau tidak membaca koran (sekarang media online), kau kurang informasi. Jika kau membacanya, kau mendapatkan informasi yang salah. ”Semoga kita bisa menghindarinya. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Sunnah, Internasional, Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

NU Lampung Tengah Kembangkan Biogas di 52 Titik

Lampung Tengah, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Lembaga Pengembangan Pertanian Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Lampung Tengah menggelar rapat koordinasi sebagai tindak lanjut hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Rembug Nasional LPPNU se-Indonesia beberapa waktu lalu di Jakarta.

?

Rapat koordinasi yang digelar di Lantai II Aula PCNU Lampung Tengah, Jalan Lintas Sumatera-Proklamator Raya No 134 Seputih Jaya, Gunung Sugih, Lampung Tengah, Ahad (19/6), ini dalam rangka penguatan program-program kerja unggulan.

NU Lampung Tengah Kembangkan Biogas di 52 Titik (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Lampung Tengah Kembangkan Biogas di 52 Titik (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Lampung Tengah Kembangkan Biogas di 52 Titik

Arwani Adiyanto selaku Ketua LPP PCNU Lampung Tengah berharap, selain kuat dan tertib secara internal organisasi, kehadiran LPP PCNU juga bisa memberikan warna yang nyata. “Khususnya dalam rangka pemberdayaan dan pengembangan di bidang pertanian untuk kesejahteraan dan kualitas hidup warga Nahdliyyin di Lampung Tengah yang tersebar dalam 28 kecamatan ini," imbuhnya.

?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Mudasir selaku Wakil Ketua LPP PCNU Lampung Tengah menambahkan, saat ini sudah ada 52 titik program biogas lokasi se-Lampung Tengah yang didampingi LPP PCNU. Biogas merupakan hasil pemanfaatan dari limbah di sekitar menjadi energi terbarukan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

?

"Pengembangan Biogas inilah salah satu program kerja unggulan dari PC LPPNU Lampung Tengah masa khidmah 2012-2017. Untuk mendukung itu semua kami mengundang para stakeholder (pemangku kepentingan) di antaranya para pelaku usaha BMT atau koperasi untuk saling bekerja sama," imbuh pria yang juga anggota DPRD Lampung Tengah ini.

?

Rapat kordinasi dihadiri Kiai Slamet Anwar (pengasuh pesantren Tri Bhakti Al Ikhlas Seputih Agung), dan perwakilan dari mitra usaha LPP PCNU Lampung Tengah seperti BMT Laa Roibaa, BMT Aswaja, BMT Assaadah, BMT Subur Makmur, dan BMT Arrizquna. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth News, Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 24 Desember 2017

PBNU Sediakan 2,1 Triliun untuk Koperasi Nahdliyin

Jombang, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Untuk membangun kewirausahaan dan koperasi warga NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) telah menyediakan dana sebesar Rp 2,1 Triliun untuk kredit mikro.

PBNU Sediakan 2,1 Triliun untuk Koperasi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sediakan 2,1 Triliun untuk Koperasi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sediakan 2,1 Triliun untuk Koperasi Nahdliyin

Anggaran ini akan dikucurkan untuk anggota koperasi warga NU tanpa agunan. "Ada modal sebesar Rp 2, 1 Triliun yang bakal dikucurkan untuk wirausahan muda melalui koperasi.? Koperasi itu menyalurkan kredit kepada nasabah tanpa agunan,” terang Ketua HPN Abdul Wahid pada pelatihan kewirausahaan di Aula Wahab Hasbullah Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Rabu (25/6).

Gerakan Kewirausahaan Nasional yang dibuka Menteri Koperasi dan UKM, Syarief Hasan ini diikuti sekitar 1000 usahan muda dari Fatayat NU, Muslimat NU, Gerakan Pemuda Ansor, dan kalangan pesantren.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dengan gerakan ini, lanjut Wahid, HPN menargetkan muncul sebanyak 5 koperasi dari wirausahawan Nahdliyin. ”Kita juga melakukan penandatanganan Deklarasi Gerakan Ekonomi Saudagar NU untuk berkoperasi yang dilakukan perwakilan dari Jawa, perwakilan Luar Jawa dan PCINU Hongkong,” tandasnya.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang hadir dalam kesempatan tersebut juga memberi motivasi kepada warga NU untuk mengembangkan wirausaha, khususnya di dunia perdagangan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Berdagang bukan hal baru bagi kalangan NU dan Islam, bahkan para ulama pendiri NU telah memulai dengan organisasi Nahdlatut Tujjar sekitar tahun 1918,” ujarnya.

Sementara itu Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan mengatakan, Indonesia menjadi incaran negara lain sebagai pasar perdagangan. Karenanya, pihaknya meminta kalangan muda untuk bisa menjadi wirausaha mandiri.

“Kita harus bisa mengusai pasar sendiri, karena potensinya sangat besar, jangan sampai hanya di kuasai Negara lain," tegasnya saat membuka pelatihan Gerakan Kewirausahaan Nasional.

Syarief mengatakan, Indonesia masih kekurangan wirausahawan. Dari jumlah penduduk yang ada seharusnya muncul pengusaha sebanyak 2 persen. “Hari ini kita masih 1,6 persen pengusaha. Ini yang menjadi perhatian karena (untuk) menurunkan kemiskinan rakyat Indonesia," imbuhnya.

Meski demikian, ia mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan yang cukup tajam. Perkapita pada tahun ini sudah jauh lebih tinggi dari tahun 2004 lalu. Sekarang sudah Rp 40 juta/pertahun dan 2004 lalu hanya 10 juta/tahun,” pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 12 Desember 2017

Ziarah Syekh Tarekat Tijaniyah di Casablanca

Syekh Maulana Abu Ali Ahsan al Ba’qili bin Muhammad bin Muhammad bin Umar bin Mas’ud bin Ibrahim bin Abdullah bin Ali dilahirkan? pada awal abad ke-13 H di Desa Ikidhi-Maroko. Nasabnya berujung kepada sayyidina Hasan as Sibthi bin sayyidina Ali dan sayyidah Fatima az Zahra binti Rasulillah SAW.

Sedangkan Ba’qili merupakan nama suku yang berada di daerah selatan Maroko. Di usianya yang masih kecil (8 tahun) ayahnya meninggal dunia, mulai saat itulah saudara-saudaranya yang mencukupi keperluan beliau sehari-hari. Pada usia 14 tahun ? telah hafal Al-Quran, yang kemudian melanjutkan menimba ilmu kepada para ulama di berbagai daerah Negara Matahari Terbenam tersebut, diantaranya di Qurawiyin-Fes, Medina Qasr Kabir, Medina Settat dan lainnya.

Pada tahun 1321, beliau memulai mempelajari ilmu Tasawuf, mulanya di bawah bimbingan Syekh Ali Masfayubi, dan kemudian berguru kepada Syekh al Qutb Husen al Ifrani (W. 1328 H) penulis kitab “Tiryaqu al Qulub min Adawai al Ghaflah wa ad Dzunub”, dari sinilah beliau memperoleh ijazah dan legalisasi sebagai Mursyid tarekat Tijaniyah secara mutlak dengan silsilah sanad keemasan yaitu Sidi Ahsan Ba’qili dari Syekh al Qutb Husen al Ifrani dari al Qutb Syekh Arobi bin Sayih (W. 1309 H) dari Syekh Ali at Tamasini (W. 1260 H) dari Sayyidina Maulana al Qutb Syekh Ahmad bin Muhammad at Tijani RA. dari Rasulullah SAW.

Ziarah Syekh Tarekat Tijaniyah di Casablanca (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarah Syekh Tarekat Tijaniyah di Casablanca (Sumber Gambar : Nu Online)

Ziarah Syekh Tarekat Tijaniyah di Casablanca

Kisahnya bertemu dengan Rasulullah diabadikan dalam kitabnya as Syurbu as Shafi, yang menceritakan bahwa kewaliannya berada di bawah telapak kaki Baginda Nabi SAW dan akan memperoleh derajat yang tinggi sebagai seorang Dai. Dituturkan pula oleh Syekh Muhammad bin Ahmad Alfa Hasyim al Futiy bahwasannya pada musim haji ia bertemu dengan Sidi Ahsan Ba’qili, seorang yang Alim, ahli Fiqih, ahli Hadits pada zamannya yang hafal 200 ribu hadits beserta sanadnya dan penulis produktif diberbagai disiplin ilmu.

Akhirnya dia pun kagum dan terpukau dengan beberapa pertanyaan yang dijawab Sidi Ahsan Ba’qili, diantaranya ialah Zawiyah itu seharusnya diatas maupun di bawahnya tidak ada bangunan lagi untuk tempat tinggal. Zawiyah adalah semacam musholla tempat mengamalkan tarekat. Demikianlah cerita keponakannya Syekh Umar Al-Futiy penulis kitab “Rimah” atau Rimahu Hizbi ar Rahim ala Nuhuri Hizbi ar Rajim.

Sidi Ahsan Ba’qili juga andil besar dalam penyebaran ajaran tarekat Tijaniyah, terbukti 1200 orang lebih yang telah beliau talqin. Disamping itu pula turut andil melalui dakwah dan tulisannya tentang hukum, keutamaan dan rahasia tarekat ini. Hasil buah tangannya mencapai puluhan kitab, namun yang paling masyhur di kalangan Tijaniyah ialah Iraah dan Sauqu al Asrar ila Hadrati as Syahidi as Sattar.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Adapun penerus perjuangannya yang kesohor antara lain ialah Syekh Ahmad bin Ali al Kasyti (W. 1374 H), putranya Sidi Muhammad Habib Abu Aqil (W. 1995 M), putranya Sidi Muhammad Kabir Ba’qili, Syekh Abdur Rahman Inezgane (W.1403 H), Syekh Muhammad Arobi bin Mahdi (yang berkunjung ke Indonesia pada bulan September 2013 lalu) dan Cucunya Ustadzah Zainab Abu Aqil yang eksistensi pola pikirnya bernafaskan al Ba’qili? dan lain-lain.

Pada tahun 1367 H, Beliau mulai terserang penyakit Hepatitis, yang ujungnya Beliau menghembuskan nafas terakhir untuk menghadap kehadirat Sang Khaliq pada malam jumat 10 Syawal 1368 H. Dahulu dimakamkan di daerah Oulad Ziyan, namun -subhanallah- ketika dipindah ke pemakaman Ghufron - Casablanca mayatnya utuh walaupun sudah bertahun-tahun.

Demikianlah biografi sang Mursyid yang peranannya sebagai Khalifah tarekat Tijaniyah. Semoga bermanfaat dan semoga para pembaca mendapat barokah dari ilmu beliau.

?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ahmad Shohibul Muttaqin, alumni Universitas Ibn Tofail Kenitra – Maroko, mantan ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Maroko 2011/2012, serta penganut tarekat Tijaniyah.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Quote, Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 07 Desember 2017

Fatayat NU Guntur Belajar Memproduksi Minuman Kesehatan

Demak,VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Sebagai upaya meningkatkan ketrampilan dan permberdayaan anggota, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah (Jateng) menyelenggarakan pelatihan ketrampilan membuat minuman kesehatan. Pelatihan pembuatan minuman kesehatan berupa Jahe Instant itu dilaksanakan di Ranting Fatayat Blerong, Kecamatan Guntur, dengan 50 peserta utusan dari 20 ranting se-kecamatan setempat, Ahad ( 2/11).

Instruktur pelatihan yang juga pengurus PAC Guntur Bidang Pendidikan dan Pengkaderan, Thuba Fitrina kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth mengatakan, pelatihan dilaksanakan untuk memberikan motivasi dan ketrampilan pada anggota dalam berkarya guna peningkatan kesejahteraan guna membantu ekonomi keluarganya.

Fatayat NU Guntur Belajar Memproduksi Minuman Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Guntur Belajar Memproduksi Minuman Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Guntur Belajar Memproduksi Minuman Kesehatan

“Tujuan kami memberikan pelatihan ketrampilan pada anggota membuat minuman kesehatan Jahe Instant ini selain menambah wawasan juga sebagai motivasi bagi anggota agar mereka mampu mendukung ekonomi keluarga,” tutur Thuba

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Putri Ketua Lajnah Falakiyah PBNU ini menambahkan, pelatihan semacam ini akan dikembangkan sesuai program dari PAC Fatayat NU Guntur yang telah memiliki Kelompok Usaha Bersama (KUB) Yasmin yang menurut rencana akan dikembangkan ke Ranting-ranting se- Kecamatan Guntur.

“Fatayat NU sudah memliki KUB, kami menginginkan one ranting one product. Dari pelatihan tadi Ranting Sidokumpul yang sudah siap memproduksi Jahe Instant, warga NU harus mencoba minuman asli buatan Fatayat untuk meningkatkan kesehatannya,” tambahnya. (A. Shiddiq Sugiarto/Mahbib Khoiron)

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Habib, Pendidikan, PonPes VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 02 Desember 2017

Membaca Surat Yasin dengan Maksud Tertentu

Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril sebagai perantar. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang akan terjaga dan terawat sampai hari kiamat.

Begitu pula bagi yang membacanya senantiasa akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, tercatat pahala setiap hurufnya berupa satu kebaikan dan satu kebaikan itu akan dilipatgandakan dengan sepuluh pahala. Sebagaimana hadits Rasulullah saw, dari Ibnu Mas’ud ra.,

من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها

Membaca Surat Yasin dengan Maksud Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Surat Yasin dengan Maksud Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Surat Yasin dengan Maksud Tertentu

Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh (pahala).

Oleh karena itulah al-Qur’an bagi orang muslim selalu dibacakan dalam berbagai kondisi, baik ketika senang maupun sedih. Mulai dari walimatul arusy (pernikahan), walimatul hitan, walimatus safar, akhirus sanah, seminar, pelantikan, hingga prosesi pemakaman, selalu disertakan bacaan al-Qur’an di dalamnya. Hanya saja ayat al-Qur’an yang dibaca berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan konteksnya. Tentunya pembacaan ini memiliki tujuan dan maksud tertentu. Selain menjadi sumber pahala dan dianggap ibadah, membaca ayat al-Qur’an juga memiliki berberapa faedah. Seperti membaca surat Yasin yang memiliki fadhilah terkabulnya segala hajat dan tertolaknya marabahaya.

Apakah membaca surat Yasin dengan tujuan seperti itu tidak termasuk dalam kategori riya, yang menghilangkan nilai keikhlasan? Karena membacanya dengan harapan terpenuhinya kebutuhan, atau terhindarnya balak-marabahaya, bukan karena Allah semata.

Dalam Kitab Qurratul ‘Ain Fatawa Isma’il Zain diterangkan bahwa hal tersebut boleh dilakukan dan tidak dianggap riya, selama tidak melanggar aturan-aturan syara’ dan bukan pekerjaan ma’syiat.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

يجوز أن تقرأ سورة يس بنية قضاء حاجة من جلب نفع أو دفع ضر سواء كان المقصود دينيا أو دنيويا مالم يكن معصية ولا يكون ذلك رياء

Boleh membaca surat Yasin dengan maksud dan tujuan tertentu, entah itu duniawi maupun ukhrowi selama tidak dalam hal maksiat, dan pembacaan itu tidak termasuk sebagai perbuatan riya’

Karena definisi riya’ sebenarnya adalah melakukan sesuatu bukan karena Allah Ta’ala tetapi karena makhluk ciptaan Allah swt, sedangkan bacaan Yasin mengharapkan pahala dari Allah swt. yang berupa berbagai fadhilah tersebut.

(Pen./Red. Ulil H)

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Makam, Nahdlatul Ulama, Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 28 November 2017

Terbang Genjring, Bertahan di Tengah Gempuran Seni Modern

Wonosobo, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Belasan orang-orang tua bakda Isya berkumpul di serambi Masjid Darussalam Wonoboyo, Temanggung, Jawa Tengah. Sekitar tujuh orang dari mereka tampak antusias menabuh terbang genjring. Sebagian lainnya kompak melantunkan syiir puji-pujian berbahasa Jawa. Rupanya malam itu mereka sedang latihan, mempersiapkan diri karena pada esok harinya, Ahad (13/3), akan tampil di panggung mengisi acara pembuka dalam suatu pengajian rutin yang dihelat selapan sekali.

Seni terbang genjring yang sudah puluhan tahun berjalan di Kecamatan Wonoboyo ini mempunyai karakteristik tersendiri dibanding seni rebana lainnya, seperti marawis atau hadrah. Instrumen musik yang dipakai sangat sederhana, hanya beberapa terbang yang pada tepinya terdapat piringan kecil logam, sehingga menghasilkan suara gemrincing. Tidak ada pelengkap atau peranti musik lainnya semisal bas, kecapi, apalagi orgen sebagaimana yang ada dalam seni rebana modern.

Terbang Genjring, Bertahan di Tengah Gempuran Seni Modern (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbang Genjring, Bertahan di Tengah Gempuran Seni Modern (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbang Genjring, Bertahan di Tengah Gempuran Seni Modern

Awalnya grup-grup seni terbang genjring ini acap tampil pada berbagai momentum pengajian atau didakan secara bergiliran di rumah anggota jamaah yang biasanya dirangkai dengan kegitana tahlilan atau mujahadahan. Lalu kerap memeriahkan acara-acara hajatan warga. Tetapi seiring mulai bermunculannya seni islami yang baru seperti hadrah dan rebana modern sejak tahun 2000-an, warga lebih memilih mengundang model seni rebana atau hadrah tersebut tiap kali mengadakan acara hajatan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Demikian juga kekhasan lain dijumpai dalam bacaan yang dilantunkan ketika mengiringi irama terbang. Selain bacaan berupa puji-pujian untuk Allah dan Nabi Muhammad, juga bacaan materi fiqih yang sudah disusun menjadi syair. Syair fiqih tersebut merupakan gubahan leluhur kiai desa setempat tempo dulu dan masih dibaca sampai sekarang.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Saat dikonfirmasi VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth, Sabtu (12/3), salah satu tokoh dan sesepuh Desa Wonoboyo, Suyono yang berusia sekitar 85 tahun menyatakan bahwa dulu saat dia masih muda, penggemar atau yang aktif dalam kegitan seni terbangan ini tidak hanya orang-orang tua saja sebagaimana sekarang, melainkan? segenap remaja dan pemuda juga ikut.

Menurutnya, tradisi seni tradisional terbang genjring ini sudah lama berjalan di Desa Wonoboyo, bahkan seingatnya saat dia masih kecil sekitar tahun 1940-an seni terbang genjring tersebut sudah ada.

Ketua grup terbang genjring Darussalam, Sabar, menyatakan dirinya pesimis akan masa depan atau adanya generasi penerus yang masih menjaga dan mempertahankan tradisi daerah berupa seni terbang genjring itu. Apalagi grup tersebut semua anggotanya tidak ada dari kalangan pemuda, hampir semu sudah di atas kepala lima. "Mari para pemuda ikut latihan di grup ini agar tradisi seni terbang lokal ini nanti ada penerusnya", ajaknya. (M. Haromain/Mahbib)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Lomba, Santri, Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 01 November 2017

Kick Off Seri Nasional LSN Dimulai Hari Ini

Yogyakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Jelang akan dilaksanakan Seri Nasional Liga Santri Nusantara, Senin (24/10) hari ini, panitia pusat LSN mengadakan acara technical meeting, Ahad (23/10) malam, di gedung aula Asrama Haji, yang diikuti oleh pelatih, manager, dan Koordinator region dari 31 tim yang akan berlaga pada seri nasional.

Hadir dalam acara tersebut, Manager LSN M. Kusnaeni, AWAPPI Sumarman, Ali, Koordinator Pertandingan Sukamdi. Saat memberikan pengantar Kusaeni menyampaikan apapun hasil dari tim screening terkait administrasi data pemain harus diterima oleh semua pihak. "Yang tidak lulus screening tidak mendapat ID Card, secara otomatis tidak bisa ikut bertanding," jelasnya.

Kick Off Seri Nasional LSN Dimulai Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Kick Off Seri Nasional LSN Dimulai Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Kick Off Seri Nasional LSN Dimulai Hari Ini

Sementara Ali dari Asosiasi Wasit dan Perangkat Pertandingan Profesional Indonesia (AWAPPI) mengatakanTeknikal meeting perlu dibuat untuk menyamakan persepsi antara perangkat pertandingan dalam hal ini wasit dan asisten, wasid dengan pelatih dan official Tim. "Kami hanya akan melakukan semua keputusan sesuai dengan perturan yang sudah ada,” terang Ali

Menurutnya ada bebera prinsip yang perlu diketahui oleh official tim dalam pelaksanaan pertandingan sepakbola di antaranya; pertama pemain yang turun adalah ? pemain yang sah yaitu pemain yang sudah disahkan oleh divisi kompetisi.

Kedua, keputusan wasit tidak bisa diganggu gugat, jika ? ada ? hal yang perlu ditanyakan bisa disampaikan kepada perangkat pertandingan terkait protes apa saja yang kemudian disampaikan kepada panitia. "Lakukan protes sewajarnya, kami mengapresiai di liga santri pemain sangat menghargai perangkat pertandingan. Ada pemain dikartu kuning justru cium tangan," puji Ali.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Berikutnya yang boleh melakukan komunikasi kepada wasit saat pertandingan berlangsung hanya kapten tim "Jadi para official tidak boleh, cukup disampaikan ke perangkat panatia," ulang Ali. Juga yang mesti diketahui juga tidak semua pemain berada di bangku cadangan tetapi hanya 14 beserta official.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Di samping itu nanti saat merayakan gol, dirayakan seperlunya tidak perlu memancing suasana yang tidak diinginkan," jelasnya.

Ali juga menjelaskan terkait durasi waktu pertandingan 35 x 2 di tambah 10 istirahat. Boleh water break 3 menit jika diperlukan di pertengahan 35 menit seperti terik mata hari yang panas. Terkait atribut tim lanjut Ali pemain harus berbeda secara mencolok mulai dari kaos, celana dan kaos kaki. hal ini untuk memudahkan wasit membedakan antara satu tim dengan tim yang lain.

Alipun memanggil perwakilan dari 31 tim untuk memperlihatkan warna kaos. Seperti diketahui besok pagi (hari ini) pukul 07:00 WIB akan berlangsung pertandingan antara PP. Nur Iman Yogyakarta vs PP. DDI Kaballang Sulawesi I di Stadion Triadi Yogyakarta. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 09 September 2017

Dalang Cilik Ramaikan Puncak Harlah NU di Way Kanan

Way Kanan, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Muhammad? Setyo Mukti Wicaksono, dalang cilik yang tercatat sebagai Pelajar SMPN1 Baradatu Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung akan meramaikan rangkaian puncak hari lahir (harlah) Nahdalatul Ulama (NU) ke-90 di Gedung PCNU Way Kanan, Jalan Lintas Sumatera Kampung Tiuh Balak I, Kecamatan Baradatu.

Dalang Cilik Ramaikan Puncak Harlah NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalang Cilik Ramaikan Puncak Harlah NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalang Cilik Ramaikan Puncak Harlah NU di Way Kanan

Ketua Lakpesdam Way Kanan Supri Iswan selaku Koordinator Harlah NU ke 90 di Blambangan Umpu, Rabu (3/2) menyatakan, Mukti akan tampil pada 8 Februari mulai pukul 20.00 WIB.

Muhammad? Setyo Mukti Wicaksono, lahir di Way Kanan, 3 Maret 2001. Belajar mendalang di Sanggar Mukti Budaya Radio Rapansa? Baradatu. Mukti tercatat tampil mendalang ke 15 kalinya pada Festival Dalang Bocah Nasional pada 2012.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Pada Festival Dalang Bocah Tingkat Nasional Tahun 2015, di Museum Seni Rupa, Taman Fatahilah, Jakarta Kota, Mukti ditetapkan panitia sebagai Juara II Penyaji Lakon Terbaik, membakan Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta dengan lakon Gatotkaca Jago.

"Allhamdulillah, NU dapat sumbangan pemantasan wayang kulit dari Ketua PGRI Way Kanan Sugiharto Pandu Dwijo Prayitno untuk meramaikan Harlah ke 90. Ini tentu kita syukuri," ujar Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda menambahkan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selain sumbangan pementasan wayang oleh putranya, Sugiharto Pandu juga membantu persoalan sound system, tarub dan menyiapkan siaran langsung kegiatan Harlah NU di Way Kanan melalui Radio Rapansa FM 96,5 Mhz miliknya.

"Saya hanya bisa membantu itu untuk NU. Silakan dipakai untuk meramaikan harlah NU," ujar Pandu yang juga berkomitmen mendorong kemandirian kader GP Ansor Way Kanan itu lagi.

Setelah selesainya lomba dan pengajian di sejumlah MWCNU mulai 30-31 Januari. Puncak peringatan Harlah NU ke 90 digelar di PCNU Way Kanan mulai 7 hingga 9 Februari yang ditutup pengajian akbar oleh KH Mahfudz Ali, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahun Najah, Pringsewu, Lampung yang merupakan alumni Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jawa Timur. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Santri, Kiai, Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kemenag Telah Inventarisir 3936 Karya Ulama Nusantara

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth



Sebagai upaya untuk melakukan inventarisasi, pelestarian, pemeliharaan, dan pengembangan terhadap karya ulama Indonesia Kementarian Agama melalui Balitabang Diklat sejak tahun 2009-2015 berhasil melakukan inventarisasi sebanyak 3936 karya klasik ulama Nusantara.

Kemenag Telah Inventarisir 3936 Karya Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Telah Inventarisir 3936 Karya Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Telah Inventarisir 3936 Karya Ulama Nusantara

Naskah yang terinventarisasi, kemudian diklasifikasi berdasarkan bidang keilmuan serta dibuatkan isi ringkasnya, yang selanjutnya dikembangkan dalam bentuk katalog atau bentuk karya “daftar karya ulama dan isi ringkas”, yang dapat dimanfaatkan untuk fungsi-fungsi informatif, edukatif, dan kultural dalam upaya penguatan dan pengayaan khazanah peradaban bangsa Indonesia. Katalog tersebut menjadi bagian konservasi untuk memperkuat dan memperkaya peradaban bangsa Indonesia serta menjunjung tinggi martabat bangsa di mata dunia.

Balitbang diklat melalui Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan dalam laporan untuk hasil penelitiannya (2015) menjelaskan program tersebut dilakukan terhadap bentuk naskah cetak dan tulisan tangan (manuskrip) karya ulama Nusantara, yang kemudian dikodifikasikan dalam format “Thesaurus Manuskrip Keagamaan Nusantara”, yang kini sudah memuat 3000 lebih data naskah yang dapat diakses melalui alamat http://lektur.kemenag.go.id/naskah. Dengan demikian, thesaurus manuskrip keagamaan yang notabene merupakan dokumen artefaktual karya ulama yang berfungsi sebagai “historical witness”—saksi sejarah keluhuran peradaban bangsa Indonesia di masa lalu. Hal ini juga memiliki fungsi sebagai rujukan bagi kajian atau penelitian pernaskahan Nusantara.

Total karya ulama Nusantara diperkirakan mencapai sekitar 50 ribu dalam bidang ilmu tauhid, ilmu kalam, fiqih/syariah, tarikh, dakwah, peribadatan, sastra, dan lainnya. Kondisi naskah tersebut sebagian tersebar di perpustakaan-perpustakaan daerah, lembaga pendidikan Islam, dan koleksi perpustakaan pribadi yang kondisinya, sebagian, sudah mulai rusak atau hampir punah. Dengan demikian jumlah yang berhasil diinventarisir saat ini masih jauh dari potensi yang ada.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Bahkan, sejumlah karya naskah klasik Nusantara kini sebagian masih tersimpan di perpustakaan luar negeri (Belanda, Inggris dan Perancis). Dalam konteks ini, maka eksplorasi dan inventarisasi atas naskah tersebut perlu dilakukan dan peroleh perhatian khusus dari pemerintah?

Sebagai sebuah kerja besar, dalam rekomendasi hasil penelitian ini, disebutkan pentingnya upaya pengembangan kerjasama kolaboratif secara ekstensif antar instansi Pemerintah (Puslitbang LKK Diklat Kemenag, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, Pusat Arsip Nasional, dan Arkenas) untuk penguatan program intensifikasi dan ekstensifikasi pemetaan dan pengembangan naskah karya ulama. Selain itu, Kementerian Agama sudah barang tentu perlu meningkatkan anggaran untuk program ini. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Meme Islam, Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 07 September 2017

Puisi: Untuk Kiaiku

Untuk Kiaiku

"Kelawan Allah Kang Moho Suci

Kudu rangkulan rino lan wengi"

Syiir yang begitu indah

Puisi: Untuk Kiaiku (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi: Untuk Kiaiku (Sumber Gambar : Nu Online)

Puisi: Untuk Kiaiku

Dari toa masjid reyot

Di belakang gubug kecilku

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kala malam itu

Diam merenung sunyi

Dalam sepertiga malam

Terbayang lelaki senja

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Yang sangat mencintaiku?

Seperti darah dagingnya sendiri

Oh kiaiku...

Dosakah aku

Ketika dalam sujudku

Tak kucantumkan namamu

Dalam doaku?

Oh kiaiku...

Dosakah aku

Tak pernah sekalipun aku berdoa

Disamping pusaramu

Peristirahatan terakhirmu

Oh kiaiku...

Semoga

Barakah ilmu

Sampai anak cucuku

Barakah akhlaq

Sampai anak cucuku

Al-Fatihah...

Yogyakarta, 19 Februari 2017

Faragus Adam, Kader PMII Ashram Bangsa.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Habib, Jadwal Kajian VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 01 September 2017

PCNU Jepara Gelar Pesantren Ramadhan di Lapas II B

Jepara, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Selama bulan Ramadhan, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jepara memperluas dakwah bagi santri Pesantren At-Taubah di Lapas II B Jepara.

“Pesantren Ramadhan bekerja sama dengan Lapas II B Jepara ini diwujudkan dalam bentuk kegiatan seperti buka puasa bersama, shalat tarawih berjamaah dengan imam dari JQHNU Jepara secara terjadwal,” kata Wakil Ketua PCNU Jepara Hisyam Zamroni.

PCNU Jepara Gelar Pesantren Ramadhan di Lapas II B (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jepara Gelar Pesantren Ramadhan di Lapas II B (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jepara Gelar Pesantren Ramadhan di Lapas II B

Selain itu, kata Hisyam, PCNU Jepara mengadkan pengajian dan siraman rohani setiap hari, peringatan nuzulul Quran, pemberian santunan berupa sarung dan baju lebaran, serta pelaksanaan shalat Idul Fitri.

Pelaksanaan pesantren Ramadhan dibuka langsung oleh Kepala Lapas II B Jepara Slamet pada awal Ramadhan lalu. Slamet mengatakan, selama 30 tahun lebih baru tahun ini diadakan shalat tarawih dan acara Ramadhan. Hal itu menjadi sejarah bagi Lapas II B jepara dibina langsung oleh PCNU Jepara.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Saat ini terdapat 260 santri penghuni Lapas II B Jepara. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Jadwal Kajian, Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 28 Agustus 2017

PCINU Sudan Selenggarakan Konfercab Ke-16

Khartoum, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth



Konferensi Cabang (Konfercab) Istimewa Nahdlatul Ulama Sudan telah terlaksana pada hari Sabtu tanggal 15 April 2017 di auditorium Ittihad ‘Am Lil Mar’ah Khartoum, Sudan. Acara dimulai pukul 8 pagi dengan penampilan tim rebana PCINU Sudan Jamiyyah Syifaul Qulub (JSQ).

PCINU Sudan Selenggarakan Konfercab Ke-16 (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Sudan Selenggarakan Konfercab Ke-16 (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Sudan Selenggarakan Konfercab Ke-16

Setelah acara seremonial selesai, dilanjutkan dengan sidang pleno konfercab yang diikuti oleh seluruh anggota PCINU Sudan yang berjumlah 127 orang. Mereka merupakan peserta penuh, ditambah dua peserta peninjau, yaitu Rasikin dan Yusri (Staf KBRI Khartoum). Sidang pleno dipimpin oleh ketua sidang Budi Sutardi (Steering Committee), wakil sidang Muthiullah, sekretaris sidang Faridhatun Nisa’ dengan pembahasan tata tertib sidang pleno, laporan pertanggungjawaban kepengurusan PCINU Sudan 2016-2017 dan pemilihan rais syuriyah dan ketua tanfidziyah PCINU Sudan masa khidmah 2017-2018.

Pemilihan rais syuriyah dilaksanakan dengan sistem Ahlul Hali wal Aqdi (AHWA) yang menetapkan Ribut Nur Huda sebagai Rais Syuriyah 2017. Pemilihan ketua tanfidziyah dilaksanakan dengan pemilihan secara langsung dan terpilihlah Muhammad Luqman Hambali.?

Hadir dalam acara seremonial Burhanuddin Badruzzaman (Duta Besar Republik Indonesia untuk Sudan & Eritrea), Muhammad Afifullah RIfa’i (Staf KBRI Khartoum & Mustasyar PCINU Sudan), Rasikin (Staf KBRI Khartoum), Yusri (Staf KBRI Khartoum), Syekh Abdullah Makki (Direktur Utama Organisasi Perlindungan Pelajar Asing Wafidin & Mustasyar PCINU Sudan), Muhammad Sulaiman Muhammad Ali (Direktur Utama Dewan Dakwah Kementerian Agama Sudan & Mustasyar PCINU Sudan), Thoriq Muhammad Nur (Dewan Hubungan Internasional Kementerian Penddikan Sudan & Mustasyar PCINU Sudan), Sayyidah Hasanat Awad Sati (Mustasyaroh PCI Muslimat NU Sudan), Syekh Idris bin Hasasn bin Muhammad Abu Qurun (Kholifah Thoriqoh Qodiriyah), Syek Sa’ad Thayyib Abu Qurun (CEO Lizatien Co. Sudan), Syekh Muhadis Azhari Muhammad Said Syathut An Najar (Ketua Umum Hizb Barakah, pemikir dan penulis buku).

Dalam sambutannya, Dr. Sulaiman sangat mendukung dengan ditambahnya mahasiswa dari Indonesia ke Sudan. Ia juga berusaha untuk mempermudah semua hal yang berhubungan dengan pendaftaran administrasi mereka. ? Selain itu, dr Thoriq Muhammad juga menambahkan bahwasanya ia sangat senang dengan para mahasiswa Indonesia karena mereka terkenal dengan akhlak baiknya. (Ayik/Mukafi Niam)

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Habib, Aswaja, Ubudiyah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 04 Juli 2017

Sayang Betapa Sayang dari “Kau Adalah Aku yang Lain”

Oleh: Fuad Al-Athor



Film pendek berjudul “Kau Adalah Aku yang Lain” menurut penulis, memang layak menjadi pemenang Police Movie Festival IV 2017. Pesan-pesan yang disampaikan melalui film ini sangat tajam dan mengena.?

Pesan-pesan ini, pertama, baik yang secara langsung bisa disimak dari dialog antara karakter Pak polisi dan karakter bapak gondrong yang bertugas menjaga jalan untuk pelaksanaan pengajian yang memakai sarana publik sebagai tempat mereka mengaji. Perdebatan antara polisi yang lengkap dengan dalil tentang toleransi begitu cadas menepis argumentasi lawan bicaranya yang bersikukuh bahwa dia sedang membela Islam, agamanya.?

Sayang Betapa Sayang dari “Kau Adalah Aku yang Lain” (Sumber Gambar : Nu Online)
Sayang Betapa Sayang dari “Kau Adalah Aku yang Lain” (Sumber Gambar : Nu Online)

Sayang Betapa Sayang dari “Kau Adalah Aku yang Lain”

Tampak, dalam pemahaman penjaga jalan itu ketinggian Islam melebihi dan tiada mungkin disejajarkan dengan, selembar rasa welas-asih untuk memberi jalan demi menolong nonmuslim yang sedang meregang nyawa dalam mobil ambulans itu. Kalau begitu, betapa egois-nya beragama itu.

Bisa dibayangkan kebaikan macam apa bisa diharapkan tumbuh dalam jiwa pemeluk agama yang sejak semula menolak berseminya welas-asih dalam dirinya. Kalau kemarahan sudah menjadi ekspresi umum dari seorang muslim, itu menunjukkan kekanak-kanakkannya dalam penghayatan keberagamaannya. Sialnya, ini zamannya. Di mana kemarahan, makian dan umpatan umum dimuntahkan, bahkan pada sosok ulama sekalipun! Naudzubillahi min dzalik..

Kenyataan ini menjawil pemikiran kita untuk bertanya, jangan-jangan agama sedang menuju kegagalan dalam misinya untuk membentuk pribadi-pribadi berakhlak mulia dan membangun peradaban yang damai. Jarak antara perintah-perintah berbuat kebaikan dan kenyataan masih banyaknya kerusakan yang diperbuat manusia membuat dahi kita berkerut. Apanya yang salah? Agamanya? Bukankah ia lengkap, tinggi (luhur) dan tak ada yang lebih tinggi (luhur) lagi? Bukankah ia ajaran suci yang mengandung pedoman, prinsip-prinsip dan petunjuk yang bahkan teknis untuk berbuat kebaikan? Ia ajaran paripurna. Kalau begitu apanya yang korsleting? Mau tak mau, diakui atau tidak, manusianyalah yang tak sanggup memanggul ajaran suci tersebut. Kitalah yang terlalu lemah untuk mengemban ajaran mulia yang dibacakan Jibril (as) tersebut.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sayangnya lagi, introspeksi bukanlah hal yang digandrungi di zaman sosmed ini. Pengakuan akan kelemahan diri untuk mengemban misi agung islam jarang kita dengar, sebaliknya pembenaran-pembenaran atas perbuatan merusak dan penghakiman serta pembunuhan karakter orang-orang mulia justru marak di hadapan kita. Cermin atas betapa kerasnya kita punya hati. Seolah-olah tak mempan lagi dilunakkan dengan nasihat-nasihat yang berserakan dalam teks-teks keagamaan. Apalagi menarik pembelajaran dari peristiwa-peristiwa alam, tak kuasa. Inilah jarak yang begitu jauh terbentang antara realitas kesanggupan kita berbuat baik yang lunglai dengan idealisasi yang semestinya sebagaimana disuratkan dalam ajaran agama kita.

Seperti yang dapat dimengerti dari pesan kedua dari film pendek ini. Mencermati pengadeganan pengajian yang diberikan oleh sang kiai tak ada yang salah. Bahkan secara visual kita diajak untuk menangkap pesan bahwa ini adalah pengajiannya kelompok sufi. Dari pakaian dan materi yang disampaikan. Semua merujuk pada sufisme. Sebuah kelompok yang lazim mengedepankan kelembutan dan kasih sayang dalam praktek keagamaannya. Sampai pada frase, “Kau adalah aku yang lain”, yang disampaikan oleh sang kiai yang menjadi judul dari film pendek ini, pun, merupakan kata-kata yang mengesankan kedalaman sufisme. Universal, sangat rahmatan lil alamin dan tentu saja benar dan bahkan sholeh secara sosial.

Namun apa yang terjadi, di tempat dan waktu bersamaan di mana kebenaran dan keluhuran dibacakan, toh masih ada kemungkinan ajaran dipraktekkan secara keliru. Sang kiai boleh saja mengumandangkan nilai-nilai luhur, tapi apa boleh buat, sebagian hadirin di majelisnya justru sedang bersikap bertolak belakang dengan arahannya. Lagi, ada jarak yang begitu jauh dalam idealisasi keluhuran-keluhuran ajaran dengan pelaksanaannya di kehidupan. Inilah pesan-pesan yang mengandung kritik terhadap ekspresi keberagamaan kita. Tentu, hanya orang yang bijaksana yang mampu menerima kritik dan menjadikannya pelajaran berarti.

Kemampuan film berdurasi 7 menit 41 detik ini dalam menyampaikan secara elegan pesan yang begitu membuat kita malu atas kelemahan-kelemahan kita dihadapkan kebenaran ajaran-Nya inilah yang layak kita acungi jempol. Betapa kita terlalu kenyang dengan agama yang nasihat, namun sangat malas menjadikannya bingkai mujahadah untuk memperbaiki diri. Kata orang di status-status sosmed, ini peradaban yang dibangun oleh generasi kebanyakan micin (penyedap rasa) lembek. Maunya instan, langsung jadi. Padahal sejak awal kita dihidupkan untuk diuji, digembleng, diproses, dilatih agar menjadi lebih pantas untuk menyandang dan mengemban ajaran-ajarannya, al-Islam.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Parahnya lagi, alih-alih bersyukur dengan adanya film berkuatan kritik nan halus ini, justru banyak yang tersinggung dengan film pendek ini. Terlepas apakah sedang ada sekelompok orang yang melakukan framing menggunakan film pendek ini dengan memenggal-menggalnya lebih pendek lagi, yang jelas kemarahan ini, lagi-lagi, semakin memperterang ihwal masih rapuhnya kedewasaan keagamaan kita. Dan, super parahnya lagi, yang marah justru tokoh-tokoh penting bangsa ini! Ampuuuun......!!!!









Penulis bisa ditemui di Twitter @fuad_alathor atau di Facebook: Fuad Al Athor

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Fragmen, Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 01 Juli 2017

Merajut Generasi Intelektual Kaum Sarungan

Oleh Aswab Mahasin

Apakah Anda santri? Santri identik dengan sarung, tapi tidak melulu yang bersarung adalah santri—bisa jadi orang tua santri atau tetangga santri. Di pesantren sarung mempunyai filosofi tinggi, saya mengartikan sarung ialah “sarune dikurung” (sarung). Artinya, sarung merupakan instruksi kehidupan, agar manusia mengedepankan rasa malu, tidak sombong, tidak arogan, apalagi sembrono. Karena itu, dalam kultur pesantren saling menghormati diutamakan, yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda.

Manusia mempunyai lima dimensi yang harus dikendalikan; pikiran (akal), perasaan (hati), ucapan, tindakan, dan hawa nafsu. Dan “sarung (sarune dikurung)” mempunyai makna agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Merajut Generasi Intelektual Kaum Sarungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Merajut Generasi Intelektual Kaum Sarungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Merajut Generasi Intelektual Kaum Sarungan

Bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh Arnold Toynbee, “titik lemah manusia adalah bahwa kita belum menemukan jalan yang lebih baik untuk menjaga martabat kita kecuali secara semu menutupi alat dan fungsi hewani kita.” Namun, sarung tidak hanya sebagai simbol kaum santri, melainkan mempunyai makna spiritual. Sarung bukanlah kain “semu” tanpa makna.

Anehnya, kaum bersarung selalu dianggap konservatif, tidak berpendidikan, dan anti-intelektualisme. Meminjam istilah Sutan Takdir Alisjahbana dalam Polemik Kebudayaan dan Pesantren Studies, kembali ke Pesantren sama saja dengan kembali ke zaman jahiliyah. Bagi saya ini sesat pikir.

Pesantren adalah lembaga pendidikan agama tertua di Indonesia. Pesantren telah banyak berperan untuk kemajuan bangsa. Rentang sejarah Indonesia sejak Perang Jawa 1825-1830, menurut KH Said Aqil Siroj pada salah satu ceramahnya, ada 120 perlawanan terhadap penjajah yang dipimpin oleh Kiai, dan mereka tumbang di medan perang (membela bangsa). Dari sini kita sama-sama membayangkan, bagaimana para santri memperjuangkan bangsa Indonesia agar terlepas dari hegemoni penjajah yang tidak manusiawi.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selain itu, kita mengenal sosok KH. Hasyim Asy’ari dengan “Resolusi Jihadnya”, KH. Wahid Hasyim dengan “Ijtihad Kebangsaannya”, KH. Wahab Hasbullah dengan ide “Halal bi Halalnya”, KH. Abdurrahman Wahid dengan “Bapak Pluralismenya sekaligus Mantan Presiden RI”, KH. Musthofa Bisri dengan stampel budayawan, penyair, dan pelukis, dan masih banyak tokoh-tokoh pesantren lainnya yang mempunyai pengaruh luar biasa (Abuya Dimyati, Gus Miek, Abah Anom, Guru Sekumpul, dan sebagainya).

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dr. Soetomo pendiri Budi Oetomo pernah mengatakan, “Lihatlah buah dari perguruan asli kita (pesantren) itu, coba bercakap dengan kiai-kiai itu, sungguh megherankan pada siapa yang berdekatan dengan mereka, logic mereka, pengetahuan mereka yang didapati dari buku-buku yang dipelajari mereka, pengetahuan yang sungguh hidup”. (Ahmad Baso, Pesantren Studies 2a: Buku II: Kosmopolitanisme Peradaban Kaum Santri di Masa Kolonial, 2013)

Inilah yang harus disadari oleh masyarakat pada umumnya, atau pengamat khususnya, yang memandang pesantren sebagai model pendidikan “kolot”. Lucunya, tidak sedikit yang menuding pesantren sebagai sarang “teroris”. Perlu diingat, dahulu pesantren sering dicaci dan dipertentangkan oleh segolongan kelompok. Namun sekarang, lembaga pendidikan agama yang mengatasnamakan diri sebagai pesantren tumbuh subur, dengan model dan karakter yang berbeda.

Martin van Bruinessen, dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat mengingatkan kita, sekarang pesantren muncul dari berbagai aliran Islam Indonesia masa kini. Aliran-aliran modernis, reformis dan fundamentalis yang pada mulanya sebagai penentang terhadap tradisi ini.” Kaum fundamentalis misalnya, sekarang mempunyai lembaga pendidikan yang dinamakan pesantren. Menurut Martin, dari sini terjadi pergeseran penekanan dalam materi kitab-kitab tradisional, yang tampaknya terpengaruh semboyan kaum modernis/fundamentalis, “memurnikan Islam/konteks ke teks”.

Bukanlah sikap yang bijak, mengidentifikasi pesantren sebagai sumber kekacuan yang ada sekarang, apalagi aksi-aksi teror. Tidak bisa dipukul rata. Alih-alih kita mendukung pesantren yang masih memegang teguh terhadap prinsip nasionalisme, bukan menjatuhkannya.

Perkembangan sekarang, pesantren semakin diminati oleh banyak kalangan, tidak hanya dari keluarga yang sebelumnya “mesantren”, melainkan seluruh lapisan masyarakat. Karena pesantren dianggap sebagai pendidikan alternatif yang mengedepankan penguatan karakter dan pendidikan moral. Dan pesantren sudah banyak berbenah untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dunia yang berkembang.

Pesantren sama sekali tidak tertutup dan tidak menutup diri dari perkembangan zaman apalagi dari pengetahuan, pesantren “terbuka” dan “otentik”. Pesantren menyadari hal ini sebagai kesadaran subjektif dan objektif, pembentuk dan penikmat dari kemajuan bangsa.

Agenda membentuk generasi intelektual santri dirasa penting. Tentunya dengan berbagai ide dan konsep, memang tidak mudah membuat konsep yang selaras dan relevan. Namun, diam saja tanpa ide/konsep jauh lebih susah, susah mengikuti berbagai perkembangan. 

Tawaran terhadap pesantren

Sebuah keniscayaan dunia ini berubah dan sebuah kepastian dunia ini berkembang. Modernisasi menawarkan kompleksitas, kemanfaatan di satu sisi dan kemudhartan di sisi lain. Perubahan tidak terjadi hanya dalam tataran tekhnologi belaka, melainkan diberbagai aspek, khususnya perubahan sosial pada level kemasyarakatan ataupun kebangsaan. Seharusnya pesantren mengikuti perubahan tersebut sebagai jembatan komunikasi.

Sepertihalnya yang disampaikan Zainal Arifin Thoha dalam bukunya Runtuhnya Singgasana Kiai, Pada satu sisi keberadaan pesantren menjadi pendorong perubahan masyarakat, sedang pada sisi lain ia juga terdorong agar tak ketinggalan zaman. Konvergensi kultural ini sudah barang tentu menjadi keniscayaan bagi sebuah institusi sosial, terlebih lagi berkenaan dengan lembaga pendidikan yang menjadi garapan utama sebuah pesantren.”

Ada sebuah kaedah/adagium menyatakan, “Memelihara hal-hal lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik” (al-muhâfadzah ‘ala al-qadîm al-sâlih wa al-akhzu bi al-jadîd al-aslah). Adagium ini adalah cermin dari sikap sadar. Istilah memelihara hal-hal lama yang baik (al-muhâfadzah ‘ala al-qadîm al-sâlih) adalah refleksi dari tradisi, sedangkan mengambil hal-hal baru yang lebih baik (al-akhzu bi al-jadîd al-aslah) adalah refleksi penerimaan modernisasi. 

Dengan demikian, pesantren tidak harus merombak secara total, baik sistem pendidikan maupun kebiasaanya. Pesantren tetap dengan wajahnya yang “asyik”, sistem hapalan, kajian kitab kuning, musyawarah, takrar, mudrasah jam’iyah, sorogan, dan sebagainya.

Menawarkan konsep dan ide terhadap pesantren, lebih dulu kita menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan pesantren diam, tidak berkembang; pertama, tumpang tindih kepentingan pimpinan pesantren, ketika pesantren diasuh lebih dari satu tangan, apalagi tanpa pembagian tugas yang jelas, kedua, kesadaran merubah diri untuk menerima hal-hal baru yang bermanfaat, pimpinan pesantren biasanya lebih bertahan terhadap latar belakang pendidikannya dan keahilannya. 

Sehingga sistem pengajaran di pesantren monoton, itu-itu saja—tanpa asupan pengetahuan lain, khususnya membangun daya kritis santri, ketiga, jaringan yang tidak luas, dengan kata lain kurangnya menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga terkait, sebagai fungsi kerjasama dalam pengembangan kemampuan santri, keempat, fasilitas yang terbatas, kelima, sumber dana yang terbatas, dan keenam, minimnya akses literasi sebagai bahan kajian santri.

Faktor-faktor tersebut bukanlah sebuah kepastian yang menghambat pesantren, masih bisa diperdebatkan atau ditambahkan. Itu hanya pembacaan yang nampak dipermukaan. Bagi saya, faktor di atas bagian dari susahnya pesantren berkembang, efeknya, paradigma santri menjadi sempit, sedangkan dunia terus meluas.

Merajut generasi intelektual kaum bersarung jangan dipersepsikan pada satu jalur saja, yaitu ilmu-ilmu pengetahuan terkini, melainkan lebih kompleks dari itu semua. Apalagi didukung dengan karakter kaum bersarung yang fleksibel, tidak kaku dan tidak ajeg.

Saya berharap, ketika faktor-faktor tersebut menjadi kendala dalam pendidikan pesantren, kaum sarungan punya inisiatif personal/kesadaran personal menjemput daya kritisnya, untuk terus melek terhapad dunia yang ada sekarang, bisa melalui membaca buku, membuat kelompok diskusi dengan teman-temannya di luar pengajaran pondok, dan terus melakukan aktifitas kreatif, apapun itu.

Contoh lebih konkretntya seperti ini; Setiap satu minggu sekali santri bisa membeli satu buku/kitab (secara patungan), dan kemudian buku/kitab tersebut isinya dibedah bersama-sama dengan kelompok diskusinya, aktivitas ini setidaknya akan menambah daya kritis dan wawasan santri.

Para kaum sarungan juga, bisa menghidupkan dunia literasi disetiap kamar pondok, dengan inisiatif dari ketua kamar pondok membuat perpustakaan kamar, itu hanya beberapa contoh yang bisa digarap oleh para santri, bisa juga membuat area bahasa. 

Yang jelas, kreatifitas seorang kaum sarungan harus benar-benar dipompa terus menerus dalam mengembangkan dirinya, dari sini mungkin akan terlahir generasi intelektual kaum sarungan. Tentunya, aktifitas ini dilakukan tanpa batas, karena kaum sarungan juga punya peran untuk membangun kulturnya sendiri di dalam lingkungan pesantren.

Sedangkan, merespon positif perkembangan zaman, khususnya dalam agenda merajut generasi intelektual kaum sarungan, mari kita coba konsepkan. Di atas kita sudah membahas gejala yang menghambat institusi pesantran dalam perkembangannya, sekaligus dengan dorongan inisiatif yang harus digali para santri secara mandiri. Sekarang mari kita cari ide/gagasan untuk diterapkan oleh pesantren dalam mewujudkan generasi intelektual kaum sarungan.

Pertama, kesadaran terhadap keterbukaan informasi harus mulai disalurkan pesantren terhadap santri, untuk menumbuhkan sebuah paradigma berpikir yang seimbang. Dalam hal ini, pesantren bisa melakukan pelatihan/seminar-seminar tentang cyber dakwah, dunia kewirausahaan, disksusi-diskusi ilmiah mengenai isu-isu terkini, pelatihan jurnalistik, dan sebagainya. 

Kedua, pengembangan nilai-nilai sosial budaya di kalangan warga pesantren secara lebih teratur. Termasuk dalam kegiatan ini adalah penciptaan sebuah badan yang bertugas membuat penilaian periodik atas bahan-bahan pengajaran yang digunakan, dan proyek untuk mengusahakan buku-buku wajib yang lebih sempurna bagi para santri. (Abdurrahman Wahid; 2010)

Ketiga, pesantren memberikan pendidikan alternatif bagi para santri dengan membuat “lembaga bahasa”, hal ini sebagai respon positif pesantren terhadap kepentingan santri dalam pergaulan global kedepannya.

Keempat, pesantren memberikan/membuat sebuah wadah/fasilitas terhadap minat, bakat dan potensi santri, entah itu dalam bidang keilmuan maupun kreatifitas. Dalam hal ini, pesantren bisa melakukan penjurusan atau pelatihan-pelatihan tentang dunia seni peran, seni musik, seni melukis, dan sebagainya. Sedangkan untuk menunjang minat terhadap keilmuan para santri, pesantren bisa membuat forum diskusi tertentu sesuai dengan masing-masing minat.

Kelima, pesantren mendirikan sebuah lembaga penelitian, penerjamahan, dan penciptaan forum-forum bagi dialog yang konstan antara kalangan pesantren. Serta berdirinya perpustakan yang mengumpulkan dan mengembangkan literatur-literatur tentang keilmuan, khususnya tentang pesantren atau yang lainnya.

Keenam, pesantren membuat divisi usaha (semacam Badan Usaha Milik Pesantren) sebagai penunjang kegiatan-kegiatan pesantren. Usaha disesuaikan dengan potensi dan kemampuan pesantren.

Itulah beberapa konsep yang saya tawarkan untuk merespon posisi pesantren dalam pertarungan global. Bagi saya, ide-ide di atas tidaklah berlebihan, karena pesantren bisa menerapkannya secara bertahap, tidak harus sekaligus jadi.

Lebih dulu pesantren melakukan kaderisasi terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) pesantren, sebagai eksekutor dari setiap konsep yang ingin dijalankan—agar konsep matang dan tidak berhenti di tengah jalan.

Saya yakin, masih banyak ide-ide (mungkin di kepala pembaca) untuk memajukan pesantren, khususnya mencetak generasi intelektual kaum sarungan. Tidak ada larangan dan tidak ada paksaan, mari sama-sama mengembangkan pesantren, demi mendukung berkembangnya para santri, dalam hal apapun.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Habib, Pertandingan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock