Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab

Bekasi, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth 

Siti Zubaidah, istri Muhammad Al-Zahra (MA)—pria yang meninggal dunia karena penyiksaan yang dilakukan massa setelah diduga mencuri amplifier dari sebuah mushala di Bekasi, menceritakan ada kenangan dari almarhum suamiya yang sangat berkesan dalam ingatannya.

“Ya dia selalu mengingatkan saya supaya memakai hijab. Saya kan orangnya tomboi, dia selalu mengingatkan saya,” ujar Zubaidah kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth ketika ditemui di kediamannya di  Kampung Jati, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Sabtu (5/8) siang.

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab

Zubaidah sangat kehilangan suaminya, apalagi peristiwa yang menyebabkan suaminya meninggal dunia, sangat tidak manusiawi. 

Seperti diberitakan sebelumnya, MA, pria berusia 30 tahun, berprofesi sebagai ahli reparasi alat-alat elektronik diduga mencuri amplifier di mushala Al-Hidayah di Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Selasa (1/8) pukul 16.30 WIB. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Tuduhan itu membuat orang-orang melakukan pengejaran dan penyiksaan termasuk membakar MA hidup-hidup hingga menyebabkan kematiannya sekitar pukul 17.30 di Kampung Muara Rt.012/007 Desa Muara bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

“Sekarang nggak ada yang ngingetin lagi (agar selalu berjilbab),” kata perempuan berusia 25 tahun itu.

Zubaidah mengaku tidak mendapat firasat apa-apa sebelum peristiwa tersebut. Pagi hari sebelum berangkat, MA membuat papan untuk salon (sound system). 

“Saya baru tahu sekitar jam delapan pada malam harinya. Karena ada polisi yang memberi tahu dan mengantarkan jenazah suami saya,” tambah Zubaidah. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta, Ahlussunnah, Sholawat VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 25 Februari 2018

Komitmen Perdamaian Dunia, PBNU Gandeng Lembaga Eropa

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MOU) dengan The Community of SantEgidio, lembaga yang berbasis di Eropa, Selasa (14/11) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat.

MOU tersebut ditandatangani oleh Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, sementara dari pihak The Community of SantEgidio ditandatangani oleh Marco Impagliazzo. 

Komitmen Perdamaian Dunia, PBNU Gandeng Lembaga Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Komitmen Perdamaian Dunia, PBNU Gandeng Lembaga Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Komitmen Perdamaian Dunia, PBNU Gandeng Lembaga Eropa

MoU ini berisi tentang Interfaith dialoge, Peace and Reconciliation, Education of Young Generations, Culture of Tolerance and Tigetherness, Humanity, and Prevention Drug Abuse

Hadir pada MoU tersebut Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faisal Zaini, Rais Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imam Pituduh, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim PBNU M Ali Yusuf, dan lain-lain. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud mengatakan, kerja sama ini hanya melanjutkan dari para pemimpin NU dulu. Menurutnya, sejak zaman KH Abdurrahman Wahid MoU ini sudah terjalin. 

"Melanjutkan saja," katanya. 

Ia menjelaskan, tujuan dari MoU ini untuk membuat harmoni antara seluruh makhluk Allah di muka bumi. Oleh karena itu, setiap ada persoalan, katanya, bisa diselesaikan dengan dialog. 

"Bagaimana kita bisa dunia ini agar damai," katanya. 

Hubungan dari kerja sama ini pun, menurutnya, sering mengangkat isu-isu kemanusiaan yang  terjadi di belahan dunia. "Kita ikut terlibat untuk menyampaikan saran-saran terhadap isu-isu dunia tentang kemanusiaan," pungkasnya. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

The Community of SantEgidio sendiri merupakan sebuah komunitas internasional untuk perdamaian dunia yang berbasis di Eropa. Mereka juga melakukan berbagai macam edukasi kemanusiaan. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Teman Terbaik saat Duduk





? ? ? ? ?

Teman Terbaik saat Duduk (Sumber Gambar : Nu Online)
Teman Terbaik saat Duduk (Sumber Gambar : Nu Online)

Teman Terbaik saat Duduk

"Sebaik-baik teman duduk setiap waktu adalah buku." [Maqalah]

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sejumlah peradaban di dunia membuktikan bahwa kebangkitannya dimulai dari buku. Islam abad pertengahan memperoleh kejayaan yang gemilang karena ditopang oleh kegandrungan para ulamanya terhadap buku. Mereka menerjemahkan, menulis, membaca, dan menyebarkan gagasan tanpa pernah surut semangat. Buku atau kitab adalah representasi kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya ayat pertama yang turun berbunyi iqra (bacalah), kendatipun ayat ini bermakna lebih luas dari sekadar membaca buku. Wallahu alam.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta, Ulama, Pendidikan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 15 Februari 2018

Gelar Sultan itu Fondasi Keraton Kasultanan Mataram Islam

Yogyakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Gelar Sultan sesungguhnya merupakan bentuk amanat leluhur, yaitu fondasi Keraton Kasultanan Mataram Islam. Ia memuat berbagai makna, filosofi, dan bahkan teologi yang merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang dikandungnya. Ia mencerminkan visi dan misi institusi yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

Gelar Sultan itu Fondasi Keraton Kasultanan Mataram Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Sultan itu Fondasi Keraton Kasultanan Mataram Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Sultan itu Fondasi Keraton Kasultanan Mataram Islam

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua PWNU DIY, Drs Kiai Jadul Maula dalam konferensi pers di kantor PWNU, Jl MT Haryono 40-42 Yogyakarta, Selasa (2/6) menanggapi Sabdaraja Sultan HB X yang menghilangkan beberapa gelar Sultan, diantaranya Ngabdurrahman, Sayidin Panotogomo, dan Kalifatullah.

Kiai Jadul menjelaskan, bahwa selama ini PWNU banyak menampung keresahan masyarakat dan ulama pesantren dari berbagai daerah. Bukan hanya dari sekitar DIY, namun juga dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga luar Jawa.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Ada stigmatisasi perubahan gelar terhadap Islam. Ibarat rumah yang diganti bukan hanya pintu atau mengganti cat, tapi pondasi. Jadi implikasinya sangat besar,” tegas Kiai Jadul.

Hal ini, lanjutnya, lebih pada keprihatinan keagamaan dalam menyelamatkan kehidupan bermasyarakat, di luar wilayah politik. Ada kegelisahan di kalangan kiai tentang perubahan gelar tersebut. Karena ini tanpa diserta argumen yang jelas dan disepakati secara syar’i.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kiai Jadul Maula kembali menegaskan, akibat perubahan gelar itu ada keresahan dikalangan kiai NU. Karena mereka beranggapan bahwa perubahan gelar ini telah menjadikan adanya stigmatisasi terhadap Islam. Gelar tersebut semua diambil dari Islam melalui perjalanan yang panjang. Sehingga jika gelar itu diubah maka ada proses pengaburan ke-Islam-an tersebut.

Makna gelar Sultan universal

Menurut Kiai Jadul, makna gelar sultan itu universal. Mengubah makna itu berarti ada yang hilang dalam diri kasultanan. ?

“Konsep-konsep penting di dalam gelar seperti: Ngabdurrahman, Sayidin Panotogomo, Kalifatullah, mengandung makna dan amanat bahwa seorang Sultan haruslah mewujudkan pengabdiannya yang tulus kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang dengan laku dan tindakan yang menjaga dan mengupayakan keseimbangan alam, religiusitas masyarakat dan kerukunan antar umat beragama serta keadilan sosial di tengah-tengah warganya,” tegasnya.

Kiai Jadul menjelaskan bahwa gelar Ngabdurrahman mengandung arti bahwa meski menjadi raja, Sultan adalah tetap hamba Allah SWT yang memiliki kasih sayang dengan sesama, termasuk kepada alam. Sedangkan gelar Sayidin Panotogomo, ? dalam pesantren mengandung arti adalah orang yang berkewajiban meningkatkan religiusitas masyarakat dan menata umat beragama yang berbeda agar harmonis. Gelar khalifatullah sendiri berarti Sultan adalah duta Allah SWT yang menegakkan kebenaran dan keadilan.?

“Dengan makna demikian, kami menganggap gelar-gelar itu penting. Adanya gelar itu sudah terbukti dari berdirinya Kraton Yogyakarta sebagai Kraton yang paling lama bertahan hingga sekarang,” tegasnya.? Karena itu, tandasnya, PWNU bersikap, gelar itu mesti dipertahankan. Jika gelar ini dihilangkan maka akan kehilangan porosnya. Karena gelar itu tidak semata-mata nama melainkan sebagai pengikat kontrak teologis, kontrak alam dan kontrak sosial. (Suhendra/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta, Nusantara, IMNU VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 12 Februari 2018

Mencetak Siswa Intelek dan religius

Brebes, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Berangkat dari niatan menampung anak-anak desa yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke kota, MTs Maarif 4 Songgom didirikan. Awalnya, sekolah ini bernama MTs Al-Wathoniyah yang didirikan para tokoh Nahdlatul Ulama, tokoh masyarakat dan tokoh pendidikan di Kecamatan Songgom pada tanggal 14 Desember 1972. 

Karena saat itu, menempati MI Al Wathoniyah 01 Songgom maka dinamakan MTs Al-Wathoniyah.

Mencetak Siswa Intelek dan religius (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencetak Siswa Intelek dan religius (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencetak Siswa Intelek dan religius

Seiring dengan perkembangan zaman dan penataan kelembagaan organisasi, maka sekolah-sekolah dibawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif NU diganti namanya menjadi MTs Maarif NU 4 Songgom. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Sejak 15 Januari 1986, dengan Akta Notaris Nomor 103 MTs Al-Wathoniyah berubah menjadi MTs Maarif NU 4 Songgom,” terang Kepala Sekolah Drs KH Imam Badjuri MPd di sela tasyakuran Hari lahir (Harlah) di ruang kerjanya Rabu (14/12).

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menurutnya, di usianya yang ke-39, sekolahnya kini mendapatkan kepercayaan yang penuh dari masyarakat. Terbukti perkembangannya sangat dinamis, baik dari pertambahan jumlah peserta didik juga sarana dan prasarana yang memadai. Termasuk dari pemerintah juga sangat memperhatikan. 

“Terakhir, kami mendapatkan bantuan dari Menteri Agaga berupa Actif board multi media sebagai kegiatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK),” lanjut Haji Bajuri sambil mengajak VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth melihat langsung Laboratorium TIK.

Atas besutan tangan Haji Badjuri dan 28 orang guru, sebanyak 410 siswa MTs Maarif 4 kerap menorehkan prestasi. Antara lain menjadi sekolah Favorit di Kecamatan Songgom dan menjadi juara diberbagai event baik tingkat kecamatan maupun kabupaten. Tercatat menjadi juara kabupaten Sepak bola, tartil dan tilawah, lari, kepramukaan, bola volley dan lain-lain.

Tasyakuran peringatan Harlah ke-39, selain acara tumpengan juga digelar lomba drumb band tingkat SD/MI se Kecamatan Songgom. Setelah melalui penjurian yang ketat, akhirnya SDN Songgom 01 berhasil menjadi juara 1 dengan nilai 486. Juara 2 MI Al Wathoniyah 01 (456) dan juara 3 SD Songgom 03 (435).

Yang jelas, tambah Haji Badjuri, kami bertekat akan mencetak siswa yang memiliki intelektualitas dan religiusitas yang tinggi dan merdeka. “Siswa yang intelek dan religious, akan mampu menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya. 

Redaktur     : Syaifullah Amin

Kontributor : Wasdiun 

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 10 Februari 2018

Perlunya Riset dalam Menulis Puisi

Malang, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Agar dapat menulis secara baik dan benar, seorang penulis perlu memiliki data yang cukup. Tulisan yang disajikan secara baik, jika isinya tidak benar, akan menjadi cacat karya.

Perlunya Riset dalam Menulis Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlunya Riset dalam Menulis Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Perlunya Riset dalam Menulis Puisi

Hal itu disampaikan Siska Yuniati dalam Workshop Menulis Puisi yang digelar oleh MTs NU Pakis, Sabtu (3/2).

Siska mencontohkan beberapa bait puisi yang terlihat indah, tetapi isinya janggal atau tidak benar. Hal itu menjadi cacat sebuah puisi. Bahasa-bahasa yang indah pun menjadi percuma.

Oleh karena itu, Siska menegaskan, seorang penulis perlu riset untuk mendapatkan data-data sebagai bahan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Guru MTs Negeri 3 Bantul sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi) ini mengingatkan, riset yang dimaksudkannya adalah pengumpulan data secara umum. Peserta diminta Siska untuk tidak tegang mendengar istilah riset apalagi membayangkan berada di laboratorium atau seperti orang menulis karya ilmiah.

Riset tersebut menurut Siska dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengar, mengamati, melakukan, dan lain-lain yang bertujuan untuk memahami materi yang akan ditulis.

Pada kesempatan itu, pemenang pertama Lomba Nasional Penulisan Puisi Festival Sastra Universitas Gadjah Mada 2016 tersebut juga mengajak para peserta untuk praktik menulis puisi. Para peserta yang terdiri atas guru-guru dan siswa MTs NU Pakis itu pun semangat untuk mengikuti latihan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menurut Siska, ada banyak teknik yang dapat dilakukan dalam mengajarkan atau belajar puisi. Siska menggunakan teknik bermain kata dan teknik bermain irama. Dengan dua teknik itu, peserta dapat meraskan kemudahan-kemudahan dalam menulis sehingga dapat segera menghasilkan puisi-puisi pendek.

Selain Siska, hadir pula Yulismar dari SMP Negeri 8 Riau yang memotivasi guru dan siswa yang hadir untuk semangat menulis buku.

Kepala MTs NU Pakis, Najmah menyampaikan bahwa kegiatan itu diselenggarakan terkait program Gerakan Literasi Sekolah di MTs NU Pakis. Dirinya berharap, nantinya para guru dan siswa dapat menulis buku-bukunya sendiri. Hal ini penting, kata doktor lulusan Universitas Negeri Malang, karena sehebat-hebatnya manusia, kalau tidak ada jejak yang ditinggalkan, maka akan hilang ditelan zaman.

Ketua Bidang Penerbitan Pergumapi itu menegaskan, bahwa siapa pun dapat menjadi penulis. Itulah alasan dirinya menghadirkan Siska Yuniati dan Yulismar untuk memotivasi para guru dan siswa MTs NU Pakis untuk menulis.

Najmah juga mengungkapkan bahwa MTs NU Pakis sudah memiliki penerbit dengan nama MATsNUEPA Publishing. Sudah cukup banyak penulis yang menerbitkan bukunya di penerbit yang dikelola oleh Syafaatul Maulida, Sekretaris Bidang Penerbitan Pergumapi sekaligus guru MTs NU Pakis itu.

Di antara buku yang telah diterbitkan adalah Strategi Najmah, sebuah buku yang berisi tentang pengelolaan pendidikan di MTs NU Pakis. Menurut Najmah, buku yang telah cetak hampir 2000 dan diedarkan secara gratis itu, tidak hanya bercerita tentang dirinya, melainkan juga tentang guru-guru dan siswa-siswa MTs NU Pakis. (Sabna/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta, Nahdlatul VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 30 Januari 2018

Empat Unit Kerja Kelitbangan di Lingkungan Badan Litbang dan Diklat

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan tahun 2016 mempunyai capaian target yang dikategorisasi menjadi penelitian dan pengembangan. 

Empat Unit Kerja Kelitbangan di Lingkungan Badan Litbang dan Diklat (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Unit Kerja Kelitbangan di Lingkungan Badan Litbang dan Diklat (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Unit Kerja Kelitbangan di Lingkungan Badan Litbang dan Diklat

Adapun kegiatan Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan yang ditargetkan jumlah penelitian sebanyak 29 laporan dalam tahun 2016 tercapai 100%, dan terdistribusi pada 4 (empat) unit kerja kelitbangan di lingkungan Badan Litbang dan Diklat.

Penelitian pada Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan menghasilkan Penelitian Best Practice Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Penelitian Indek Pendidikan Agama di SMA, Penelitian Jaringan Pendidikan di Pondok Pesantren, Penelitian Pendidikan Keagamaan Non Formal Berbasis Komunitas, Penelitian Raudlatul Athfal (RA) Unggulan. 

Berikutnya adalah Penelitian Evaluasi Kurikulum 2013 Mata Pelajaran PAI di Sekolah dan Madrasah, Penelitian Evaluasi Program Beasiswa Pendidikan Santri Berprestasi (PBSB) di Lingkungan Kementerian Agama, Penelitian Pemanfaatan Bantuan Pendidikan Agama dan Keagamaan di Madrasah Aliyah, Penelitian Pengelolaan Guru Madrasah. 

Selain itu juga Penelitian Isu-Isu Aktual Pendidikan Agama dan Keagamaan, dan Penelitian Aktivitas Mahasiswa Indonesia di Cairo, Mesir (Dalam dan Luar Kampus). 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sementara pada Balai Litbang Agama Jakarta terdapat Penelitian Kesiapan LPTK-PTKIN Dalam Menyiapkan Calon Pendidik Profesional di Bagian Barat Indonesia, Penelitian Model Pendidikan Agama Pada SMP Berbasis Pesantren, Penelitian Pengembangan Tipologi Madrasah Aliyah di Indonesia Bagian Barat (Studi Pengembangan MA Akademik dan Madrasah Keagamaan). 

Selanjutnya Penelitian Kebutuhan Pendidikan Keagamaan Islam Non Formal dan Informal, dan Penelitian Isu-isu Aktual Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan.

Penelitian pada Balai Litbang Agama Semarang menghasilkan Penelitian “Transmisi Ajaran Kelompok Keagamaan dalam Konstelasi Kebangsaan”, Penelitian "Indeks Kepuasan Guru Terhadap Kinerja Pengawas Madrasah di Jawa Tengah”, Penelitian “Indeks Pendidikan Multikultural Pada Sekolah Umum di Indonesia”, Penelitian “Pelaksanaan Model Pendidikan di Pondok Pesantren (Studi Pergeseran Pondok Pesantren Salafiyah menjadi Pondok Pesantren Modern di DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah)”. 

Kemudian Penelitian Insidental (Kasus), terdiri dari: Layanan Pendidikan Agama Bagi Siswa Minoritas Pada SMA/K di Kabupaten Gunung Kidul, dan Pendidikan Agama Dalam Kebinekaan Pada SMA Kristen 1 Salatiga.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ada pun Penelitian pada Balai Litbang Agama Makasar meliputi Pemetaan Kapasitas Pesantren di Kalimantan Timur, Indeks Kualitas Madrasah Aliyah, Eksperimental Tentang Pembinaan Karakter, Sistem Pembelajaran Sekolah Islam Terpadu, Internalisasi Pendidikan Agama dalam Keluarga di Berbagai Komunitas (Pendidikan Agama Keluara Pengrajin). 

Selanjutnya Pespektif Kebijakan dan Problemalika Pendidikan Agama dan Keagamaan, Respon Warga Sekolah terhadap Radikalisme, Sinergisitas Kinerja Guru PAI dan Pengawas dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran pasa Sekolah Menegah Pertama, dan Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan (Kompetitf). (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta, Habib, Pemurnian Aqidah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 21 Januari 2018

Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka

Rembang, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Ratusan warga menerima sembako murah pada acara bakti sosial yang dilaksanakan Pramuka Madrasah Aliyah (MA) Yayasan Sosial Pendidikan Islamiyah Syafiiyah (YSPIS) Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Ahad (26/3).

Kegiatan dilaksanakan di dua desa, yakni Desa Dadapan, Kecamatan Sedan dan Desa Mojokerto Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang itu, panitia membagikan sebanyak 800 paket sembako yang berisi gula, minyak goreng, mie instan dan sabun.

Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka

Kepala MA YSPIS Muhtar Nur Halim mengatakan, bahwa pramuka ini bagian dari pada santri, IPNU dan IPPNU juga bagian dari santri.

"Pramuka bagian dari santri, IPNU-IPPNU juga bagian dari santri. Maka kita harus menanamkan cinta alam, pengembangan pribadi dan menggalakkan sosial," ungkap Muhtar yang juga menjabat sebagai Ketua MWC NU Sedan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ia melanjutkan, bahwa ini merupakan media yang ideal untuk menggarap mereka (peserta didik), bagaimana didalam dirinya tertanam jiwa intelektual, jiwa sosial dan cinta lingkungan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Salah satu warga penerima paket sembako, Suminah mengungkapkan sangat senang menerima paket sembako. Ia mengatakan bahwa ini dapat meringankan beban perekonomian warga.

"Terima kasih kepada panitia. Semoga acara seperti ini sering dilaksanakan," kata warga Desa Mojokerto, Kecamatan Kragan yang kini berusia 62 tahun tersebut. (Aan Ainun Najib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits, Warta, Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 18 Januari 2018

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, telah meninggal dunia dalang kondang wayang golek Ki Asep Sunandar Sunarya pada Senin, (31/3). Sebagaimana dilansir Pikiran Rakyat, ia meninggal di sebuah rumah sakit di Bandung, karena serangan jantung. ?

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan

Menurut peneliti di Lakpesdam NU Jawa Barat, Asep Salahudin, Asep Sunandar Sunarya atau akrab disapa Abah Asep, pada 10-15 tahun terakhir, tidak hanya berprofesi sebagai dalang murni, melainkan sebagai da’i. Profesinya yang utama sebagai dalang, tetap dilakukannya.

Dalam mementaskan wayang, Asep menilai, selain terampil menggerakkan boneka dengan dialog-dialog jenaka, Abah Asep juga menyampaikan pesan-pesan keislaman melalui tokoh-tokohnya. “Misalnya dalam dialog para punakawan, yaitu Semar dengan anak-anaknya.”

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Abah Asep, tambah Asep melalui saluran telpon pada Senin malam (31/3), mengingatkan kita pada Wali Songo yang melakukan dakwah dengan wayang.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Yang lebih menarik, kata Asep, pesan-pesan keagamaan yang disampakan Abah Asep bukan soal furu’iyah atau fiqih yang formal, melainkan ajaran Islam universal, misalnya ukhwah Islmiyah, kasih sayang, dan persaudaraan.

Ditanya apakah dakwah dengan wayang masih efektif, Asep Salahudin menjelaskan, bisa ya dan tidak. Menurut dia, setiap media itu memiliki segmennya masing-masing. “Wayang bisa jadi efektif bagi para orang tua.”

Tetapi mungkin tidak efektif bagi anak-anak yang baru lahir 10 tahun belakangan ini. Di samping itu, secara kewilayahan, wayang bisa efektif untuk kalangan pedesaan karena selama ini Abah Asep terbukti? banyak diundang manggung di wilayah itu, jarang di perkotaan.

Dalam dunia pedalangan, Abah Asep melakukan modifikasi dalam segi tema yang keluar dari cerita-cerita umum, juga modifikasi tokoh-tokohnya. “Ia telah berijtihad, melakukan modifikasi untuk mendekatkan wayang di dunia yang cepat berubah ini,” pungkas Asep Salahudin. (Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Meme Islam, Budaya, Warta VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 20 Desember 2017

KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis

Tasikmalaya, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Baru satu hari diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya Jawa Barat, Husna Mustofa yang juga Sekretaris GP Ansor Kota Tasikmalaya langsung mencanangkan program "Nikah Gratis".

KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis

Dengan menggandeng GP Ansor Kota Tasikmalaya, Kepala KUA termuda di Jawa Barat ini akan memprioritaskan anggota Ansor/Banser yang belum menikah untuk mengikuti program nikah massal gratis yang dilakukan KUA Kecamatan Cihideung.

"Awal tahun 2017 sudah kita programkan. Sekaligus dalam memperingati Harlah NU pada 31 Januari," kata Husna di Kantor KUA Cihideung, Senin (14/11).

Menurut Husna, data base Ansor Kota Tasikmalaya ada sekira 300 anggota yang belum menikah. Dari usia 20 sampai 40 tercatat masih bujang termasuk ada yang duda.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Maka program awal saya untuk Ansor itu. Nikah massal gratis," ujarnya.

Husna pun mengaku sudah berkomunikasi denga jajaran pengurus Ansor dan seluruh pegawai KUA Cihideung agar program tersebut menjadi agenda rutin tahunan dalam rangkah memperingati Harlah NU.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Waktu tiga bulan dari sekarang cukup untuk persiapan. Bayar nikah di luar kantor 600 ribu. Nikah di kantor nol rupiah. Nikah di luar kantor bisa nol rupiah asal ada surat keterangan miskin dari desa atau kelurahan setempat," ucapnya.

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky Assegaf mengatakan rencana program nikah massal gratis itu sudah masuk agenda kerja 2017. Kebetulan ada kader Ansor yang jadi Kepala KUA sehingga dengan mudah akan terealisasi.

"Ya klop saja langsung. Istilahnya gayung bersambut karena kader ansor ada yang jadi Kepala KUA. Tinggal tekhnis dan saya wajibkan yang belum menikah agar segera menikah. Biar biaya ditanggung Ansor," tuturnya. Program Nikah Gratis ini, kata Ricky, berlaku bagi umum juga tak mesti harus anggota Ansor.

Sebelumnya, Kantor Kementerian Agama Kota Tasikmalaya melakukan pelantikan Kepala KUA baru pada Jumat (11/11/2016). Dari tiga yang dilantik, salah satunya Husna Mustofa yang berusia 30 tahun menjadi Kepala KUA Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya. Husna merupakan Sekretaris GP Ansor Kota Tasikmalaya periode 2015-2019. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 10 Desember 2017

Sambut Siswa Baru, MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Manaqiban

Demak, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Menyambut Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2014/2015, MA Futuhiyyah 2 Mranggen Demak mengadakan pembacaan manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rabu (29/4). Manaqiban diawali pembacaan tahlil bersama yang dipimpin KH Abdul Latif Makmun.

Sambut Siswa Baru, MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Manaqiban (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Siswa Baru, MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Manaqiban (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Siswa Baru, MA Futuhiyyah 2 Mranggen Gelar Manaqiban

Pembacaan manaqib ini dimaksudkan untuk berdoa dan bertawassul bersama dalam rangka sukses PPDB 2014 MA Futuhiyyah 2 Mranggen, kata Kepala MA H Helmi Wafa.

Isi kandungan kitab manaqib meliputi silsilah nasab Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, sejarah hidupnya, akhlaq, dan karomah-karomahnya. Di samping itu tercantum juga doa-doa bersajak yang bermuatan pujian dan tawassul kepada Syekh Abdul Qodir.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Sudah menjadi tradisi bagi civitas MA Futuhiyyah 2 setiap kali mengawali PPDB dengan membaca manaqib Syeikh Abdul Qodir dengan mengharap keberkahannya,” imbuh Ketua panitia PPDB Lukman Hakim. (Ben Zabidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Nahdlatul, Warta VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 06 Desember 2017

Maunah Ketahanan Fisik Ketua Umum PBNU

Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri mengggambarkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai “kiai unta”. Maksudnya ialah kiai yang tahan bepergian jauh ke desa terpencil, kota kecil atau kota besar, bahkan lintas negara.?

KH Abdul Mun’im DZ pada tulisan Gus Dur Mengabdi mendeskripsikan cucu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari itu begini:? ?

Maunah Ketahanan Fisik Ketua Umum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Maunah Ketahanan Fisik Ketua Umum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Maunah Ketahanan Fisik Ketua Umum PBNU





“Suatau hari, di tahun 1985, Gus Dur mengunjungi sahabatnya, KH Muhammad Jinan di gunung Balak, Lampung. Setelah naik bus Jakarta-Lampung, lalu naik angkot, ia meneruskan dengan berjalan kaki sepanjang empat kilo meter. Jalan menuju pesantren memang hanya setapak. Coba bayangkan, Gus Dur jalan kaki dengan badan tambun, kacamata tebal, sementara jalan berbatu. Tapi Gus Dur menjalaninya dengan enteng, bahkan ceria.”

Begitu juga Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Menurut sekretaris pribadinya, Kiai Said memiliki tiga kamar, yaitu kamar di rumah, di mobil, dan di pesawat terbang.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Acara yang dihadiri pun bervariasi, mulai dari pelantikan pengurus NU dari tingkat cabang hingga wilayah, pengajian, seminar, sampai acara pernikahan atau silaturahim. Dalam satu hari Kiai Said bisa menghadiri acara di beberapa tempat. Bahkan, sehari pernah melakukan lima kali perjalanan pesawat.?

Bagaimana dengan aktivitas tokoh NU awal-awal organiasi didirikan? Sepertinya sama saja. Malah lebih harus ekstra keras. Dengan alat transportasi dan komunikasi yang tentu saja masih sulit, juga ongkos perjalanan, waktu itu para tokoh NU harus berjuang keras mengkonsolidasi kiai-kiai NU dan pesantren di daerah-daerah dengan jarak berjauhan.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Bukti kesibukan dari konsolidasi mereka, pada Muktamar NU keempat di Semarang, Jawa Tengah pada 1929, NU telah memiliki 67 Cabang, terbentang dari Madura hingga ujung Banten, Menes.?

Keberhasilan itulah yang membuat KH Wahid Hasyim berdecak kagum, dan memantapkan diri turut serta di NU. Menurut dia, NU memang didirikan para orang tua, tapi dalam waktu sepuluh tahun mampu membentuk ratusan cabang dan tak hanya di pulau Jawa. NU memiliki gerak cepat daripada organisasi pemuda waktu itu, yang dalam rentang waktu yang sama hanya bisa membentuk beberapa cabang di beberapa keresidenan yang berdekatan. NU memang didirikan orang tua, tapi geraknya melebihi anak muda. Begitu kesimpulan Kiai Wahid setelah mengamati selama empat tahun.? ?

Sepak terjang pada masa itu, tentu kita ingat akan konsolidasi Kiai Wahab Chasbullah, yang menurut Choirul Anam, bisa dikatakan tak pernah tidur, saking padat aktivitasnya. Kiai Wahab sibuk mengkader anak muda, mengajar, berdebat, konsolidasi NU, sowan kepada kiai yang lebih tua, bersilaturahim dengan sesama temannya. Di samping itu, menurut KH Saifuddin Zuhri, Kiai Wahab tidak lupa memberikan oleh-oleh perjalanan untuk keluarganya, termasuk membetulkan petromaks yang rusak.? ?

Di samping risiko-risiko lain, paling tidak, risiko kesibukan itulah yang selalu dialami Ketua Umum PBNU di periode mana pun. Termasuk periode 2000-2010 dengan Ketua Umum KH Hasyim Muzadi. Kesibukannya didokumentasikan dengan apik pada Uang Koin; Keping Cerita Kiai Hasyim Muzadi yang ditulis sekretaris pribadinya, Muhammad Ghozi Alfatih.





Ketahanan fisik adalah maunah? ?

Setahu saya, tidak pernah ada agenda senam kebugaran khusus untuk tokoh-tokoh NU, misalnya Ketua umum PBNU sekarang, Kiai Idham Chalid, Gus Dur, termasuk KH Hasyim Muzadi.? ?

Saat menjadi Ketua Umum PBNU, Kiai Hasyim menjalani rutinitas yang tidak normal. Pagi hari, sebelum jam kantor dimulai, ia biasanya menerima tamu di rumah. Lalu berangkat ke kantor PBNU untuk mengurusi tugas-tugas organisasi yang seringkali berakhir saat larut malam. Itu pun kerap diselingi acara-cara di luar kantor yang mengharuskan Kiai Hasyim menyampaikan ceramah di lebih dari satu tempat dengan topik pembicaraan yang berbeda-beda. Umumnya sampai rumah pukul sebelas malam. Itu pun belum langsung istirahat karena sudah ada tamu yang menunggu. (hal.65)

Barulah sekitar jam satu malam, Kiai Hasyim bisa istirahat. Tiga jam kemudian, ia sudah harus berangkat ke bandara, ke luar kota atau luar negeri untuk menghadiri acara.?

Mendapati rutinitas semacam itu, malah sang sekretaris Kiai Hasyim yang meminta istirahat di hari berikutnya. Sementara dia tetap menjalankan aktivitas sesuai yang dijadwalkan. Padahal aktivitas itu bukan urusan bisnis atau dinas yang sudah jelas ongkosnya. Kiai Hasyim malah harus mengeluarkan kocek sendiri.?

“Bukan saya orang hebat. Tuhan yang memberi ma’unah (pertolongan). Badan saya biasa saja, sama seperti orang lain. Bisa kuat karena Tuhan yang menguatkan,” jelas Kiai Hasyim menjelaskan kekuatan fisiknya.?

“Bagaimana mungkin saya bisa menjaga lisik? lstirahat hanya sebentar. Olahraga tidak pernah. Makan juga sembarangan dan tidak teratur. Tanpa ma’unah Allah, saya tidak akan bisa apa-apa.”?

“Mungkin karena dipakai keliling untuk ngurusi umat, ngurusi persoalan masyarakat, akhirnya Allah memberi kemampuan fisik lebih kepada saya."?

“Seandainya badan cuma dipakai jalan-jalan, pelesiran, mungkin jadinya malah gampang masuk angin."?

“Saya ini kalau berhari-hari tidak ke mana-mana kadang justru mudah sakit," kelakar beliau. (hal. 67)?

Aktivitas semacam itu memang tidak selamanya membuat Kiai Hasyim sehat-sehat saja. Karena menjalani aktivitas padat yang mengharuskannya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain yang berjarak puluhan hingga ratusan kilometer, sebagai manusia biasa, ia harus dilarikan ke rumah sakit. Lantaran benar-benar kelelahan usai menghadiri acara atau menyampaikan ceramah yang sambung menyambung di berbagai daerah, ia harus istirahat total sehari dua.

Risiko ke rumah sakit dan risiko-risiko lain tentu selalu ada. Bahkan risiko kematian akibat kecelakaan atau lainnya. Ambil contoh KH Wahid Hasyim, ia wafat di perjalanan ketika akan menuju Sumedang pada 1953. Salah satu agenda ke tempat itu ia mensosialiasikan NU yang telah menjadi partai, hasil Muktamar NU Palembang tahun 1952.?

Tentu tidak hanya melulu soal kesibukan Kiai Hasyim di buku itu. Ada humor, catatan masa muda yang penuh teladan, pengalaman spiritual, serta pandangan-pandangan keislamaan dan kebangsaan jam’iyyah NU yang diwakilinya. Semuanya disajikan dengan cara yang ringan dan sederhana sehingga mudah dicerna.?

Buku semacam ini harus diperbanyak, untuk cermin keteladanan generasi muda NU, umat Islam dan bangsa Indonesia.?

Judul : Uang Koin; Keping Cerita Kiai Hasyim Muzadi?

Penulis : Muhammad Ghozi Alfatih

Penerbit ? ? ? ? : Kompas

Cetakan : Pertama, 2017

ISBN : 978-602-412-299-7

Peresensi : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta, Berita, Pahlawan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 03 Desember 2017

Teror Mati Jahiliyah ala HTI dan ISIS

Oleh Ayik Heriansyah

Teror mati jahiliyah sering kali dilancarkan oleh HTI dan ISIS kepada umat Islam yang tidak turut memperjuangkan berdirinya Khilafah seperti yang mereka inginkan. Psikologis kalangan awam sedikit tertekan mendengar penjelasan hadits Nabi SAW tentang mati jahiliyah karena mereka takut mati dalam keadaan suul khatimah. Siapa pun takut akhir hidupnya sia-sia, belum lagi bayangan siksa kubur dan azab neraka sudah di depan mata bagi mereka yang mati jahiliyah.

Teror Mati Jahiliyah ala HTI dan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Teror Mati Jahiliyah ala HTI dan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Teror Mati Jahiliyah ala HTI dan ISIS

Pemahaman sederhana kaum awam dimanfaatkan oleh HTI dan ISIS untuk memperkuat posisi mereka, melegitimasi perjuangan penegakan Khilafah sebagai perjuangan yang haq melawan sistem jahiliyah tudingan jahiliyah bagi kaum muslim yang berdiam diri apalagi bagi yang menghalangi dakwah mereka.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Istilah mati jahiliyah diambil dari hadits Nabi Muhammad Saw yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Siapa saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya dia akan menjumpai Allah pada Hari Kiamat dengan tanpa mempunyai hujah. Dan, siapa saja yang mati sedangkan di atas pundaknya tidak terdapat baiat, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah." (HR Muslim)

Oleh HTI hadits ini dijadikan dalil untuk mewajibkan umat mendirikan Khilafah sebelum datangnya Iman Mahdi. Menurut Ust Hafidz Abdurrahman (DPP HTI) manthuq hadits di atas menyatakan, bahwa "Siapa saja yang mati, ketika Khilafah sudah ada, dan di atas pundaknya tidak ada baiat, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah." Atau "Siapa yang mati, ketika Khilafah belum ada, dan dia tidak berjuang untuk mewujudkannya, sehingga di atas pundaknya ada baiat, maka dia pun mati dalam keadaan mati jahiliyah." Karenanya, kewajiban tersebut tidak akan gugur hanya dengan menunggu datangnya Imam Mahdi. (Channel Telegram #KhilafahWillRise, 23 / 8 / 2017)

(Baca: Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah)



Syarah gegabah terhadap hadits Nabi saw tentang mati jahiliyah oleh Ust Hafidz Abdurrahman tidak lebih dari ungkapan nafsu HTI yang ingin mendirikan Khilafah versi mereka tanpa memperhatikan hadits lain yang memperjelas makna baiat, baiat kepada siapa? Baiat iniqad (pengangkatan) atau baiat taat?

Ibn Abu Asim di dalam kitab al-Sunnah, halaman 489 meriwayatkan hadits ini:

? ? ? ? ? ? ? ?

“Barangsiapa yang mati tanpa memiliki imam, maka matinya adalah mati jahiliyah.

Ibn Hibban juga meriwayatkan di dalam Sahihnya, jilid 7 halaman 49:

? ? ? ? ? ? ?

 

“Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati jahiliyah.”

Konteks baiat dalam hadits-hadits tadi adalah baiat taat kepada Imam yaitu pemimpin politik umat secara umum tanpa pengkhususan. Sebagai pemimpin politik umat keabsahan seorang imam ditentukan oleh keterpilihan dan pengangkatannya secara bebas tanpa paksaan oleh umat. Jadi makna baiat di sini adalah taat kepada pemimpin politik yang telah dipilih dan diangkat oleh umat dengan ridha wal ikhtiar tanpa melihat spesifikasi bentuk negara dan sistem pemerintahannya. Oleh karena itu hadits tentang mati jahiliyah bisa diaplikasi di negara Muslim mana pun termasuk Indonesia.

Di NKRI seseorang bisa mati jahiliyah jika tidak taat kepada pemimpin politik di setiap jenjangnya: presiden, gubernur, walikota, bupati,  RW dan ketua RT. Tentu saja ketaatan bersyarat bukan ketaatan absolut karena ketaatan absolut hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Taat atau maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya jadi sabab dan syarat ketaatan kepada pemimpin politik. Sepanjang perintah pemimpin politik bukan sesuatu yang diyakini maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka umat wajib mentaatinya. Termasuk perkara khilafiyah yang ditetapkan oleh imam karena ketetapan perintah imam menghilangkan perbedaan berdasarkan kaidah fiqih:

? ? ? ?

Kadangkala seorang imam lupa, keliru, atau karena faktor kejahilan, ia mengikuti hawa nafsu atau tekanan pihak luar. Maka ,umat diwajibkan mengawasi, memantau, memonitor dan mengontrol imam kemudian menasihati dan mengoreksinya dengan cara yang maruf agar sang imam kembali ke jalan yang lurus.

Hadits-hadits tentang mati jahiliyah ditujukan kepada umat yang tidak mau taat kepada imam sebagai pemimpin politik. Sejak kepemimpinan Nabi SAW di Madinah, di negeri-negeri Islam umat selalu memiliki pemimpin politik dengan berbagai bentuk negara dan sistem pemerintahan. Mati jahiliyah tidak terkait dengan bentuk negara dan sistem pemerintahan melainkan berhubungan dengan sikap taat atau tidak terhadap pemimpin politik umat secara de facto dan de jure.

Jadi sebenarnya berdasarkan pemahaman yang jernih tentang hadits mati jahiliyah, siapa sesungguhnya yang akan mati jahiliyah, aktivis HTI yang tidak mengakui dan tidak taat kepada imam di negara-negara Muslim, ataukah umat di luar mereka?



Penulis Jamaah Sabtuan NU Kota Bandung. Pegiat di Institute for Democracy Educatioan. Mantan Ketua HTI Babel 2004-2010.
Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 29 November 2017

PKC PMII Sumatera Barat Dilantik

Padang,VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Sekretaris Jendral Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesua (PMII), Abdul Haris Wally melantik Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Sumbar. Pelantikan yang dilanjutkan dengan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) ini digelar di aula Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Jl Perintis Kemerdekaan, Padang.

PKC PMII Sumatera Barat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
PKC PMII Sumatera Barat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

PKC PMII Sumatera Barat Dilantik

Haris meminta pengurus baru PMII ini mampu memperkuat basis ideologi terlebih di kampus umum, mampu bersinergi dengan Nahdlatul Ulama, serta tetap mengambil peran dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja pemerintahan.

Pria asal Maluku ini meminta kader PMII harus mencari langkah terbaik dalam melakukan otokritik. Tetapi jika saluran tersumbat maka tentu PMII turun ke jalan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ketua yang dilantik, Defi Mulyadi mengatakan, revitalisasi gerakan PMII akan melahirkan generasi penerus bangsa yang mempunyai jiwa kebangsaan dan keagamaan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin, terangnya, hadir dengan agama lain yang pada bangsa ini, sehingga mampu saling mengisi dengan dengan budaya yang majemuk.

"Sehingga, kita benar-benar membutuhkan makna ta’adal (keadilan), tasamuh (toleran), tawasud (moderat), tawazun (berimbang) dan itulah wujud tri komitmen PMII yaitu keislaman, keindonesian dan kebangsaan," ungkap Defi di sela Rakerda bertema, " Revitalisasi Gerakan PMII Dalam Penguatan Karakter Penerus Bangsa" pada Senin (31/10).

Sementara, ketua demisioner, Afriendi Sikumbang mengingatkan kepengurusan yang bar untuk lebih progresif daripada kepengurusan sebelumnya. Juga meningkatkan kaderisasi di cabang-cabang.

"Di masa kepengurusan sebelum ini, ada empat cabang definitif dan tiga cabang persiapan, namun disamping PMII mengembangkan kaderisasi PMII jangan lupa tetap harus memberi kritik terhadap kerja-kerja pemerintah," ungkap Afriendi.

Ketua Majelis Pembina Daerah (Mabinda) PKC PMII Sumbar, Prof Maidir Harun mengingatkan, kader PMII harus ambil peran dalam mempersiapkan generasi penerus dan mengawal agenda kebangsaan.

"Kader PMII diminta cerdas dalam melihat persoalan bangsa, seperti masalah SARA yang akhir-akhir ini diarahkan untuk kepentingan politik, sehingga berpotensi disintegrasi terhadap kemajemukan," ungkap mantan Rektor IAIN Imam Bojnjol ini. (Red: Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Syariah, Warta VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 26 November 2017

Ulama Dunia Suarakan Islam Moderat

Situbondo, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Dalam konferensi internasional di pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, Sabtu (29/3), Mufti Suni Republik Iraq Syekh Mahdi bin Ahmad Shalih As-Sumaidai menyatakan, Islam yang benar ialah Islam moderat. Mereka yang berjalan ektrem ke kanan atau ke kiri, berada dalam bimbingan setan.

Ia menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melangkahkan kaki secara lurus, lalu melangkah ke kanan dan ke kiri. Ia kemudian bersabda “Langkah yang lurus tadi adalah langkahku. Sedangkan langkah yang mengarah ke kiri dalah langkah setan.”

Ulama Dunia Suarakan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Dunia Suarakan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Dunia Suarakan Islam Moderat

“Ahlussunah merupakan jalan tengah bagi sikap ekstremis khawarij dan perilaku gegabah kaum murji’ah,” kata Syekh Mahdi pada seminar bertajuk Tantangan Islam Moderat di Tengah Konstelasi Pemikiran Radikal yang diselenggarakan International Conference of Islamic Scholars (ICIS).

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Khawarij (kelompok radikal masa silam), terang Syekh Mahdi di hadapan sedikitnya 500 hadirin, berlebihan terhadap hak Allah dengan menggusur hak-hak manusia.

Penerapan agama secara ekstrem inilah yang menyandera dunia Timur Tengah dalam konflik berkepanjangan, pungkas Syekh Mahdi.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Islam itu memang satu, tetapi aplikasi di lapangannya ini yang aneka rupa hingga ada yang ektrem. Karena itu, ulama dunia ini perlu menampilkan moderasi Islam sebagai wajah Islam sesungguhnya di hadapan dunia," kata Sekretaris Umum ICIS KH Hasyim Muzadi kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth di arena konferensi internasional.

Sementara dalam konteks bernegara, NU dalam Munasnya di pesantren ini 1983 lalu secara yakin mengatakan bahwa nilai Islam telah hadir dalam Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Karenanya, NU pada waktu itu memutuskan untuk mendukung Pancasila sebagai asas satu-satunya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kata narasumber seminar internasional ini, Katib Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir.

“Sikap moderat NU ini berbeda dengan sebagian umat Islam di Indonesia yang mengutamakan simbol agama dibandingkan isinya. Karena itu, NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, tidak memiliki potensi konflik dengan negara. karena, keduanya memiliki satu dasar, Pancasila,” jelas KH Afif yang juga pengasuh pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Banyuputih, Situbondo.

Terkait kehidupan berbangsa, seorang narasumber seminar internasional ini Gumelar Sumantri menambahkan, Islam moderat di Indonesia memiliki pontensi paling mungkin untuk berkembang. “Terbukti dengan berakhirnya kelompok-kelompok Islam garis keras di Indonesia pada masa lalu.”

Melalui Pancasila, negara menjadi terbuka dengan organisasi Islam moderat seperti NU dan organisasi Islam moderat lainnya, tandas Rektor UI Gumelar Sumantri. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian, Warta, Sholawat VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 20 November 2017

Muktamar NU Mesti Lebih Peduli Nasib Petani

Bandung, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pengasuh Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq Bandung KH Fuad Affandi berharap Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama pada Agustus nanti menjadi momen bagi para pengurus NU meningkatkan keseriusannya dalam memperhatikan nasib kaum tani.

Muktamar NU Mesti Lebih Peduli Nasib Petani (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar NU Mesti Lebih Peduli Nasib Petani (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar NU Mesti Lebih Peduli Nasib Petani

"Warga Indonesia mayoritas Islam, kaum Nahdliyin juga mayoritas, dan mayoritas penduduk Indonesia juga bergantung pada sektor pertanian. Karena itu tidak ada alasan untuk mengabaikan kaum tani,” ujarnya kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth di Pesantren Al-Ittifaq, Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (20/3).

“Sebab dengan memperhatikan kaum tani, otomatis kita memperhatikan warga NU, memperhatikan umat Islam, dan itu artinya juga memberi perhatian terhadap nasib penghuni negara Indonesia," tambahnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kiai yang mendapat banyak penghargaan atas prestasinya dalam perjuangan kaum tani ini berpendapat, pengurus NU harus memiliki pandangan yang maju dalam urusan pertanian. Sektor ini, katanya, sangat pas untuk diperjuangkan karena menopang kemandirian bangsa.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Petani bercocok tanam itu bukan hanya untuk dimakan petani. Siapa sih yang tidak butuh konsumsi hasil pertanian? Mau pejabat, dosen, ulama, santri, mahasiswa, artis sampai kongklomerat semua makan hasil pertanian. Itu pertanda hasil pertanian paling banyak membawa berkah, membawa kemashalahatan, membawa kebaikan. Bukan hanya keberkahan bagi manusia, tapi juga bagi hewan dan ekologi," jelasnya.

Fuad melihat bahwa selama ini orang gengsi menjadi petani. Menurutnya, hal itu akibat salah persepsi memandang pertanian. "Seolah-olah petani itu melarat, ndeso dan tak berpendidikan. Padahal itu hanya kebetulan saja kebanyakan yang demikian adalah warga yang hidup dalam pertanian, tapi itu bukan kaum tani yang sesunggunnya. Sebab kita harus membedakan buruh tani dengan petani," jelasnya.

Menurut Fuad, cara pandang tentang kehidupan, model bisnis, dan arah usaha kaum tani harus banyak diperbaiki dengan pola pikir yang modern. "Kita ini punya rujukan ayat Allah, dan tauladan rassulullah, tapi sering lupa sunnatullah. Nah, modern itu bagian dari sunnatullah, harus kita baca arahnya, kita ikuti geraknya dengan kesadaran yang cerdas supaya tidak menjadi korban modernisasi."

Mang Haji, demikian panggilan akrabnya, sangat berharap agar kepenguruan NU mendatang banyak melatih kaum santri yang lulus pesantren.

"Ilmu pertanian tidak ada dalam kitab kuning, dan terkadang pula para kiai hanya mampu jadi guru ngaji, tapi tidak mampu jadi guru tani, padahal mereka hidup setiap hari sepanjang hayat bersama kaum tani. Jadi ini salah satu hal yang harus diperbaiki melalui pengetahuan kitab, bacaan maupun kombinasi ilmu terapan. Ilmu dalam amal harus selaras dikembangkan," ujarnya lugas. (Yusuf Makmun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Makam, Warta, Ulama VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 01 November 2017

Jatman Syu’biyah Majalengka Gelar Safari Manaqib Ke-14

Majalengka,VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Rais ‘Aam Idarah ‘Aaliyah Jamiyyah Ahlith Thoriqoh NU An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, pada Muktamar di Malang, menintruksikan memasyarakatkan thariqah dan menthariqahkan masyarakat.

Jatman Syu’biyah Majalengka Gelar Safari Manaqib Ke-14 (Sumber Gambar : Nu Online)
Jatman Syu’biyah Majalengka Gelar Safari Manaqib Ke-14 (Sumber Gambar : Nu Online)

Jatman Syu’biyah Majalengka Gelar Safari Manaqib Ke-14

Untuk melaksakan intruksi itu, Pengurus Idarah Syu’biyyah Majalengka menggelar Rangkaian Safari Manaqib Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah di tiap kecamatan. Kegiatan tersebut digelar Selasa malam terakhir bulan kedua.

Safari manaqib ke-14 digelar di PondokPesantren Asasul Huda, Ranji Wetan, kecamatan Kasokandel, Selasa malam (21/10). Kegiatan tersebut disertakan dengan menyambut tahun baru 1436 Hijriyah.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, Shalawat Thariqah, hadharah, taushiyah, dan di akhir dengan pembacaan manaqib dan istightsah serta doa.

Hadlarah dan taushiah dipimpin dan disampaikan DR. KH. Ahmad Syarkosi Subki. Ia adalah Pengasuh Pesantren Mansya’ul Huda sekaligus Rois Jatman Idarh Wustho Jawa Barat dan anggota Majelis Ifta Jatman Idarah ‘Aaliyah. Sedangkan manaqib dan istighotsah dipimpin oleh Mudir Al-Mukarom KH Abdul Rosyid.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dalam taushiahnya, Kiai Sarkosi menjelaskan akan pentingnya berthariqah, khususnya bagi nahdliyyin dan umat Islam pada umumnya.

Karena berthariqah, menurutnya, adalah mengamalkan ilmu, wirid, shalawat, dan zikir sesuai dengan tuntunan dan tata cara yang diajakarkan oleh Rasululullah Saw, para sahabat, tabi’in, dan para ulama dengan sanad dan ijazah yang jelas.

Ia menjelaskan, orang yang berthariqah tidak bisa sembarangan mengamalakan ilmunya, wirid dan sebagainya tanpa ada tuntunan dan bimbingan dari seorang guru atau mursyid.

Acara yang dimulai jam 20.00 wib dan berakhir jam 23.30 ini diikuti selain diikuti jamaah juga dihadiri para ulama, Pengurus Idarah Syu’biyah Jatman Majalengka, PCNU, Banom, dan Muspida Majalengka serta Muspika kecamatan Kasokandel.

Dalam acara tersebut juga dilangsungkan pelantikan dan baiat Pengurus Ghusniah (Pengurus Kecamatan) Jatman kecamatan Kasokandel. (Atep ZM/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta, Halaqoh, Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 29 Oktober 2017

PWNU Jatim Nilai Kuis Ramadhan Identik Judi

Surabaya, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menilai kuis Ramadhan yang ditayangkan di sejumlah stasiun televisi, identik dengan judi yang diharamkan (dilarang) dalam Islam.

"Kalau tidak hati-hati, puasa kita akan dikotori dengan judi melalui kuis Ramadhan dengan hadiah mirip mimpi itu," kata Wakil Rois Syuriah PWNU Jatim, KH Miftachul Akhyar di Surabaya, Kamis (13/9).

PWNU Jatim Nilai Kuis Ramadhan Identik Judi (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim Nilai Kuis Ramadhan Identik Judi (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim Nilai Kuis Ramadhan Identik Judi

Menurut pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya itu, kuis Ramadhan mengandung unsur judi, karena ada kewajiban membayar biaya tertentu dari pihak peserta.

"Kewajiban membayar itu dapat dilakukan langsung atau tidak langsung, seperti membayar melalui pulsa telepon ’premium call’ yang membuat penyelenggara akan menerima sejumlah uang tertentu dari para peserta," katanya menegaskan.

Setelah itu, hadiah diambilkan dari sebagian jumlah uang yang terkumpul dari pemasukan "premium call" itu, sehingga hukumnya haram meski diberi nama apapun.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Letak unsur judinya terlihat pada harga yang lebih dari tarif SMS biasa. Misalnya, tarif SMS adalah Rp250 (pascabayar) dan Rp350 (prabayar), namun untuk mengirim SMS kuis tertentu menjadi Rp1.000 (pascabayar) dan Rp1.100 (pra bayar)," katanya.

Bila biaya pengiriman SMS Rp250 untuk setiap pengiriman, katanya, keuntungan "provider" adalah Rp750 atau Rp850 dan hal itu dapat dibagi dua antar penyelenggara dengan provider, sehingga keuntungan penyelenggara kuis SMS adalah Rp375.

"Misalkan, peserta kuis SMS mencapai lima juta orang, maka keuntungan bersih penyelenggara kuis SMS adalah Rp1,875 miliar, sehingga dapat digunakan membeli mobil dan beberapa sepeda motor untuk hadiah," katanya menjelaskan.

Padahal, lima juta orang peserta SMS itu tidak mendapat apa-apa dari Rp1.000 yang mereka keluarkan, karena pemenang hanya dua atau tiga orang saja.

"Itu sama halnya dengan sebuah perjudian massal yang melibatkan lima juta orang di tempat yang berjauhan," katanya menegaskan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Hal yang sama, juga terjadi pada kuis dengan menggunakan "premium call". Pasalnya, "premium call" itu bisa memberikan pemasukan kepada pihak yang ditelepon.

"Bila fasilitas itu digunakan menjawab kuis, maka ada uang yang masuk ke penyelenggara kuis, karena untuk menjawab kuis dibutuhkan waktu 3 menit. Bila dengan tarif lokal 1, koneksi telepon seperti itu hanya bertarif Rp195, tapi untuk sambungan 3 menit bisa menghabiskan Rp3.000," katanya menjelaskan.

Selain kuis Ramadhan, PWNU Jatim juga mengharamkan petasan, karena petasan saat ini mengancam jiwa, mencederai orang, mengganggu orang, dan sia-sia, seperti ledakan di Bangkalan (11/9), Pasuruan (11/8), dan sebagainya.

"Islam tak melarang adanya kegembiraan dalam menyambut Ramadhan, walau hanya sesaat, tapi bila sudah bersifat ’tabdzir’ (sia-sia) akibat membakar uang dan menghilangkan nyawa manusia, maka nilai pahalanya tidak ada sama sekali, bahkan berdosa," katanya. (ant/eko)



Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 28 Oktober 2017

Di Balik Jendela Kamarku

Oleh Hesti Wahyu Damayanti

Angin laut menerpa mukaku lewat daun jendela yang terbuka. Aku bukan burung kakaktua memang, tapi setiap sore sering berdiam diri di depan jendela kamarku. Menatap hamparan sawah luas yang terbentang di bawah sana, gumpalan awan-awan bergelayutan di langit senja, semburat cahaya merah menuntun burung-burung belibis pulang ke sarangnya.

Sementara anak-anak kecil belum puas juga menyepak bola di tegalan bekas panen padi. Ah, pemandangan ini terlalu indah.

Di Balik Jendela Kamarku (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Balik Jendela Kamarku (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Balik Jendela Kamarku

Sering orang-orang yang lewat menanyakan sedang apa aku di depan jendela. Tapi mereka selalu tertawa setelah mendengar jawabanku.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Aku sedang menatap hamparan sawah menguning,” atau “Aku sedang memperhatikan anak-anak bermain di tegalan.”

Apa yang lucu dari jawabanku?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Lain halnya dengan ayah. Saat aku menunjukkan keindahan alam di luar jendela. Ia  selalu tersenyum tulus tanda setuju pendapatku. Kemudian ia pasti membelai rambut panjangku. Lalu mencium keningku. Entah kenapa kadang kudengar pula isak ayah setelah mendengar pendapatku tentang alam. Mungkin terharu karena alam yang sesungguhnya tak seindah khayalanku. Atau mungkin sebaliknya, ia menyayangkan aku tak dapat melihat alam yang lebih indah.

Entahlah, hal paling misterius di dunia ini adalah senyuman ayah.

Setiap pagi ayah mengantarku ke sekolah luar biasa yang murid-muridnya juga luar biasa. Termasuk diriku. Sudah hampir 12 tahun menetap di sekolahan ini. Tantu saja sejak SD, SMP, hingga SMA. Aku bingung kenapa ayah rela mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkanku. Dan aku yakin ayah pasti akan memasukkan aku ke perguruan tinggi setelah tamat nanti.

Tapi, mana mungkin ada universitas yang menerima anak cacat? Sekalipun ada, mau jadi apa aku? Sarjana-sarjana yang normal saja banyak yang pengangguran, apalagi cacat? Aku benar-benar pesimis masa depanku. Iri dengan anak normal pastilah ada, tapi inilah yang Allah berikan. Bagaimanapun, aku harus tetap syukur atas pemberian-Nya. Aku sadar, bersyukur adalah tersulit dilakukan.

Kadang, merasa tak ada gunanya Tuhan menciptakan aku. Meskipun aku tahu, tak hanya aku yang terlahir tunanetra. Tapi tunanetra mereka dengan kelebihan tertentu. Ada yang pandai bermusik, menyanyi, menari, atau melukis. Sedang aku tak memiliki kelebihan apa pun. Malah di tambah kekurangan: gagap. Lidahku kelu.

“Siapa bilang kamu tak memiliki kelebihan, Sayang? Kamu mampu melihat sesuatu yang tak orang lain lihat. Kamu bisa melihat segala sesuatu dengan nuranimu. Kamu juga pandai dalam pelajaran-pelajaran di sekolah. Dengan bersyukur atas pemberian-Nya, maka kamu dapat merasakan kelebihan dari kekurangan,” kata ayah menguatkan, setiap kali mengeluh keadaanku.

Suatu ketika, aku bertanya kepada ayah.

“Ayah, apakah  aku cantik seperti ibu?”

Padahal aku sama sekali belum pernah berjumpa ibu. Jangankan ibu yang langsung dipanggil ilahi setelah melahirkanku, wajah ayah yang selalu disampingku pun tak tahu. Bahkan dengan wajahku sendiri.

“Sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari ibumu,” jawab ayah.

“Ayah, mungkinkah suatu hari nanti ada laki-laki yang jatuh hati kepadaku?”

“Setiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan, Nak. Jadi pastilah kamu bertemu jodohmu.”

“Meskipun aku cacat?”

“Setiap manusia dicipta dengan kekurangan dan kelebihan, Nak. Kalaupun Allah tidak berkenan mempertemukan jodohmu di dunia, pasti mempertemukannya di surga.”

“Terus, apa yang ayah harapkan dariku?”

“Ayah berharap engkau selalu tersenyum untuk ayah.”

“Hanya itu?”

“Ya, karena senyumanmu itu bisa membuat ayah bangga memilikimu.”

Jawaban ayah cukup menenangkan dan mengembalikan aku berkonsentrasi menikmati indahnya dunia di balik jendela kamarku. Jika aku bosan memandang peristiwa di balik jendela, aku menemui ibuku dalam gulita. Meski tanpa kata-kata yang tercipta di antara kita, tapi aku tahu kasih sayang ibu selalu mengalir dalam darahku. Aku pun merasakan hangatnya dekapan ibu dalam kesunyian. Aku juga mendengar ibu selalu berbisik.

“Ibu menyayangi kamu.”

Ibu, tidak hanya dalam gelap ini aku menatapmu. Tapi di surga nanti, aku janji tak akan melepaskan pelukanmu.

Satu hal membuatku kecewa.

“Ayah, beri tahu aku sejujurnya, apa yang ada di balik jendela kamarku?”

“Ayah tak ingin merusak lukisan indah yang terukir dalam jiwamu.”

“Tak apa, Ayah. Katakan saja sebenarnya!”

“Baiklah. Di balik jendela itu hanya ada jalan setapak dan sebuah tembok tinggi yang memisahkan kompleks perumahan kita dengan TPU, tempat ibumu dibaringkan.”

“Jadi, suara-suara anak kecil itu? Kicauan burung itu? Gemericik air itu?”

“Ya, semua tidak nyata, mereka hanya tumbuh dalam imajinasimu yang hebat.”

“Adakah di dunia ini pemandangan seperti itu, Yah? Jika suatu hari nanti Allah memberiku keajaiban untuk kedua mataku, aku ingin melihatnya langsung.”

“Dulu memang tak sulit menemukan keindahan seperti itu. Tapi sekarang berganti, kau pasti sakit hati jika melihat kenyataan ini. Sawah, ladang, hutan, bahkan bukit-bukit, semua rata, semua lenyap, berganti dengan bangunan-bangunan megah. Setiap pemusnahan alam selalu berdalih untuk pembangunan.”

“Untung oksigen masih berkeliaran secara bebas ya, Yah?”

“Ahaha…, kamu bisa saja. Untuk antisipasi jika nanti oksigen habis, kita berburu oksigen saja. Memenuhi kantong-kantong plastik yang kita punya.”

Ah, Ayah memang suka bergurau. Tapi suatu hari di depan jendela, air mataku mengalir, menyesali pertanyaanku tentang di balik jendelaku. Ternyata, begitu sempit pemandangan orang normal. Aku bisa memandang alam yang indah di balik, sedangakan orang normal hanya melihat tembok kokoh.

Menjelang tidur, kukumpulkan serpihan-serpihan kisah di balik jendela. Kisahku di sekolah, serta kata-kata bijak ayah yang lembut penuh makna. Antara imaji dan realita, aku jalin jadi satu kisah dalam buku diary dengan titik-titik braile yang mengikat erat kisah itu sebagai impian dan harapan hingga memupuk keyakinanku untuk mencapai semua. Aku akan selalu yakin bahwa di balik jendela kamarku adalah hamparan sawah yang terbentang luas. Kelokan sungai yang mengairi sawah, langit yang cerah, dan nyanyian alam yang selalu berdendang melantunkan lagu syukur kepada Sang Pencipta. Begitu pula keyakinanku akan masa depan. Aku harus optimis untuk jadi orang sukses. Karena aku diciptakan luar biasa.

 

Di Balik Jendela Kamarku adalah Juara II kategori cerpen pada sayembara penulisan kreatif yang digelar Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) 2012. VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth telah memuat cerpen Juara I pada Ahad lalu. Dan akan memuat Juara III, serta beberapa nominasi juara, tiap akhir pekan.

Hesti Wahyu Damayanti adalah siswi Sekolah Menengah Atas Negeri I Batang, Jawa Tengah.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta, Ahlussunnah, Kiai VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 16 Oktober 2017

Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan "Petisi Batu"

Malang, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Kebobrokan bangsa Indonesia dinilai sudah berada kondisi cukup akut yang memprihatinkan. Konstitusi tidak lagi menjadi pijakan. Korupsi menjadi tradisi yang tak terhindarkan. Cara berpikir dan prilaku bangsa dari level atas sampai pada level bawah sama sekali jauh dari fondasi nilai ideologi bangsa yang telah terbangun oleh para founding father bangsa.

Di sisi lain, generasi penerus masa depan bangsa, dari level pelajar sampai mahasiswa ternyata juga mengalami hal yang sama. Akibatnya, banyak kasus kekerasan, seks bebas, bahkan mental korup telah terjangkit dalam diri bibit-bibit pemimpin bangsa ini.

Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan Petisi Batu (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan Petisi Batu (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan "Petisi Batu"

Demikian salah satu poin penting yang dihasilkan dalam pertemuan informal tujuh Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), selama dua hari, pada hari Sabtu hingga Ahad (3-4/11) di Hotel Victori, Batu Malang.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Organisasi mahasiswa seperti PMII juga demikian. Kita harus diakui di tubuh PMII sekarang telah terjadi degradasi pemikiran, moral dan spiritual. Lakon aktivis PMII saat ini sudah tidak lagi mencerminkan PMII yang sebenarnya,"kata Ketua Umum PKC PMII Jatim Fairouz Huda, Ahad (4/11) malam.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Fairouz menjelaskan, pertemuan tersebut bertujuan untuk merefleksi diri atas kondisi internal PMII. "Seperangkat aturan dan nilai ideologis paradigmatik PMII tidak lagi menjadi pedoman hidup dan organisasi,"tandas Fairouz prihatin.

Selain persoalan internal, pertemuan tersebut untuk merespon berbagai persoalan bangsa. Pasalnya kondisi bangsa Indonesia saat ini berada dalam kubangan keprihatinan yang mendalam.

“Kami menyatakan bahwa Indonesia sedang berada dalam keadaan yang bobrok. Keadilan, kebhinekaan, penegakan hukum dalam kondisi yang memprihatinkan," kata pria kelahiran Madura ini.

Karena itu, Fairouz bersama 6 PKC PMII menyatakan, perlu dilakukan perubahan radikal di tubuh PMII. "Tentu saja dengan mendobrak PB PMII sebagai struktur yang memiliki tanggung jawab struktural atas semua ini,"tegasnya.

Dalam pertemuan yang diikuti tujuh PKC PMII se Indonesia yg terdiri dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan tersebut menghasilkan lima rumusan pikiran.

Lima point pemikiran yang disebut dengan "PETISI BATU" itu adalah sebagai berikut. Pertama, mendesak pemerintah untuk meneguhkan kembali nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Kedua, kondisi PB PMII dibawah kepemimpinan sahabat Adin Jauharudin sudah jauh banyak menyimpang dari tata aturan nilai dan produk hukum organisasi PMII. Sehingga banyak menimbulkan kegelisahan di seluruh level struktur organisasi PMII.

Ketiga, menegaskan dan menghimbau kepada seluruh elemen keluarga besar PMII di seantero Nusantara untuk secara seksama dan bersama-sama menyelamatkan organisasi PMII.

Keempat, mendesak kepada sahabat Addin Jauharudin selaku pimpinan PB PMII untuk patuh terhadap segala tata aturan nilai dan produk hukum organisasi PMII.

Kelima, jika hal-hal di atas tidak diperhatikan oleh PB PMII, maka kami berkomitmen untuk menempuh langkah-langkah konstitusional demi penyelamatan organisasi PMII.

Lima Petisi Batu tersebut di atas ditanda tangani oleh tujuh pimpinan PKC PMII. Yaitu, Fairouz Huda (Ketum PKC Jatim), Muhammad Zuyyin (Ketum PKC Jateng), Edi Rusyandi (PKC PMII Jabar), Sahril Ishak (Ketum PKC Kalbar), Eka (Ketum PKC PMII Lampung), Taufik Hidayat (Ketum PKC PMII NTB), Radini (Ketum PKC PMII Kalsel).

"Konsolidasi PKC PMII se Indonesia seperti ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan secara bergiliran, sebagai ruang kritik, otokritik dan penyikapan atas berbagai persoalan kebangsaan,"tegas Fairouz yang juga mantan Ketua Umum PC PMII Malang ini.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Hady JM

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock