Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah

Pamekasan, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Kehadiran Nahdlatul Ulama memiliki dua agenda yang sejati, yaitu memakmurkan masjid dan  memakmurkan bumi Allah.

Menurut Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi, hal itu sesuai dengan penegasan Allah dalam Al-Quran. Hanya dua penegasan terkait memakmurkan. Pertama, perintah memakmurkan masjid.

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah

“Bahwa sesungguhnya hanya orang-orang yang beriman yang mau memakmurkan masjid,” ungkapnya pada Rapimda PP LTMU di Pamekasan, Madura, Ahad, (27/01) lalu.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kedua, ayat yang memerintah memakmurkan bumi. Dan bumi itu adalah lambang Nahdlatul Ulama. “Dua agenda kehadiran Nahdlatul Ulama adalah memakmurkan bumi bertolak dari memakmurkan masjid,” tambah Kiai kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 1954.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Lebih jauh, Kiai Masdar menjelaskan, masjid yang pertama (masjid secara fisik) disebut masjid mikro, yang kedua disebut masjid makro (bumi Allah). Pengelolaan masjid mikro adalah tolok ukur pengelolaan masjid makro.

“Masjid itu adalah potret dari kehidupan berbangsa, bernegara dan berbumi ini,” tambahnya.

Kiai penulis buku Syarah Konstitusi: UUD 1945 dalam Perspektif Islam ini menjelaskan, jika disiplin di masjid, misalnya datang tepat waktu shalat, rapi dalam barisan, akan disiplin dalam kehidupan di masyarakat. Jika mau membersihkan masjid, mau juga membersihkan bumi Allah.

“Kalau infaq di masjid itu berjalan dengan baik, berarti pendanaan keumatan juga akan berjalan dengan baik.”

Ia berharap semua pengurus NU lebih memperhatikan masjid. Tidak semua pengurus NU di semua level ada bidang keta’miran masjid. Padahal di situlah umat bertemu dan berkumpul.

“Karena itulah manfaat dari ilmu yang mengalir dari mata air pesantren tidak “sumerambah” tidak menyebar sebagaimana mestinya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Humor Islam, Kajian Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 16 Februari 2018

PSSI Riau: Saya Curiga Kemenangan Timnas Menunggu Output Liga Santri

Indragiri Hulu, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth



Ketua Umum Asprov Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Provinsi Riau, Chaidir, mengatakan, untuk membangun prestasi bola nasional yang handal diperlukan beberapa hal. Ia mengatakan hal itu di sela-sela memantau penyelenggaraan Liga Santri Nusantara Region Sumatra V 27 Agustus lalu.

Selain asupan gizi yang bagus, menurut dia, adalah pembinaan yang berkesinambungan, kedisiplinan dan moralitas merupakan prasyarat yang tidak bisa diby-pass dalam pengembangan sepakbola profesional.

PSSI Riau: Saya Curiga Kemenangan Timnas Menunggu Output Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
PSSI Riau: Saya Curiga Kemenangan Timnas Menunggu Output Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

PSSI Riau: Saya Curiga Kemenangan Timnas Menunggu Output Liga Santri

"Karenanya, sepakbola nasional kita membutuhkan uluran tangan kaum santri untuk berprestasi di kancah kawasan maupun dunia. Kenapa? Karena santri memiliki sebagian besar unsur prasyarat prestasi bola. Di antaranya adalah tradisi kedisiplinan, karakter dan aspek moralitas yang sudah teruji," terang orang pertama di PSSI Provinsi Riau ini.

Lebih lanjut, mantan pemain bola profesional ini meyakinkan, dalam jangka menengah dan panjang, haqqul yaqin output dari LSN ini akan berkontribusi besar pada sepakbola profesional tanah air, bahkan kepada Timnas Indonesia di semua usia.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Saya curiga momen-momen kemenangan Timnas yang sudah lama kita rindukan itu masih menunggu output dari Liga Santri ini," imbuh Chaidir.

LSN Region Sumatra V ini diikuti oleh 32 kesebalasan yang berasal dari 32 pesantren dimana 16 diantaranya berasal dari Provinsi Riau dan 16 sisanya dari Kepulauan Riau. Event ini mendapatkan dukungan penuh dari stakeholder setempat, dukungan kuat diantaranya datang dari Bupati Inhu, Yopi Arianto. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Humor Islam VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 10 Februari 2018

Menag akan Hadiri Silaturrahmi Internasional NU

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali akan menghadiri Silaturahmi Internasional ke-11 Nahdlatul Ulama (NU) yang digagas Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Arab Saudi di Mekkah pada 11 November. Demikian keterangan Ketua Tanfidziyah PCINU Arab Saudi KH Fuad Abdul Wahab, Selasa (9/11). Undangan resmi ke Menag sudah disampaikan di sela-sela ibadah haji.



Menag akan Hadiri Silaturrahmi Internasional NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag akan Hadiri Silaturrahmi Internasional NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag akan Hadiri Silaturrahmi Internasional NU

"Insya-Allah, Pak Suryadharma Ali dapat menghadiri Silaturrahmi Internasional ke-11 NU,"kata Fuad Abdul Wahab. Kegiatan Silaturrahmi Internasional NU dilaksanakan secara rutin sejak 1999 dengan mengambil tempat di Makkah atau dilaksanakan beberapa saat menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji.

Menurut Fuad, Silaturrahmi Internasional ke-11 NU 2010 yang mempertemukan aktivis NU Luar Negeri dari berbagai belahan dunia akan dipusatkan di Rubat Jawiyah, Misfalah, Makkah Al Mukarromah. Selain dihadiri Kemenag Suryadharma Ali yang juga kader NU, Silaturrahmi Internasional NU juga akan dihadiri sejumlah tokoh ormas berlogo bola dunia dan bintang sembilan tersebut.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul UIama (PBNU) Prof KH Said Aqiel Siradj, Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi, dan Mustaysyar PBNU KH Maemun Zubair juga dijadwalkan hadir. Tokoh NU lainnya yang akan hadir yaitu Duta Besar RI untuk Arab Saudi Gatot Abdullah, KH Hafidz Usman, KH Syukron Makmun, KH Manarul Hidayat dan KH Nur Muhammad Iskandar SQ.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Fuad Abdul Wahab menjelaskan, PCINU yang akan mengirimkan delegasinya berjumlah 11 cabang yaitu Arab Saudi, Sudan, Yaman, Mesir, Syria, Jordan, Libanon, Iraq, Maroko, Libia, Inggris, dan Malaysia. Silaturrahmi Internasional ke-11 NU mengambil tema "Memperkuat Khidmat NU Luar Negeri untuk Bangsa" akan dilangsungkan mulai pukul 08.00 hingga 16.00 waktu setempat.

"Kami sengaja mengambil tanggal 11 November dengan pertimbangan jamaah haji sudah berkumpul di sekitar Mekkah serta hari tersebut sangat bersejarah terkait dengan peristiwa hari pahlawan 11 November di mana NU memainkan peran penting,"tutur Fuad Abdu Wahab. (amf/ant)Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Pondok Pesantren, Humor Islam VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jelang Munas NU, PBNU Dalami Materi Penggunaan Investasi Dana Haji Siang Ini

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) akan melakukan pendalaman materi terkait penggunaan investasi dana haji siang ini di Gedung Lantai 5 PBNU, Jalan Kramat Raya, 164, Jakarta Pusat, Senin (2/10) pagi. Pendalaman materi ini merupakan upaya PBNU dalam memahami persoalan ini secara utuh sebelum pembahasan di forum Munas NU 2017 November mendatang.

Pada diskusi siang ini pihak LBM PBNU menghadirkan anggota Komisi VIII DPR RI, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI, dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai narasumber.

Jelang Munas NU, PBNU Dalami Materi Penggunaan Investasi Dana Haji Siang Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Munas NU, PBNU Dalami Materi Penggunaan Investasi Dana Haji Siang Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Munas NU, PBNU Dalami Materi Penggunaan Investasi Dana Haji Siang Ini

H Ulil Abshar Hadrawi, Wasekjen PBNU yang juga panitia Munas dan Konbes NU 2017 mengatakan, diskusi ini digelar dalam rangka memberikan penguatan atas pemahaman PBNU terkait masalah yang diangkat.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Masalah ini diangkat di forum Munas NU 2017 mengingat rencana pemerintah terkait penggunaan dana haji untuk investasi pada proyek-proyek infrastruktur nasional, yaitu jalan tol, pelabuhan, bandara, dan seterusnya,” kata Ulil.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dalam diskusi ini, kata Ulil, narasumber diharapkan memberikan informasi dan data baru yang dibutuhkan para kiai NU untuk menjawab sejumlah masalah yang diangkat di Munas NU 2017, yaitu soal status hukum dana setoran awal BPIH, kewenangan pemerintah dalam mengelola dana BPIH, hukum investasi dana haji pada proyek infrastruktur, soal siapa yang berhak atas keuntungan, dan soal siapa yang berkewajiban menanggung atas kerugian investasi.

Sebagaimana diketahui, forum Munas dan Konbes NU akan diselenggarakan pada akhir November 2017 di Nusa Tenggara Barat. Forum ini akan dihadiri oleh segenap pengurus PWNU se-Indonesia. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Lomba, Humor Islam VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 07 Februari 2018

PCNU Purbalingga Dilantik

Purbalingga, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Purbalingga masa hidmah 2013-2018 resmi dilantik di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Kedungjati, Purbalingga, Jawa Tengah pada Senin 27 Januari 2014.

PCNU Kabupaten Purbalingga dipimpin duet di syuriah H. Nurkholis Ahmadi, sementara dan tanfidiyah H. Suroso Abdul Rozak.

PCNU Purbalingga Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Purbalingga Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Purbalingga Dilantik

Pelantikan dihadiri ribuan warga mulai dari pelajar IPNU-IPPNU, para pengurus dari tingkat ranting hingga pengurus MWC se-Kabupaten Purbalingga, beserta banom-banomnya mulai dari GP Ansor, Fatayat NU, serta muslimat NU.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari jajaran pejabat hadir mewakili Bupati Purbalingga yaitu Asisten 2, Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Purbalingga, Kapolres, Dandim dan yang lainnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

H. Suroso Abdul Rozak dalam sambutannya mengajak kepada semua elemen untuk bekerja keras mengabdikan diri pada perjuangan akidah, sehingga NU Purbalingga ke depan lebih baik. “Dan mohon doanya pengurus yang baru lebih eksis lagi dalam membina umat,” pintanya.

Sambutan dari PWNU disampaikan KH. Arja Amroni dan PBNU oleh KH Imam Azis sama-sama mengajak Nahdliyin untuk meneladani almarhum Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh yang belum lama ini wafat. (Torik Jahidin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Humor Islam, Nahdlatul Ulama VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 05 Februari 2018

Pancasila sebagai Nuqthotul Liqo’

Judul Buku: “Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa”

Penulis: As’ad Said Ali

Pengantar: KH A. Mustofa Bisri

Pancasila sebagai Nuqthotul Liqo’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Pancasila sebagai Nuqthotul Liqo’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Pancasila sebagai Nuqthotul Liqo’

Penerbit: LP3ES Jakarta

Cetakan: I, Februari 2009

Tebal: 340 halaman + xxxii

Peresensi: A. Khoirul Anam


VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Pada saat era reformasi “dibunyikan” sebagian elemen bangsa ini masih trauma dengan Pancasila. Praktis pada masa Orde Baru Pancasila hanya menjadi milik pemerintah. Rakyat tidak diperkenankan memberikan interpretasi terhadap Pancasila. Anak-anak sekolah diwajibkan mengikuti penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) sebagai interpretasi tunggal Pancasila. Semua organisasi dan partai politik diharuskan mencantumkan Pancasila sebagai asas, namun tidak diperkenankan menjelaskan apapun tentang Pancasila. Yang miris, Pancasila menjadi alat untuk membungkam orang-orang yang kritis; yang berbeda dengan pemerintah dianggap tidak pancasilais.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kini Pancasila telah dikembalikan kepada rakyat Indonesia. Sebagian elemen bangsa masih segan mengambil kembali miliknya. Sebagian langsung menyambut hangat Pancasila sebagai ”tenaga dalam” untuk membangunkan kembali bangsa Indonesia dari masa krisis. Namun betapapun dan dalam kondisi apapun tidak ada yang sanggup untuk tidak mengindahkan Pancasila, yang berarti lima sila yakni ”Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan yang adil dan beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Lima sila ini juga dicantumkan dalam teks Pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945.

Buku “Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa” yang ditulis oleh As’ad Said Ali berhasil menunjukkan fakta bahwa dalam kondisi apa pun tidak ada elemen bangsa ini yang sanggup melepaskan Pancasila dari genggaman bangsa Indonesia. Ingin pun tidak. Karena menyingkirkan Pancasila berarti juga memusnahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia (NKRI). Tidak.

Pancasila adalah landasan yang kokoh bagi suatu bangsa besar yang multi etnik, multi agama, ribuan pulau dan kaya sumber daya alam. As’ad menyebut Pancasila sebagai titik pertemuan atau nuqthotul liqo’ yang lahir dari suatu kesadaran bersama pada saat krisis. Dan kesadaran ini muncul dari kesediaan berkorban demi kepentingan yang besar membentuk negara besar. Pancasila merupakan konsensus dasar yang menjadi syarat utama terbentuknya bangsa Indonesia.

Pancasila merupakan nuqthotul liqo’ pada saat terjadi perdebatan yang sangat alot mengenai dasar negara; antara yang menginginkan Indonesia menjadi negara sekuler dan agama, dalam hal ini Islam sebagai agama yang dianut mayoritas bangsa Indonesia. Para tokoh umat Islam dengan berbesar hati untuk mengakui menerima kenyataan bahwa bangsa Indonesia tidak hanya menganut satu agama atau kepercayaan. KH Wahid Hasyim, Ketua PBNU pada saat sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mendukung Pancasila sebagai dasar negara bahkan merelakan perubahan sila pertama yang dirumuskan dengan bersusah payah: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Buku setebal 340 halaman yang ditulis Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu dengan sangat baik menunjukkan suasana tegang, emosi, dan haru pada saat proses perumusan dasar negara. Persoalan beragama kemudian diselesaikan dalam rumusan imajinatif ”Ketuhanan Yang Maha Esa” sila pertama Pancasila. Para tokoh Islam berhasil meyakinkan umat bahwa Islam itu lebih luas dari sekedar negara. Pancasila tidak dilarang karena berdasarkan kaidah fikih al-ashlu fil assya al-ibahah hatta yadulla ad-dalil at-tahrim, bahwa sesuatu itu tidak dilarang selama tidak ada petunjuk agama yang melarangnya. Para ulama berhasil memberikan pemahaman yang arif bahwa Indonesia adalah negara yang berkarakter religius namun bukan negara agama. Indonesia adalah Negara Pancasila. Dan ajaran Islam telah merasuk kedalamnya.

Pada saat pemerintah orde baru secara sepihak memaksakan interpretasi tentang Pancasila dan mengharuskan Pancasila menjadi asas tunggal para ulama menyatakan “Siap!”. Dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama di Situbondo, 21 Desember 1983, para pemimpin NU berhasil merumuskan Deklarasi tentang Hubungan antara Pancasila dan Islam:

“1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama; 2. Sila "Ketuhanan Yang Maha Esa" sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat 1 Undang Undang Dasar (UUD) 1945, yang menjiwai sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam; 3. Bagi Nahdlatul Ulama (NU) Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antara manusia; 4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya; 5. Sebagai kondisi dari sikap di atas, NU berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekwen oleh semua pihak.”

Penerimaan asas tunggal Pancasila ini, terutama pada poin kelima dalam deklarasi tersebut, adalah upaya politis para ulama agar tidak dipedaya oleh pemerintah yang maunya menjadikan Pancasila sebagai milik pribadi.

Lebih lanjut, dalam buku “Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa” itu secara optimis dan penuh percata diri bahkan penulis buku ini mengatakan bahwa Pancasila memberikan inspirasi bagi bangsa-bangsa lain untuk memecahkan masalah dasar konstitusi yan mereka hadapi, terutama terkait persoalan agama. Pada 1924 Turki tidak tahan dengan kesultanan Islam dan berbalik arah menjadi negara sekuler pertama di tengah masyarakat Muslim. Sementara di wilayah Asia Selatan, Pakistan yang berdiri di atas wilayah dinasti Mogul akhirnya memilih menjadi negara Islam. Ada dua arus pemikiran besar yang bersaing saat menuju kemerdekaan antara Ali jinnah sebagai representasi gagasan negara sekuler dan Maududi sebagai representasi pengembangan gagsan negara agama. Toh akhirnya Pakistan memilih jalan negara islam setelah gagal mensenyawakan keduanya dalam format yang solutif untuk sebuah dasar negara yang modern.

Pancasila adalah nilai yang digali dari bangsa Indonesia sendiri pada saat terjadi perdebatan apakah hendak menjadikan Indonesia seperti layaknya negara barat yang maju, apakah menjadikan Indonesia seperti negara sosialis atau kapitalis. Pengalaman sejarah membuktikan bahwa berpegang teguh pada nilai luhur budaya sendiri merupakan sumber kekuatan. Penulis menunjuk Jepang, Korea, China dan India yang berdiri tangguh

Meski merupakan nilai yang digali dari bangsa Indonesia sendiri, bukan berarti Pancasila menjadi azimat. Sebagai ideologi negara yang bersanding dengan ideologi-ideologi besar di dunia, Pancasila adalah ideologi yang terbuka. Interpretasi Pancasila tidak boleh tunggal seperti P4-nya orde baru yang disinggung sekilas di atas. Rakyat Indonesia berhak mengajukan interpretasi mengenai Pancasila sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila sila-sila dalam Pancasila itu sendiri.

As’ad Said Ali dalam buku yang diterbitkan LP3ES itu juga mengkritik beberapa interpretasi Pancasila yang “kebablasan” pada era reformasi. Misalnya, beberapa materi dalam amandemen UUD 1945 memang dilakukan sekedar reaksi dari ketidakpuasan terhadap masa orde baru. Banyak hal dalam orde baru diubah begitu saja. Akibatnya sistem kerakyatan atau demokrasi yang dirumuskan seperti “asal comot”, campur baur dan sangat teoritik, tidak berusaha menyempurkan konsep Demokrasi Pancasila yang telah digagas sejak awal. Kata Asad, perubahan itu ternyata tidak berpengaruh dalam menyejahterakan rakyat Indonesia.

Kebablasan serupa juga terjadi sebelumnya pada masa orde baru. As’ad menyebut “Konsep Ekonomi Pasar Terkelola” yang dirumuskan oleh para birokrat ekonomi yang tergabung dalam Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) atas intruksi Presiden Soeharto, sama sekali tidak menyinggung mengenai koperasi yang diamanatkan dalam UUD 1945 dan oleh para pendiri negara ini ditetapkan sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Ada banyak kebablasan yang perlu diluruskan.

Akhirnya, buku “Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa” sangat layak dibaca. Meski sangat terkesan hati-hati dan “tidak apa adanya” dalam menjelaskan keterkaitan antara para perumus kebijakan negeri ini dengan berbagai ideologi besar yang berkembang dan sangat dominan di dunia, namun berbagai pergulatan dalam merumuskan kebijakan dari masa ke masa, atau dalam menginterpretasikan Pancasila dipaparkan dengan sangat baik dalam buku ini. Buku ini juga sangat menarik dicerna oleh umat Islam yang mayoritas di negeri ini. Bukan saja karena sebagaian besar pembahasan terkait dengan pergulatan konsep bernegara dan beragama (Islam) yang kemudian dipertemukan dalam satu nuqthotul liqo’ bernama Pancasila, tetapi karena ditulis dengan menyertakan istilah-istilah khusus yang sudah dikenal baik oleh kaum santri. Sepertinya ada satu pengharapan penulis, bahwa secara bertahap Pancasila teruslah menjadi spirit dalam mewujudkan “negara kesejahteraan” Indonesia!

*Peresensi adalah wartawan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the TruthDari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Sejarah, Humor Islam VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 31 Januari 2018

Ukhuwah Kusiriyah

Ukhuwah Kusiriyah adalah istilah yang digunakan oleh KH Wahab Hasbullah untuk menggambarkan hubungan organisasional di dalam Partai Masyumi, yaitu kelompok intelektual hasil didikan Belanda dengan para ulama hasil didikan pesantren. 

Semula hubungan ulama sebagai Dewan Syuro dengan kelompok cendekiawan sebagai eksekutif berlangsung harmonis. Tetapi, hubungan itu memburuk ketika kelompok cendekiawan tidak lagi menghiraukan posisi ulama dalam menjalankan kebijakan politik partai. Para ulama mulai disingkirkan karena dianggap tidak mampu dan tidak sejalan dengan spirit politik Barat.

Ukhuwah Kusiriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ukhuwah Kusiriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ukhuwah Kusiriyah

Para ulama NU sebagai anggota istimewa dalam Partai Masyumi beberapa kali mengusulkan agar posisi ulama dipulihkan. Namun, usul itu tidak pernah dihiraukan sehingga para ulama dinonaktifkan, bahkan kemudian tidak punya peran dalam menentukan kebijakan politik, termasuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan agama. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Melihat kenyataan itu, NU mengusulkan adanya restrukturisasi Partai Masyumi dengan bentuk federasi sehingga posisi masing-masing anggota menjadi setara. Dengan demikian, organisasi-organisasi yang lain seperti Perti dan Serikat Islam bisa ditarik kembali. 

Namun, usulan itu juga ditolak, sehingga para ulama NU merasa hanya dijadikan alat politik oleh kelompok cendekiawan hasail didikan Belanda tadi.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Puncak kegusaran ulama NU muncul ketika NU tidak dilibatkan dalam Musyawarah Masyumi tentang politik luar negeri. Alasannya, NU dianggap tidak tahu politik.

Dalam politik luar negeri, sejak awal NU menginginkan Indonesia tetap berposisi netral. Itulah sebabnya NU marah ketika Ir. Soekiman menandatangani Mutual Security Act atau Pakta Perjanjian Keamanan dengan AS pada 1952. 

Menurut NU, para politisi Masyumi telah melakukan tindakan berbahaya karena menyeret Indonesia ke Blok Barat dan berhadapan dengan Blok Timur. Drama ini mencapai puncaknya dengan jatuhnya Kabinet Soekiman dari Masyumi. 

Partai Masyumi pun menjadi cemoohan, terutama oleh Partai Murba dan PKI yang berhaluan kiri.

Pada awalnya, NU menduduki posisi penting dalam pengambilan kebijakan politik di Masyumi. Hal ini tampak ketika Kiai Wahab Hasbullah memberikan kontribusi pemikiran mengenai kemungkinan masuknya Masyumi ke dalam Kabinet Hatta yang menjalankan hasil Perjanjian Renville. 

Hasilnya, Masyumi menyatakan ikut dalam Kabinet Hatta pada 29 Januari 1948. Tujuannya agar Masyumi dapat mengontrol Hatta dalam melaksanakan isi Perjanjian Renville yang merugikan Indonesia tersebut. 

Peranan NU yang signifikan di Masyumi juga muncul ketika Masyumi merespons hasil Perjanjian San Fransisco (4 September 1951) yang berisi perjanjian damai Indonesia dengan Jepang. Atas dorongan NU, Masyumi (Indonesia) menandatangani perjanjian tersebut. Keputusan tersebut diambil berdasarkan pemikiran Kiai Wahab bahwa Indonesia akan memperoleh dua keuntungan dengan menandatangani perjanjian tersebut, yaitu harga diri yang bersifat mental politis dan keuntungan material berupa rampasan perang.

Masalahnya, tiap usulan dan kegusaran NU selalu diredam oleh Masyumi dengan alasan setiap anggota Masyumi harus menjaga ukhuwah Islamiyah. Ketika NU menyatakan hendak keluar dari Masyumi, nasihat tersebut semakin ditekankan oleh kalangan cendekiawan. 

Kiai Wahab sendiri mengatakan bahwa dalam Masyumi tidak ada lagi ukhuwah Islamiyah, karena mereka berjalan atas kemauan sendiri, dan NU sebagai salah satu anggota tidak lagi diajak bermusyawarah. Oleh karena itu, Kiai Wahab menolak ukhuwah semacam itu. Ia menyebutnya sebagai ukhuwah palsu, seperti ukhuwah kusir kereta dengan kudanya. Sang kusir seenaknya mengendalikan kereta, sedangkan kuda terus dilecut untuk menarik kereta. 

Buktinya, selama tujuh tahun bergabung dalam Masyumi dan mengalami 13 kali pergantian kabinet, NU hanya mendapat jatah satu portofolio, yaitu Menteri Agama, dan setelah itu NU tidak diberi jatah menteri sama sekali.

Istilah “ukhuwah kusir kuda” telah menyadarkan warga NU bahwa selama ini mereka hanya diperalat dan akan terus diperalat. Oleh karena itu, wacana untuk keluar dari Masyumi pun meluas di kalangan warga NU dan tidak dapat dibendung lagi. Mereka merasa tidak ada lagi ikatan perjuangan dan ikatan batin dengan Masyumi yang dianggap telah mengingkari kesepakatan awal untuk memperjuangkan aspirasi Islam.

NU akhirnya keluar dari Masyumi pada 1952. Itu merupakan hasil keputusan Muktamar NU di Palembang. Tiga tahun kemudian, dalam Pemilu 1955, NU menjadi partai yang memperoleh suara terbanyak ketiga setelah PNI dan PKI. NU pun berhasil meraih beberapa jabatan menteri, yaitu Menteri Perekonomian, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama. NU juga menunjukkan kemampuannya dalam memimpin negara karena dapat menduduki jabatan Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR, maupun Ketua MPR kala itu. (Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Nusantara, Humor Islam, Nahdlatul Ulama VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock