Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal

Oleh Nasrulloh Afandi

Bulan Ramadhan bukanlah momentum simbolis takwa massal. Tetapi di momentum yang hanya datang setahun sekali itu, setiap individual (Muslim) harus menjadikannya semaksimal mungkin ladang untuk menanamkan nilai-nilai positif yang relevan dengan seruan agama (Islam) muaranya untuk menghasilkan ketakwaan secara massal di ranah publik.?

Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal

Yusuf Al-Qardhawi, dalam bukunya “Fiqhu Ash-Shiyam” , ia menegaskan, selain berbagai manfaatnya pencerahan – medis, psikologis, spritual, ? dan lainnya. Puasa Ramadhan sejatinya adalah sekolah unggulan untuk pendidikan yang sangat berharga, dan mempunyai arti tertinggi, dibuka oleh Islam setiap tahun, untuk setiap individu yang beriman kepada Allah SWT.

Perspektif ushul fiqih, Ia disebut Sar’un Man Qoblana (syariat yang sudah ada sejak masa umat para Nabi terdahulu) namun demikian, esensinya tetap sama, momentum menempa diri bagi setiap Muslim untuk menjadi lebih baik.?

Ditegaskan oleh firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S. Al-Baqoroh: 183)

“Puasa adalah syariat lama yang diwajibkan semenjak umat era Nabi pertama, Adam AS”, demikian komentar para ulama tafsir.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selain ibadah puasa kewajiban setiap muslim (Fardu ‘Ain) Rukun Islam ke-empat umat Nabi Muhammad. Di sisi lain sungguh merugi, jika (esensi) Ramadhan tidak maksimal dijadikan momentum evalusi dan penempaan diri, plus mendekatkan diri pada Allah SWT (taqorrub ilalloh) oleh setiap Muslim. Juga mengimplementasikan berbagai hal positif religius. Vertikal yang berkaitan dengan Sang Pencipta, maupun horizontal yang berkaitan dengan sesama hamba-Nya.

Imam Syafi’I berpendapat: Berbagai ibadah dalam beragama Islam, itu dilatar belakangi maksud diciptakannya makhluk.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Firman Allah SWT: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariat: 56)

Ramadhan adalah “garis start” Keberuntungan yang dianugerahkan kepada orang beriman. Identiknya, dengan datangnya Ramadhan, pasca-Ramadan nanti, setiap individu muslim bukan hanya (akan) Menjadi orang bertakwa kepada Allah SWT, untuk meraup “mutiara“ di luasnya "lautan” keberuntungan bernama Ramadan. Menjadi manusia yang lebih meningkatkan kualitas sumber daya dirinya dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan.?

Dalam tinjauan Maqhosid Asy-Syar’iah (tujuan Syariat) ibadah puasa Ramadan, esensinya adalah, agar orang yang beriman, bisa menjadi bagian dari orang-orang yang bertakwa (La’allakum Tattaqun) Ketakwaan dimaksud adalah, bukan hanya semasa bulan Ramadhan belaka, tetapi tetap bertakwa meski ? Idul Fitri berlalu, dan sampai dengan datangnya Ramadan tahun berikutnya.

Syeikh Abdul Qodir Jailani, dalam Tafsir Al-Jailani-nya menyimpulkan: Takwa adalah hasil dari sebuah pekerjaan (taat kepada Allah SWT) Dengan melaksanakan segala perintahnya, dan menjauhi segala larangannya. Hal itu diungkapkan dalam penafsirannya terhadap surat Al-Baqoroh ayat dua: “Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”(QS. Al-Baqoroh: 2)

Yang dimaksud oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani itu adalah, barang siapa yang menjadikan Alquran pedomannya, maka Ia akan menjadi bagian dari orang bertakwa. Alhasil takwa adalah “Honoris Causa” Bagi setiap pribadi orang beriman yang telah berusaha maksimal (dan mampu) tunduk pada Syariat Ilahi.

Hal ini, perspektif maqhosid syariah (tujuan syariat) menurut Syeikh Muhammad Ratib An-Nabulsy, salah satu ulama terkemuka asal Syiria. Ia berpendapat: ”Maksud Allah SWT yang Maha Agung memerintahkan kita untuk berpuasa adalah, agar kita bisa menjadi bagian dari golongan orang yang bertakwa. ? Dan Allah SWT memenuhi hati kita dengan petunjuk, dan untuk bisa membedakan antara perkara yang hak dan bathil”.

Kesadaran individual untuk massal

Hemat penulis, kesalehan atau ketakwaan massal nihil terwujud jika tidak diawali oleh kesalehan (kesadaran) masing-masing individu di dalamnya. Dengan implementasi unsur-unsur positif (agama) kesalehan dan hal-hal positif yang dimaksud adalah, bukan hanya yang berkaitan dengan Sang Pencipta (vertikal) tetapi juga yang erat dengan sesama manusia (horisontal). Hal itu identik dengan sebagian hikmah disyariatkannya puasa Ramadhan: Untuk mebentuk pribadi Muslim yang kian kokoh dalam mengamalkan atau menerapkan nilai-nilai positif, yang berkaitan dengan Illahi, maupun sesama insani.

Contoh kecil, jika di suatu keluarga misalnya, masing-masing anggota keluarga telah menjadi individu yang saleh, maka keluarga tersebut telah menempati posisi keluarga saleh. Yang akan merembet kepada tetangga, terus lingkungannya. Karena suatu lingkungan tidak bisa menempati posisi lingkungan saleh, jika masing-masing warga di lingkungan tersebut tidak menjadi keluarga saleh. Dan level seterusnya yang lebih luas.

Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS.At-Tahrim: 6)

Adalah jelas sebuah perintah dari Sang Pencipta, untuk memprioritaskan -- diri sendiri -- ? secara individual sebagai orang bertakwa, kemudian berikutnya barulah melebar ke level keluarga dan orang sekitarnya.

Kebalikannya, tentu ? jika di suatu lingkungan terdapat satu individu atau oknum keluarga yang rusak akhlaknya, maka dari jauh pun publik menilai bahwa lingkungan tersebut tidak religius, warga satu lingkungan kena getahnya.?

Alhasil, kondisi (proses) takwa, bagi totalitas suatu bangsa dan negara, harus diawali dari kesadaran dan upaya unsur-unsur individu yang berada dalam lingkup tersebut. Jika setiap individu muslim, maksimal dalam beramal ibadah di bulan Ramadhan, niscaya secara estafet suatu bangsa (akan) menjadi bangsa yang bertakwa secara masal dengan level nasional bahkan internasional, bukan? Efek samping simbolis “kesalehan massal”.

Empat mazhab fiqih (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) sepakat bahwa, autentisitas ibadah puasa adalah vertikal, hanya Allah SWT yang tahu. Tidak seperti ibadah lainnya yang terkadang masih bisa dibuat pura-pura dilaksakan di mata sesama manusia.

Di sisi lain, jika Ramadan diposisikan sebagai simbolis “kesalehan masal”, berisiko setiap individu terjangkit virus tangung jawab (beribadah) pribadinya kurang maksimal. Rawan ? menganggap Ramadhan sebagai “kewajiban bersama”, bukan momentum lautan pahala (unsur positif) dan proteksi untuk diri sendiri. Sehingga kurang bersemangat dalam menggapai anugerah Illahi untuk dirinya sendiri di bulan suci itu, dianggap “hajatan” massal belaka.

Publik Muslim memang dianjurkan untuk bersuka cita menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sayangnya, di ranah Muslimin Indonesia “akar rumput”, hal yang kurang tepat adalah, adalah memposisikan Ramadan sebagai momentum “kesalehan masal”, yang datang setahun sekali, sehingga banyak sekali yang salah kaprah. Dan beresiko sikap “tidak perlu” menyiapkan diri sendiri (individual) secara maksimal dalam menyambut datangnya bulan penuh Rahmat itu, dominan menyambut Ramadan secara “Simbolis massal” sebagai suatu “seremonial” tahunan.?

Di pranata Muslim Indonesia pun akut menjangkit, mulai mentradisi dan menguat. Bahkan terjadinya “pemutar balikan” fakta. Fenomenanya seolah-olah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan "tidak syah" jika tidak menjadi “orang Saleh” secara massal, bila perlu di muka publik, bahkan diekspose media. Cukup memprihatinkan.

Selamat melaksanakan berbagai ibadah di bulan Ramadhan. Mari kita (berusaha maksimal) menjadi individu bertakwa, sebagai upaya ? --partisipasi Individual-- menyumbangkan diri kita, untuk estafet membentuk totalitas sebuah bangsa yang bertakwa.***

Nasrulloh Afandi



Mustasyar PCINU Maroko. Pengajar senior Asy-Syafiiyyah Kedungwugu Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 01 Maret 2018

Kisah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal

Seorang pemuda bernama Idris berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat buah delima yang hanyut terbawa air. Ia ambil buah itu dan tanpa pikir panjang langsung memakannya.

Ketika Idris sudah menghabiskan setengah buah delima itu, baru terpikir olehnya, apakah yang dimakannya itu halal? Buah delima yang dimakan itu bukan miliknya.

Kisah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal

Idris berhenti makan. Ia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan aliran sungai, mencari dimana ada pohon delima. Sampailah ia di bawah pohon delima yang lebat buahnya, persis di pinggir sungai. Dia yakin, buah yang dimakannya jatuh dari pohon ini.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Idris lantas mencari tahu siapa pemilik pohon delima itu, dan bertemulah dia dengan sang pemilik, seorang lelaki setengah baya.

“Saya telah memakan buah delima anda. Apakah ini halal buat saya? Apakah anda mengihlaskannya?” kata Idris.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Orang tua itu, terdiam sebentar, lalu menatap tajam. “Tidak bisa semudah itu. Kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama sebulan tanpa gaji,” katanya kepada Idris.

Demi memelihara perutnya dari makanan yang tidak halal, Idris pun langsung menyanggupinya.

Sebulan berlalu begitu saja. Idris kemudian menemui pemilik kebun.

“Tuan, saya sudah menjaga dan membersihkan kebun anda selama sebulan. Apakah tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?”

“Tidak bisa, ada satu syarat lagi. Kamu harus menikahi putri saya; Seorang gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh.”

Idris terdiam. Tapi dia harus memenuhi persyaratan itu.

Idris pun dinikahkan dengan gadis yang disebutkan. Pemilik menikahkan sendiri anak gadisnya dengan disaksikan beberapa orang, tanpa perantara penghulu.

Setelah akad nikah berlangsung, tuan pemilik kebun memerintahkan Idris menemui putrinya di kamarnya. Ternyata, bukan gadis buta, tulis, bisu dan lumpuh yang ditemui, namun seorang gadis cantik yang nyaris sempurna. Namanya Ruqoyyah.

Sang pemilik kebun tidak rela melepas Idris begitu saja; Seorang pemuda yang jujur dan menjaga diri dari makanan yang tidak halal. Ia ambil Idris sebagai menantu, yang kelak memberinya cucu bernama Syafi’i, seorang ulama besar, guru dan panutan bagi jutaan kaum muslimin di dunia. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 25 Februari 2018

NU dan Muhammadiyah Surabaya Tangkal Radikalisme Agama

Surabaya, NU? Online. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Jawa Timur mengeluarkan Resolusi Ramadhan. Resolusi tersebut merupakan kerja sama kedua organisasi masyarakat (ormas) untuk bersatu menangkal kota pahlawan tersebut dari arus radikalisme agama.

Kerja sama dua ormas ini dilakukan di Kantor PCNU Kota Surabaya di Jalan Bubutan, Rabu (15/6). Ketua PCNU Surabaya H A Muhibbin Zuhri menjelaskan, paham radikalisme jangan sampai berkembang di Surabaya.

NU dan Muhammadiyah Surabaya Tangkal Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Muhammadiyah Surabaya Tangkal Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Muhammadiyah Surabaya Tangkal Radikalisme Agama

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut mendorong Pemkot Surabaya bergandengan tangan dengan NU dan MU dalam membentengi warga Surabaya dari pengaruh radikalisme dan terorisme. "NU dan MU jaga ligkungan masing-masing. Jangan sampai Surabaya dirusak oleh yang aneh-aneh," terangnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Muhibbin menegaskan, Pemkot Surabaya perlu bersinergi dengan NU dan MU dalam menyelesaikan isu terorisme. Deteksi dini terhadap aktifitas radikalisme dan terorisme sangat perlu, dan ini harus melibatkan ormas islam.

Menurutnya, tujuan dari kerja sama ini untuk kebaikan warga Surabaya. Kemaslaharan warga Surabaya secara kultural pekerjaan NU dan Muhammadiyah. Namun semuanya bergantung dari kemauan Pemkot Surabaya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Kerja sama NU dan Muhammadiyah dalam rangka? mewujudkan maslahat umat terutama dalam bidang agama dam ekonomi," ucapnya.

Wakil Ketua PDM Surabaya Hamri Al Jauhari menambahkan, kerja sama yang dibangun merupakan relasi non formal. Tujuannya ingin mencari solusi bersama di tengah karut marut masalah Kota Surabaya.

"Dorong pemkot dan Forpimda berisnergi dengan ormas dalam deteksi dini? atasi ancaman radikalisme dan terorisme," tandasnya. (Rof Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 20 Februari 2018

Gusdurian Bahas Perubahan Pola Komunikasi dan Budaya

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan GusDurian kembali digelar Jumat (6/5) malam di Griya Gus Dur, Menteng, Jakarta Pusat. FJP kali ini bertema Gus Dur dan Pembebasan, dengan menghadirkan pembicara Arswendo Atmowiloto.

Dalam penampilannya, Arswendo membawakan orasi "Jalan Budaya Ketika Langit Tak Lagi Sama" yang dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama diberi judul Jalan Budaya dan bagian kedua berjudul Langit yang Berubah.

Gusdurian Bahas Perubahan Pola Komunikasi dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Bahas Perubahan Pola Komunikasi dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Bahas Perubahan Pola Komunikasi dan Budaya

Pada bagian pertama, Arswendo menyampaikan unsur-unsur kebudayaan, yaitu pertama kreativitas, kedua mengedepankan dialog dan bukan kekerasan, ketiga ada tanpa meniadakan yang lain, keempat daya berkarya, kelima religiusitas atau mungkin soal humor.

Arswendo memberi catatan pada unsur keempat daya berkarya, bahwa jalan budaya dibuktikan bukan hanya dengan rencana dan wacana. Dalam berkarya, need for achievement adalah dorongan untuk membuat sesuatu tanpa disuruh, tanpa diminta atau diiming-imingi. Dorongan untuk berbuat yang akhirnya melahirkan suatu larya, suatu bentuk jadi.

“Ketika menulis Keluarga Cemara, saya tidak menerima honor khusus, gaji juga tidak naik karenanya. Daya berkarya membuahkan hasil ketika cerita pendek itu dikumpulkan, dibukukan, dan diterbitkan, kemudian diproduksi sebagai sinetron seri,” ujar Arswendo.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kaitannya dengan Gus Dur, Arswendo menyebut dorongan berbuat sesutau ini atau semangat pembebasan bisa diteruskan. Gethok tular (penyebaran berita/cerita dari mulut ke mulut-red) di antara para murid Gus Dur—langsung atau tidak, para santri, cantrik, atau mereka yang terinspirasi, terpesona oleh Gus Dur, melakukan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri.

Sementara pada bagian kedua Langit yang Berubah, Arswendo menyampaikan, komunikasi pada masa dahulu, komunikasi dimulai dari atas, dari langit atau kejauhan, dalam bentuk inspirasi, perintah, ilham, kepada orang-orang tertentu yang terpilih. Sementara komunikasi saat ini tergantung pada satelit. Langit pun berubah, tak lagi memilih orang-orang tertentu, melainkan siapa saja yang memiliki akses dengan satelit, hingga puncaknya adalah media sosial.

Unsur-unsur dalam jalan budaya, bisa dipakai sebagai pendekatan dalam menyoba memahami keberadaan media sosial. Pendekatan humor mungkin saja sebagai andalan menyikapi langit yang berubah. Dengan humor atau lelucon, seperti kata Gus Dur, kita melupakan kesulitan hidup, walau sejenak.

Dalam pola komunikasi ‘langit yang telah berubah’, akan lebih tepat bila semangat Gus Dur tidak menjadi luntur karenanya. Arswendo mengajak justru melalui media sosial, kita mampu menyebarkan kabar dan pesona segala hal yang baik.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Arswendo lalu menceritakan pengalamannya saat pergi menghadiri diskusi di daerah Puncak Bogor bersama Gus Dur. Saat itu Gus Dur mengutarakan gagasannya bahwa pengguna jalan tol yang membayar mestinya mendapat diskon setelah masuk tol beberapa kali.?

Gagasan sederhana terlontar dan berkat pemberitaan media, terwujud. Kisah ini, kata Arswendo, barangkali tak banyak didengar. Tetapi pasti inilah kisah yang pantas didengarkan, ditularkan karena membawa kebaikan tanpa merugikan salah satu pihak. Yang menerima kebaikan bisa saja tak mengenal Gus Dur, namun merasakan manfaatnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 25 Januari 2018

Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia

Surabaya,VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Kunjungan sejumlah ulama dan akademisi negeri jiran Malaysia ke pesantren di Jawa Timur menyisakan kekaguman yang mendalam. Mereka rencananya akan menindaklanjuti temuan tersebut negaranya.

Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia

Prof Dato Dr Abdul Razak Hj Omar mengatakan kekaguman itu kepada sejumlah media usai pembukaan seminar internasional yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jawa Timur di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Selasa (23/12/2014).

"Kami melihat bahwa pesantren yang kami kunjungi merupakan model lembaga pendidikan yang sangat bagus," kata Penolong Naib Canselor Hubungan Industri Masyarakat di UTHM Malaysia ini.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Baginya, pesantren merupakan lembaga yang integral sehingga menyatukan antara pendalaman agama dengan pengamalan materi keagamaan dalam keseharian. Ia lalu membandingkan model pendidikan peserta didik di negerinya, Malaysia.

"Di tempat kami, kewajiban mengawasi dan mendidik murid hanya dilakukan saat mereka berada di lembaga pendidikan," katanya. Sedangkan saat pulang ke rumah masing-masing, maka hal itu menjadi kewajiban para orang tuanya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Padahal waktu berada di luar sekolah demikian panjang. "Dan murid dengan mudah bergaul dengan masyarakat dan lingkungannya yang beragam," terangnya. Dan bukan tidak mungkin selama bergaul dengan lingkungan inilah, banyak hal negative yang diterima oleh para muris dan siswa.

Dato Abdul Razak juga menyayangkan banyaknya murid yang cenderung mencari pengetahuan dan pendalaman agama dari media internet. "Bukan tidak mungkin banyak materi keagamaan yang salah dari situs yang dibaca para murid," katanya. Belum lagi mereka dipengaruhi oleh isi dari media sosial yang semakin digemari.

Karena itu, kemunculan para murid yang hanya memiliki pengetahuan agama yang dangkal demikian juga tidak terjaga validitas pengetahuan selama mencari di internet sebagai biang keladi lahirnya generasi muda yang ekstrim.

"Pesantren di Indonesia ternyata bisa memberikan jawaban bagi ketersediaan generasi muda yang memiliki pengetahuan agama secara utuh dan tangguh," bangganya. Karenanya, usai kunjungan ini mereka akan membahas dan meniru pola pendidikan pesantren di Malaysia.

Sejak Jumat lalu, 23 orang ulama dan staf pengajar di Malaysia mengunjungi empat pesantren yakni al-Fitroh Kedinding Surabaya, Sidogiri Pasuruan, Zainul Hasan Genggong Probolinggo serta Bumi Shalawat Sidoarjo.

Apalagi pada akhir seminar internasional juga telah dilakukan penandatanganan kerjasama antara PW Aswaja NU Center dengan kontingen dari Malaysia untuk melakukan pendalaman Ahlus Sunnah wal Jamaah secara lebih intensif.

Seminar internasional ini dihadiri para ulama di antaranya KH Miftachul Akhyar (Rais PWNU Jawa Timur), KH Hasan Mutawakkil Alallah (ketua), KH Abdus Shomad Bukhori (MUI Jatim) serta utusan PCNU se Jawa Timur dan peserta daurah Aswaja dari seluruh Indonesia. (Syaifullah/Abdullah))

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits, Humor Islam VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 24 Januari 2018

Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa

Demak, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Para pengasuh pondok pesantren dan ulama se-Jawa Tengah dan DIY mengadakan silaturrahim di Ponpes Futuhiyyah Mranggen Demak, Jawa Tengah pada Sabtu (28/2) untuk mendeklarasikan Forum Peduli Bangsa yang bertajuk ‘Membangun Kemandirian Pengasuh Pondok Pesantren dan Pesantrennya’.

Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa

Kegiatan yang dihadiri oleh kiai, ulama, dan para cendekiawan ini membahas persoalan bangsa terutama dalam membangun ekonomi umat. Tak kurang dari 60 ulama se-Jawa Tengah dan DIY memadati Aula Yayasan Ponpes Futuhiyyah Mranggen.

Hadir sebagai tamu kehormatan yaitu, KH Mahfudz Shobari (Pacet, Mojokerto), Habib Ja’far bin Muhammad Assegaf (Jepara), Prof Dr Imam Suprayogo (Mantan rektor UIN Malang), Prof Dr KH Abdul Hadi Muthohar, MA., KH Zaim Ahmad Ma’shum (Lasem), dan KH Muhammad Asyiq (Ketua MUI Demak).

Tepat pukul. 10.00 WIB, acara silaturahmi ini dibuka oleh pengasuh Ponpes Futuhiyyah, KH Muhammad Hanif Muslih. ? Melalui sambutan singkatnya, Kiai Muslih menyampaikan, bahwa pembentukan Forum Peduli Bangsa ini sangat penting karena di Jawa Timur sudah banyak dibentuk dan hasilnya sangat bermanfaat sekali terutama pondok pesantren dalam meningkatkan potensi ekonomi pesantrennya.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Untuk itulah, kita mengundang para kiai dan ibu Nyai agar dapat belajar langsung kepada KH Mahfudz Shobari yang dikenal sebagai wirausahawan sukses agar nantinya dapat dikembangkan dalam memberdayakan ekonomi pesantren,” urainya.

Sementara itu, KH Mahfudz Shobari, pendiri dan pengasuh Ponpes Riyadlul Jannah, Pacet Mojokerto memaparkan, kita ini adalah negeri yang mempunyai poteni kekayaan alam yang melimpah ruah, sebut saja emas, batu bara, minyak, gas alam, timah, tembaga, nikel, semen, kelapa sawit, mutiara, ikan, kayu dan lain-lain.

“Akan tetapi sekarang ini potensi kekayaan alam tersebut banyak dikuasai oleh negara asing. Kita ingin santri dapat mengelola kekayaan tersebut sehingga ? menjadi penguasaha yang mandiri. Itulah salah satu tujuan dari dibentuknya Forum Peduli Bangsa ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof Dr Imam Suprayoga mengatakan, pembicaraan tentang kewirausahaan ? ternyata semakin banyak terdengar di mana-mana. Mungkin orang ? semakin ? sadar, bahwa untuk menjadikan orang bisa hidup mandiri, cara terbaik adalah memilih berwirausaha.?

“Di pesantren sendiri banyak sekali potensi wirausaha yang dapat dikembangkan,” jelasnya.

KH Zaim Ahmad Ma’shum yang juga ketua Majlis Permusyawarahan Pengasuh Pesantren se Indonesia (MP3I) mengungkapkan seperti yang dikatakan oleh Simbah KH Ali Ma’shum bahwa diakhir zaman para kiai haruslah kaya ilmu dan materi karena masyarakat hanya akan mendengar mereka yang kaya.

“Kecenderungan seperti yang dikatakan oleh Simbah KH Ali Ma’shum sekarang ini sudah mulai menggejala, untuk itulah penguatan dan pemberdayaan ekonomi pesantren harus terus digalakkan,” ujarnya. (Zabidy/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 21 Januari 2018

Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka

Rembang, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Ratusan warga menerima sembako murah pada acara bakti sosial yang dilaksanakan Pramuka Madrasah Aliyah (MA) Yayasan Sosial Pendidikan Islamiyah Syafiiyah (YSPIS) Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Ahad (26/3).

Kegiatan dilaksanakan di dua desa, yakni Desa Dadapan, Kecamatan Sedan dan Desa Mojokerto Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang itu, panitia membagikan sebanyak 800 paket sembako yang berisi gula, minyak goreng, mie instan dan sabun.

Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka

Kepala MA YSPIS Muhtar Nur Halim mengatakan, bahwa pramuka ini bagian dari pada santri, IPNU dan IPPNU juga bagian dari santri.

"Pramuka bagian dari santri, IPNU-IPPNU juga bagian dari santri. Maka kita harus menanamkan cinta alam, pengembangan pribadi dan menggalakkan sosial," ungkap Muhtar yang juga menjabat sebagai Ketua MWC NU Sedan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ia melanjutkan, bahwa ini merupakan media yang ideal untuk menggarap mereka (peserta didik), bagaimana didalam dirinya tertanam jiwa intelektual, jiwa sosial dan cinta lingkungan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Salah satu warga penerima paket sembako, Suminah mengungkapkan sangat senang menerima paket sembako. Ia mengatakan bahwa ini dapat meringankan beban perekonomian warga.

"Terima kasih kepada panitia. Semoga acara seperti ini sering dilaksanakan," kata warga Desa Mojokerto, Kecamatan Kragan yang kini berusia 62 tahun tersebut. (Aan Ainun Najib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits, Warta, Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock