Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab

Bekasi, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth 

Siti Zubaidah, istri Muhammad Al-Zahra (MA)—pria yang meninggal dunia karena penyiksaan yang dilakukan massa setelah diduga mencuri amplifier dari sebuah mushala di Bekasi, menceritakan ada kenangan dari almarhum suamiya yang sangat berkesan dalam ingatannya.

“Ya dia selalu mengingatkan saya supaya memakai hijab. Saya kan orangnya tomboi, dia selalu mengingatkan saya,” ujar Zubaidah kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth ketika ditemui di kediamannya di  Kampung Jati, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Sabtu (5/8) siang.

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab

Zubaidah sangat kehilangan suaminya, apalagi peristiwa yang menyebabkan suaminya meninggal dunia, sangat tidak manusiawi. 

Seperti diberitakan sebelumnya, MA, pria berusia 30 tahun, berprofesi sebagai ahli reparasi alat-alat elektronik diduga mencuri amplifier di mushala Al-Hidayah di Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Selasa (1/8) pukul 16.30 WIB. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Tuduhan itu membuat orang-orang melakukan pengejaran dan penyiksaan termasuk membakar MA hidup-hidup hingga menyebabkan kematiannya sekitar pukul 17.30 di Kampung Muara Rt.012/007 Desa Muara bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

“Sekarang nggak ada yang ngingetin lagi (agar selalu berjilbab),” kata perempuan berusia 25 tahun itu.

Zubaidah mengaku tidak mendapat firasat apa-apa sebelum peristiwa tersebut. Pagi hari sebelum berangkat, MA membuat papan untuk salon (sound system). 

“Saya baru tahu sekitar jam delapan pada malam harinya. Karena ada polisi yang memberi tahu dan mengantarkan jenazah suami saya,” tambah Zubaidah. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta, Ahlussunnah, Sholawat VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 24 Februari 2018

GP Ansor Kampar Gelar PKD di Tengah Darurat Asap

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Meski dalam situasi darurat asap dan jarak pandang hanya 100 meter, GP Ansor Kampar tetap melaksanakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) ke-2 di desa Mukti Sari kecamatan Tapung kabupaten Kampar, Sabtu (26-27/9). Peserta yang berjumlah 101 orang terlihat tetap antusias mengikuti rangkaian materi.

GP Ansor Kampar Gelar PKD di Tengah Darurat Asap (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kampar Gelar PKD di Tengah Darurat Asap (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kampar Gelar PKD di Tengah Darurat Asap

Sebagai antisipasi gangguan kesehatan akibat asap, panitia menyediakan masker kendati sebagian dari mereka memilih tidak memakainya.

Instruktur PKD GP Ansor Purwaji mengatakan bahwa Ansor adalah kawah candradimuka bagi kader-kader Ansor yang nantinya disiapkan menjadi penerus kepemimpinan NU di masa datang. “Karena itu kader Ansor dituntut kreatif, aktif, disiplin, efisien, dan rasional.”

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ia juga menegaskan bahwa NU adalah organisasi warisan Wali Songo dan pendirinya juga adalah para wali demi menjaga ajaran Ahlusunnah wal Jamaah di Nusantara. Karena itu mengurus NU melalui GP Ansor insya Allah akan mendatangkan berkah dalam kehidupan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Agar benar-benar berkah, kita harus biasa mau berkorban untuk Ansor dan NU. Jangan khawatir tidak makan karena ngurusi NU, sebab ini organisasi benar-benar warisan para wali," kata Purwaji yang pernah mengikuti TOT Instruktur Nasional GP Ansor angkatan pertama itu.

PKD ke-2 ini terselenggara berkat usaha pengurus PAC GP Ansor Tapung, Wahid Arbain, dan iuran jamaah. Hebatnya, selama dua hari jumlah nasi bungkus sumbangan ibu-ibu Muslimat NU selalu berlebih.

“Gotong royong semacam itu adalah kekuatan NU sejak dulu,” kata Purwaji. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Islam, Ahlussunnah, Khutbah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ada Dzikir Hizb Jausyan di Masjid Kubah Emas

Depok, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Majelis Dzikir Hizb Jausyan diadakan rutin setiap dua bulan sekali di Masjid Kubah Emas kelurahan Maruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat. Majelis dzikir yang dipimpin salah seorang Syuriyah PCNU Depok KH Juned MHS menggelar kegiatan tersebut untuk kedua kalinya Sabtu malam 6 Febuari 2016.

Ada Dzikir Hizb Jausyan di Masjid Kubah Emas (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Dzikir Hizb Jausyan di Masjid Kubah Emas (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Dzikir Hizb Jausyan di Masjid Kubah Emas

Dzikir bersama diisi dengan membaca surah Yasin, kemudian tahlilan, pembacaan kisah Maulid Nabi Muhammad SAW, serta Hizb Jausyan.

Menurut KH Juned MHS, dzikir bersama ini dilakukan semata-mata untuk mengharap ridha Allah SWT agar jamaah dzikir diberi kemuliaan dunia dan akhirat.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Tak hanya itu, kata dia, di majelis dzikir tersebut mendoakan bangsa Indonesia agar senantiasa terlindungi dari segala bencana, baik bencana karena alam, krisis ekonomi maupun bencana yang diakibatkan karena ideologi radikal yang berniat menghancurkan NKRI.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Majelis dzikir ini terselenggara atas kerja sama Yayasan Dian Al Mahri Masjid Kubah Emas, Majelis Dzikir Hizb Jausan dan Himasal Depok Bogor (Alumni Santri Lirboyo). (Nuruddin Hidayat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ahlussunnah, Aswaja, Pemurnian Aqidah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 22 Februari 2018

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP

Banyuwangi, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Majelis Musyawarah Pengasuh Pesantren (MMPP) kembali digelar untuk yang ke 159, kali ini bertempat di Pondok Pesantren Darul Abror, Sukorejo Bangorejo, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (22/9). Ratusan jamaah memadati halaman Pesantren yang didirikan oleh Almarhum KH. Thohir Syafi’i ini.?

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP

Pengajian yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali tersebut diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kyai Masruri (MWC Pesanggaran) dan dilanjutkan pengajian Ihya Ulumuddin Juz III yang dibawakan oleh Wakil Syuriah PCNU Banyuwangi, Kyai Zainullah Marwan. Dilanjutkan dengan sambutan dari KH. Masykur Ali, Tanfidziyah PCNU Banyuwangi. Kiai Masykur berpesan kepada masyarakat khususnya warga Nahdliyin untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak dengan memasukkan anak-anak ke pondok pesantren.

“Anak-anak zaman sekarang ini sudah sulit untuk dikendalikan. Sekolah-sekolah umum sudah tidak mampu untuk mendidik anak. Maka dari itu, putra putri njenengan-njenengan yang masih sekolah, sekolahkan di sekolah yang berbasis pondok pesantren. Untung kalau dipondokkan sekalian, Kita sebagai warga NU jangan sampai terlena dengan perkembangan zaman yang begitu pesat saat ini,” tegas Kiai yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina Jalen ini.

Dalam sejarahnya, MMPP pertama kali dirintis oleh delapan tokoh ulama Banyuwangi. Diantaranya adalah KH. Dimyati Ibrahim dari PP. Mathali’ul Falah, Sepanjang, Glenmore, KH. As’adi Sufyan dan KH.Syam’ani dari PP. Nahdlatut Thullab, Sukonatar, Srono, KH. Syamsul Arifin dari PP. An-Nur, Sukomukti, Kebaman, Srono, KH. Imam Muhtadi dari PP. Raudlatul Muta’allimin, Simbar, Tampo, Cluring, KH. Zuhriddin dari Swaloh, Sumbersari, Srono, KH. Mas’ud Hakim dari Pengadilan Agama Kabupaten Banyuwangi dan KH. Mukhtar Syafa’at dari PP. Darussalam, Blokagung, Tegalsari.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dalam pertemuan pertama para kiai-kiai tersebut, KH. Mukhtar Syafa’at tidak dapat hadir. Namun, restu Kiai Mukhtar yang menjadi poin penting berdirinya MMPP. Kiai Mas’ud Hakim awalnya enggan untuk ikut serta merealisasikan kegiatan tersebut, sebelum ada restu dari Kiai Syafa’at yang saat itu tidak bisa hadir dalam rapat. Kemudian, ditemenai oleh Kiai Imam Turmudzi, Kiai Mas’ud berkunjung ke Blokagung.

Sesampainya di Blokagung, Kiai Mas’ud sebagai representasi pemerintah, mendapatkan keyakinan untuk mendeklarasikan MMPP pertama kalinya, setelah Kiai Syafa’at memberi restu. Sejak itulah dibentuk kepengurusan MMPP yang kala itu masih sebatas Banyuwangi Selatan. Yaitu wilayah Banyuwangi bagian selatan, terhitung dari Kecamatan Srono ke arah selatan.

Yang ditunjuk sebagai ketua pertama MMPP adalah KH. Dimyati Ibrahim yang akrab disapa Gus Dim Jadab. Namun, ditengah perjalanan sebagai ketua MMPP, Gus Dim terlebih dahulu dipanggil kehadiran Allah SWT. Saat itulah, KH. Mukhtar Syafa’at ditunjuk menjadi pengganti Gus Dim untuk memimpin MMPP.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Di bawah kepemimpinan KH. Mukhtar Syafa’at, MMPP berkembang pesat. Jama’ahnya makin bertambah banyak dan secara keorganisasian makin tertata. Nomenklatur “selatan” yang sebelumnya menempel pada kata Banyuwangi, dihapus. Hal ini, bertujuan untuk menjadikan MMPP memiliki cakupan lebih luas.

Saat kepemimpinan KH. Mukhtar Syafa’at ini, awal mula dirintisnya pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali dalam rangkaian acara MMPP. Kitab Ihya’ Ulumuddin yang dikaji khusus Juz III (tiga) saja. Menurut KH. Aly Machfud Syafa’at, putra KH. Mukhtar Syafa’at, pemilihan Juz III kitab Ihya’ Ulumuddin, bukan tanpa alasan. Ada alasan spiritual yang melatarbelakangi. Dalam pemahaman Kiai Mukhtar Syafa’at, hati (inti) dari Kitab Ihya’ Ulumuddin ada pada juz III tersebut.

Dalam perkembangannya, MMPP resmi berada dibawah naungan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi semenjak tahun 2003, tepatnya hari Jum’at, 6 Juni. Kala itu, Rais PCNU Banyuwangi adalah KH. Hisyam Syafa’at, putra almarhum KH. Mukhtar Syafa’at. (Anang Lukman Afandi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Berita, PonPes, Ahlussunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 14 Februari 2018

Hilal Tak Terlihat, PBNU Ikhbarkan Syaban Genap 30 Hari

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lajnah Falakiyah NU memastikan bulan Syaban genap (istikmal) 30 hari setelah tim rukyat hilal tak melihat bulan sabit sebagai tanda awal Ramadhan.

Hilal Tak Terlihat, PBNU Ikhbarkan Syaban Genap 30 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Tak Terlihat, PBNU Ikhbarkan Syaban Genap 30 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Tak Terlihat, PBNU Ikhbarkan Syaban Genap 30 Hari

Pernyataan ini tertuang dalam surat PBNU perihal Ikhbar/Pemberitahuan Hasil Rukyatul-Hilal bil Fili Awal Ramadhan tertanggal 8 Juni 2013 yang ditujukan kepada Pengurus Wilayah NU (PWNU) dan Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Indonesia.

"Atas dasar istikmal tesebut dan sesuai dengan pendapat al-Madzahib al-Arbaah maka dengan ini PBNU mengikhbarkan/memberitahukan bahwa awal bulan Ramadhan 1434 H jatuh pada hari Rabu tanggal 10 Juli 2013," bunyi surat tersebut.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

PBNU menyampaikan selamat menunaikan ibadah puasa kepada segenap warga NU dan umat Islam secara umum pada Ramadhan 1434 H.

"Semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT," ujar surat ikhbar, ditutup tanda tangan dari Katib Aam PBNU KH Malik Madani, Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sebelumnya, Ketua Pengurus Pusat LFNU KH A Ghazali Maroeri mengatakan, pihaknya telah mengelar pengamatan hilal di 90 titik strategis dengan menugaskan 110 pelaksana rukyat bersertifikat nasional. Rukyat dilaksanakan bersama para alim ulama, ahli hisab, ahli astronomi, ahli fiqih dan warga Nahdliyin setempat.

PBNU juga aktif mengikuti sidang itsbat yang diselenggarakan pemerintah di Jakarta, Senin (8/7) petang atau bertepatan dengan 29 Syaban 1434 H. Atas persetujuan ormas-ormas Islam yang hadir, Kementerian Agama dalam sidang itu juga menetapkan awal Ramadhan jatuh pada Rabu.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Budaya, Ahlussunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 28 Januari 2018

Kemendesa Kembangkan Produk Unggulan di Kawasan Blok Masela

Maluku Tenggara, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa-PDTT) akan menjadikan Desa Lermatang di Kabupaten Maluku Tenggara Barat sebagai model untuk pengembangan aquaculture estate di tujuh desa lainnya di pulau Sera dan pulau Yamdena dengan produk unggulan rumput laut.

Kemendesa Kembangkan Produk Unggulan  di Kawasan Blok Masela (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendesa Kembangkan Produk Unggulan di Kawasan Blok Masela (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendesa Kembangkan Produk Unggulan di Kawasan Blok Masela

Hal itu dikemukakan Dirjen Pengembangan Daerah ? Tertentu (PDTU) Suprayoga Hadi usai menghadiri Destructive Fishing Watch (DFW) panen perdana rumput laut di Desa Lermatang, yang merupakan social investment program dari INPEX Blok Masela yang menggandeng DFW sebagai mitra pelaksana, melalui fasilitasi Kemendesa PDTT dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta SKK Migas.

"Lokasi social investment program di Desa Lermatang akan dijadikan pilot model pengembangan aquaculture estate ? dengan produk unggulan rumput laut yang difasilitasi Kemendesa PDTT di Tahun Anggaran 2017, sejalan dengan pelaksanaan program unggulan pengembangan produk unggulan desa (one village one product) di wilayah pulau kecil dan terluar (Prudes PKT) yang berbasis komoditas unggulan rumput laut," ujar Suprayoga Hadi, Ahad (12/3), melalui siaran pers.

Dikatakan Dirjan PDTU lagi, selain melalui pengembangan produk unggulan pada desa-desa lainnya di daerah pulau kecil terluar lainnya, juga di Kabupaten Pulau Morotai dan Kabupaten Kepulauan Aru, serta di Kabupaten Sabu Raijua. "Karena telah ditetapkan sebagai kabupaten prioritas penanganan terintegrasi dalam rangka percepatan pembangunan daerah tertinggal dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2017," ujarnya.

Untuk mengembangkan produk unggulan rumput laut, Dirjen Suprayoga Hadi mengatakan, selain pengembangan Badan Usaha Milik Desa (Bumdesa), juga akan dilakukan revitalisasi dari Pabrik Pengolahan Rumput laut di Desa Lermatang yang dibangun pemerintah tahun 2011.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Kemudian leh Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) tahun 2014. Namun tidak dapat dimanfaatkan sama sekali karena tidak tersedianya sumber air bersih yang merupakan kebutuhan utama dalam pengolahan pasca panen rumput laut," ujar Dirjen PDTU.

"Melalui pengembangan produk unggulan rumput laut, diharapkan dapat dikembangkan alternatif ekonomi desa dan kawasan perdesaan yang dapat lebih berdaya saing dan berbasis pada produk unggulan desa/kawasan perdesaan, sebagai komplemen dari rencana pengembangan sektor migas di Kabupaten MTB khususnya pada Blok Masela," ujar Suprayoga Hadi.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Untuk itu, Suprayoga Hadi meminta kepada INPEX yang menjadi mitra SKK Migas dalam melakukan eksplorasi di Blok Migas Masela agar memperhatikan pengembangan sumber daya manusia setempat. Terutama melalui inisiasi pendidikan ketrampilan dan kejuruan yang dibutuhkan oleh industri migas yang akan dikembangkan di Blok Masela.

"Selain juga tetap melanjutkan social investment program yang telah dimulai di Desa Lermatang dalam pengembangan produk unggulan rumput laut dan penguatan kelembagaan ekonomi desa melalui pembentukan BUMDesa," ujarnya.

Selanjutnya, Kemendesa PDTT mengawal proses pengembangan Program Unggulan Desa (Prudes) dan Program Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) yang tidak hanya secara koordinatif dengan Pemda, juga dengan kementerian/lembaga terkait, terutama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian ESDM melalui SKK Migas.

"Serta akan dikerjasamakan melalui pola kemitraan dengan BUMN dan swasta yang akan dikembangkan di wilayah perbatasan dan pulau kecil terluar," ujar Suprayoga Hadi. (Red: Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ahlussunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 23 Januari 2018

Pengabdian Tanpa Batas Mbah Umar Syahid

Mbah Umar Syahid alias Mbah Umar Tumbu sosok ulama? yang pengabdiannya pada NU dan bangsa Indonesia tanpa batas.? Ketika fisiknya? masih kuat, beliau mengelilingi pulau Jawa untuk menyiarkan Islam ala NU dengan modal jualan tumbu. Ketika tidak lagi mampu berjalan, bukan berarti pengabdiannya selesai. Sebaliknya beliau memberi contoh yang sangat bagus, seolah menyindir kita yang masih sehat.

Beliau rela meninggalkan pesantrennya kemudian mendirikan pendopo NU di atas lahan 1900 meter, di sebuah desa di puncak bukit di Pacitan Selatan. Di sebelah pendopo itu didirikan menara NU setinggi 17meter, yang dari dasar hingga puncaknya tertera logo NU serta tak lupa bendera Merah Putih.

Pengabdian Tanpa Batas Mbah Umar Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengabdian Tanpa Batas Mbah Umar Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengabdian Tanpa Batas Mbah Umar Syahid

Orang lain akan menganggap ini perbuatan sia-sia,? mengerjakan sesuatu yang tak jelas manfaatnya karena di pedalaman yang jarang dilihat dan didatangi orang. Tapi? beliau sedang membuat mercusuar untuk memberi kabar pada dunia bahwa NU masih ada walaupun sekian lama ditindas orang.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menara itu juga merupakan mercusuar, agar kapal yang lewat, agama lain dan ideologi lain tidak menabrak bumi NU ini. Kalau kapal sampai menabrak bumi Nusantara bisa pecah dan tenggelam karena yang ditabrak adalah karang. Menara itu dirancang sendiri dan dibangun sendiri. Setelah itu dilakukan pada PCNU Pacitan. Sekali lagi beliau menyindir kita.

Kalau selama ini banyak orang NU mengambil aset NU, sebaliknya beliau menyerahkan aset dan fasilitasnya pada NU.? Di hari tuanya, sang waliyullah itu rela hidup sendiri di tempat sepi sebagai Banser atau satpam penjaga mercusuar NU itu.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Persis seperti KH Muchit, walaupun sudah sangat uzur, kalau diajak bicara NU dan NKRI ia langsung perkasa kembali saking semangat dan cintanya pada NU. Justri saya yang merasa kasihan, tetapi setiap panutan selalu? menahan seolah ada yang ingin disampaikan dan ada banyak hal yang ingin beliau tanyakan kepada kami bagaimana keadaan NU sekarang ini.

Semoga kita tidak hanya bisa mengagumi. Tentu beliau akan bahagia kalau kita bisa meneladani. Maka tercapailah cita-cita beliau itu meninggal sebagai orang NU (wa la tamutunna illa wa antum Nahdliyun). Demikian kesan pertemuan saya dengan beliau sesaat sebelum beliau mengakhiri perjuangannya untuk bertemu dengan Tuhan. (Wasekjend PBNU Abdul Munim DZ)Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ahlussunnah, Lomba, Nahdlatul Ulama VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 09 Januari 2018

Pagar Nusa Kudus Cetak Pelatih Baru Bagi Pelajar

Kudus, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pengurus Cabang Pagar Nusa Kudus membekali calon pelatih pencak silat se-karisedenan Pati di Gedung MWCNU Kaliwungu, Kudus. Selama dua hari Sabtu-Ahad (31/5-1/6), sebanyak 48 peserta utusan dari Blora, Pati, Jepara, dan Kudus ini menerima sejumlah materi yang dibutuhkan sebagai seorang pelatih pencak silat.?

Koordinator pelatih Pagar Nusa Kudus Masturin mengatakan, kegiatan ini bertujuan mencetak pelatih baru yang diterjunkan menangani berbagai pelatihan di lapangan. Selain itu, forum ini dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahmi dan memajukan prestasi pencak silat Pagar Nusa.

Pagar Nusa Kudus Cetak Pelatih Baru Bagi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Kudus Cetak Pelatih Baru Bagi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Kudus Cetak Pelatih Baru Bagi Pelajar

“Kegiatan ini diarahkan untuk melahirkan pelatih-pelatih baru yang siap melatih pencak silat di sekolah-madrasah. Sebab, belakangan ini banyak permintaan dari sekolah untuk ekstra pencak Pagar Nusa,” kata Masturin kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Pelatihan ini dibuka oleh Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi ini. Sementara para calon pelatih mendapat bekal dan pemahaman terkait teknik pertandingan dari pelatih IPSI dan dewan Juri Daerah.

Materi yang disampaikan meliputi manajemen pelatihan dan taktik pertandingan yang disampaikan Mas’ud. Sedangkan materi terkait peraturan pertandingan jurus ? seni tunggal dipandu oleh Hariyono.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Dengan demikian, para calon pelatih bisa memahami aturan sehingga saat melatih tidak mengalami kekeliruan dalam menerapkan ilmu jurus pencak ini,” jelas Masturin.

Untuk menjadi calon pelatih, kata Masturin, peserta harus menguasai jurus IPSI dan teknik pencak Pagar Nusa. Minimal sudah berusia 16 tahun dan punya cukup bekal jurus-jurusnya.

“Usai pelatihan ini rencananya akan diadakan pelatihan lanjutan dengan tema materi yang berbeda,” imbuhnya lagi. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ahlussunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 25 Desember 2017

Halaqah Kebangsaan, Pagar Nusa Usung Islam Nusantara

Kediri, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pimpinan Pusat Pencak Silat NU (PSNU) Pagar Nusa, Selasa (26/5) menggelar halaqah kebangsaan di Pondok Pesantren Al-Amien, Ngasinan, Rejomulyo, Kota Kediri, Jawa Timur. Halaqah kali ini bertema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Halaqah Kebangsaan, Pagar Nusa Usung Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Halaqah Kebangsaan, Pagar Nusa Usung Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Halaqah Kebangsaan, Pagar Nusa Usung Islam Nusantara

Kegiatan ini menjadi rangkaian dari acara Pelatihan Pelatih dan Wasit Juri tingkat nasional yang dibuka satu hari sebelumnya. Hadir sebagai penbicara dalam halaqah, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (RMINU) Jawa Timur KH Reza Imam Yahya.

Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, dalam paparannya antara lain menyoroti tentang radikalisme yang masih tumbuh subur di Indonesia. Untuk itu, ia berharap Pagar Nusa bisa berperan aktif dalam meredam dan memberantas ancaman bagi kedamaian Indonesia itu.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menurutnya, agama Allah disebarkan ke bumi Nusantara dengan cara yang damai dan berhasil menciptakan kedamaian sampai hari ini. Kedamaian itulah, tambah Kang Said, adalah ciri dari Islam Nusantara, yang secara konsep mengharmonikan antara wahyu dan tradisi yang berkembang. Semua itu pada fase berikutnya dilestarikan oleh ulama NU yang memiliki komitmen kuat dalam akidah Ahlussunah wal Jamaah, budaya,? dan nasionalisme.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kiai asal Cirebon ini juga mengiimbau semua hadirin untuk mendukung program-program Pagar Nusa, karena hal itu adalah juga program yang diharapkan oleh NU.

Senada, pembicara kedua, Gus Reza, juga menyoroti radikalisme dan terorisme yang bertentangan dengan ajaran Islam serta tidak sejalan dengan tradisi para ulama Nusantara.? Berkaitan dengan Pagar Nusa, Gus Reza berharap tradisi spiritual atau bahkan supranatural ala kiai NU tetap dilestarikan, semisal hizib dan sebagainya.

Sementara itu, Ketua Umum PP PSNU Pagar Nusa H Aaizuddin Abdurrahman menyampaikan,? pelatihan serta rangkaian acara yang dilaksankan tersebut adalah upaya dari pihaknya untuk senantiasa mengembangkan pencak silat NU yang diwariskan oleh para ulama, kususnya KH Muhammad Abdullah Maksum Jauhari (Gus Maksum). Di samping itu, katanya, juga sebagai wujud bahkti pada NU, bangsa, dan negara.

Selain ditangani oleh Majelis Pendekar dan Lemabaga Pelatih Wasit dan Juri Pagar Nusa, acara pelatihan ini juga menghadirkan dua pelatih khusus di bidang perwasitan dan penjurian dari PB IPSI Pusat. Acara pelatihan akan dilaksankan sampai tanggal 30 Mei mendatang.

KH Anwar Iskandar, pengasuh Pesantren Al-Amien, atas nama tua rumah menyampaikan rasa bangganya terhadap Pagar Nusa. Menurutnya, selama Pagar Nusa aktif, tradisi khas kiai-kiai NU di bidang ilmu bela diri akan tetap lesatri. (Ali Rahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ahlussunnah, Humor Islam VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 23 Desember 2017

Mengintip Hilal Muda dari Yogyakarta

Rabu (20/6) sore kemarin beberapa orang berkumpul di Pantai Parang Kusumo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melaksanakan observasi Hilal bulan Sya’ban 1433 H. Mereka terdiri dari beberapa elemen masyarakat, di antaranya Lajnah Falakiyah PWNU DIY, Rukyatul Hilal Indonesia (RHI), Kemenag Provinsi DIY, Mahasiswa Fakultas Agama Islam UII Yogyakarta, dan Jogja Astronomy Club (JAC).

Persiapan observasi Hilal dimulai sejak pukul 16:45 WIB dengan menggunakan alat-alat pendukung seperti teleskop, teodolit, gawang lokasi, laptop ber-software Starrynight Pro Plus 6, kamera DSLR, dan lain-lain. 

Mengintip Hilal Muda dari Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengintip Hilal Muda dari Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengintip Hilal Muda dari Yogyakarta

Data hisab pada Rabu (20/6/2012), 29 Rajab 1433 H, dengan lokasi Parangkusumo Yogyakarta, menunjukkan Matahari terbenam pada pukul 17:31 WIB dengan azimuth Matahari 293d 33m dan Hilal terletak di azimuth 291d 58m dengan ketinggian 7d 42m, dan Hilal akan terbenam pada pukul 18:09 WIB. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Meskipun selama 30 menit lebih dilakukan pengamatan, tetapi para peru’yah (observers Hilal) tidak ada yang berhasil melihat Hilal. Hal ini disebabkan oleh mendung tebal yang menyelimuti ufuk Barat, bahkan akibat mendung ini Matahari terbenam pun tidak dapat dilihat. 

Kegiatan observasi Hilal ini sendiri memang sangat bergantung pada kondisi atmosfer lokal, dalam artian cuaca setempat cukup mempengaruhi berhasil atau tidaknya Hilal untuk dapat diru’yah. Jika di ufuk barat langitnya cerah dan bebas dari gumpalan awan (syafaq) maka akan mendukung keberhasilan pengamatan, namun jika yang terjadi adalah sebaliknya maka akan mengganggu pengamatan. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Hasil dari pengamatan Hilal ini jika dilaksanakan terus menerus dalam jangka waktu yang lama, maka akan sangat membantu dalam pengumpulan database visibilitas Hilal. Dengan demikian, perkembangan ilmu hisab pun dengan sendirinya akan turut berkembang, karena pada prinsipnya formulasi-formulasi di dalam ilmu hisab itu dibangun dari data hasil pengamatan dalam jangka waktu ratusan tahun yang kemudian diolah secara saintifik (ilmiah). Oleh karena itu, ru’yah harus tetap dilaksanakan dalam segala macam cuaca dan keadaan.

Setelah tidak berhasil melihat Hilal, teleskop pun kemudian diarahkan ke arah benda langit yang tampak pada saat itu, yaitu planet Saturnus. Hal ini dilakukan untuk memberi pembelajaran kepada peserta ru’yah bahwa kegiatan ru’yah itu juga memiliki dimensi pembelajaran sains.

Jika gagal dalam melihat Hilal, bukan berarti kemudian sia-sia dan tidak mendapatkan apa-apa, namun ada aspek lain yang bisa diperoleh, misalnya bisa digunakan untuk mencocokkan akurasi hasil hisab (perhitungan) terbenamnya Matahari dengan fakta di lapangan, melihat fenomena alam lain selain Bulan dan Matahari seperti planet-planet atau bintang-bintang, dan masih banyak lagi.

Kegiatan observasi diakhiri pada pukul 18:20 WIB dengan terlebih dahulu melakukan doa bersama atas wafatnya salah seorang ahli falak terkemuka Indonesia, yaitu KH. Noor Ahmad, SS dari Jepara.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis    : Haryono

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Pendidikan, Tokoh, Ahlussunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Penguatan Karakter ala Kiai Bisri Musthofa

Oleh A. Musthofa Asrori

Hingga hari ini, isu Penguatan Karakter yang diatur dalam Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang delapan jam belajar dengan lima hari sekolah masih menuai pro-kontra. Meski Presiden Jokowi segera menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Penguatan Karakter yang menganulir Permendikbud tersebut, publik tetap saja ribut.

Namun, tulisan ini tak hendak memasuki arena perdebatan tersebut. Penulis justru ingin memperkenalkan kepada masyarakat tentang sebuah kitab berisi penguatan karakter (baca: akhlak/tata krama) ala kaum Nahdliyin (sebutan warga NU). Sejatinya, penguatan karakter melalui pendidikan dasar telah dilakukan kaum Nahdliyin melalui Madrasah Diniyah (Madin) ratusan tahun silam.

Penguatan Karakter ala Kiai Bisri Musthofa (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan Karakter ala Kiai Bisri Musthofa (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan Karakter ala Kiai Bisri Musthofa

Soal karakter atau akhlak, masih lekat dalam ingatan penulis saat belajar tentang pendidikan akhlak di Madin 25 tahun silam. Pendidikan akhlak tersebut diajarkan melalui syi’iran (syair) yang penulis masih hafal beberapa bait hingga hari ini. Berikut bait-bait syair tersebut:?

iki syi’ir kanggo bocah lanang wadon # nebihake tingkah laku ingkang awon

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

sarto nerangake budi kang prayogo # kanggo dalan podo mlebu ing suwargo

bocah iku wiwit umur pitung taun # kudu ajar toto keben ora getun

(Syiir ini untuk anak laki-laki dan perempuan, untuk menjauhkan dari perbuatan yang tercela. Serta menerangkan budi pekerti yang baik, sebagai jalan menuju surga. Anak itu sejak usia tujuh tahun, harus belajar tata karma supaya kelak tidak menyesal).

Tiga bait syair tersebut sangat membekas di hati sanubari penulis. Goresan kata yang indah ini hendak mematri pesan bahwa sejak dini kita musti belajar tata krama agar kita menjadi orang berkarakter kuat di masa mendatang. Penulis merasa, ajaran luhur melalui syi’iran tersebut menjadi bekal utama dalam mengarungi kehidupan di masa kini. Bahkan, masih terus relevan hingga masa-masa mendatang.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rasa penasaran dan keinginan mengenang masa remaja yang penuh jadual sekolah, baik pagi maupun sore, membuat penulis kembali menelaah kitab tersebut. Belakangan, penulis tahu bahwa kitab syi’ir Ngudi Susilo ini dikarang oleh Allahuyarham KH Bisri Musthofa Rembang, ayahanda Mustasyar PBNU KH A Musthofa Bisri.

Kitab berisi 84 bait tersebut merupakan kitab berbahasa Jawa dalam bentuk sya’ir (puisi). Nama lengkapnya, Syi’ir Ngudi Susilo Suko Pitedah Kanthi Terwelo (Syair Belajar Akhlak yang memberi Petunjuk dengan Jelas). Buku antologi syi’iran berisi pelajaran budi pekerti atau akhlak ini ditulis Mbah Bisri Musthofa di Rembang, Jawa Tengah, pada bulan Jumadil Akhir 1373 H (1954 M).

Kitab tersebut kemudian dicetak oleh Penerbit Menara Kudus, di Kudus Jawa Tengah. Hampir seluruh madin di Jawa Tengah dan sebagian pondok pesantren menjadikan Syiir ini sebagai mata pelajaran hafalan untuk tingkat dasar. Teknik belajar di pesantren atau madin memang mengedepankan sistem hafalan. Sebab, sda kaidah yang menyebut bahwa pemahaman tak akan sempurna tanpa menghafal. Tegasnya, hafalan justru menguatkan pemahaman. Pada titik tertentu, hafalan juga bisa mengasah kecerdasan.

Satu hal yang penulis ingat, syiir ini didendangkan dengan irama membahagiakan. Kata Pak Guru waktu itu, irama yang digunakan adalah Bahar Rajaz yang diadopsi dari sastra Arab. Hal tersebut meneladani Nabi Muhammad sewaktu menyiapkan Perang Khandaq. Rasulullah SAW menggali parit sembari bernyanyi/bersyair riang gembira bersama para sahabat dengan irama Bahar Rajaz tersebut.

Berbakti kepada orang tua

“Kudu tresno ring ibune kang ngerumati # kawit cilik marang bopo kang gemati

Ibu bopo rewangono lamun repot # ojo koyo wong gemagus ingkang wangkot

Lamun ibu bopo prentah inggal tandang # ojo bantah ojo sengol ojo mampang”

Di bab-bab awal, KH Bisri Musthofa menjelaskan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua (ortu). Kata beliau, anak harus cinta kepada ibu yang telah merawat sejak kecil, juga pada ayah yang telah memberikan belain kasih sayang. Jika keduanya sibuk, sebagai anak kita harus membantu mereka. Jangan diam saja seperti anak sok kecakepan nan sombong. Lalu, jika ibu dan ayah memerintahkan sesuatu (selama tidak bertentangan dengan perintah agama) segeralah memenuhinya, jangan membantah sembari menunjukkan wajah marah.

Sudah tentu, bait-bait pertama ini seolah menyindir siapa saja yang berani melawan orang tua. Hemat penulis, karakter ini penting ditanamkan sejak dini kepada anak. Bait keempat, kelima dan keenam juga mendahulukan ibu daripada bapak. Ini juga pelajaran utama yang harus dikenang. Pasalnya, Rasulullah sendiri saat ditanya siapa yang musti dihormati, menjawab “ibumu” hingga tiga kali. Memang, derajat sang ibu lebih tinggi tiga tingkat dibanding ayah. Yakni, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Tiga tugas inilah yang tak mungkin tergantikan oleh siapapun.

Kemudian, sejak awal kita diingatkan agar juga menaruh hormat kepada orang tua lainnya. Terpenting lagi, kita diajari agar berkata dengan orang tua harus dengan halus dan pelan, namun jelas. Tidak boleh kasar, berkata jorok, dan marah-marah. Kalau orang tua duduk di bawah, jangan sampai anak duduk di atas. Jika orang tua tidur tidak boleh ramai. Kalau lagi membaca dipelankan, kalau lewat di depan orang tua harus punya tata karma. Kalau orang tua marah lebih baik diam, jangan mendebat.

Jika karakter dasar tersebut sudah tertanam kuat di benak sang anak, ke depan tinggal mengingatkan sembari menguatkan kembali jika teledor. Sikap-sikap terpuji ini sudah dikenalkan dan dipraktikkan sejak anak-anak belajar di madin. Tak berlebihan jika soal penguatan karakter ini menjadi tradisi lama bagi kaum Nahdliyin.

Relevansi penguatan karakter

Setelah menunjukkan tata krama kepada orang tua sebagaimana penulis paparkan di atas, Mbah Bisri Musthofa kemudian menguraikan isi kitab berikutnya dengan menurunkan tujuh bab penting, yakni: cara membagi waktu, adab di sekolah, adab di rumah/pulang sekolah, adab bersama guru, adab jika ada tamu, sikap/ perilaku yang sopan, dan cita-cita luhur. Nilai-nilai karakter positif dalam kitab besutan Mbah Bisri Musthofa tersebut pada titik tertentu memiliki relevansi penguatan karakter dalam “Nawa Cita” Jokowi.

Pada titik ini, penulis sepakat dengan Jauhar Hatta (2013) yang menyebut adanya sejumlah benang merah dari seluruh muatan kitab syi’ir tersebut jika dikaitkan dengan 18 karakter yang dikembangkan pemerintah sebagaimana dicanangkan Kemendikbud.

Pertama, religius. Sebagaimana termaktub dalam syair berikut:

kenthong subuh inggal tangi nuli adus # wudlu nuli sholat khusuk ingkang bagus

rampung sholat tandang gawe opo bahe # kang prayogo koyo nyaponi omahe

lamun ora iyo moco-moco quran # najan namung sithik dadiyo wiridan

budal ngaji awan bengi sekabehe # toto kromo lan adabe podo bahe

(Jika masuk waktu shubuh segera bangun lalu mandi, wudlu, kemudian sholat dengan khusyu’. Setelah sholat lalu beraktivitas apa saja yang baik seperti menyapu rumah. Jika tidak, bacalah Al-Qur’an, meski hanya sedikit hendaknya menjadi kebiasaan. Berangkat ke tempat mencari ilmu, baik siang maupun malam, sama saja tata krama dan adabnya).

Kedua, jujur. Perhatikan syair berikut:

Wahid Hasyim santri pondok gak sekolah # dadi mentri karo liyan ora kalah

kabeh mau gumantung ing sejo luhur # kanthi ngudi ilmu sarto laku jujur

(Wahid Hasyim santri pondok yang tidak sekolah, bisa jadi menteri dengan yang lain tidak kalah. Semua itu tergantung niat luhurnya, dengan disertai upaya mencari ilmu dan perilaku jujur).

Di bait-bait selanjutnya, Hatta yang juga Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini dengan teliti menemukan benang merah isi syair kitab ini dengan isu-isu kekinian. Misalnya toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, dan aneka karakter positif lainnya. Sudah tentu, isi kitab tersebut relevan sekali dengan pengembangan dunia pendidikan saat ini, terutama dalam penanaman akhlak, dan pengembangan karakter anak.?

Hal penting lainnya adalah pemakaian syair/lagu sebagai sarana pembelajaran dan pelestarian budaya daerah, khususnya bahasa Jawa. Ini menjadi kekuatan untuk terus menjaga kearifan lokal (local wisdom).

Kehadiran kitab Syi’ir Ngudi Susilo merupakan khazanah berharga bagi perkembangan karya tulis di Nusantara. Bangsa Indonesia, khususnya di pulau Jawa, sejak lama memakai syi’ir sebagai salah satu media pembelajaran. Banyak hal yang bisa diteladani dari kitab syair karya orator ulung asal Rembang ini. Satu di antaranya adalah pembelajaran dan penguatan karakter bagi anak didik.

Saran penulis, Mendikbud beserta jajarannya berkenan membaca sekaligus menelaah kitab sederhana namun membahana ini. Tak hanya Dirjen Pendidikan, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud mestinya turut melap-lap “intan permata” ini. Kalau perlu, kitab tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia agar bangsa ini bisa memetik inspirasi untuk membangun negeri.

Penulis pernah bersekolah di Madrasah Diniyah, kini tinggal di Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits, Ahlussunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 20 Desember 2017

Jeju, Permata Wisata Korea

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Jeju merupakan pulau terbesar di Korea Selatan yang memiliki otonomi khusus. Kini aktifitas utamanya adalah wisata dan pertanian. Setelah menjadi anggota salah satu tujuh keajaiban alam dunia bersama Komodo di Indonesia, pemerintah Jeju sangat aktif mempromosikannya untuk menarik turis datang ke pulau ini.

Sejak dahulu, tempat ini sudah dikenal sebagai pulau untuk bulan madu bagi warga Korea. Pada tahun 1970-an hanya ada satu penerbangan dari Seoul ke Jeju, kini setiap tahunnya, pulau ini dipadati oleh 10.5 juta turis, padahal penduduknya hanya 500 ribu jiwa. Pengelolaan tempat wisata secara profesional membuat wisatawan merasa nyaman dan puas dengan.

Jeju, Permata Wisata Korea (Sumber Gambar : Nu Online)
Jeju, Permata Wisata Korea (Sumber Gambar : Nu Online)

Jeju, Permata Wisata Korea

Dari bandara Gimpo, kami menggunakan pesawat Korean Air dengan waktu tempuh sekitar 1 jam penerbangan. Saya lihat tiketnya berharga 53.000 won. 1 won sekitar 10-11 rupiah, jadi kalau di rupiahkan harga tiket sekitar 550.000-600.000, sama dengan Indonesia, harga tersebut standar untuk penerbangan selama satu jam. Yang kami suka di bandara Korea, baik Incheon, Gimpo, atau Jeju, proses pengambilan bagasi sangat cepat. Begitu kami turun dari pesawat, hanya beberapa menit menunggu di tempat pengambilan bagasi, tas-tas bagasi sudah mulai muncul. Ini merupakan bagian dari tradisi kerja keras dan selalu ingin cepat orang Korea.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Satu masalah yang kami hadapi di Korea adalah urusan toilet. Di bandara, hotel, atau tempat rekreasi, toilet selalu menggunakan sensor elektronik. Begitu selesai kencing, beberapa detik kemudian air akan mengucur membersihkan tempat buang air. Orang Indonesia yang terbiasa “cebok” agak susah dengan gaya toilet canggih ini. Akhirnya, kebiasaan kami ketika di toilet, yang semakin sering dari biasanya karena udara yang dingin, terpaksa geser kiri-geser kanan atau mundur dulu agar air mengucur dan kami bisa menampung sedikit air di tangan untuk “cebok.” Untuk temen-teman perempuan, mereka kemana-mana bahkan harus membawa botol aqua kosong kalau sedang di toilet. Secara berseloroh, kami menyebut toiletnya “ngak Islami”. Orang Indonesia dari kecil diajarkan membersihkan kelaminnya setelah kencing.

Kami terbang dari Gimpo pukul 12.30 waktu setempat dan tiba di Jeju satu jam kemudian. Selama di pesawat kami gunakan untuk sedikit terlelap menghilangkan kepenatan akibat perjalanan panjang. Begitu turun, kami kembali segar. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selamat datang Jeju, acara jalan-jalan dimulai. Dengan menggunakan bis, tujuan pertama adalah batu kepala naga yang dalam bahasa Korea dikenal dengan nama Yongduam (yong=naga), yang lokasinya tak jauh dari Bandara, kira-kira hanya memerlukan waktu 10 menit dari bandara. 

Legenda menyatakan bahwa kurir raja naga dikirim ke Gunung Halla untuk mengumpulkan bullocho (herbal terkenal untuk memberikan hidup yang kekal). Utusan tersebut tewas oleh panah dari dewa gunung yang marah. Bagian tubuhnya tenggelam ke dalam air sementara kepala tetap di atas air ketika berusaha untuk kembali ke langit. Kalau menurut pendekatan ilmiah, batu berbentuk kepala naga ini merupakan hasil erupsi gunung berapi jutaan tahun lalu.

Masuk ke lokasi ini tidak di pungut tiket. Disini, kami belajar tentang tradisi dan kepercayaan orang Jeju. Banyak sekali rombongan wisatawan yang datang, terlihat dari seragam yang mereka kenakan. Tampaknya ada tradisi berwisata dengan baju seragam di Korea, beda dengan di Indonesia yang lebih memilih baju santai.

Kami hanya sebentar di lokasi ini, foto-foto. Saya sempat mengambil gambar Kiai Masdar, Prof Suwito, dan Prof Bambang Pranowo dengan latar belakang pantai dan gedung-gedung tinggi di seberangnya.

Kami selanjutnya bergerak ke Jalan Berhantu atau dalam bahasa lokal disebut Dokkaebi yang terletak di sebuah bukit di kaki gunung. Saya langsung terbayang Jabal Magnet di Arab Saudi yang katanya, karena tarikat magnet, mobil bisa jalan sendiri ke atas, melawan gravitasi. Jalan ini terkenal mulai tahun 1980-an ketika seorang sopir taksi mengantarkan satu pasangan yang sedang berbulan madu. Mereka berhenti di lokasi tersebut untuk foto-foto, tiba-tiba, mobil yang diparkir jalan sendiri, bukannya turun ke bawah, tapi malah naik ke atas dan mereka mengira ada hantu yang mengusiknya. Cerita tersebut akhirnya tersebar dari mulut ke mulut dan semakin banyak orang mencoba keajaiban tersebut. Karena semakin banyaknya orang mencoba, jalanan jadi macet dan pemerintah membuat jalan baru. 

Pada titik yang ditentukan, sopir bis mematikan mesin, dan ajaib, bis seperti bergerak naik ke atas, pelan, pelan dan semakin lama semakin kencang sampai akhirnya sopir menghidupkan lagi mesinnya. Kami tidak ada yang turun dari bis untuk lokasi ini. 

Bagaimana fenomena sesungguhnya dari kejadian ini. Sebenarnya, jalanan tersebut tidak menanjak, tetapi karena sekeliling jalan tersebut merupakan perbukitan, maka terjadi ilusi optik, seolah-olah jalan tersebut naik. 

Kini tujuan selanjutnya adalah Sumokwon Theme Park yang didalamnya terdapat museum es, pertunjukan film lima dimensi.

Dengan tiket seharga 7.000 won atau USD 7, kami bisa masuk museum yang didalamnya dipenuhi dengan patung-patung yang dibuat dari es. Sebelum masuk, petugas memberi selimut. Begitu masuk dalam ruangan, patung-patung indah terpahat dari es. Bagi kami yang berasal dari daerah tropis, destinasi ini sangat menarik. Hanya dalam beberapa menit, tubuh sudah menggigil kedinginan. Untung saja sebelum berangkat, kami sudah siap dengan pakaian tebal dan kaos tangan, bisa sedikit membantu. Tangan terasa beku, sudah tidak bisa merasakan lagi sentuhan. Tapi, kesempatan ini tidak kami sia-siakan, semuanya segera jeprat-jepret memilih lokasi terbaik, bergaya dengan posisi terindah untuk kenang kenangan atau narsis-narsisan di media sosial. Ada yang dibentuk seperti gua dengan stalaktitnya yang runcing-runcing, seolah-olah akan patah dan menusuk, ngeri juga membayangkannya bagaimana kalau benar-benar patah esnya. Ada pula patung beruang dan patung tradisional Jeju, tapi yang paling menarik adalah berfoto di depan iglo, rumah dari salju berbentuk kubah khas orang Eskimo yang selama ini hanya bisa dilihat di foto dan video saja. Kami antri bergaya di depan pintu masuk berbentuk lengkung yang diatasnya dibuat patung beruang. profesor dan kiai juga turut ambil angle terbaiknya. 

Untuk masuk harus sedikit merunduk. Saya masuk di dalam iglo tersebut dan didalamnya, tidak menjadi lebih dingin seperti bayangan saya semula. Didalamnya ada kursi dan ranjang yang terbuat dari es, kami bisa bergaya didalamnya, berfoto-foto sambil tiduran diatas es, he he he,… dingiiiin.

Dalam museum, juga ada luncur-luncuran dari es. Beberapa anggota rombongan pun meluncur dari atas, sambil menjerit-jerit kecil sambil ketawa cekikikan diatas luncuran yang dingin, sementara kawan kami yang dibawah diminta mengambil fotonya. Yah, kami kembali ke masa kecil yang mengasyikkan.

Kami selanjutnya pindah ke lantai dua, untuk menyaksikan pertunjukan film lima dimensi, tentu saja dengan menggunakan kacamata khusus. Untuk nonton pertunjukan, tiketnya berharga 5.000 won atau USD 5.

Ruangan berbentuk melingkar dan ditangahnya kami duduk di bangku-bangku yang telah disediakan. Begitu lampu dimatikan, dunia bawah lain seolah-olah muncul di depan mata dengan ikan yang berseliweran. Inilah hasil teknologi dan kreatifitas manusia yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, melampaui imajinasi.

Sebenarnya masih ada satu wahana lagi di lantai atas untuk berfoto-foto ria dengan background 3 dimensi, seolah olah kami  sedang surfing, terkena seruduk banteng, ditengah-tengah panasnya lava, dan lainnya. Sayang, waktu sudah mepet karena ada jadual pertemuan dengan Jeju Tourism Organization (JTO).

Kami disambut oleh Jinki Hwang, Overseas Promotion Assistant Manager yang mempromosikan Jeju sebagai destinasi yang layak untuk dikunjungi. CNN menasbihkan Jeju sebagai Asia’s new best weekend gateway dengan julukan “Hawaii of Korea”. UNESCO menempatkan Jeju sebagai biosphere reserver (2002) World Natural Heritage (2007) dan Global Geoparks (2010). 

Jeju juga sudah mulai membangun infrastruktur untuk wisatawan Muslim seperti layanan hotel untuk ruangan sholat dan penentuan arah kiblat serta makanan halal. Disini, sudah ada Cabang Federasi Muslim Korea, yang dipimpin oleh Shaikh Hji Bashir Kim Dae Yong, lulusan fakultas syariah Universitas Qatar.

Jumlah kunjungan turis dari Indonesia ke Jeju juga semakin meningkat. Tahun 2012, terdapat hampir 150 ribu turis ke Korea dan sekitar 24 ribu atau 15.9 persen berkunjung ke Jeju, meningkat dari tahun 2011 yang hanya 10.1 persen dan 2010 yang hanya 3.9 persen.

Kami sholat jamak dan qashar di sini seusai acara dengan memindah-mindahkan meja dan kursi yang sebelumnya digunakan untuk presentasi. Di ruangan tersebut sudah disediakan beberapa sajadah, Qur’an dan kompas kiblat. Kiai Masdar memimpin sholat jamaah ini.

Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah seharian capek bermain-main dengan di berbagai wahana, kini waktunya makan malam. JTO menjamu kami di Shangri La seafood buffet Jungmun Marine Park Pacific Land, sebuah restoran yang sangat populer di kawasan tersebut. Jungmun merupakan kawasan resort dan hotel terbaik di Jeju, seperti di Nusa Dua Bali. Disini juga dibangun sebuah convention center untuk menggelar berbagai acara besar.

Disini benar-benar makan besar, berbagai jenis makanan laut terhidang. Ada berbagai jenis sushi, makanan Jepang, biasanya daging ikan salmon yang diletakkan diatas kepalan kecil nasi yang dimakan sekali telan. Selain itu ada kerang, ikan, kepiting yang cukup besar juga udang yang merupakan hasil lain Jeju. Kami mencobanya sedikit-sedikit, menikmati petualangan rasa setelah sebelumnya menjalani petualangan fisik selama seharian. Harganya sih cukup menguras kantong rata-rata orang Indonesia, sekitar 500 ribu rupiah per kepala. 

Setelah kenyang menikmati hidangan yang lezat, kini waktunya merebahkan tubuh. Kami menginap di The Suite Hotel, salah satu hotel terbaik di Jungmun, yang nyaman untuk istirahat. Kami menyiapkan energi untuk petualangan esok hari. (mukafi niam) . Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 18 Desember 2017

Kembangkan BUMDes untuk Tumbuhkan Ekonomi Desa

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi perdesaan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengkapitalisasi sumber daya desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD), Ahmad Erani Yustika mengatakan, pendirian BUMDes memiliki alasan yuridis formal yang menjadi amanat dari Undang-Undang Desa.

Kembangkan BUMDes untuk Tumbuhkan Ekonomi Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan BUMDes untuk Tumbuhkan Ekonomi Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan BUMDes untuk Tumbuhkan Ekonomi Desa

"Di tengah situasi perekonomian di desa saat ini, ? yang kita lakukan adalah mendorong lahir dan berkembangnya BUMDes. Ini adalah upaya kita untuk mengkapitalisasi sumber daya desa," ujar Erani, Jumat (15/7).

Erani melanjutkan, alasan lain didirikannya BUMDes adalah upaya agar keluar dari situasi yang penuh masalah. Menurutnya, ? warga desa selama ini selalu berhadapan dengan kondisi yang penuh dramatis. Misalnya saat terjadinya gagal panen, terjadinya Pemutusan Hubungan Karyawan (PHK) dan sebagainya.

"Ada beberapa hal yang harus kita kawal, salah satunya adalah bagaimana cara kita agar bisa menumbuhkan geliat ekonomi perdesaan. Kita mencoba keluar dari situasi yang penuh masalah, di mana BUMDes memiliki peluang untuk mengkapitalisasi sumber daya dan mengurangi dampaknya," ujarnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Terkait hal tersebut, Menteri Desa PDTT, Marwan Jafar mengatakan, menggeliatnya ekonomi di desa akan berdampak pada peningkatan kebutuhan lembaga keuangan. Untuk itu, BUMDes dan BUMADes (BUMDes antar Desa) di kawasan perdesaan dapat dimanfaatkan untuk menjadi salah satu unit usaha, yang memberikan permodalan kepada pelaku usaha di desa.

Menurutnya, hal tersebut tertuang dalam UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa pasal 23, yakni salah satu jenis usaha BUMDes adalah Bisnis Keuangan (Financial Business) yang memenuhi kebutuhan usaha-usaha skala mikro yang dijalankan oleh pelaku usaha ekonomi Desa. Misalnya memberikan akses kredit dan peminjaman yang mudah diakses oleh masyarakat desa.

"Saat ekenomi di desa menggeliat, masyarakat mulai berpikir untuk menyimpan uangnya sebagai salah satu upaya investasi, serta mengajukan pinjaman sebagai modal usaha. Sehingga akan terjadi perputaran uang di daerah," ujarnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selain itu lanjut Marwan, sarana dan pra sarana teknologi informasi dan komunikasi desa juga harus ditingkatkan, untuk memudahkan masyarakat dalam menjangkau fasilitas perbankan. Misalnya mobile banking, sms banking, dan internet banking.

?"Kita juga mendorong ? perbankan untuk mendirikan cabang, minimal 1 kecamatan memiliki satu cabang bank," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ahlussunnah, Pahlawan, Anti Hoax VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Brebes Sambut Hijriyah dengan Rebana dan Kaligrafi

Brebes, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pemerintah Kabupaten Brebes menyambut tahun baru 1435 Hijriyah dengan menggelar Festival Rebana dan Kaligrafi di pendopo kabupaten Selasa (5/11). 

Brebes Sambut Hijriyah dengan Rebana dan Kaligrafi (Sumber Gambar : Nu Online)
Brebes Sambut Hijriyah dengan Rebana dan Kaligrafi (Sumber Gambar : Nu Online)

Brebes Sambut Hijriyah dengan Rebana dan Kaligrafi

Menurut Ketua Panitia Festival, Syaiful Islam, Sebanyak 26 grup perwakilan dari 17 kecamatan mengikuti rebana. Sedangkan kaligrafi diikuti 34 anak SMP 34 dan anak SMA.

Syaiful menambahkan, kegiatan tersebut memperebutkan piala bupati dan sejumlah uang pembinaan.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE membuka festival dengan cara memukul gong. Dalam kata sambutan, ia berharap momentum Hijriyah digunakan untuk introspeksi diri.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dalam artian, Idza menambahkan, menata kehidupan dari yang tidak baik menjadi baik dan terus berbuat kebaikan dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan hingga tahun berikutnya. “Jangan sampai kita tersandung jatuh ke lubang yang sama,” tuturnya.

Demikian juga dengan Pemkab Brebes, kata dia, berusaha menata kehidupan masyarakat Brebes lebih Islami. Antara lain selalu menyelenggarakan event-event religius. “Pada tanggal 8 November nanti, juga akan digelar pembacaan Yasin secara massal oleh 20 ribu orang,” paparnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kegiatan tersebut berlangsung hingga malam hari. Pemenang Festival Rebana, juara 1 mendapatkan 1 set alat marawis, sejumlah uang pembinaan dan piala. Juara 2 mendapatkan 1 set alat hadrah, uang pembinaan dan piala dan juara 3 mendapatkan 1 set alat qosidah, uang pembinaan dan piala. Sedangkan untuk juara Kaligrafi, juara 1 sampai 3 akan mendapatkan 1 buah laptop. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ahlussunnah, AlaNu VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 14 Desember 2017

Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad

Peringatan Resolusi Jihad NU 22 Oktober 2015 digelar meriah oleh PBNU di Tugu Proklamasi, Jakarta. Momen tersebut juga menjadi acara penyambutan pucak perjalanan Kirab Hari Santri Nasional yang dilaksanakan sejak tanggal 18 dari Tugu Pahlawan Surabaya, Jawa Timur. Pagi itu Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo yang datang bersama pasukan khusus dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, memberikan orasi di hadapan para kiai, perwakilan ormas-ormas Islam, serta ribuan pelajar dan santri dari berbagai daerah. Berikut transkripsi lengkap pidato Gatot yang disampaikan menjelang peresmian Hari Santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada siang harinya di Masjid Istiqlal:

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Yang terhormat,

Ketua-ketua umum ormas Islam

Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad

Tokoh tokoh lintas agama

Para pejabat pemerintah daerah dan para pejabat TNI Polri.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Para Ulama-Santri segenap para alim ulama para Kiai, hadirin undangan yang bebahagia.

Tidak ada yang pantas kita ucapkan selaian puja dan puji syukur kehaditrat Allah Swt. Karena hanya ats kuasa dan ridhonya kita dapat hadir dalam acara oerungatan 70 Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama di Tugu Proklamasi yang memiliki nilai stratagis.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dalam kesempatan ini perlu saya jelaskan, mengapa begitu saya diundang saya hadir di sini. Saya datang tidak sendirian, saya datang dengan dengan pasukan-pasukan khusus. Ada Kopasus, ada Marinir, ada Paskas, ada Kostrad, ada Armed.

Ini untuk mengingatkan genrai uda, bahwa perjuangan bangsa sejak proklamasi kemerdekaan tidak dilakukan oleh TNI, tetapi yang merebut kemerdekaan adalah seluruh komponen bangsa, termasuk para ulama. Setelah merdeka baru TNI lahir. Jadi yang memerdekaan bangsa Indonesai bukan TNI, tetapi bapak-ibu kandung TNI, sehingga TNI adalah anak kandung raya.

Karena sejarah mencatat rangkaian peristiwa ini, bersentuhan langsung dengan kedaulatan Republik Indonesia, Terdapat 4 peristiwa penting yang saling memengaruhi dan saling menguatkan yaitu: peristiwa tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia. 5 Oktober hari pembentukan TKR sekarang TNI. 22 Oktober sebagai hari dicetuskannya Resolusi Jihad NU. Dan 10 November pecahnya perang di Surabaya yang kita kenal sebagai hari pahlawan hanya dalam hitungan empat bulan.

Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang tinggi terhadap semangat dan motivasi yang ditunjukkan para santri sebagai generasi muda bangsa yang terus memilihara dan meneguhkan komitmennya terhadap perjuangan para pahlawan serta kecintaan pada tanah air, salah satunya diwujudkan pada gerak jalan memperingati Resolusi Jihad yang menempuh jarak ratusan kilometer diawali dari tugu pahlwan di Surabaya dan sampai di tugu proklamasi di Jakarta.

Hadirin undangan, peserta gerak jalan yang berbahagia.

Setelah tujuh puluh tahun berlalu, hikmah dan pelajaran yang diperoleh dari peristiwa Resolusi Jihad antara lain: bahwa perjuangan melawan penjajah saat itu, terkait erat dengan Resolusi Jihad yang dkumandangkan oleh rais akbar NU KH. Hasyim Asyari pada tanggal 22 Oktober 1945.

Bangsa penjajah tidak rela negeri ini merdeka sehingga berusaha untuk menguasia kembali tanah air kita. NICA membonceng sekutu untuk menguasai tanah air Indoesia, namun hal itu diketahui oleh para pejuang kemerdekaan dan ditindaklanjuti dengan merapatkan barisan untuk menolak kedatangan kolonialis.Untuk itu para santri berkumpul di seluruh wilayah, Jawa, Madura, seluruh Jawa mereka mengatur langkah strategi perjuanangan sebagai kewajiban mempertahankan tanah air dan bangsanya.

Peran KH Hasyim Asy’ari

Dan pada tanggal 17 September 1945, Presiden Sokarno, memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam kepada KH. Hasyim Asyari, sehingga KH. Hasyim Asyari mengeluarkan sebuah fatwa jihad yang berisikan jihad bahwa perjuangan membela tanah air adalah merupakan jihad fi sabilillah.

Dan selanjutnya menilai situasi di sekitar Surabaya Jawa Timur, atas pemikiran Mayor Jenderal TKR pada waktu itu, Mustopo, sebagai komandan sektor perlawaan Surabaya, bersama Sungkono, Bung Tomo dan tokoh-tokoh Jawa Timur menghadap KH. Hasyim Asyari untuk melakukan perang suci atau jihad dengan sasaran mengusir sekutu dan NICA yang dipimpin oleh Brigjend Mallaby untuk menunjukkan eksistensi adanya perlawanan dan kedaulatan Republik Indonesia. Mengapa demikian, karena pada saat memprokalamasikan kemerdekaan republik Indonesia 17 Agustus 1945, banyak bangsa-bangsa dunia dan PBB belum yakin apakah perjuangan kemerdekaan bangsa ini diberi hadiah oleh penajajah ataukah perlawanan rakyat. Untuk itu makna perjuangan 10 November mempunyai makna yang luar biasa, bahwa bangsa Indonesia bukan diberi tapi melawan mengusir penjajah. Maka lahirlah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yaitu berperang menolak dan melawan penjajah itu fardhu ain yang dikerjakan oleh setiap orang Islam laki-laki, perempuan, anak-anak bersenjata atau tidak.Bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tenpat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang-orang yang berada di luar jarak lingkaran tadi kewajiban itu menjadi fardhu kifayah yang cukup kalau dikerjakan sebagaian saja untuk membentu perjuangan di wilayahnya.

Tanpa Resolusi Jihad, maka tidak ada perlawanan heroik. Jika tidak ada perlawanan heroik maka tidak ada hari pahlawan 10 November. Dan bisa mungkin mustahil bangsa Indonesia ada seperti saat ini.

Saya ingin pula menceritakan bahwa sebenarnya, perlawanan secara heroik bukan dilaksanakan tanggal 10, tetapi lebih awal. Jada pada saat itu KH. Hasyim Asyari menyampaikan,”Kita tunda, kita menunnggu singa Jawa Barat, yaitu Kiai Abbas bin Abdul Jamil”. Beliau adalah cicit dari MBah Muqoyyim, pendiri pesantren Buntet Cirebon.

Dan KH. Hasyim Asyari memerintahkan setelah Kiai Abbas bin Abdul Jamil datang, memerintahkan bahwa komando tertinggi Laskar Hizbullah diserahkan untuk memimpin langsung penyerangan sekutu di Surabaya pada tanggal 10 November 1945.

Pengaruh yang kuat membuat keputusan KH. Hasyim Asyari tersebut mengundurkan waktu sangat tepat. Sehingga terjadilah pertempuran yang sangat heroik yang kita kenal hari ini menjadi hari pahlawan. Hari ini mempunyai makna yang bisa kita petik bahwa peristiwa tersebut, bahwa perjuangan dan kepentingan mempertahankan kedaulatan negara berdimensi lintas etnis dan lintas wilayah. Siapapun dan di manapun mempunyai kewajiban yang sama membela bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tiga Jimat Jendral Sudirman

Dalam kesempatan ini pula saya ingin mengingatkan, dan menggarisbawahi bahwa perjuangan kemerdekaan Resolusi Jihad, hari pahlawan, dan TNI memiliki hubungan historis yang erat dan menentukan. Kita tahu bahwa panglima TNI yang abadi, yang pertama, yaitu Jendral Sudirman, adalah seorang guru agama, seorang santri. Saya sedikit menceritakan bagaimana perjuangan Jenderal Sudirman. Bahwa pada saat Jendral Sudirman belasan orang melakukan gerilya, ada satu orang penghianat. Maka pada saat Jendral Sudirman di rumah penduduk, karena penghianat ini melaporkan kepada Belanda, dikepung.

Tim pengamanan paling depan melaporkan, “Pak Dhe kita sudah dikepung.”

“Tenang, semuanya ganti pakian, dan berdzikir bersama-sama saya.” (Mereka) melakukan tahlil Lailahaillah, Lailahaillah, Lailahaillah.

Belanda masuk, ditunjukkan anak buahnya Pak Dirman (yang pengkhianat itu), “Ini yang namanya Sudirman, yang Tuan cari-cari selama ini.”

Dilihat-lihat (oleh pihak Belanda),“Saya tidak percaya ini Sudirman.”

“Pak Saya anak buahnya, saya bersama-sama bergerilya.”

Dilihat-lihat lagi, tapi tetap tidak percaya.

Belanda itu mencabut pistol. “Kamu pembohong!” Dan penghianat itu ditembak di depan Pak Dirman.

Makna ini mengingatkan, jangan sekali-kali kita menjadi penghianat bangsa. Baru di dunia saja sudah dihukum oleh Allah apalagi di akhirat nanti.

Kemudian, peristiwa demi peristiwa Pak Dirman dikawal oleh Pak Tjokropranolo, dan Pak Suprajo Rustam. Beliau berdua Pak Tjokropranolo dan Pak Rustam, karena saking penasarannya bertanya. Pak Dirman kadang-kadang dipanggl Pak Dhe kadang-kadang dipanggil Pak Yai. “Pak Yai, saya pingin tahu, jimatnya Pak Yai itu apa? Kita dikepung, Pak Yai tenang saja. Malah penghianat yang ditembak. Kita ditembaki, Pak Yai tenang-tenang saja.”

Beliu menjawab, “Kamu ingin tahu? Saya punya tiga jimat. Jimat yang pertama, saya tidak pernah lepas dari bersuci. Jadi kalau batal wudhu kamu kan bawa kendi saya, saya selalu berwudlu. Itu jimat yang pertama. Jimat yang kedua saya tidak pernah shalat tidak tepat waktu. Selalu bersih, waktunya shalat saya pasti salat, kamu tahu kan? Dan yang ketiga, jimat saya yang kegita adalah semua yang saya lakukan dengan tulus dan ikhlas untuk rakyat dan bangsa Indonesia.”

Wasslamua’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

?

Ditranskripsi oleh Fariz Alniezar

?

Video pidato lengkap Jendral Gatot Nurmatyo bisa dilihat di situs Youtube dengan link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=I24ia_KQ23A

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Khutbah, Pertandingan, Ahlussunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 01 Desember 2017

Habib Syech Ajak Jamaah Tidak Golput

Karanganyar, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Dalam rangka menyukseskan penyelenggaraan pemilihan umum (Pemilu) 2014, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf menghimbau warga agar tidak golput dalam pemilu yang digelar bulan mendatang.

Habib Syech Ajak Jamaah Tidak Golput (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech Ajak Jamaah Tidak Golput (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech Ajak Jamaah Tidak Golput

“Saya berpesan kepada para jamaah semuanya, mari sukseskan pemilu dengan tidak golput dan gunakanlah hak pilih sebaik-baiknya,” seru Habib Syech di hadapan sekitar 10.000 jamaah di alun-alun mapolres Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (11/3).

Habib Syech secara khusus tidak memberikan instruksi untuk memilih dan mendukung partai manapun, baik dalam pileg maupun pilpres mendatang. “Silakan jamaah memilih partai ataupun presiden sesuai dengan prinsip dan hati nurani masing-masing, namun yang terpenting jangan golput,” tegasnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari  pantauan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth, acara pada malam itu lebih meriah daripada sebelumnya. Banyaknya bendera merah putih, bendera NU, dan bendera Ahbabul Musthofa yang dikibarkan para jamaah menambah semaraknya acara.

“Memang polres pernah mengadakan acara serupa namun dahulu tidak seramai dan meriah sekarang,” ujar Alim salah satu jamaah yang aktif ikuti pengajian di Karanganyar. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ahlussunnah, Quote VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 30 November 2017

Pesantren dan Perjuangan untuk Kemerdekaan

Dalam perjalanan sejarah nasional yang sudah banyak dinikmati anak-anak sekolah dan dunia akademisi, pahlawan kemerdekaan dan pengusiran para penjajah hanya dilakukan oleh segelentir orang. Misalkan Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo, Achmad Yani, Supratman, dan Jenderal Sudirman. Bahkan riwayat pengakuan sebagai pahlawan kemerdekaan dalam mengusir penjajah dari Hindia Belanda ada yang nyaris dilupakan, misalkan Tan Malaka. Padahal Tan Malaka juga pejuang mengusir penjajah seangkatan dengan Soekarno dan pahlawan lainnya. Namun, namanya ditenggelamkan dari riwayat perjuangan para pahlawan nasional.

Begitu pula dengan pejuang yang hakikatnya lebih agresif dalam melawan penjajahan, yaitu pesantren dan tokoh-tokohnya yang mayoritas terdiri dari kiai dan rakyat biasa. Mereka seakan-akan mau dilupakan oleh catatan sejarah perjuangan dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini. Jika kita cermati secara saksama, peran pesantren dan tokoh-tokoh agama memiliki peran banyak dalam mengusir penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan Hindia Belanda. Misalkan KH Hasyim Asy’ari di Jombang. Namun, sejarah sudah tidak adil dan ditutupi oleh kepentingan elit politik.

Pesantren dan Perjuangan untuk Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Perjuangan untuk Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Perjuangan untuk Kemerdekaan

Maka dari itu, inisiatif H Ahmad Zaini Hasan untuk membuka mata sejarah melalui buku ini perlu diacungi jempol. Melalui karyanya ini ia akan menguak dan menggali lagi sejarah pesantren serta tokoh-tokohnya dan rakyat jelata yang pernah mengusir penjajah demi kemerdekaan Hindia Belanda yang terkubur dari gerusan tanah elit politik. Pesantren dan para kiai yang berjuang melawan penjajahan adalah pahlawan yang jasa-jasa dan perjuangannya juga perlu dikenang dan diamalkan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ada banyak fakta sejarah yang menyatakan bahwa pesantren adalah musuh para kaum penjajah dan kaum elit negeri menjadi teman-temannya. Maka tak heran jika perjuangan mengusir kaum kolonial berangkat dari rakyat jelata dan pesantren dengan basis memberikan pendidikan kepada mereka yang tertindas. Misalkan pesantren Buntet di Cirebon melakukan berbagai daya dan upaya untuk mengusir kaum kolonial (hlm. 3).

Di Cirebon ini, berbagai aktivitas nasional berjalan. Cirebon sebagai sentra perdagangan dan penyebaran Islam oleh Sunan Gunung Jati pada masa dulu, bukan semata-mata kebetulan belaka. Namun, di sana ada potensi untuk gerakan kaum kolonial dalam menancapkan akar-akar kolonialisme dan imperialisme. Maka di sana lahirlah pesantren Buntet. Tokoh utama yang menjadi pejuang dari pesantren Buntet yaitu Kiai Abbas dan Kiai Muqayyim serta kiai-kiai lainnya yang memiliki pengetahuan luas dan ilmu supranatural yang sulit dilawan menggunakan senjata modern.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kiai Abbas dari pesantren Buntet Cirebon bukan sembarang kiai, pada saat melawan tentara Inggris di Surabaya, KH Hasyim Asy’ari menunggu kedatangan Kiai Abbas dari Buntet sebelum memulai perlawanan. Kiai Abbas memiliki kekuatan laskar Hizbullah. Dari kekuatan laskar tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu organisasi yang terdiri dari anak-anak dan orang tua.

Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh kiai Abbas itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di Surabaya pada tahun 1946. Peristiwa itu terjadi setelah Kiai Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1946. Bung Tomo segera datang berkonsultasi pada KH Hasyim Asy’ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris.

Tetapi kiai Hasyim Asy’ari menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu, sebelum Kiai Abbas datang ke Surabaya. Memang setelah itu laskar dari pesantren Buntet, di bawah pimpinan KH Abbas beserta adiknya, KH Anas mempunyai peran besar dalam perjuangan menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 November 1945 (hlm. 57).

Kehadiran karya ini untuk menunjukkan bahwa pesantren yang selalu identik dengan kalangan tertinggal bukan seperti yang sering kita dengar. Pesantren merupakan tempat pergerakan para pejuang untuk memerdekakan bangsa Indonesia yang tertinggal dari sisi ekonomi, pendidikan, dan berbagai ilmu pengetahuan. Di mana ada pusat penjajah bercokol, tak jauh dari tempat itu pesantren akan berdiri dan para kiai yang menjadi penggerak untuk meluasnya penjajahan. Kita perlu membuka cakrawala pikir yang luas untuk membuka pintu sejarah pesantren di balik perannya dalam pengusiran kaum penjajah. Benih-benih perjuangan dari pesantren jangan sampai dikerdilkan hanya karena persoalan politik dan kepentingan pribadi yang mengatasnamakan agama dan bangsa Indonesia.

Buku ini mengisahkan perjuangan pesantren Buntet dan pergerakan-pergerakan nasional yang dilakukan oleh para kiai pesantren Buntet dan keturunan-keturunannya untuk merebut kemerdekaan bagi rakyat Indonesia dari kaum penjajah. Ada banyak peran oleh pesantren Buntet dan para tokohnya yang dipaparkan dalam buku ini. Mulai tentang Cirebon sebagai pusat gerakan, pesantren Buntet sebagai pedepokan para pendekar, dan perjuangan-perjuangannya yang dilakukan untuk mengusir kaum penjajah.

Sebenarnya Buntet ini hanya merupakan sebagai representasi perjuangan rakyat jelata dan pesantren untuk melawan penjajahan dari keseluruhan pesantren yang ada di Nusantara. Dengan kata lain, buku ini hanya fokus pada perjuangan dan pergerakan nasional dari pesantren Buntet di Jawa Barat dalam pengusiran kaum penjajah di Indonesia.

Data Buku

Judul : Perlawanan dari Tanah Pengasingan Kiai Abbas, Pesantren Buntet, dan Bela Negara

Penulis : H Ahmad Zaini Hasan

Penerbit : LKiS

Cetakan : I, 2014

Tebal : xxii + 174 halaman: 16 x 23,5 cm

ISBN : 602-14913-2-7

Peresensi : Junaidi Khab, Pecinta Baca Buku dan Tercatat Sebagai Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel, Surabaya?

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Sholawat, Ahlussunnah, Kyai VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 24 November 2017

STISNU Berdayakan Ekonomi Pedagang Kaki Lima

Tangerang, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Sebagai wujud Tridarma perguruan tinggi, STISNU Nusantara berdayakan pedagang kaki lima. Kampus menyediakan tempat yang lebih layak agar penghasilan mereka meningkatkan.?

STISNU Berdayakan Ekonomi Pedagang Kaki Lima (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Berdayakan Ekonomi Pedagang Kaki Lima (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Berdayakan Ekonomi Pedagang Kaki Lima

"Kita bangunkan tempat untuk berjualan. Ini sebagai wujud komitmen kampus membangun ekonomi kerakyatan," jelas Wakil Ketua I Bid Akademik STISNU Nusantara H Muhammad Qustulani kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth selepas acara tahlilan kantin Rakyat STISNU, Sabtu (1/4) malam.

Ia melanjutkan, dengan kantin rakyat STISNU ini diharapkan penjualan mereka meningkat. Karena tempat yang disediakan strategis. Mereka juga bisa menambah barang jualannya.

Salah satu yang merasakan program itu adalah Cak Madun. Ia menuturkan, STISNU membantu usahanya. Menurutnya, keberadaan STISNU membawa berkah.

"Alhamdulillah, dengan adanya STISNU penghasilan saya jadi bertambah. Saya merasa berkah. Apalagi menempati kantin ini. Mudah-mudahan tambah berkah," harapnya.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Cak Madun berjualan di Jalan Perintis Kemerdekaan sudah lebih dari 2 tahun. Tapi baru kali ini ia bisa memiliki tempat jualan permanen. Sebelumnya hanya menggunakan gerobak saja. (Suhendra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ahlussunnah, Santri VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 22 November 2017

Kang Abik Berbagi Kiat Tulis Novel dengan Santri Jombang

Jombang, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Kehadiran novelis kondang Habiburrahman El-Shirazy (Kang Abik) di Pesantren Tebuireng Jombang, disambut antusias lebih dari seribu santri yang memenuhi Masjid Ulul Albab Tebuireng, Jumat (28/4) sore. Dalam peluncuran novel terbaru berjudul Bidadari Bermata Bening, Kang Abik sejak awal penuturannya berhasil memukau peserta yang berulangkali memberikan aplaus.

Selain mengulas isi novel terbarunya, alumnus Universitas Al-Azhar Mesir ini juga memotivasi peserta agar membuat karya yang menarik minat pembaca. Menurut dia, menjadi penulis membutuhkan proses panjang, yang dimulai dari hal-hal kecil. Pria kelahiran Semarang ini pun bercerita, saat mulai belajar menulis di majalah dinding (mading), tidak jarang dia dipandang sebelah mata oleh teman-temannya.

Kang Abik Berbagi Kiat Tulis Novel dengan Santri Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Abik Berbagi Kiat Tulis Novel dengan Santri Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Abik Berbagi Kiat Tulis Novel dengan Santri Jombang

"Lakukan apa yang saya lakukan dulu. Tidak ada penulis yang sukses jika tidak diawali dari satu kata, dua kata. Tidak ada penulis yang langsung sukses. Saya pun mulai menulis dari majalah dinding," ujarnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selain itu, Kang Abik menuturkan bahwa penguasaan data untuk menyusun alur cerita yang menarik dan menggungah, juga sangat penting. "Data itu sangat penting. Saya menulis (novel) ini pakai riset," ungkapnya.

Agar menarik, cerita apa pun harus dibumbui konflik. "Bisa hard conflict, bisa soft conflict, atau inner conflict (konflik batin). Dan harus ada sudut pandang pengarang," imbuh alumnus Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta ini.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selain berbagi kiat menjadi penulis, Kang Abik juga bercerita bahwa ibunya dulu sempat menginginkan dia belajar di Pesantren Tebuireng. Karena itu, meski belum pernah berkunjung, dia mengaku sudah jatuh cinta pada pesantren yang didirikan Hadlratus Syekh KHM Hasyim Asyari ini. "Tebuireng adalah tempat yang dulu diinginkan ibu saya untuk mondok," imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz memuji novel ke-15 Kang Abik ini. "Ini bukan sekadar novel. Tapi lebih kepada keintiman kehidupan seorang santri dan cita-cita yang diperjuangkan. Ada unsur ibadah dan iman yang dimunculkan, sebagai kekayaan religi pesantren," ucap pria yang akrab dipanggil Gus Kikin ini.

Gus Kikin memuji Kang Abik sebagai santri yang mampu merefleksikan dunia pesantren ke dalam bentuk tekstual yang indah dan kaya akan simbol sastra. "Tidak melulu menghadirkan hal yang berbau cinta dalam novel, tetapi membubuhkan pesan bernuansa religi di dalam setiap karya-karyanya," puji bapak dua anak ini.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Kikin juga berpesan agar para santri memilih jenis buku bacaannya. Menurut dia, jika para santri gemar membaca novel Barat, secara tidak langsung watak dan perilakunya akan cenderung meniru budaya mereka.

Menurut cicit KHM Hasyim Asyari itu, kalau santri membaca komik Superman, misalnya, bisa jadi dia akan berkhayal bisa terbang. Kalau yang dibaca buku karya JK. Rowling, dia juga akan berimajinasi menaiki sapu terbang.

"Tapi, jika ada novel yang berkualitas seperti ini, bisa jadi orang asing akan termotivasi dengan budaya Indonesia dan tertarik untuk mempelajari. Khususnya dunia kepesantrenan," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Santri, AlaNu, Ahlussunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 10 November 2017

Generasi Muda NU Tutup 3 Minimarket Ilegal di Tasikmalaya

Tasikmalaya, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Aktivis muda dari berbagai organisasi NU mengadakan audiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi I, II, II dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait di Ruang Paripurna DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka menuntut minimarket ilegal yang kembali marak ditutup lagi.

Audiensi yang berlangsung Kamis (1/10) diikuti antara lain dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU),  Gerakan Pemuda Ansor, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(PMII), Gusdurian Tasikmalaya, DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Tasikmalaya, BEM STIE Cipasung. Mereka menamakan dirinya Forum Pembela Ekonomi Rakyat (FPER).

Generasi Muda NU Tutup 3 Minimarket Ilegal di Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Generasi Muda NU Tutup 3 Minimarket Ilegal di Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Generasi Muda NU Tutup 3 Minimarket Ilegal di Tasikmalaya

Pada 4 Januari 2015 lalu FPER mengadakan audiensi dan menuntut DPRD dan SKPD terkait untuk menutup 16 minimarket ilegal. Penutupan ternyata tak dipatuhi sepenuhnya. Setidaknya ada 3 minimarket ilegal yang berjejaring dengan Indomart mulai beroperasi, yaitu di Cintaraja (Kecamatan Singaparna), Kecamatan Sisayong dan Kecamatan Manonjaya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Untuk kasus di Cintaraja, pengoperasian minimarket ilegal berujung pada penebangan pohon yang dilindungi pemerintah provinsi setempat. Dalam urusan ini, Koordinator FPER Asep Abdul Ropik mengaku telah mengundang SKPD terkait dan mengklarifikasi penebangan pohon di depan minimarket ilegal di Cintaraja dengan menghadirkan kepala desa Cintaraja.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sekretaris GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya itu juga mengatakan bahwa audiensi tersebut menghasilkan pembekuan 3 minimarket ilegal yang telah  melanggar  Peraturan  Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2014 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat pembelajaran dan toko modern terkait perizinan dan lain lain.

Pertemuan juga mempertegas jam operasi minimarket yang sudah berizin agar menaati Peraturan Bupati (Perbup) terkait toko modern atau minimarket. Para aktivis NU itu juga merekomendasikan adanya kajian ulang terhadap Perda dan Perbup karena belum terdapat aturan pembatasan toko modern yang merusak ekonomi rakyat di tiap kecamatan.

“Dan juga menata ulang persoalan definisi dan seluruh yang berkaitan dengan tata kelolanya terkait pasar tradisional dan zonasi yang telah diatur dalam Perda RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah),” terusnya.

“Dan untuk penebangan pohon yang didepan Indomart ilegal di Cintaraja kami meminta dinas terkait dalam hal ini Dinas Bina Marga, lingkungan hidup, hutan dan kebun, dan sebagainya, agar tegas melakukan tufoksinya yaitu pengawasan terhadap aset daerah,” tegas Ropik. (Husni Mubarok/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ahlussunnah, Pahlawan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock