Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

KH Ahmad Shiddiq tentang Tawasuth dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

KH Ahmad Shiddiq, Rais ‘Aam PBNU tahun 1984-1991, mengatakan, “Dalam ber-amar ma’ruf dan ber-nahi munkar,watak tawasuth juga tetap menjadi pegangan pokok. Demikian pula dalam pergaulan antara manusia di tengah-tengah masyarakat majemuk. Tawasuth dalam Islam bukanlah hasil dari dialektika tesis dan antitesis yang kemudian menimbulkan sintesis. Tawasuth Islam sudah ditetapkan oleh Allah SWT sesuai “strategi dan skenario agung.

Garapan pokok Islam adalah da‘wah ila-Llâh (ud‘û ilâ sabîli rabbika/wa man ahsana qaulan min man da‘â ila-Lâh, mengajak manusia untuk menempuh jalan Allah, jalan yang diridhai oleh Allah, jalan yang ditunjukkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya. Dengan membawa Islam dan untuk melaksanakan Islam itulah Allah SWT mengutus para Rasul-Nya.

KH Ahmad Shiddiq tentang Tawasuth dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ahmad Shiddiq tentang Tawasuth dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ahmad Shiddiq tentang Tawasuth dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Berbagai macam sarana dapat dipergunakan untuk da‘wah ila-Llâh ini, mulai dari harta benda, tenaga, ilmu, teknologi, wibawa, lembaga sosial dan negara, sebagai salah satu wujud persekutuan sosial plus kekuasaan di dalamnya, juga merupakan salah satu sarana untuk menciptakan tata kehidupan yang diridhai oleh Allah pula, menuju rahmatan lil ‘âlamîn.”

(Penggalan wawancara KH Fahmi D Saifuddin dengan KH Ahmad Shiddiq yang tertuang dalam buku Islam,Pancasila,dan Ukhuwah Islamiyah. Buku yang terbit pertama kali pada tahun 1985 ini merupakan rangkuman dari rekaman wawancara dalam beberapa kali kesempatan sejak sebelum Munas Alim Ulama tahun 1983 hingga jelang Rapat Pleno Gabungan PBNU pada pertengahan tahun 1985)

(Red: Mahbib)

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Anti Hoax, Khutbah, AlaSantri VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 26 Februari 2018

100 Pendekar Pagar Nusa Peguron Sapu Jagad Naik Tingkat

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Sekitar 100 pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa di Peguron Sapu Jagat telah menguasai jurus-jurus di tingkatanya masing-masing, sehingga mereka naik kelas ke tingkat selanjutnya. ?

Para pendekar itu dilantik dengan penyematan tanda anggota Pagar Nusa oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa Aizzudin Abdurrahman di Gedung Pariwisata Balekambang, Kramat Jat, Jakarta Timur, Sabtu malam (25/1).

100 Pendekar Pagar Nusa Peguron Sapu Jagad Naik Tingkat (Sumber Gambar : Nu Online)
100 Pendekar Pagar Nusa Peguron Sapu Jagad Naik Tingkat (Sumber Gambar : Nu Online)

100 Pendekar Pagar Nusa Peguron Sapu Jagad Naik Tingkat

Guru Besar Peguron Pencak Silat Sapu Jagat Gus Yusuf Cokro Santri, mengatakan 100 peserta itu terdiri dari tingkat dasar yang masuk ketingkat pertama dan tingkat pertama yang masuk ke tingkat kedua. “Di tingkat dasar pengenalan jurus-jurus elementer Pagar Nusa atau istilahnya pencak silat sebagai busaya,” katanya kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Di Peguron Silat Sapu Jagad, kata Cokro, diwajibkan menguasai jurus-jurus Pagar Nusa. Di samping itu ada jurus-jurus tersendiri yang merupakan kreasai peugron tersebut.

Cokro lebih lanjut menerangkan, dari 100 pendekar itu, ada 20 peserta pendidikan dan latihan untuk melatih. Mereka berasal dari Lampung. “Di Lampung Peguron Sapu Jagat memiliki 15 cabang. 20 orang berlatih jurus-jurus sesuai KTSP Pagar Nusa,” tambahnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menurut Cokro, anak-anak muda sekarang masih meminati seni bela diri pencak silat, “Dari 100 peserta itu mulai dari usia SD sampai perguruan tinggi,” katanya.

Ia juga menerangkan dari 100 pendekar itu 30 orang di antaranya adalah mahasiswa dan mahasiswi Thaliand yang sedang belajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama, Kedoya Jakarta Barat. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ulama, Khutbah, RMI NU VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 24 Februari 2018

GP Ansor Kampar Gelar PKD di Tengah Darurat Asap

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Meski dalam situasi darurat asap dan jarak pandang hanya 100 meter, GP Ansor Kampar tetap melaksanakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) ke-2 di desa Mukti Sari kecamatan Tapung kabupaten Kampar, Sabtu (26-27/9). Peserta yang berjumlah 101 orang terlihat tetap antusias mengikuti rangkaian materi.

GP Ansor Kampar Gelar PKD di Tengah Darurat Asap (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kampar Gelar PKD di Tengah Darurat Asap (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kampar Gelar PKD di Tengah Darurat Asap

Sebagai antisipasi gangguan kesehatan akibat asap, panitia menyediakan masker kendati sebagian dari mereka memilih tidak memakainya.

Instruktur PKD GP Ansor Purwaji mengatakan bahwa Ansor adalah kawah candradimuka bagi kader-kader Ansor yang nantinya disiapkan menjadi penerus kepemimpinan NU di masa datang. “Karena itu kader Ansor dituntut kreatif, aktif, disiplin, efisien, dan rasional.”

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ia juga menegaskan bahwa NU adalah organisasi warisan Wali Songo dan pendirinya juga adalah para wali demi menjaga ajaran Ahlusunnah wal Jamaah di Nusantara. Karena itu mengurus NU melalui GP Ansor insya Allah akan mendatangkan berkah dalam kehidupan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Agar benar-benar berkah, kita harus biasa mau berkorban untuk Ansor dan NU. Jangan khawatir tidak makan karena ngurusi NU, sebab ini organisasi benar-benar warisan para wali," kata Purwaji yang pernah mengikuti TOT Instruktur Nasional GP Ansor angkatan pertama itu.

PKD ke-2 ini terselenggara berkat usaha pengurus PAC GP Ansor Tapung, Wahid Arbain, dan iuran jamaah. Hebatnya, selama dua hari jumlah nasi bungkus sumbangan ibu-ibu Muslimat NU selalu berlebih.

“Gotong royong semacam itu adalah kekuatan NU sejak dulu,” kata Purwaji. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Islam, Ahlussunnah, Khutbah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 17 Februari 2018

PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa penembakan di Papua yang mengakibatkan 8 personel TNI dan 4 warga sipil meninggal dunia, serta 5 orang lainnya menderita luka.

NU mendesak aparat keamanan segera menuntaskan permasalahan tersebut, namun tidak dengan cara-cara represif. 

PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, mengatakan peristiwa penembakan kali ini menambah panjang daftar kekerasan di Papua. Polisi dan TNI sebagai aparat penegak hukum diminta secepatnya mengambil langkah bijak penyelesaian. 

"Siapapun pelakunya, kelompok separatisme atau yang lain dengan tujuan tertentu, (penembakan) ini adalah kriminal. Pelakunya harus segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya," tegas Kiai Said di Jakarta, Jumat ( 22/2/2013). 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kiai Said juga mengungkapkan rasa dukacita dan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban penembakan tersebut. "Atas nama pribadi dan seluruh Nahdliyin, kami ikut berdukacita. Semoga Allah mengampuni dosa seluruh korban, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," lanjutnya.  

Untuk penuntasan masalah kekerasan di Papua, Kiai Said meminta agar tidak dilakukan dengan mengedepankan cara-cara kekerasan. Ruang dialog sebagai sarana mengurai permasalahan dan menemukan jalan keluar disarankan untuk diperbanyak digelar. 

"Pemerintah pernah sukses menerapkan cara-cara itu di Aceh. Di Papua karakteristiknya tidak jauh berbeda. Jadi saya minta Pemerintah membuka sebanyak-banyaknya ruang dialog, libatkan masyarakat setempat untuk mencari jalan keluar terbaik," urai Kiai bergelar Doktor lulusan Universitas Ummul Qura, Mekah, ini. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menjadi satu agenda dalam penuntasan masalah di Papua, Kiai Said juga mendesak Pemerintah untuk segera merealisasikan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. PBNU diakuinya pernah menerima aduan masyarakat Papua perihal kesenjangan kesejahteraan tersebut. 

"Papua sangat kaya, tapi masyarakatnya tidak merasakan itu secara utuh. Ini juga menjadi PR Pemerintah untuk segera diselesaikan, sekaligus menjadi salah satu cara penyelesaian masalah kekerasan," pungkas Kiai Said. 

Seperti diberitakan, peristiwa penembakan terjadi di dua lokasi berbeda di Papua. Pertama terjadi di posko Tinggi Nambut, Kabupaten Puncak Jaya, yang menewaskan  seorang personel TNI atas nama Pratu Wahyu Prabowo.

Penembakan kedua terjadi di Kampung Tangulinik, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak. 7 personel TNI tewas dalam peristiwa tersebut, yaitu Sertu Ramadhan, Pratu Edi, Praka Jojo Wiharja, Pratu Mustofa, Praka Wempi, Sertu Udin, dan Sertu Frans. Dalam perkembangannya 4 warga sipil juga menjadi korban jiwa dalam peristiwa ini.

 

Redaktur: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Khutbah, IMNU, Syariah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 10 Februari 2018

Agus Sunyoto Berbicara Tradisi Lebaran dan Sejarah Ketupat, Seperti Apa?

Setiap tiba Hari Raya Idul Fitri, masyarakat muslim di Indonesia mengisinya dengan beragam kegiatan, seperti mudik ke kampung halaman, membagikan makanan, dan ziarah kubur. Dipandang dari segi kebudayaan, tradisi tersebut tidak berasal dari Arab, negara di mana agama Islam berasal.

Budayawan dan Sejarawan Agus Sunyoto, memiliki perspektif tersendiri. Terkait hal itu, Kontributor VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kendi Setiawan mewawancarai kiai yang juga Ketua Lesbumi PBNU tersebut.?

Agus Sunyoto Berbicara Tradisi Lebaran dan Sejarah Ketupat, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Agus Sunyoto Berbicara Tradisi Lebaran dan Sejarah Ketupat, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Agus Sunyoto Berbicara Tradisi Lebaran dan Sejarah Ketupat, Seperti Apa?

Soal Lebaran Idul Fitri ini, kalau kita amati terutama masyarakat Jawa sangat heboh misalnya dengan agenda beli baju baru dan pulang kampung. Ini bagaimana asal muasalnya?

Ini sebenarnya pengaruh China. Sebelum warga pribumi memeluk agama Islam, orang China yang tinggal di Majapahit sudah memeluk Islam lebih dulu. Di China sana ada kebiasaan kalau lebaran pulang kampung. Termasuk menyulut petasan, bagi-bagi angpao, itu kan pengaruh Bangsa China. Kita sekarang menganggap Bangsa China itu beragama Konghucu. Padahal sebelum pribumi menjadi muslim, Bangsa China sudah menjadi muslim lebih dahulu.

Tradisi-tradisi yang mereka selenggarakan selama beratus-ratus tahun di Indonesia mempengaruhi orang Indonesia.

Apakah pengaruh tersebut ada sisi baiknya?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Pasti, pasti ada sisi baiknya. Tradisi pulang kampung lebaran membuat orang bersilaturahim. Orang yang bermusuhan dan berada di tempat jauh dapat menjalin silaturahim. Juga orang-orang dari desa terangkut ke daerah baru sebagai pekerja. Jadi ini dilihat dari interaksi sosial mereka. Hampir sebelas bulan uang beredar hanya di Ibu Kota. Selama Idul Fitri, atau sekitar 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah Idul Fitri, uang beredar sampai ke desa-desa. Dari situlah devisa itu menyebar.

Jadi tradisi lebaran ini lebih banyak sisi positifnya?

Saya kira banyak sisi positifnya. Sisi positif atau negatif kan tergantung ada manfaatnya atau tidak. Tradisi itu berkembang tergantung pendukung tradisi, bila merugikan dan tidak bermanfaat, ya ditinggalkan saja. Selama ini masyarakat masih konsen dengan tradisi ini. Dari tingkat atas sampai bawah masih akrab dengan halal bihalal. Ini memang sesuatu yang baru yang tidak ada di tempat lain.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Tradisi yang khas dan tidak ada di tempat lain juga adalah membagi-bagikan makanan. Negara Indonesia itu negara yang berlimpah makanan. Karena itu dalam kosakata di bahasa Melayu, Bali dan bahasa daerah lainnya tidak ditemukan kosakata yang sama artinya dengan ‘miskin’. Kosakata ‘miskin’ itu asalnya dari bahasa Arab. ‘Fakir’ juga dari bahasa Arab.?

Di Indonesia peristiwa apa pun diperingati dengan membagikan makanan. Sudah naluri orang Indonesia. Orang baru melahirkan anak, semua tetangga diundang untuk makan; kemudian setelah tujuh hari ada lagi makan bersama. Lalu setelah anak mengalami fase puput puser (mengeringnya kulit atau ujung pusar pada bayi) ada doa-doa. Nanti ada selapanan, makan-makan lagi. ? Wilayah Indonesia itu tidak ada gurun, jadi tidak ada kemiskinan. ? Ya aslinya Indonesia tidak ada orang miskin, karena negara ini berlimpah makanan.?

Lebaran Idul Fitri juga sama. Jangankan Idul Fitri, pada malam likuran di bulan puasa juga orang-orang sudah berbagi makanan. Ini wujud kesyukuran orang Indonesia. Hanya saja mental orang Indonesia yang sering memiskinkan diri. Padahal aslinya kaya, terbukti dengan saling berbagi makanan. Di kota Malang tempat saya tinggal, di beberapa titik muncul pasar takjil selama bulan Ramadhan, dan selalu habis.

Nah, kalau tradisi membuat ketupat itu bagaimana?

Itu asli sini (Indonesia). Di luar negeri tidak ada. Itu sebetulnya diambil dari satu hadits. Man shoma ramadhana tsumma atba‘ahu syi’ta minsyawwalin fakaana shama kasiyaamidahron. (Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti telah berpuasa selama setahun penuh).?

Orang yang berpuasa seperti itu disebut kafah atau kafatan, artinya sempurna. Nah, orang Indonesai menyebutnya kupat (ketupat). Itu sebabnya orang Indonesia setelah berpuasa Syawal, ada hari raya ketupat, artinya hari raya sempurna.

Bila diamati dari satu sisi tradisi Idul Fitri itu kadang-kadang membuat orang seperti berbuat pamer. Antisipasinya bagaimana bagi orang Muslim?

Sebetulnya budaya pamer itu adalah ciri masyarakat petani. Ahli Antropologi dan ? Sosial pasti tahu bahwa masyarakat petani ketika panen ingin memamerkan hasil kerja mereka. Kita tidak mendapati budaya pamer di kota-kota besar, seperti di Surabaya pamer itu tidak ada. Di desa-desa kuat dengan karakter pamer. Itu yang memang harus diluruskan. Tapi memang dari hal ini lebih banyak sisi positinya, seperti pengembangan ekonomi.

Jadi bisa dikatakan dalam perayaan Lebaran Idul Fitri banyak pertunjukan budaya, begitu?

Ya, itu ekspersi orang setelah hampir setahun penuh sibuk bekerja. Juga sebagai ungkapan kerinduan kepada tanah leluhur. Satu hal yang terjadi juga menjelang Idul Fitri atau pada Hari Raya Idul Fitri itu ada ziarah kubur. Saya saja yang sekarang tinggal di Malang harus balik ke Surabaya untuk menziarahi makam bapak, kakek, dan nenek. Semua orang saya rasa begitu, itu yang tidak bisa dicegah. Dan saya kira bagi NU ini tidak masalah, justru tradisi-tradisi lebaran seperti ziarah kubur ini memperkuat NU.

(Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Khutbah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 09 Februari 2018

IPNU-IPPNU Tuban Pungkasi Harlah dengan Jambore

Tuban, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Setelah sukses dengan kegiatan doa bersama yang melibatkan 3000 pelajar dan pelatihan yang diikuti perwakilan peserta dari 13 kecamatan di Tuban, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menggelar puncak acara hari lahir IPNU-IPPNU dengan Jambore Pelajar dan Santri.

Kegiatan yang dihelat 22-24 April 2016 di Mangrove Center Kecamatan Jenu, Tuban, ini diikuti oleh 250 pelajar dan santri di kabupaten setempat. Para kader muda NU tersebut bersaing secara sehat di 10 cabang perlombaan, antara lain Voli Bersarung, Menyanyikan Mars IPNU-IPPNU, Pelajar Cerdas, Duta Pelajar NU, Duta Terfavorit, Stand Up Comedy, Yel-Yel, Masak, Tapak Kemah, dan Kekompakan.

IPNU-IPPNU Tuban Pungkasi Harlah dengan Jambore (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Tuban Pungkasi Harlah dengan Jambore (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Tuban Pungkasi Harlah dengan Jambore

“Jambore kali ini lebih fresh karena diadakan stand up comedy juga. Ternyata rekan-rekanita IPNU-IPPNU juga jago dalam open mic dan bisa membuat orang lain tertawa lepas dengan guyonannya,” ungkap Falahuddin, ketua PC IPNU Tuban.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sebanyak 250 peserta ikut dalam jambore bertema “Cetak Jiwa Kader Militansi Ummah, Menuju Pelajar Pembaharu yang Religius” itu dan terbagi dalam 12 kelompok IPNU dan 13 kelompok IPPNU yang merupakan delegasi dari 12 kecamatan, yaitu Merakurak, Bangilan, Plumpang, Tuban kota, Montong, Kerek, Rengel, Widang, Grabagan, Soko, Palang, dan Semanding.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Puncak Harlah IPNU-IPPNU ini juga melibatkan 14.697 pengguna akun media sosial facebook yang berpartisipasi dalam pemilihan duta pelajar terfavorit. “Pemilihan duta pelajar terfavorit kita laksanakan via FB, dan ternyata terjadi peningkatan animo masyarakat yang cukup besar dalam pemilihan duta terfavorit. Tahun lalu jumlah like hanya sekitar 5940, sekarang sampai melebihi 14.500 like,” ungkap Falahuddin.

 

Setelah menggelar berbagai cabang perlombaan yang dikemas dalam perkemahan selama 3 hari, PAC Montong menyabet predikat juara umum karena mendapatkan juara 1 di 5 cabang perlombaan.

“Jambore ini bukan ajang untuk menang-menangan, tapi ini ajang silaturahim antar-PAC agar lebih saling mengenal dan mampu membangun IPNU-IPPNU Tuban semakin solid,” kata Falahuddin.

Ia berharap kelak seluruh PAC IPNU-IPPNU dan para peserta bisa melanjutkan tonggak estafet IPNU-IPPNU di Tuban. “Selamat bagi para pemenang dan bagi yang belum menang jangan rendah diri. Tetaplah semangat dalam belajar, berjuang, dan bertaqwa,” tambahnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Khutbah, Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 23 Januari 2018

Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan”

Yogyakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pimpinan Pusat Fatayat NU membedah buku ‘Gus Dur di Mata Perempuan’ terbitan Gading, Yogyakarta. Mereka bersama para aktivis di Yogyakarta, mencoba mengkaji buku yang akan dipasarkan pada 2015 mendatang di Pendopo Hijau Yayasan LkiS, Yogyakarta, Sabtu (6/12).

Buku setebal 294 halaman itu berisi pengalaman persinggungan para penulis dengan KH Abdurrahman Wahid. Mereka berasal dari pelbagai latar belakang. Para penulis kebanyakan memiliki pengalaman-pengalaman personal dengan kiai nyentrik itu.

Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan” (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan” (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan”

Hadir sebagai pembicara pada peluncura buku ini salah seorang kontributor Ciciek Farha dan pengurus Fatayat NU Yogyakarta Maghfiroh Rahayu.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menurut Rahayu, buku ini memberikan perspektif baru dalam memandang sosok Gus Dur. Sebab buku-buku yang membahas tentang sosok Gus Dur kebanyakan ditulis oleh kalangan lelaki. Padahal semasa hidupnya Gus Dur lantang berjuang untuk membela kaum yang diperlakukan tidak adil, termasuk perempuan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Secara garis besar, kata Rahayu, buku ini menjelaskan dua hal mengenai keterkaitan Gus Dur dengan isu-isu perempuan di level kebijakan dan praktek.

“Pada Munas NU 1997 di Lombok, Gus Dur mengeluarkan keputusan mengenai bolehnya perempuan menjadi pimpinan,” ujar Rahayu mencontohkan kebijakan Gus Dur. Keputusan ini sangat penting bagi kalanga perempuan.

Sementara Ciciek lebih mengenalkan sosok Gus Dur kepada anak-anak di kampung halamannya. Menurutnya, mengenalkan Gus Dur bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan permainan engrang dan musik.

“Selama ini engrang sering diasumsikan sebagai permainan anak laki-laki. Tapi di kampung halamannya, permainan ini dilakukan oleh semua anak-anak tanpa memandang jenis kelamin,” kata Ciciek. (Sarjoko Subejo/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Khutbah, AlaNu VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock