Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Tim Kirab Resolusi Jihad Terima Ijazah Shalawat Kholiliyah

Mojokerto, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Salah satu kegiatan yang dilakukan Tim Kirab Resolusi Jihad NU adalah kunjungan ke para sesepuh NU dan ziarah ke makam pejuang NU. Seperti pada Jumat (14/10) kemarin. Tim yang dipimpin oleh Wasekjen PBNU Ishfah Abidal Aziz menyempatkan berkunjung ke Sidogiri dan Makan Syaikhuna Kholil Bangkalan.

Tim Kirab Resolusi Jihad Terima Ijazah Shalawat Kholiliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Kirab Resolusi Jihad Terima Ijazah Shalawat Kholiliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Kirab Resolusi Jihad Terima Ijazah Shalawat Kholiliyah

Kedatangan Tim menjelang tengah malam di Pesantren dan Makam Syaikhuna Kholil Bangkalan, disambut keluarga besar pondok pesantren, para santri, pejabat Kemenag, dan Pemkab serta DPRD Bangkalan.

Setelah melakukan ziarah, Tim berkesempatan mendengarkan taushiyah dan arahan dari ulama setempat di antaranya dari KH Muhammad Faisal Anwar. Lebih istimewa, Kiai Faisal Anwar berkenan memberikan ijazah kepada Tim Kirab Resolusi Jihad NU. Ijazah yang diberikan adalah shalawat Kholiliyah, yang merupakan shalawat khas di Pesantren Kholil Bangkalan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Semoga dengan ijazah ini Panjenengan semua akan mendapat barokah dari Kiai Kholil," harapnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ditemui VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth selesai acara, Kiai Anwar berpesan agar para santri dan generasi muda berbuat manfaat. Selain itu, katanya, juga tidak boleh mudah terombang-ambing pada sesuatu yang belum tentu jelas kebenarannya. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Internasional, Kiai, Tegal VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 16 Februari 2018

LP Ma’arif NU Jatim Luncurkan Sekolah dan Madrasah Unggulan

Surabaya, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Menyambut tahun ajaran baru 2015/2016, PW Lembaga Pendidikan Maarif NU Jawa Timur menyelenggarakan grand launching 19 sekolah dan madrasah unggulan. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Hotel Utami Surabaya, Jumat (22/5).

LP Ma’arif NU Jatim Luncurkan Sekolah dan Madrasah Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif NU Jatim Luncurkan Sekolah dan Madrasah Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif NU Jatim Luncurkan Sekolah dan Madrasah Unggulan

Lembaga-lembaga pendidikan unggulan tersebut akan melengkapi sekolah dan madrasah unggulan yang telah ada sejak tahun 2003. Hal ini dilakukan sebagai tuntutan masyarakat NU yang merespon agar pendidkan berkulitas dapat semakin berkembang dan dikelola oleh LP Maarif NU.

"Apa yang kami lakukan sesuai dengan amanah Konferwil PWNU Jatim yang salah satunya menginginkan lembaga pendidikan Maarif memperbanyak lembaga pendidikan unggulan, agar kualitas pendidikan warga NU merata di semua daerah," kata Ali Mustofa, Sekretaris Progran Sekolah dan Madrasah Unggulan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Acara ini mendapat sambutan luar biasa dari 42 PC LP Maarif NU seluruh Jawa Timur dan para tokoh pendidikan. Hadir diantaranya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur Dr H Saifullah Rahman dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI ? Prof Dr H Muhammad Nuh.

Lembaga pendidikan yang di launching tersebut telah mendapat pendampingan dan pelatihan secara berkala dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Maarif Jawa Timur. Meski nantinya akan menjadi lembaga pendidikan unggul, konsep sebagai pendidikan bagi warga NU tetap diselenggarakan. "Hal itu seperti pengembangan mata pelajaran Aswaja dan Ke Nu an, budaya sekolah, pengelolaan madrasah sehat, dan lain sebagainya," kata Ali Mustofa.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sebagai mantan menteri, Muhammad Nuh mengemukakan bahwa warga NU perlu untuk menyongsong seratus tahun lahirnya organisasi ini dengan mengukir prestasi dan kualitas sumber daya manusia. "Salah satunya adalah mengarus utamakan pendidikan untuk mencetak kader bangsa yang sesuai dengan ruh NU," katanya.

Pola pengelolaan ini diharapkan nantinya sekolah dan madrasah tersebut nantinya dapat melakukan deseminasi program kepada lembaga di sekitarnya. Sebagai pengurus yang membidangi program ini, Dr Hj Hanun Asrochah, MA menjelaskan bahwa model pelatihan dan pendampingan sekolah dan madrasah unggul menggunakan konsep pelatihan dan monitoring atas perkembangan program unggulan di masing-masing sekolah dan madrasah yang telah ditunjuk. ?

"Rencana program sekolah dan madrasah unggulan ini akan dilaksnakan selama dua tahun dengan pendanaan enam puluh persen pihak sekolah dan empat puluh persen dari keuangan Maarif Jatim," pungkasnya. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kiai VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 14 Februari 2018

Hadiri Munas-Konbes NU, Ketua Ranting IPNU Patoman Ini Naik Motor Banyuwangi-Lombok

Mataram, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Acara Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2017 yang dihelat di Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya mendatangkan pengurus struktural PBNU dan PWNU se-Indonesia. Forum ini juga menarik minat warga NU untuk hadir. Mereka kadang menggunakan cara-cara yang nekat.

Choirul Anam (Irul) adalah salah satunya. Ketua Pengurus Ranting IPNU Desa Patoman itu rela mengendarai sepeda motor untuk sampai di lokasi acara.

Hadiri Munas-Konbes NU, Ketua Ranting IPNU Patoman Ini Naik Motor Banyuwangi-Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiri Munas-Konbes NU, Ketua Ranting IPNU Patoman Ini Naik Motor Banyuwangi-Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadiri Munas-Konbes NU, Ketua Ranting IPNU Patoman Ini Naik Motor Banyuwangi-Lombok

"Tak ada persiapan khusus. Ini spontanitas saat dengar kabar ada Munas, saya dan teman saya langsung berangkat," ujar lelaki kelahiran 18 Oktober 1997 itu.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Irul berangkat dari Banyuwangi pada pukul 22.00 WIB dan sampai di lokasi pada pukul 15.00 WITA. Kurang lebih ia menempuh jarak 267,9 KM. "Kita naik kapal laut dua kali. Pertama dari Jawa ke Bali, lalu dari Bali ke Lombok. Paling lama waktu nyebrang ke Lombok. Empat jam diombang-ambing ombak," ceritanya.

Motivasi Irul hingga nekat sampai ke Lombok sangat sederhana. Sebagai warga NU, ia hanya ingin merasakan suasana acara NU di tingkat Nasional dan kiai-kiai NU yang berasal dari seluruh Indonesia. "Ingin ngalap berkah ketemu para kiai NU se-Indonesia," harapnya.

Upayanya pun tak sia-sia. Sampai di Lombok, Irul langsung menuju lokasi pembukaan Munas di kawasan Islamic Center NTB, di Mataram. Di lokasi pembukaan tersebut, ia bisa bertemu dengan KH Maruf Amin, KH Said Aqil Siroj, KH Maimun Zubair, dan ratusan kiai lainnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Meski tidak bisa salaman, bisa melihat langsung para kiai itu, saya sudah senang," menurutnya.

Tak hanya bertemu dengan para ulama, Irul juga merasa beruntung bisa bertatap muka dengan Presiden RI Joko Widodo dan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. "Akhirnya, saya juga bisa melihat langsung wajah Presiden dan Jenderal," katanya.

Irul mengaku juga bakal mengikuti acara hingga tuntas selain menghadiri rangkaian acara pendukung, seperti seminar umum, bazar, panggung hiburan dan juga ingin ziarah ke makam-makam ulama Aswaja di Lombok. "Eman-eman, jauh-jauh kalau langsung pulang," pungkasnya. (Ayunk notonegoro-Ibnu Tsani/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kiai, Pesantren, Cerita VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 05 Februari 2018

Didukung Polisi, Pagar Nusa Bubarkan Konferensi HTI

Tasikmalaya, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pimpinan Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya berhasil membubarkan Konferensi Islam dan Peradaban Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Asia Plaza, Ahad (1/5) siang sekitar pukul 11.30 WIB.

Pembubaran ini didukung dan bahkan dipimpin langsung oleh Kapolres Kota Tasikmalaya ini hanya berselang 30 menit setelah aksi dimulai.

Didukung Polisi, Pagar Nusa Bubarkan Konferensi HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Didukung Polisi, Pagar Nusa Bubarkan Konferensi HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Didukung Polisi, Pagar Nusa Bubarkan Konferensi HTI

Ditemui sebelum membubarkan konferensi HTI, Ketua Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya, Moch. An’an Nazily mengatakan, aksi yang ketiga kalinya ini masih dengan tuntutan yang sama, yaitu membubarkan acara HTI.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Alasan yang kedua, terang pria yang akrab dipanggil Aa ini, untuk memberikan bukti kepada kepolisian, bahwa acara HTI tersebut bukan peringantan Isra’ Mi’raj.

“Kemarin, Manager Operasional Graha Asia (Hotel di Asia Plaza, red) dan Kabag Ops Polres Kota Tasikmalaya mengatakan, bahwa yang datang memberitahukan acara HTI itu dari MUI Kota Tasikmalaya, kata mereka, acara yang akan dilaksanakannya adalah Isra’ Mi’raj. Padahal jelas-jelas mereka menggelar konferensi sebagaimana bukti yang kita bawa ini. Ini bentuk kebohongan publik. Bukti ini akan kita serahkan kepada Kapolres,” paparnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Di tempat yang sama, setelah menerima bukti undangan Konferensi Islam dan Peradaban dan spanduk acara HTI, Kapolres Kota Tasikmalaya AKBP Noffan Widyayoko mengapresiasi aksi yang dilakukan oleh Pagar Nusa. Bahkan dia berjanji akan menyampaikan aspirasi tersebut kepada pimpinan pusat HTI.

“Saya mengapresiasi apa yang rekan-rekan lakukan. Dan ini menjadi bahan buat kami, kami akan teruskan sampai ke tingkat pusat HTI tersebut, bahwa informasi dari rekan kami, dari teman-teman Pagar Nusa, teman-teman NU, bahwa anda melaksanakan kegiatan yang demikian-demikian,” paparnya.

Bahkan dia menegaskan, bahwa dirinya NKRI sejati. Pernyataannya itu, aku Noffan, telah disampaikan langsung kepada pengurus HTI. “Saya cinta damai, saya NKRI asli, saya Pancasila dan saya sampaikan kepada yang bersangkutan, ini perlu dicatat rekan-rekan, pada saat saya diwawancarai mereka, saya adalah NKRI sejati. Saya minta anda juga pun demikian, mendukung Pancasila sebagai ideologi negara dan Undang-undang Dasar negara RI, itu acuan kita dan yang tertinggi adalah Alquran. Videonya masih ada, saya tidak berbohong,” jelas Noffan.

Setelah melakukan dialog, AKBP Noffan Widyayoko langsung memerintahkan anggotanya yang berada di lokasi acara untuk membubarkan acara. Konferensi yang sedianya dilaksanakan sampai pukul 14.00, akhirnya ditutup tepat pukul 11.30. Bahkan, Kapolres menunggu sampai seluruh peserta konferensi HTI keluar dari Asia Plaza.

Seperti diwartakan, Pagar Nusa menegaskan, konferensi tersebut mengancam Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). HTI ingin mengubah dasar negara, dan tidak mengakui Pancasila dan UUD 1945 yang telah dirumuskan dan disetujui oleh para ulama pendiri bangsa. Konferensi itu juga sengaja digelar bertepatan dengan hari lahir Pancasila. (Asep Sufian Sya’roni/Anam)

Gambar: Ketua Pagar Nusa Kab. Tasikmalaya dan Kapolres Kota Tasikmalaya akan menyaksikan para peserta konferensi keluar dari Asia Plaza

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Amalan, Kiai, Hikmah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 03 Februari 2018

Minoritas Muslim Serbia Hadapi Sulitnya Bangun Masjid

Beograd, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Minoritas Muslim di Beograd, ibu kota Serbia, sedang mengalami keterbatasan rumah ibadah. Hingga kini hanya ada satu masjid di sana. Komunitas Muslim Serbia mengaku kesulitan membangun masjid baru lantaran tak mendapat dukungan yang memadai dari pemerintah setempat.

Minoritas Muslim Serbia Hadapi Sulitnya Bangun Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Minoritas Muslim Serbia Hadapi Sulitnya Bangun Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Minoritas Muslim Serbia Hadapi Sulitnya Bangun Masjid

Ironisnya, satu-satunya masjid itu pun berasal dari tahun 1575 ketika kota ini menjadi bagian dari kerajaan Islam Turki Utsmani. Selebihnya, umat Islam di Beograd terpaksa shalat berjamaah di rumah-rumah pribadi yang mereka sulap menjadi masjid.

"Ini rumah keluarga. Kita bisa shalat di dalamnya, tapi bangunannya tidak legal," kata Hilmija, seorang Muslim berusia 47 tahun dan anggota minoritas Roma Serbia. "Ini memalukan," tambahnya seperti dikutip Reuters, Rabu.

Pernyataan itu ia lontarkan merujuk pada sebuah bangunan yang hancur dengan puing-puing di sekelilingnya. Rumah tersebut menjadi saksi perjuangan sekitar 20.000 umat Islam untuk bisa shalat berjamaah di kota yang didominasi pemeluk Kristen Ortodoks.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sekretariat Perencanaan Kota di balai kota Beograd membantah telah menghalang-halangi pembangunan masjid baru. Ia mengatakan bahwa tidak ada catatan permintaan bangunan dari Komunitas Islam Serbia.

Namun demikian, komunitas Islam di Serbia mengatakan, pemerintah Beograd telah berulang kali mengabaikan permintaan agar masjid baru dibangun. Padahal, komitmen negara tersebut terhadap hak-hak minoritas menjadi ukuran penting dalam menyongsong masuk sebagai anggota Uni Eropa.

"Kami telah meminta izin beberapa kali untuk beberapa lokasi, selama beberapa dekade... tapi kami tidak pernah berhasil lolos bahkan untuk sekadar memasukkan berkas," kata Mufti Muhamed Hamdi Jusufspahic, ketua Majelis Umum Komunitas Islam Serbia. "Setiap permohonan (hanya) akan dimasukkan ke dalam laci."

Serbia adalah rumah bagi sekitar 230.000 Muslim atau kira-kira 3,1 persen dari total populasi. Mereka terkonsentrasi di wilayah Sandzak bagian barat daya yang berbatasan dengan Bosnia, Kosovo, dan Montenegro.

Pada 2004, sebagai respon atas gelombang serangan Albania terhadap orang-orang minoritas Serbia di Kosovo, perusuh membakar masjid Beograd dan fasilitas lain di kota Nis bagian selatan. Kini kondisi sudah pulih. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Emin Zejnulahu, mufti masjid yang dibongkar di Zemun Polje, mengatakan bahwa umat Islam tidak akan berhenti menjalankan kehidupan beragamanya. 

"Kita harus menjalankan agama kita, apapun rintangannya," katanya. "Kita harus menjadi tetangga yang baik untuk semua orang, terlepas dari keyakinan dan kewarganegaraan mereka." (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kiai VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Genjot Oplah, Majalah Aula Gandeng Ma’arif

Surabaya, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Kerja sama saling menguntungkan akan segera dilakukan antara Majalah Aula dengan PW LP Maarif NU Jawa Timur. Hal ini untuk semakin meningkatkan oplah media tersebut dan memberikan informasi yang berguna bagi para pendidik, siswa, dan pengelola sekolah atau madrasah.

Ketua PW LP Maarif NU Jatim, Prof. Dr. H. Abd. Haris, M.Ag menjelaskan, sudah saatnya ada sinergi antara media yang dimiliki NU yakni "Aula" dengan lembaga yang sekarang dipimpinnya. "Tidak semata meningkatkan oplah, juga sebagai sarana komunikasi bagi para pelaku pendidikan di NU," katanya, Senin (12/10).

Genjot Oplah, Majalah Aula Gandeng Ma’arif (Sumber Gambar : Nu Online)
Genjot Oplah, Majalah Aula Gandeng Ma’arif (Sumber Gambar : Nu Online)

Genjot Oplah, Majalah Aula Gandeng Ma’arif

Guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengemukakan, banyak informasi yang layak diketahui para guru maupun pengelola pendidikan. Dan pada saat yang sama, Majalah Aula juga bisa menginformasikan capaian yang telah dilakukan lembaga pendidikan, sehingga dapat diketahui pembaca, lanjutnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Jaringan Maarif khususnya di Jawa Timur sangat luar biasa," tandasnya. Ada ribuan sekolah dan madrasah yang bergabung dengan PW LP Maarif NU Jatim. Apalagi kalau Majalah Aula dapat menarik minat para guru untuk menjadi pelanggan. "Bila dikelola dengan baik, hal ini merupakan potensi pasar yang sangat bagus," jelasnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Pihak Majalah Aula yang diwakili Iwan Setiono dari pemasaran, menyambut baik kerja sama tersebut. "Kami akan memberikan space halaman khusus untuk bisa menyapa para guru dan pengelola madrasah serta sekolah yang berada di bawah naungan Maarif," terangnya.

Halaman yang akan diberikan berupa profil lembaga pendidikan, informasi kebijakan yang bermanfaat bagi tenaga pendidik, serta prestasi yang diraih siswa, guru dan sekolah. "Dengan dimuat di media kami, maka informasi tersebut akan bisa tersebar ke sejumlah kalangan," ungkapnya.

Sebagai sebuiah perusahaan media, Majalah Aula tentu akan memberikan pembagian keuntungan dari distribusi tersebut. "Semua akan dituangkan dalam kerja sama yang dapat ditandatangani kedua belah pihak," kata Iwan, sapaan akrabnya.

Profesor Haris juga berharap, kerja sama tersebut nanti dapat disaksikan oleh pimpinan lembaga pendidikan, sehingga bisa ditindaklanjuti di lapangan. "Penandatanganan kerja sama itu bisa dilakukan saat kegiatan yang menghadirkan para kepala sekolah dan pimpinan yayasan di masing-masing sekolah atau madrasah," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Pertandingan, Kiai, Sejarah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 26 Januari 2018

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Maman Imanulhaq mengungkapkan bahwa penetapan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 oleh Jokowi harus disertai perhatian negara untuk pesantren.

Hal itu dikemukakan oleh Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, Jawa Barat ini saat memberikan materi dalam Focus Group Discussion (FGD) RUU Madrasah dan Pondok Pesantren, Rabu (19/10) di Hotel Lumire Jakarta Pusat.

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren

Dalam FGD yang digelar LP Ma’arif NU, FPKB DPR RI, dan Kementerian Agama tersebut, kiai yang akrab disapa Kang Maman ini menuturkan bahwa menurutnya, selama ini seolah hari santri hanya sebatas arak-arakan, kirab, dan seremonial.

“Oleh negara, kita seolah sudah cukup bergembira dikasih hari santri. Pengakuan negara terhadap santri mestinya disertai perhatian mereka bahwa pesantren selama ini memberikan kontribusi luar biasa terhadap pembangunan bangsa sejak sebelum kemerdekaan,” papar Anggota DPR RI FPKB ini.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sebab itu menurutnya, momen penting Hari Santri harus dimanfaatkan oleh NU untuk mem-breakdown gagasan-gagasan demi kepentingan pesantren dari sudut pandang alokasi anggaran tetap APBN untuk pesantren dan madrasah.

Karena menurut penulis buku Fatwa dan Canda Gus Dur ini, tidak terpungkiri bahwa selama ini pesantren dan madrasah terutama swasta masih mengalami diskriminasi alokasi anggaran negara. Tidak seperti pendidikan umum yang terbiayai oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah sekaligus.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Maka dari itu, pengguliran RUU Madrasah dan Pondok Pesantren ini semoga bisa memperkuat payung hukum yang ada selama ini sehingga eksistensi penting madrasah dan pesantren tidak terabaikan secara regulatif,” terangnya.

Senada dengan Kang Maman, Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag RI M. Nur Kholis Setiawan juga menerangkan bahwa warga NU jangan hanya gegap gempita dengan Hari Santri. Tetapi juga harus mendorong pemerintah atau negara agar melakukan rekognisi (pengakuan) sehingga pesantren terperhatikan dalam alokasi anggaran negara.

“Kita sekarang masih gegap gempita dengan Hari Santri, tetapi bagi saya, ekstrim saya katakan, percuma ada Hari Santri kalau pesantren masih hanya dianggap sebagai pemadam kebakaran. Negara belum hadir di sana,” ujar Nur Kholis.

Karena menurutnya, kita tidak mungkin berargumentasi bahwa guru-guru dan ustadz-ustadz pesantren harus mendapatkan penghargaan negara. “Sama sekali belum bisa. Sebab selama ini, pesantren hanya masuk nomenklatur pendidikan non-formal,” tutur Nur Kholis. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kiai, Bahtsul Masail, Quote VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock