Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Organisasi yang Rutin Berkumpul Tambah Daya Gedor Perjuangan

Banyuwangi, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth



Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kelurahan Karangrejo mengadakan pengajian rutin. Pekan ini mereka menggelarnya di masjid Al-Ikhlas, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Senin (9/10) malam.

Organisasi yang Rutin Berkumpul Tambah Daya Gedor Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Organisasi yang Rutin Berkumpul Tambah Daya Gedor Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Organisasi yang Rutin Berkumpul Tambah Daya Gedor Perjuangan

Turut hadir pada pengajian rutin dua mingguan itu pengurus Syuriah dan Tanfidziyah serta puluhan warga mulai. Kegiatan diawali dengan pembacaan surat Al-Waqiah, Rotibul Haddad, dan istighosah bersama. Kemudian pengajian umum sekaligus pembekalan dari Rais Syuriah Tanfidziyah.

Ketua PRNU Kelurahan Karangrejo Ahmad Thoyib mengatakan, dengan adanya rutinan organisasi seperti itu, akan menambah daya gedor perjuangan.

"Apa pun gerakannya, sebesar apapun massanya, jika tidak diimbangi dengan perkumpulan rutin, hanya omong kosong," tegasnya. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ia menambahkan, dengan agenda kegiatan seperti ini PRNU Kelurahan Karangrejo mampu membaca perubahan, peluang, dan tantangan terbaru secara up to date.

"Seperti malam ini, kita dapat merapatkan persiapan agenda kegiatan menyongsong Hari Santri Nasional (HSN). Serta mampu merekrut masyarakat sekitar untuk terlibat dalam struktural organisasi NU lebih giat. Tak kalah penting juga menambah persaudaraan antar pengurus dan anggota baru," terang Thoyib.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Semoga kegiatan ini selalu diberikan keistiqomahan. Karena istiqomah lebih baik daripada seribu karomah. Juga dengan amalan yang istiqomah ini, Allah lebih menyukai meskipun sedikit," tutup Thoyib.

Dalam kesempatan ini juga dihadiri oleh perwakilan jajaran pengurus cabang Rijalul Ansor Ahmad Sugiono. Serta pengurus PAC IPNU Kecamatan Banyuwangi. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)





Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Internasional, Pahlawan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 25 Februari 2018

Membangun Optimisme Indonesia

Oleh Aswab Mahasin

Menurut data, indeks kesejahteraan di Indonesia terlihat berkembang pesat ketika masyarakat Indonesia sedang “bermimpi/berkhayal”. Namun, ini hanya data ala Cak Lontong. Yang hanya bisa dipertanggung jawabkan pada “Republik Dagelan”. Karena itu, mari kita bangun, bangunkan jiwamu, bangunkan badanmu, dan gelorakan semangatmu untuk Indonesia Raya.

Membangun Optimisme Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Optimisme Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Optimisme Indonesia

Dalam hal ini, kita tidak akan berbincang mengenai data ekonomi, data kesejahteraan, data apa pun yang menyangkut hal tersebut. Melainkan, sebuah refleksi ringan untuk membangkitkan gairah kita dalam menyongsong masyarakat yang lebih ceria. 

Setiap hari, di berbagai media elektronik ataupun cetak, online maupun offline—kritik tajam terhadap pemerintah selalu ada, tidak satu atau dua. Susah dihindari, hal tersebut pasti ada pada sebuah negara, walaupun sistem kerajaan. Apalagi Indonesia dengan alam demokrasi terbuka, ada dua kubu, koaliasi dan oposisi.

Hal wajar sebenarnya, seperti kecintaan seseorang terhadap pahlawan dan para tokoh Indonesia, tidak sedikit mereka cinta Soekarno, dan tidak sedikit juga dari mereka mengktitik Soekarno, begitupun dengan Hatta, Tjokroaminoto, Soeharto, dan seluruh Mantan Presiden Indonesia. Namun, tidak bisa dipungkiri—yang dicinta dan dibenci adalah sekelompok tokoh yang telah menyumbangkan banyak jasa untuk Indonesia. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Inilah lucunya Indonesia, selalu bahagia dan terhibur ketika melihat orang saling menjatuhkan, saling menghardik, dan saling ribut. Lantas apa sebenarnya peran positif kita untuk Indonesia? Renungkan saat ini juga.

Seperti sekarang, ramai-ramai setiap tahun tepatnya disetiap bulan September, Indonesia rutin dihebohkan oleh serangkaian berita mengenai pertentangan sejarah G30S/PKI. Di tahun ini, belum genap September habis, berita mengenai G30S/PKI sudah mewabah di setiap media, apalagi didukung dengan kejadian dramatis di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Saya berbicara ini hanya seklumit saja, sebagai pengantar—bukan kapasitas saya untuk bicara berlebih.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Anehnya, dari setiap golongan, memegang teguh sejarah yang dipahaminya, saya baca diberbagai media, salah satunya media online, ada 6 tafsiran mengenai G30S/PKI, Anda bisa cari sendiri informasinya,saya tidak mau terjebak panjang lebar.

Dalam tulisan ini yang ingin dibangun adalah, Indonesia sudah terlalu lelah dengan intrik-intrik yang tidak mencerahkan. Pekerjaan rumah Indonesia masih seabrek, dari mulai korupsi, kesejahteraan belum merata, keadilan tumpang tindih, toleransi belum berimbang, dan sebagainya. Masalah-masalah tersebut seharusnya yang menjadi concern bangsa ini untuk menatap jauh kedepan.

Sejarah memang penting, namun lebih penting membuat sejarah (berkualitas). Sekarang momen yang tepat menggelorakan api optimisme Indonesia,bertepatan dengan “Tahun Baru 1 Muharram 1439 H” bisa dijadikan sebagai proses perjalanan ke dalam diri bangsa kita, apa yang salah dari bangsa ini? 

Bagi pemahaman saya, akar masalah dari bangsa kita adalah tipisnya pemahaman kita tentang “nilai”. Nilai sendiri menurut Louis O. Kattsoff ada dua, (1) Nilai Intrinsik, yakni nilai dari sesuatu yang sejak semula sudah bernilai, dan (2) Nilai Instrumental, ialah nilai dari sesuatu karena dapat dipakai sebagai sarana untuk mencapai tujuan sesuatu. 

Indonesia mempunyai sebuah nilai yang asal mula kelahirannya sudah bernilai, seperti Pancasila, Undang-undang Dasar 45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Ke-4 prinsip nilai tersebut dijadikan oleh bangsa kita sebagai pedoman laku kita dalam merajut kualitas bangsa. 

Sudah kita ketahui bersama, Pancasila adalah realisasi dari ide-ide kemanusiaan kita sebagai makhluk spiritual, makhluk sosial, makhluk ekonomi, makhluk politik, dan sejenisnya. Di mana dalam butir-butirnya mengusung Ketuhanan, Kemanusiaan, persatuan, kebijaksanaan, dan keadilan.

Sama sekali tidak ada yang bertentangan, tinggal bagaimana kita menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan kita. Sayangnya, dari kita semua sering lupa (termasuk saya), kemanusiaan dan kesatuan lebih utama dari apapun, di sinilah manusia akhirnya membelot dari kepatuhannya terhadap hukum yang berlaku. Terlahirlah kebiasaan korupsi, melanggar hak, dan melanggar aturan. 

Kita semua pasti tidak berharap, kalau Indonesia yang kita cintai ini menjadi sebuah negara-bangsa yang remeh-temeh, tidak. Apalagi sampai masuk pada kubangan disintegrasi. Karena itu, optimisme harus kita tularkan, optimisme harus kita bangun, dan optimisme harus kita wariskan kepada anak-cucu kita kelak (pemegang estafet generasi selanjutnya)

Amerika memang super power, apakah warga Amerika lebih bahagia dari warga Indonesia, belum tentu juga. Bill Gates memang kaya, orang terkaya di dunia, dengan kekayaan mungkin 1.000 triliuan kali lipat dari warga kita, namun apakah Bill Gates lebih bahagia 1.000 triliuan kali lipat dari kita, tidak!Tidak selalu itu masalahnya, bukan masalah negara kita yang masih dalam taraf berkembang, atau dengan rakyat yang masih belum maju diberbagai hal. Utamanya adalah optimisme. Kreatifitas akan terlahir dari sikap yang optimis. 

Anda tahu? Janji Allah SWT dalam surat al-Insyirah, pada ayat 5-6, Allah SWT menyatakan dengan tegas, “Makasesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan adakemudahan.” Di sinilah Allah menyuruh setiap manusia berlaku optimis. Karena Allah memberikan pesan kepada manusia, “Janganlah berputus asa dari Rahmat Allah.”

Ini yang harus kita jemput dan harus kita rubah. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Rubahnya Indonesia, tidak hanya ditangan pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat pun bertanggung jawab atas perubahan Indonesia—kearah lebih baik. 

Membangun optimisme fungsional, salah satu syaratnya adalah menarik semua kepentingan pribadi kita, egoisme kita, dan kerakusan kita. Allah SWT dan Rasul-Nya selalu mengingatkan kita semua, kendalikan hawa nafsu, tarik hawa nafsu, dan jangan mengedepankan hawa nafsu. Nah, hawa nafsu ini harus kita alihkan kepada kemanfaatan yang nyata dan bermakna. 

Pengorbanan kita terhadap diri kita sendiri baru akan bermakna jika kemudian berefek dan berimplikasi pada kepentingan sosial. Melawan dan mengendalikan hawa nafsu dari berbuat jahat/korupsi, baru akan berarti ketika dalam praksisnya tidak berbuat jahat/korupsi. Yang diperlukan sekarang, bagaimana berbagai aksi pengendalian diri kita dimuarakan kepada kemaslahatan bersama, kepentingan bangsa dan masyarakat luas, sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. 

Sebagai contoh, para guru ngaji terus konsisten membimbing anak didiknya untuk berbuat baik, dengan berpegang pada akhlak yang mulia; para kiai merawat dan selalu mengingatkan serta mengontrol santri/jamaahnya untuk terus menebarkan kedamaian; majelis taklim, LSM, lembaga pendidikan, lembaga kemanusiaan terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat dengan memberi penyuluhan, pemberdayaan, pengembangan mental-spiritual, dan sebagainya; lalu pemerintah terus mengupayakan kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat dan terus memikirkan dibarengi dengan aksi nyata menanggulangi keresahan-keresahan yang terjadi di masyarakat.  Inilah seklumit contoh untuk menebarkan optimisme kepada Indonesia. 

Kita tidak bisa berpangku tangan hanya diam saja, apalagi dengan berbagai perdebatan-perdebatan yang sejatinya tidak mencirikan kemajuan bangsa. Perspektif kita sekarang harus didudukan pada pemahaman “disini, kini, dan nanti”.

Saya akan menutup tulisan ini dengan kata-kata sejarawan sekaligus pengamat politik Indonesia, yaitu Prof. Salim Said, ada kata-kata menarik dan menggairahkan dalam salah satu acara di stasiun televisi, beliau mengatakan, “Kenapa Indonesia masih jalan ditempat, sedangkan Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Israel maju dan berkembang. Kata beliau, karena ada yang mereka takuti, Taiwan takut sama Cina Daratan, Korea Selatan takut sama Korea Utara, Singapura karena dia mayoritas Tionghoa di tengah lautan melayu, Israel takut karena ditengah lautan Arab, kalau mereka tidak hebat, pasti “dikremus”, sedangkan“Indonesia?” Tuhan pun tidak ditakuti (banyak yang melanggar sumpah jabatan), satu bangsa tidak ada yang ditakuti, susah untuk berkembang. Mari kita renungkan bersama, banyak makna di dalamnya.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Pahlawan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 20 Februari 2018

Aktivis Lakpesdam NU Lampung Tengah Terbitkan Buku Tentang Gus Dur

Lampung Tengah, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Kabar gembira bagi pecinta Almaghfurlah KH. Abdurrhaman Wahid (Gus Dur) di Provinsi Lampung, khususnya di Kabupaten Lampung Tengah. Seorang aktivis Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Lampung Tengah membuat karya baru tentang presiden ke-4 itu.

Ahmad Muzakki, aktivis Lakpesdam tersebut, menulis sebuah buku berjudul “Gus Dur Pembaharu Pendidikan Humanis Islam Indonesia Abad 21”. Sekretaris PC Lakpesdam NU Lampung Tengah Saifur Rijal mengapresiasi karya tulis ini. Menurut dia, hal ini menunjukkan bukti konkret adanya geliat semangat warga NU di Kabupaten Lampung Tengah dalam tradisi menulis. ?

Aktivis Lakpesdam NU Lampung Tengah Terbitkan Buku Tentang Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Lakpesdam NU Lampung Tengah Terbitkan Buku Tentang Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Lakpesdam NU Lampung Tengah Terbitkan Buku Tentang Gus Dur

Rijal menggatakan, isi buku ini mengulas ketokohan Gus Dur dengan cukup lengkap. “Rupanya tak hanya sosok yang dominan piawai dalam kancah perpolitikan nasional dan internasional, namun banyak hal yang telah beliau lakukan,” katanya di kantor PC NU Lampung Tengah, Jl Proklamator Raya 134 Seputih Jaya, Gunung Sugih, Lampung Tengah, Senin (6/1).

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Prof. Dr. H. Syaripuddin Basyar, dosen Pasca Sarjana Raden Intan Lampung sekaligus penulis prolog buku tersebut mengaku sangat gembira melihat perkembangan anak-anak muda NU di Provinsi Lampung yang mulai semangat untuk menulis.

“Karya Ahmad Muzakki ini layak untuk diapresiasi dan dibaca kalangan akademisi, praktisi dan juga peminat tentang pendidikan Islam,” ujarnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Buku setebal 236 halaman ini diterbitkan oleh IDEA Press yang beralamatkan di Diro Jalan Amarta, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Nopember 2013. Buku ini semula adalah tesis penulis di Pasca Sarjana STAIN Metro, Lampung tahun 2012. ?

Di Lakpesdam NU Lampung Tengah Ahmad Muzakki mendapat amanah sebagai Wakil Sekretaris masa khidmat 2012 – 2017 sekaligus sebagai Dosen STAI Tulang Bawang, Lampung sejak 2010 hingga sekarang. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Pahlawan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Wujudkan Keterbukaan Informasi, PBNU Dorong KIP Ajak Semua Elemen Bangsa

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dikunjungi Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) yang baru di lantai tiga, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (16/1) malam. 

Wujudkan Keterbukaan Informasi, PBNU Dorong KIP Ajak Semua Elemen Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Wujudkan Keterbukaan Informasi, PBNU Dorong KIP Ajak Semua Elemen Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Wujudkan Keterbukaan Informasi, PBNU Dorong KIP Ajak Semua Elemen Bangsa

Pada pertemuan tersebut, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj didampingi Ketua PBNU H Robikin Emhas, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, dan Wakil Sekretaris PBNU Sultonul Huda.

Sementara dari KIP hadir Ketua Tulus Subardjono, Wakil Ketua KIP Gede Narayana Sunarkha, Anggota Arif Adi Kuswardono, Anggota Hendra, Anggota Cecep Suryadi, Anggota Romanus Ndau Lendong, dan Anggota Wafa Patria Umma.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, setelah era reformasi, semua elemen di Indonesia harus diikutsertakan untuk mewujudkan keterbukaan informasi publik. 

“Mengambil pelajaran pahit di era orde baru. Ada warga masyarakat yang dianakemaskan, ada yang dianaktirikan,” kata Kiai Said kepada Komisioner KIP.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menurut Kiai Said, hal tersebut terjadi akibat 32 tahun rakyat dipecah oleh orde baru, sehingga di antara kebijakan orde baru tidak memperbolehkan orang NU menjadi menteri agama dan ketua MUI. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Jadi akibat dari kebijakan yang kelirulah ada masyarakat anak emas, ada masyarakat anak tiri, bukan hanya terjadi krisis moneter, tapi juga terjadi krisis kepercayaan,” jelas kiai yang juga Pengasuh Pesantren As-Tsaqofah Ciganjur ini.

Pada kesempatan tersebut, kiai yang juga guru besar ilmu tasawuf ini meminta kepada KIP untuk mengedukasi masyarakat. “Masyarakat membutuhkan pendidikan,” katanya. 

Sementara itu, Ketua KIP Tulus Subardjono menyatakan senang berkunjung ke PBNU karena NU merupakan organisasi masyarakat yang mempunyai potensi banyak. 

“NU ini kan udah tersebar di mana-mana. Kami ingin menyosialisasikan tentang keterbukaan informasi publik,” katanya. 

Ia berharap, dengan adanya keterbukaan informasi publik, maka diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan terhadap organisasi sosial akan timbul. “Sehingga kita inginkan adanya kerukunan, saling percaya,” harapnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Pahlawan, Makam VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 06 Februari 2018

NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Nahdlatul Ulama (NU) organisasi yang sejak dulu telah ikut andil dalam perjuangan membela negara. Komitmen kebangsaan NU dan sejarah panjang keberpihakan NU pada tanah air tidak perlu diragukan.

“Soal bela negara, NU tak perlu lagi diajari karena NU sejak dahulu (zaman penjajahan) turut andil dalam berjuang mempertahankan NKRI,” kata Idris Masudi, salah seorang narasumber seminar RUU Antiterorisme: Mengawal NKRI dari Bahaya Terorisme dan Radikalisme di Indonesia di ruang teater Lantai IV Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Rabu (13/5).

NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara

Dalam seminar yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Idris menuturkan bahwa perjuangan bela negara telah difatwakan fardu ain oleh Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari.

Perjuangan bela negara yang telah dilakukan oleh NU ini merupakan wujud konkret afirmasi NU atas berdirinya NKRI dengan dasar negara Pancasila. Berbeda dengan pemahaman kelompok-kelompok radikal yang menganggap bahwa Pancasila adalah sistem taghut yang wajib diperangi.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menurut Idris, salah satu cara untuk menangkal radikalisme dan terorisme adalah semua masyarakat harus berperan aktif dan tidak hanya berpangku tangan menunggu pemerintah.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sementara narasumber lain Ansyad Mbai mengimbau mahasiswa Tafsir Hadits yang memiliki kompetensi dalam mengkaji Al-Quran dan Hadits untuk bisa mengkaji lebih dalam siapakah dalang dari pemahaman menyimpang tersebut, yakni pemahaman yang bertentangan dengan Islam Rahmatan lil Alamin.

“Karena bisa jadi dalang tersebut sebenarnya memiliki motivasi lain dalam melakukan tindakan teror dan radikalnya. Hanya saja ia mengatasnamakan agama sebagai basis tindakannya,” kata Ansyad.

Seminar ini juga dihadiri oleh Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan Fakultas Ushuluddin? Dr Suryadinata MA, Ketua jurusan Tafsir Hadits UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr Lilik Umi Kaltsum, serta utusan Polres Tangerang Selatan Abdul Kohar. (M Alvin Nur Choironi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Pahlawan, Aswaja VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 19 Januari 2018

Pelajar NU Berbagi 1000 Takjil di Pasar Salopa

Tasikmalaya, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Tasikmalaya menggelar silaturahmi kader, Jumat (1/7) sore. Mereka membagikan 1000 takjil untuk masyarakat Kecamatan Salopa di Coblong Salopa Kabupaten Tasikmalaya.

Pertemuan dan bakti sosial ini diikuti kader IPNU se-Kabupaten Tasikmalaya dari mulai komusariat, ranting sampai anak cabang. Kegiatan ini dimulai setelah ashar sampai magrib.

Pelajar NU Berbagi 1000 Takjil di Pasar Salopa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Berbagi 1000 Takjil di Pasar Salopa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Berbagi 1000 Takjil di Pasar Salopa

Ratusan warga yang sedang menunggu buka puasa dan berlalu lalang sekitar Pasar Salopa itu menghampiri para kader IPNU dengan senyuman. Ada juga sebagian warga ikut membantu pelajar membagikan 1000 takjil untuk masyarakat Salopa. Kegiatan ini dihentikan 10 menit menjelang buka puasa. Mereka kemudian berbuka puasa bersama di Danau Lemona Salopa.

Ketua IPNU Kabupaten Tasikmalaya Fikri Nursamsi menuturkan, kegiatan ini bertujuan untuk silaturrahmi kader IPNU di Tasikmalaya yang juga merupakan bagian dari evaluasi kinerja IPNU Tasikmalaya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Pada pertemuan kali ini kami membicarakan kaderisasi yang merupakan tugas utama kami di IPNU seperti pelaksanaan Latihan Kader Utama (Lakut) se-Priangan Timur yang akan dilaksanakan di Tasikmalaya.”

Kami juga membidik penerimaan siswa baru. Kami akan turba dan mencoba melebarkan sayap di sekolah-sekolah untuk bisa merekrut kader para pelajar. Masa orientasi ini kita jadikan sebagai kaderisasi awal di IPNU dengan cara mengisinya dengan Masa Kesetiaan anggota (Makesta).

“Kami menargetkan minimal 1000 anggota baru tahun ini.”

Ia melanjutkan, bagi-bagi 1000 takjil ini merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan Pelajar NU di masyarakat. Kami berharap ini menjadi amal baik para pelajar NU sebagai bentuk sedekah di bulan Ramadhan. (Husni Mubarok/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Jadwal Kajian, Pendidikan, Pahlawan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 15 Januari 2018

NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan

Wonosobo, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. “Mari kita kembali pada Islam yang ramah bukan pemarah, Islam yang merangkul bukan memukul, hentikan ekspresi yang kebablasan, saling mencaci dan memaki di antara anak bangsa,“?

Demikian disampaikan oleh Sekjen PBNU, H.A. Helmy Faishal Zaini dalam pidatonya saat memimpin apel kebangsaan di alun-alun Wonosobo, Ahad (21/5).?

NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan

Ribuan warga Nahdliyin se-Kabupaten Wonosobo mengikuti gelar apel kebangsaan tersebut dengan penuh antusias. Mereka merupakan perwakilan Nahdliyin dari 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Wonosobo.

Dalam orasi kebangsaannya ia menegaskan pentingnya sikap cinta tanah air. Kini Indonesia bisa melihat seberapa besar kecintaan rakyat pada negerinya. Indonesia tidak perlu takut terhadap berbagai ancaman musuh negeri karena rakyat selalu mendukung dan setia pada NKRI. Para pendiri bangsa sudah bersepakat termasuk ulama yang menjadi representasi umat Islam di Indonesia.

Kegiatan apel kebangsaan ini berlangsung sejak Pukul 06.00 WIB dengan diawali istighotsah, dan pembacaan Al-Qur’an 30 Juz ? oleh Muslimat-Fatayat NU. Dalam kesempatan itu, dilakukan pula penandatanganan dan pembacaan bersama ikrar kebangsaan Warga Nahdlatul Ulama Kabupaten Wonosobo oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Wonosobo Arifin Shidiq bersama Rais Syuriyah PCNU Wonosobo KH Abdul Halim. Apel kebangsaan ini dihadiri pula oleh Pengurus PWNU Jawa Tengah, Bupati Wonosobo H Eko Purnomo, Kapolres AKBP M. Ridwan, Dandim 0707 Dwi Hariyanto, Sekda Wonosobo H Eko Sutrisno Wibowo, serta seluruh organisasi sayap NU.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Bersamaan dengan kegiatan tersebut, juga dilaksanakan prosesi pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Wonosobo periode 2017-2022. Selain Pengurus PCNU, dilanjutkan dengan pelantikan Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), PC Pagar Nusa, MWCNU Wonosobo, MWCNU Kepil, serta beberapa lembaga NU lainnya. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Makam, Internasional, Pahlawan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock