Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional

Jakarta,VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Penulis buku Islam Indonesia Islam Paripurna: Pergulatan Islam Pribumi dan Islam Transnasional, Imdadun Rahmat menilai, karakter Islam transnasional yang cenderung kaku, hitam-putih, tekstual, dan intoleran menjadi bahaya bagi keberlangsungan negara Indonesia yang dikenal plural.

Selain itu, Islam transnasional bisa menggerus watak Islam Indonesia yang cenderung ramah dengan budaya lokal.

Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Moderat Harus Diperkuat untuk Menangkal Islam Transnasional

“Islam transnasional berpretensi menghabisi Islam lokal, Islam yang telah mengalami proses dialog, proses akulturasi positif dengan konteks lokal,” kata Imdad seusai peluncuran dan bedah buku itu di Jakarta, Senin (9/10).

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Imdad menjelaskan, Islam transnasional juga menganggap bahwa praktik Islam di Nusantara itu bukan Islam yang sempurna (kaffah) karena sudah bercampur dengan unsur-unsur budaya dan tradisi masyarakat setempat. Kemudian, mereka menawarkan Islam transnasional yang memiliki slogan kembali kepada Al-Qur’an dan hadis sebagai Islam yang sempurna (kaffah).

Lulusan Pesantren Jumput Pamotan, Rembang itu menilai, konsep Islam kaffah yang ditawarkan oleh kelompok Islam transnasional juga merupakan Islam yang berakar pada budaya lokal, yaitu budaya di Arab dan Timur Tengah.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Kemudian dipersepsikan sebagai Islam yang paling otentik, yang paling asli, murni, dan tidak tercampur dengan unsur-unsur di luar Islam,” jelasnya.

Perkuat Islam moderat ala Indonesia

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2016-2017 itu berpendapat, Islam transnasional dengan segala karakternya tersebut tidak sesuai dan cocok dengan kondisi yang ada di Indonesia.

Maka dari itu, Islam moderat (wasathiyah) ala Indonesia harus diperkuat untuk menangkal Islam transnasional itu.

Ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, membangun argumen Islam wasathiyah yang kuat baik dari sisi sosiologi ataupun sisi teologi.

“Buku yang saya karang ini adalah kontribusi untuk membangun argumen Islam wasathiyah secara sosiologis dan teologis,” urainya.

Bagi Imdad, melalui buku ini ia berpendapat bahwa Islam Indonesia dengan karakter moderasi adalah juga Islam yang paripurna (kaffah). Ada delapan ranah budaya Islam: Arab, Persia, Turki, Anak Benua India, sub-Sahara Islam, China Islam, belahan dunia Barat, dan Nusantara.

“Sesungguhnya (Islam Nusantara) sama sahnya dengan yang ada di Arab ataupun yang lainnya. Maka yang paling tepat untuk Indonesia ya Islam Nusantara,” ucapnya.

Menurut dia, Islam yang paripurna (kaffah) bagi Indonesia bukanlah Islam yang diimpor dari tempat lain dengan segala unsur budaya yang tercampur di dalamnya, tetapi Islam Nusantara yang telah mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal.

Kedua, mensosialisasikan argumen Islam wasathiyah. Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat tahu dan tidak terkecoh dengan kelompok Islam transnasional.

“Dan membentengi masyarakat dari pengaruh mereka,” tukasnya.

Ketiga, de-transnasionalisasi Islam transnasional. Imdad menerangkan, harus dilakukan penyadaran terhadap mereka yang meyakini bahwa Islam transnasional adalah kebenaran tunggal untuk Indonesia.

“Harus disadarkan untuk kembali kepada Islam yang cocok untuk Indonesia, yaitu Islam Nusantara,” terangnya.

Terakhir, pemerintah harus membuat regulasi untuk membendung radikalisasi dan kekerasan yang ditimbulkan oleh Islam transnasional.

“Harus ada sinergi antara pemerintah, ormas, dan masyarakat,” tutupnya. (Mukhlison Rohmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Sunnah, Pendidikan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 26 Februari 2018

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas

Oleh Matroni Musèrang

--Kebudayaan selalu ada dalam kehidupan manusia, ia seperti angin yang keluar masuk dalam tubuh manusia. Dimana pun ada kehidupan, disitulah kebudayaan ada. Begitupun dengan puasa. Puasa merupakan bagian dari kebudayaan umat manusia. Ketika kita melakukan puasa, jangan menganggap agama kita paling benar. Sebab puasa bukan milik pribadi, akan tetapi puasa milik umat manusia, untuk itulah puasa menjadi sarana untuk lebih memanusiakan manusia, inilah yang saya sebut sebagai mi’raj sosial.

Mi’raj sosial artinya seseorang mampu melakukan perintah agama lalu mengaplikasikannya ke ruang publik, contoh, kita tidak lagi membeda-bedakan agama, ras, suku dan budaya, oleh karena itulah dalam mi’raj sosial, sesama manusia kita sama di hadapan kemanusiaan.

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas

Puasa saya maknai sebagai perjalanan rohani untuk mi’raj yaitu mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas (spiritual), dari hati yang keras menuju perkampungan hijau yang bernama kesejukan dan kedamaian. Dua kampung ini kini telah di bakar oleh egoisme pragmatis-kapitalis, untuk itu saya ingin menjadi tuhan untuk “menghidupkan kembali” kampung kesejukan dan kedamaian. Dengan puasa sebagai ibu yang melahirkan kesejukan dan kedamaian. Mengapa puasa? Puasa dilakukan seseorang ketika ingin mendamaikan hati dan pikirannya dan puasa dilakukan oleh semua agama di dunia.   

Oleh sebab itu, Mi’raj sosial penting kita lakukan untuk mencapai derajat yang tinggi di hadapan manusia dan Tuhan. Sebab Tuhan menciptakan makhluk dengan tujuan untuk saling mengenal. Saling mengenal artinya kita diperintah Tuhan untuk selalu membaca, agar kita mengenal. Bagaimana mungkin kita akan kenal jika kita tidak melihat dan membaca?

Mi’raj sosial ini benar-benar penting di tengah maraknya masyarakat yang tidak lagi menghargai kemanusiaan. Maraknya masyarakat yang suka tawuran, suka membunuh, egois, suka saling sikat-sikut, suka mencela sesama manusia. Maka berlomba-lomba dalam ber-mi’raj sosial sangat penting untuk menjaga dan menghormati kemanusiaan. Apalagi lagi gencar-gencarnya tuduh-menuduh di antara para relawan kandidat presiden Indonesia, ada yang memfitnah, ada yang akan menghancurkan agama, PKI, Yahudi, Kristen, dan lain sebagainya.

Maka betapa sangat pentingnya kita menyadari bahwa mi’raj sosial sangat mendesak untuk kita lakukan sebagai terapi bagi manusia yang kurang menghargai manusia dan agama. Apakah dalam sebuah kompetisi kita harus memfitnah dan meracuni pikiran-hati kemanusiaan dan agama dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus bersih-bersih di taman mi’raj (mi’raj sosial dan religiusitas), agar apa yang menjadi tanggungjawab kita benar-benar berjalan sesuai dengan hati nurani kemanusiaan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kemanusiaan lebih dulu diwahyukan oleh Tuhan sebelum wahyu-wahyu lain diturunkan, ini artinya betapa sangat dan amat pentingnya sisi kemanusiaan daripada agama. Agama lahir karena adanya manusia, maka untuk mengetahui makna agama, harus terlebih dahulu mengetahui makna kemanusiaan. Agama seluruh dunia menegaskan sebagaimana dikatakan Karen Armstrong bahwa spiritualitas yang sejati harus diespresikan secara konsisten dalam tindakan berbagai kasih, kemampuan untuk merasakan bersama orang lain.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Iqra’ yang pertama kali turun sebelum syarat rukun agama merupakan bukti nyata bahwa Tuhan lebih mementingkan kemanusiaan (makhluk) daripada agama. Agama diturunkan jaman jahiliyyah untuk mengatur sisi kemanusiaan yang tidak menghargai manusia yang lain, maka jika hari ini ada manusia/tokoh/ulama/pemimpin yang tidak menghargai manusia, berarti sosok itu adalah manusia jahiliyyah. Sosok manusia yang memiliki akal yang tidak digunakan untuk berpikir, memiliki hati yang tidak digunakan untuk refleksi, memiliki indera yang tidak digunakan untuk melihat umat manusia.

Mi’raj religiusitas menjadi penting untuk dijadikan tempat bagi manusia untuk memanusiaan manusia, moment puasa merupakan cara untuk masuk ke perkampungan religiusitas. Religiusitas dalam ini adalah bersadarnya manusia dalam memperjuangkan masyarakat untuk lebih cerdas dan memiliki cakrawala yang luas dalam menjalani tugas sosial dan tugas agama.

Tugas agama memang berat dan keras. Perkampungan agama tidak tumbuh dengan sendirinya kata Karen, akan tetapi agama harus di bina dalam cara yang sama seperti halnya apresiasi seni, musik, dan puisi yang harus ditumbuhkan. Tugas agama kata Karen lagi sangat mirip dengan seni, yakni membantu kita hidup secara kreatif, damai, dan bahkan gembira dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah dijelaskan dan masalah-masalah yang tidak bisa kita pecahkan.

Perjalanan sosial dan agama harus saling bergandeng tangan dalam menciptakan mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas. Cita-cita inilah yang sebenarnya yang ingin kita capai dengan melakukan puasa. Cita-cita kemanusiaan yang damai, inklusif dan memberi rahmat alam semesta. Hanya di tangan manusia yang mi’raj kedamaian alam semesta ada. Puasa sebagai jembatan untuk sampai pada perkampungan mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas.     

Masyarakat Reflektif

Dengan demikian, untuk menjaga mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas dibutuhkan refleksi yang baik dari kita sendiri. Refleksi ini lahir pembacaan dan nalar yang baik. Refleksi ini lahir juga dari masyarakat yang sadar, menyadari bahwa hidup ini tidak hanya sebatas saling fitnah, saling sikat-sikut, tapi ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan yaitu bagaimana menciptakan masyarakat yang cerdas untuk mencapai masyarakat yang damai, makmur dan masyarakat tanpa kelas.

Masyarakat reflektif adalah masyarakat yang memiliki cita-cita untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas (mi’raj sosial), masyarakat yang selalu ingin belajar, membaca dan berpikir tentang semesta dan masyarakat yang memiliki mental komitmen yang baik (mi’raj religiusitas). Masyarakat reflektif inilah yang diidealkan hari ini. Masyarakat yang akan menghargai usaha orang lain, menghargai karya orang lain, menghargai pemikiran orang lain, menghargai keberagaman dan menghargai keberagamaan.

Ketika masyarakat reflektif terealisasikan, kita akan melihat masyarakat yang saling hidup damai, berdampingan, saling tolong-menolong, dan secara otomatis bangsa dan negara akan makmur.

 

Matroni Musèrang, alumnus pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan peneliti sosial, agama dan kebudayaan Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth IMNU, Kajian Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 17 Februari 2018

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah

Pamekasan, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Kehadiran Nahdlatul Ulama memiliki dua agenda yang sejati, yaitu memakmurkan masjid dan  memakmurkan bumi Allah.

Menurut Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi, hal itu sesuai dengan penegasan Allah dalam Al-Quran. Hanya dua penegasan terkait memakmurkan. Pertama, perintah memakmurkan masjid.

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah

“Bahwa sesungguhnya hanya orang-orang yang beriman yang mau memakmurkan masjid,” ungkapnya pada Rapimda PP LTMU di Pamekasan, Madura, Ahad, (27/01) lalu.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kedua, ayat yang memerintah memakmurkan bumi. Dan bumi itu adalah lambang Nahdlatul Ulama. “Dua agenda kehadiran Nahdlatul Ulama adalah memakmurkan bumi bertolak dari memakmurkan masjid,” tambah Kiai kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 1954.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Lebih jauh, Kiai Masdar menjelaskan, masjid yang pertama (masjid secara fisik) disebut masjid mikro, yang kedua disebut masjid makro (bumi Allah). Pengelolaan masjid mikro adalah tolok ukur pengelolaan masjid makro.

“Masjid itu adalah potret dari kehidupan berbangsa, bernegara dan berbumi ini,” tambahnya.

Kiai penulis buku Syarah Konstitusi: UUD 1945 dalam Perspektif Islam ini menjelaskan, jika disiplin di masjid, misalnya datang tepat waktu shalat, rapi dalam barisan, akan disiplin dalam kehidupan di masyarakat. Jika mau membersihkan masjid, mau juga membersihkan bumi Allah.

“Kalau infaq di masjid itu berjalan dengan baik, berarti pendanaan keumatan juga akan berjalan dengan baik.”

Ia berharap semua pengurus NU lebih memperhatikan masjid. Tidak semua pengurus NU di semua level ada bidang keta’miran masjid. Padahal di situlah umat bertemu dan berkumpul.

“Karena itulah manfaat dari ilmu yang mengalir dari mata air pesantren tidak “sumerambah” tidak menyebar sebagaimana mestinya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Humor Islam, Kajian Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 27 Januari 2018

Ansor Lampung Ciptakan Pemimpin Berkualitas Lewat PKL - Susbalan

Lampung Timur, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Lampung bertekad menciptakan pemimpin berkualitas melalui Pendidikan Kepemimpian Lanjutan (PKL) dan Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) Provinsi Lampung Angkatan II.

Ansor Lampung Ciptakan Pemimpin Berkualitas Lewat PKL - Susbalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Lampung Ciptakan Pemimpin Berkualitas Lewat PKL - Susbalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Lampung Ciptakan Pemimpin Berkualitas Lewat PKL - Susbalan

Kepala Satuan Koordinator Wilayah (Satkorwil) Banser Lampung Tatang Sumantri di Desa Tanjung Tirto, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, Minggu (11/1) mengharapkan pengkaderan berjalan sesuai target.

"Harapan lain dari kegiatan ini juga untuk menciptakan kepemimpinan berkualitas dengan kepemimpinan, sumber daya manusianya juga menjadi lebih maju," paparnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ia menilai, kualitas GP Ansor Lampung yang bagus harus semakin ditingkatkan dan perlu "support" untuk para kader dari pimpinan pusat dan wilayah. Hasil diharapkan atas kegiatan itu ialah pemimpin yang betul-betul mandiri, bisa berwirusaha sebagaimana PC GP Ansor Way Kanan yang berjualan madu sebagai salah satu contoh bentuk kemandirian.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Ini perlu, supaya Ansor tidak tergantung pada pihak ketiga," ujar Tatang yang dalam kegiatan tersebut menjadi Ketua Panitia Pengarah (Stering Comite) itu pula.

Ketua Panitia Pelaksana PKL dan Susbalan Angkatan II Provinsi Lampung M Muslih menambahkan, tema kegiatan berlangsung Sabtu (10/1) hingga Rabu (14/11) ialah "Menciptakan Pemimpin Yang Mandiri dan Bermatabat".

"Kami berharap kegiatan ini menambah pengetahuan bagi kader dan bisa memberi kontribusi pada cabang-cabang GP Ansor di 15 kabupaten/kota di Lampung," ujar Ketua Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Way Kanan Hasyim Asari yang menjadi salah satu peserta kegiatan tersebut. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Keterangan foto Kasatkorwil Banser Lampung Tatang Sumantri? memberikan arahan pada peserta PKL dan Susbalan.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Doa, Kajian Sunnah, Ubudiyah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 16 Januari 2018

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo

Solo, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth 

Puluhan ribu jamaah memenuhi Masjid Agung Solo. Mereka mengikuti dzikir dan tablig akbar bertajuk "20 ribu yasin untuk hajat Anda menuju Solo Kota Santri" bersama Habib Noval bin Muhammad Alaydrus pada Ahad (13/10).

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo

Berdasarkan pengamatan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth, mayoritas jamaah yang hadir berpakian putih. Selebihnya berjaket dengan nama majelis di punggungnya, seperti Majelis Rosululloh, Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah (Malang), dan Ahbabul Musthofa. 

Sambil menanti acara dimulai, para jamaah asyik mendengarkan lantunan solawat yang dilantunkan oleh kelompok hadroh Jamuri Solo dan Fatahilah.

"Sebelum dimulai, yuk berdoa kepada Allah agar dikirimkan mendung atau angin yang semilir," ungkap Habib Noval mengawali majelis. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ucapan tersebut keluar setelah melihat ada sebagian jamaah diluar masjid yang kepanasan, meski panitia telah menutup halaman masjid dengan tenda. Lima menit kemudian, jamaah membaca Alfatihah dipimpinnya. Mendung dan hawa dingin pun mulai datang. 

Usai beberapa sambutan, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengajak hadirin untuk membaca surat Fatihah dan Yasin. Selanjutnya, Habib Noval mengajak hadirin menzikirkan lafad "La ilaha Illalloh". 

Usai menzikirkan lafadz tersebut puluhan kali, habib Noval pun memimpin doa. Banyak hadirin yang menangis ketika mengamini doa sang habib. betapa tidak, sebagian besar doa yang dipanjatkan pimpinan majelis Ar-Raudhah berkaitan dengan permohonan ampun atas tiap dosa kepada orang tua.

"Ya Rabb, ampuni kata-kata kasar kami kepada orang tua kami" demikian di antara doa Habib Noval. 

Selain itu, ia juga memohonkan ampun untuk setiap kaum muslimin, serta beberapa doa lain yang diaminkan oleh ribuan jamaah. Bahkan, sang Habib mendoakan keselamatan untuk siapapun yang membenci hadirin, lahir batin. 

Setelah doa, Habib Noval menanyakan kesediaan jamaah untuk menyelenggaraan acara serupa tiap dua bulan sekali. Tentu saja ajakan tersebut diamini oleh ribuan jamaah yang hadir.

Selanjutnya, acara diisi dengan ceramah singkat dari KH Abdurrohim. Kiai yang akrab disapa Gus Rohim ini dari Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah ini mengutarakan bahwa wasilah doa kepada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu ajaran yang disampaikan oleh Habib Anis bin Ali Alabsyi. Habib Anis merupakan guru dan mertua Habib Noval yang diakuinya sebagai salah satu guru dari Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah.

Sementara itu, Habib Muhammad mengawali urainnya dengan "Anda tahu tentang surga?" Cucu Habib Anis tersebut menguraikan tentang itu, serta keyakinannya bahwa jamaah yang hadir di Masjid Agung Solo sebagai calon penghuni surga.

Sebagai penutup acara, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengumumkan akan diadakannya Pameran Buku Aswaja se-Solo di bulan Muharam nanti. Selain itu, Habib Noval menyampaikan tentang diselengarakanya pembaacaan Maulid Simthudduror di Majlis Ar-Raudhah setiap Jumat Pon. (Pekik Sasongko/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Sunnah, Kiai, PonPes VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 15 Januari 2018

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid

Sukoharjo, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sukoharjo bersama Jam’iyyah Al-Qurra wa Al-Huffazh (JQH) Al-Wustha IAIN Surakarta mengadakan kerjasama dalam bidang sholawat dan kajian keislaman untuk memperingati maulid Rasul SAW.

Mereka menggelar sholawatan bersama di mushola Al-Ilham, Kartasura, Ahad (12/1) pagi.

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid

Sebelumnya Ketua PC IPPNU Sukoharjo dan Ketua IPPNU PAC Kartasura bersilaturahmi dengan JQH Al-Wustha, kata seorang pengurus JQH Asrul yang juga mahasiswa Fakultas Syariah, Rabu (15/1).

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Keduanya mengajak JQH Al-Wustha mengisi acara rutinan Germas (Gerakan Remaja Pecinta Sholawat) yang dilaksanakan IPNU dan IPPNU Sukoharjo.

Bagi JQH Al-Wustha, kegiatan itu merupakan salah satu wujud pengabdian masyarakat “dalam rangka menjaga kearifan lokal. Tentunya bertujuan membangun ruang lingkup dakwah yang lebih luas,” terang Asrul.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sementara itu Ketua IPPNU PC Sukoharjo Fitria Ayu Luthfi mengharapkan kegiatan ini bisa menjadi batu loncatan bagi IPPNU yang beberapa tahun lalu “mati suri”. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Sunnah, AlaSantri VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 12 Januari 2018

Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu

Brebes, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Tanjung Brebes KH Mudrikah Toyib memandang perlu adanya hubungan antara ulama dan umara. Sebab bila keduanya sudah saling menyatu keamanan dan ketentraman masyarakat akan kondusif.

Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu

“Antara ulama dan umara, perlu menyatu untuk menjaga kondusivitas masyarakat,” tuturnya saat memberi mauidlatul hasanah memasuki hari kedua? Safari? Ramadhan? bersama Wakil Bupati Brebes? Narjo di Masjid Mujahidin Desa Karangreja Kecamatan Tanjung Brebes, Selasa malam (1/7).

Menurut Kiai Mudrikah, masyarakat akan sejahtera manakala masing-masing pemangku kebijakan untuk rakyat dan umat berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Namun harus saling bergenggam erat dengan satu tujuan untuk kesejahteraan warga masyarakat. “Akan diangkat derajat pemimpin manakala mencintai rakyatnya,” kata Mudrikah.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Akan sangat sempurna bila suatu negara atau masyarakat dibangun di atas empat pilar yang saling menyangga. Empat pilar tersebut adalah Ilmu para cendekiawan yang bermanfaat, pemimpin yang bijaksana dan adil, sodaqohnya para aghniya dan doanya orang miskin. “Keempat pilar tersebut akan kokoh menegakan negara yang baldatun toyibatun wafofur ghofur,” pungkasnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Safari Ramadhan Wakil Bupati Narjo didampingi unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) sebagai upaya perjalanan religi untuk menjalin ukhuwah antara pejabat dan rakyat. Tampak mengikuti Asisten III Setda Brebes Kustoro, Kepala Dishubkominfo Mayang Sri Herbimo, Kepala Badan Pertanahan Kab Brebes Gunung Jayalaksana, Kabag Humas dan Protokol Setda Brebes Atmo Tan Sidik, Kabag Kesra? Setda Brebes Syaiful Islam dan sejumlah pejabat lainnya.

Wakil Bupati Brebes Narjo dalam kesempatan tersebut mengajak kepada seluruh warga masyarakat untuk bersama-sama mensukseskan pemilu preiden 9 Juli mendatang. Partisipasi masyarakat sangat penting dalam pilpres untuk melahirkan pemimpin yang berkualitas.

Menurut Narjo, pada pemilu legislatif yang lalu angka partisipasi aktif masyarakat sudah sangat bagus, meskipun masih dibawa rata-rata Jateng yang mencapai 70 persen lebih. “Mari datang dan gunakan hak pilih anda ke TPS-TPS yang telah disediakan,” ajaknya.

Camat Tanjung Sugeng Basuki atas nama warga merasa gembira dengan kedatangan Wakil Bupati

di desa Karangreja. Dia melaporkan, kehidupan beragama dan bermasyarakat di Kecamatan Tanjung secara umum dalam keadaan kondusif. Termasuk untuk kegiatan pilpres sudah siap sedia demi kesuksesan bersama. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 05 Januari 2018

Etika Islam dalam Bermedsos

Oleh Muhammad Afiq Zahara



Dalam antologi puisi panjangnya, In The Mecca, Gwendolyn Brooks (1917-2000 M) mengatakan: “One reason that cats are happier than people is that they have no newspapers—satu alasan kenapa kucing lebih bahagia dari manusia adalah, bahwa mereka tidak memiliki koran (sekarang, media online).”

Etika Islam dalam Bermedsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Etika Islam dalam Bermedsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Etika Islam dalam Bermedsos

Ya, kucing hidup tanpa perlu mengkhawatirkan fitnah dan hoaks. Mereka tidak perlu memahami besarnya pengaruh fitnah dan hoaks atas pribadi seseorang dan lingkungan tertentu; mereka tidak perlu memahami kejamnya pembunuhan karakter dan ujaran kebencian. Asal perut kenyang, mereka bahagia. Sederhana saja.

Sekarang ini hoaks telah dibudidayakan seperti hewan ternak, tersebar dimana-mana dan disebarkan oleh siapa saja. Daya kritis manusia dalam memahami berita seakan mati rasa. Apapun yang dibaca, jika sesuai dengan selera, dimakan mentah-mentah dan dipercaya. Jika tidak sesuai dengan selera, langsung divonis sebagai berita bohong.

Ini masalah serius. Melihat berita dengan ‘selera’ telah menghalangi terciptanya kultur tabayyun (konfirmasi informasi) di masyarakat kita. Pemilahan berita tidak berdasarkan fakta jurnalistik. Selama berita itu sesuai dengan ‘selera’, kita akan menyebarkannya kemana-mana, melalui media sosial (medsos) yang telah hampir dipakai seluruh penduduk Indonesia.Lalu, bagaimana agama menyikapi hal ini?

Sikap agama jelas, tidak ada ruang untuk kebohongan (hoaks) dalam agama. Anehnya, ada orang yang mengatakan, penyebaran hoaks adalah bentuk kepasrahan kepada Allah, dalam arti berjuang di jalanNya. Ada pula yang menganggap wajar penambahan sebuah berita, apalagi jika berhubungan dengan agama. Ini adalah hal yang benar-benar aneh.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dalam tradisi Islam, terdapat disiplin ilmu musthalah al-hadîts. Saya tidak akan membicarakan panjang lebarilmu tersebut. Saya hanya ingin mengatakan, dalam memahami berita umat Islam seharusnya mengacu pada ilmu tersebut. Tidak mudah mengambil kesimpulan dan harus melakukan kroscek kritis dari mulai sumber berita, siapa yang memberitakannya sampai proses pengikisan penambahan berita bohong yang menyertainya.

Imam al-Syâfi’i dalam al-Risâlah menyebutnya sebagai al-kadzib al-khafi (kebohongan yang halus), yaitu “dzalika al-hadîts ‘an man lâ yu’rafu sidquhu—menyebarkan hadits dari orang yang tidak diketahui kejujurannya.” (Muhammad bin Idrîs al-Syâfi’i, al-Risâlah, hlm 401).?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Artinya, sebelum benar-benar mengetahui kejujuran orang yang memberitakannya secara langsung dan meneliti secara kritis sumber berita tersebut, kita sebaiknya menahan diri untuk menyebarkannya. Jika berita itu benar, kita tidak mendapatkan dosa. Jika berita itu bohong, kita telah turut serta dalam menyebarkan fitnah.

Di era berkemajuan ini, media telah membawa zaman ke arah ‘mediakrasi’, sehingga propaganda disebut pengetahuan dan gosip disebut berita. Setiap hari kita disuguhi berita-berita semacam itu. Efeknya, cara pandang kita terhadap dunia perlahan-lahan bergeser, dari justifikasi logis-kritis menjadi justifikasi propagandis, meski bisa dikatakan tidak semua orang termakan oleh hal itu.

Bagaimana dengan penyebaran berita hoaks sebagai bentuk syiar agama? Jawabannya sama, ketika berkaitan dengan fitnah (pembunuhan karakter) agama tidak memberikan ruang, dengan alasan apapun, “al-fitnah asyaddu min al-qatl—fitnah lebih jahat dari pembunuhan.”

Bahkan, jika kita perluas kajiannya, Nabi Ibrahim pernah berbohong ketika diajak kaumnya untuk menyembah berhala, Ia mengatakan(Q.S. al-Shaffat [37]: 89): “fa qâla innî saqîm—sesungguhnya aku sakit. ”Kebohongan itu menjadi penghalang dirinya memberi syafaat di hari akhir. Ketika sekumpulan orang mendatanginya untuk meminta syafaat, Ia menjawab:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sungguh Tuhanku, hari ini, telah murka (kepadaku) dengan kemurkaan yang belum ada misal sebelumnya, sesungguhnya aku telah berdusta tiga kali...” (H.R. Imam Bukhari).

Perbedaannya adalah, tidak ada unsur fitnah ataupun pembunuhan karakter dalam kebohongan Nabi Ibrahim. Tidak ada pribadi yang dirugikan. Meski demikian, Allah tetap menganggapnya sebagai dusta, sehingga Nabi Ibrahim tidak memiliki hak memberi syafaat kepada umatnya, seperti Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Manusia pilihan yang tidak pernah berbohong sekalipun.

Lah kita, tidak memiliki kemaksuman seperti Nabi Ibrahim, tidak memiliki amal ibadah seperti Nabi Ibrahim. Tanpa pertimbangan yang matang, dengan berani menyebarkan berita bohong atau membuatnya. Andai amal Nabi Ibrahim adalah gunung, satu kerikilnya saja masih terlalu besar untuk dibandingkan dengan amal yang kita kumpulkan sampai mati.

Kita harus berhati-hati dalam membaca berita. Lakukan critical analysis (al-tahlîl al-naqdlî, analisa kritis), penyelusuran sumber (takhrîj dan kritik sanad) dan evaluasi konten berita (kritik matan). Jangan dimakan mentah-mentah dan disebarkan begitu saja. Pembacaan kritis ini sangat diperlukan agar terhindar dari budidaya fitnah dalam bentuk berita. Sebaik-baik berita yang kita baca, lebih baik berita yang kita dengar dan lihat secara langsung, sami’nâ wa atha’nâ.

Saya menutupnya dengan perkataan Mark Twain (1835-1910): “If you don’t read the newspaper, you’re uninformed. If you read the newspaper, you’re mis-informed—jika kau tidak membaca koran (sekarang media online), kau kurang informasi. Jika kau membacanya, kau mendapatkan informasi yang salah. ”Semoga kita bisa menghindarinya. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Sunnah, Internasional, Habib VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 04 Januari 2018

Menengok Kamar KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Langitan

Tuban,VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Hari kedua di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Tim Ekspedisi Islam Nusantara sowan ke Pondok Pesantren Langitan. Tim diterima lurah pesantren, Mustaqim, kemudian diantar ke sebuah ruangan. Di situ telah menunggu salah seorang kiai di pondok pesantren tersebut, KH Adib Rohman.

Menengok Kamar KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Langitan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Kamar KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Langitan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Kamar KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Langitan

Pada bincang-bincang dengan Tim Ekpedisi Islam Nusantara, kiai yang akrab disapa Gus Adib, tersebut menjelaskan bahwa pendiri NU Hadrotusyekh KH Hasyim Asy’ari pernah nyantri di Langitan.

“Ngaji Alfiyahnya dan khatamnya di sini. Beliau merupakan adik kelasnya Syaikhonan Kholil Bangkalan di sini,” terangnya Ahad (10/4).

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, menghabiskan 3 tahun di pondok pesantren tersebut pada akhir tahun 1900-an. Ia sempat berteman selama 6 bulan dengan Syaikhona di pesantren tersebut. Karena penasaran akan ilmu Syaikhona, Kiai Hasyim di lain waktu berguru ke Bangkalan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menurut Gus Adib, Kiai Hasyim tinggal di kamar nomor 9 di asrama Al-Maliki. Kamar tersebut sebagaimana amanat pengasuh pesantren sebelumnya, sampai kini tidak pernah dipugar. Hanya ada beberapa perbaikan saja jika ada yang rusak atau pengecatan.

Di asrama tersebut pula, lanjut dia, orang tua tokoh-tokoh NU tinggal selama di pesantren tersebut seperti KH Syamsul Arifin (ayah KH As’ad Syamsul Arifin), KH Shidiq (ayah KH Ahmad Shidiq), KH Wahab Hasbullah.

Kemudian Tim Ekspedisi Islam Nusantara diajak melihat ke kamar no 9 tersebut. Ternyata ukuran luasnya tidak lebih dari 3 X 3 meter dengan tinggi 2,5 meter.

Menurut lurah santri Langitan, Mustaqim, sebelumnya kamar tersebut dikosongkan dan dikunci. Tidak ada yang boleh masuk. Tapi kemudian dibuka untuk santri dengan syarat mau bertirakat dan rajin mengaji. “Kalau tidak tirakat dan rajin, santri akan dikeluarkan di kamar tersebut,” jelasnya.

Saat ini, meski ruangannya sempit, kamar nomor 9 tersebut diisi 10 orang santri dengan berbagai perlengkapan mereka seperti kitab-kitab, buku, dan pakaian. Mereka mendapat kesempatan istimewa di antara 5000 santri lain.

Pesantren Langitan didirikan oleh KH Muhammad Nur pada tahun 1852. Ia merupakan salah seorang keturunan Sunan Ampel. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth PonPes, Kajian Sunnah, Anti Hoax VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 03 Januari 2018

Kang Said: Bela Ulama dan Tanah Air = Bela Agama

Jakarta VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Tujuan didirikan Ikatan Pencak Selat Nahdlatul Ulama atau Pagar Nusa adalah mengawal dan memagari NU dan bangsa Indonesia.

?

Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, tujuan organisasi yang didirikan 3 Januari 1986 tersebut, sudah benar, karena mengawal ulama dan membela tanah air sama dengan membela agama.

Kang Said: Bela Ulama dan Tanah Air = Bela Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Bela Ulama dan Tanah Air = Bela Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Bela Ulama dan Tanah Air = Bela Agama

?

“Mengawal NU sebagai semangat agama, sebagai semangat keberagamaan kita, dan mengawal NKRI sebagai semangat keragaman kita. Itulah Pagar Nusa,” terangnya pada pidato pelantikan dan pengukuhan Pimpinan Pusat Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa masa khidmah 2012-2017 di pondok pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Ahad (21/10).

?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kemudian kiai kelahiran 1953 ini, menukil sebuah hadis yang artinya, Barangsiapa tidak punya tanah, tidak punya tanah air, tidak akan punya sejarah. Dan jika tak punya sejarah, maka tak punya karakter.

?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Sejarah itu dibangun di atas tanah. Kalau kita ingin mengukir sejarah Islam, maka kita harus mencintai tanah air Indonesia terlebih dahulu.”

?

Oleh karena itu, sambung doktor Umul Qurro Madinah ini, membela tanah air berarti membela agama.

?

“Makanya tidak heran jika KH Hasyim Asy’ari tanggal 22 Oktober di Tebuireng, mengeluarkan Resolusi Jihad untuk melawan Sekutu yang masuk Surabaya. Membela tanah air hukumnya sama dengan fardhu ‘ain. Sama dengan shalat, zakat, puasa dan haji,” tambahnya. ? ?

?

Kang Said juga mengucapkan selamat kepada Aizzudddin Abdurrahman, Ketua Pagar Nusa 2012-2017. “Semoga Pagar Nusa semakin maju. Kekurangan-kekurangan di masa lalu bisa menjadi pelajaran untuk kepengurusan sekarana.”

?

Selain itu, kiai kelahiran Cirebon ini menyatakan, selama kepengurusan akan menargetkan berdirinya 10 perguruan tinggi NU. “Baru berdiri tiga, Universitas Nahdlatul Ulama di Cirebon, Jawa Barat, di Lampung, dan Halmahera, Maluku,” pungkasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 01 Januari 2018

Pesan Gus Dur: Dokumentasikan Dakwah NU

Bandung, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Saat masih hidup Gus Dur pernah mendorong agar para kiai NU mendokumentasikan dakwahnya melalui media, baik dengan tulisan, suara atau pun video, hal ini dilakukan agar dakwah rahmatan lilalamin bisa menyentuh umat secara luas dan tentunya bisa diakses oleh lintas generasi.

Demikian disampaikan Ketua Lembaga Dakwah PBNU H Maman Imanulhaq dalam kegiatan Halaqoh Dai Cyber NU yang digelar di Hotel Grand Asrilia, Bandung, Sabtu (9/9).

Pesan Gus Dur: Dokumentasikan Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Gus Dur: Dokumentasikan Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Gus Dur: Dokumentasikan Dakwah NU

"Salah satu pesan terbaik Gus Dur adalah dokumentasi. Bagi Gus Dur mendokumentasikan dakwah yang toleran, dakwah yang damai dan dakwah yang menguatkan nilai-nilai kemanusiaan itu penting," kata Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka itu.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kang Maman menambahkan, beberapa bulan sebelum meninggal, Gus Dur sudah memberikan contoh dengan meminta Kang Maman membuat video Gus Dur berdurasi kurang lebih 90 menit, sampai hari ini dokumentasi tersebut masih bisa dibaca dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur dan videonya pun bisa diakses di Youtube.

"Gus Dur menyuruh saya supaya meminta kepada para kiai untuk melakukan hal yang sama (membuat dokumentasi, red)" ujar penulis buku Fatwa dan Canda Gus Dur ini

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Tetapi pada saat itu, kata dia, para kiai malah enggan melakukan apa yang diingankan oleh Gus Dur dengan dalih tidak pantas disejajarkan dengan Gus Dur yang membuat video, takut menjadi riya dan sebagainya.

"Padahal tahun 2009 belum ada huru-hara media sosial karena saat itu media sosial masih terasa banyak manfaatnya," tegasnya.

Menurut Kang Maman, ini membuktikan pemikiran Gus Dur sudah jauh ke depan; bahwa akan ada sekelompok orang yang menodai ajaran agama Islam dengan cara menyebarluaskan ajaran kekerasan dan kebencian melalui dokumentasi dan benar saja saat ini ajaran radikalisme sudah tumbuh subur dan banyak tersebar di dunia maya.

Di hadapan hadirin yang terdiri dari utusan PCNU se-Jawa Barat itu Kang Maman mendorong agar para peserta dapat mendokumentasikan berbagai kegiatan dan dakwah para kiai di daerahnya masing-masing kemudian disebarkanluaskan di dunia maya, karena jika hal itu tidak dilakukan konten-konten negatif akan semakin merajalela.

Selain itu, dalam kegiatan halaqah ini Lembaga Dakwah PBNU juga meluncurkan Internet Marketers Nahdlatul Ulama (IMNU) yang terdiri atas para pengusaha bisnis online dari kalangan santri. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Sunnah, IMNU VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 22 Desember 2017

Diba’an

Dibaan adalah tradisi membaca atau melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad yang dilakukan oleh masyarakat NU. Pembacaaan shalawat dilakukan bersama secara bergantian. 

Ada bagian dibaca biasa, namun pada bagian-bagian lain lebih banyak menggunakan lagu. Istilah  diba’an mengacu pada kitab berisi syair pujian karya al-Imam al-Jaliil as-Sayyid as-Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman ad-Diba’iy asy-Syaibani az-Zubaidi al-Hasaniy. 

Diba’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Diba’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Diba’an

Kitab tersebut secara populer dikenal dengan nama kitab Maulid Diba’. Pembacaan syair-syair pujian ini biasanya dilakukan pada bulan maulud (Rabiul Awal) sebagai rangkaian peringatan maulid Nabi. 

Di sejumlah desa di Jawa, pembacaan syair maulid dilakukan setiap minggu secara bergilir dari rumah ke rumah. Seperti halnya pembacaan kitab al-Barzanji, al-Burdah, dan Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, pembacaan Diba’ atau biasa disebut diba’an juga dilakukan saat hajatan kelahiran anak, pernikahan, khitanan, tingkeban, ketika menghadapi kesulitan dan musibah, atau untuk memenuhi nazar. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kitab Diba’ adalah salah satu dari sekian banyak kitab klasik yang tidak masuk di dalam pengajaran pesantren, namun akrab dan populer digunakan oleh masyarakat pesantren.

Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman ad-Diba’iy lahir pada hari ke-4 bulan Muharram tahun 866 H dan wafat hari Jumat 12 Rajab tahun 944 H. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dia adalah seorang ulama hadits terkemuka dan mencapai tingkatan hafidz dalam ilmu hadits, yaitu seorang yang menghafal 100.000 hadits lengkap dengan sanadnya. Selain ahli ilmu hadis, Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman ad-Diba’iy juga seorang muarrikh atau ahli sejarah. Beberapa di antara sekian banyak kitab karangannya ialah Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul, Qurratul Uyun fi Akhbaril Yaman al-Maimun, Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid, dan lain-lain.

Tradisi membaca syair pujian dari kitab Maulid Diba’ ini (selain al-Barzanji dan al-Burdah) adalah salah satu tradisi yang menjadi sasaran kritik kaum puritan. Kaum puritan menolak peringatan maulid apalagi disertai dengan ritual-ritual pembacaan puji-pujian. Mereka menganggap peringatan maulid yang dilakukan dengan cara membaca kitab-kitab tersebut  adalah perbuatan bid’ah.  

Selain dianggap tidak dicontohkan oleh Nabi, kaum puritan juga menganggap isi atau apa yang dibaca dalam tradisi diba’an adalah kisah-kisah palsu dan pujian berlebihan sehingga merupakan syirik.

Di tengah acara diba’an atau berzanjen ada ritual berdiri atau yang populer disebut dengan istilah “srakalan” atau “marhabanan” yakni ketika pembacaan kitab sampai pada kalimat  "Asyaraqal badru ‘alaina". Pada saat ini semua hadirin berdiri. 

Perkara berdiri pada saat seperti ini pernah dibahas dalam Muktamar NU, yakni pada Muktamar NU ke V tahun 1930 di Pekalongan. Batsul masail pada muktamar ini memutuskan bahwa berdiri ketika berzanjen/diba’an hukumnya sunnah, termasuk ‘uruf syar’i.

Kitab Diba’ ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Di antaranya adalah: Al-Qawl al-Badi’ fi tarjamah al-Maulid ad-Dibai, merupakan terjemahan ke dalam bahasa Jawa oleh Ahmad Fauzan bin Muhammad al-Rabani, diterbitkan oleh al-Munawar Semarang. Qathr al-Marba’wa Nayl al-Arb, tarjamah Maulid ad-Diba’wa maulid al-‘Azab, merupakan terjemahan bahasa Jawa oleh H. Ahmad Subki Masyhari diterbitkan Hasyim Putra, Semarang. 

Ada juga Yaqulu ad-Da’i tarjamah Al-Maulid ad-Diba’i, terjemahan bahasa Jawa oleh KH Misbah bin Zain al-Musthafam penerbit Al-Ihsan, Surabaya. Al-Maulid ad-Diba’i; Diba’an Arab Latin beserta Terjemahannya, terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Badlowi Syamsuri, Penerbit Apollo Surabaya; Tarjamah Maulid  ad-Dibay oleh H. Abdullah Shonhaji, Penerbit Al-Munawar. (Sumber: Ensiklopedia NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth RMI NU, Kajian Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 10 Desember 2017

BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pembentukan Badan Halal NU (BHNU) didasari atas kebutuhan pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk tujuan pencarian keuntungan dalam upaya perlindungan konsumen Muslim untuk memperoleh produk yang sesuai dengan ketentuan syariah.

Ketua BHNU Prof Dr Maksum Mahfudh menegaskan, urusan labelisasi halal sama sekali bukan kesempatan ekonomi, tetapi proteksi konsumen dan promosi produsen. Konsumen harus diproteksi dari makanan yang tidak halal sekaligus ikut mempromosikan agar konsumen mencari produk yang sudah halal sehingga produsen yang memiliki sertifikat halal akan mendapat nilai tambah.

BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan (Sumber Gambar : Nu Online)
BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan (Sumber Gambar : Nu Online)

BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan

“Kita harus mempromosikan pentingnya mengkonsumsi produk halal kepada masyarakat, tetapi proses produksi halal ini akan menyebabkan harga produknya lebih tinggi daripada produk yang tidak dijamin kehalalannya. Kita mengedukasi masyarakat tentang jaminan produk halal ini, jangan sampai yang halal malah tidak laku karena harganya lebih tinggi,” paparnya, Jum’at (28/3).

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menurutnya, sertifikasi halal merupakan urusan privat yang kini sudah bisa dilakukan oleh masyarakat tanpa campur tangan negara dengan baik, sedangkan negara mengurusi public good yang tidak mampu dikelola secara langsung oleh masyarakat. Dalam rancangan UU Jaminan Produk Halal (JPH), Pemerintah melalui Kementarian Agama masih berusaha berperan sebagai regulator, sekaligus sebagai operator JPH. 

“Biarlah negara sebagai regulator, pengawas, dan pengendali. Kalau negara berperan sebagai regulator sekaligus operator, rawan penyalahgunaan,” tandasnya. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dengan perspektif sertifikasi halal sebagai pelayanan, maka tidak ada fee atau penambahan biaya yang tidak perlu yang harus dikeluarkan kepada produsen yang ingin mendapatkan sertifikasi halal dari NU. Biaya yang muncul semuanya terkait secara langsung dengan operasional proses sertifikasi. Andi Najmi, direktur hukum BHNU sangat mendukung pemberian label halal sebagai bentuk pelayanan ini. Jika perspektif ini yang dipakai, maka tidak akan ada rebutan pengelolaan label halal. 

“Saya mencurigai draft RUU JPH saat ini punya kecenderungan berorientasi pada pendapatan, salah satunya ada yang ketentuan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), padahal produsen sudah membayar pajak. Ini bukan unsur perlindungannya yang ditekankan dan pada akhirnya, beban ini harus ditanggung oleh konsumen,” tandasnya.

Selanjutnya ia meminta agar sertifikasi halal dibuka untuk semua ormas yang memenuhi syarat, bukan monopoli MUI, yang posisinya dalam UU Ormas juga organisasi massa dan bukan menjadi suprastruktur organisasi lain seperti NU dan Muhammadiyah. Diantara persyaratan yang diusulkannya adalah memiliki jamaah atau anggota, memiliki sistem dan standar halal sementara untuk laboratorium halal bisa bekerjasama dengan pihak lain. 

“Kalau punya fatwa tapi tidak memiliki anggota atau jamaah yang mengikutinya bagaimana,” tanyanya.

Ia mencontohkan, di Australia terdapat banyak sembilan badan sertifikasi halal dan semuanya berjalan baik. Dengan banyaknya lembaga sertifikasi, produsen dan konsumen akan bisa menilai mana lembaga yang memberi pelayanan yang baik dan mana yang tidak. 

“Memang perlu aturan yang menjadi panduan bersama, seperti apakah boleh ada produk yang mendapat sertifikasi halal lebih dari satu dan jika ditolak, apa boleh meminta ke lembaga lain dalam waktu yang bersamaan. Nanti regulator yang akan mengaturnya,” katanya.

Ia sepakat dengan adanya profesionalitas dan transparansi pelayanan, termasuk keuangan karena setiap warga negara berhak meminta informasi terhadap lembaga publik. “Jangankan terhadap BHNU, laporan keuangan PBNU pun kita kasih.”

Bagi perusahaan yang sudah mendapat sertifikasi halal, BHNU setiap tahun akan melakukan uji sampling, tetapi berbeda dengan uji statistik yang memiliki standar error tertentu. Tingkat kehalalan harus dijamin 100 persen, karena itu, ketika ada satu sampel yang ditemukan tidak memenuhi standar halal, maka harus dilakukan pemeriksaan secara keseluruhan. 

Seluruh proses halal tersebut, melibatkan Dewan Tahkik atau dewan pengawas yang terdiri dari para kiai kompeten, ahli kimia, ahli pangan, maupun teknik industri yang telah berpengalaman dalam sertifikasi halal. Saat ini, bidang garapannya terbagi pada pangan dan obat-obatan yang masing-masing dipimpin oleh satu orang direktur.

Bagi perusahaan yang ingin mengajukan sertifikasi halal, mereka dapat mengunduh formulir yang ada di www.nu.or.id yang selanjutnya bisa dikirim via email atau surat ke kantor BHNU gedung PBNU lt 5 jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat.

Dalam waktu dekat, BHNU akan memperluas jaringannya dengan membentuk badan halal di tingkat propinsi atau cabang atau setara dengan kabupaten kota dengan prioritas ditempat tersebut sudah terdapat laboratorium uji halal sehingga biayanya lebih efisien. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Aswaja, Kajian Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 23 November 2017

Sekolah Lima Hari di Jateng Dinilai Bisa Rusak Budaya Religi

Semarang, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kebijakan Sekolah Lima Hari yang dicanangkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dinilai para ulama akan merusak budaya religi yang telah tertanam kuat di masyarakat Jateng.? Budaya religi masyarakat Jateng adalah bercorak pedesaan dan mayoritas masih peduli pada moralitas anak-anaknya.

Wujud peduli pada pendidikan moral itu, para orang tua yang prihatin atas minimnya pendidikan agama di sekolah formal, memasukkan anaknya ke madrasah diniyah atau Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) di sore hari. Bahkan banyak yang mendorong anaknya mengaji di pesantren sejak sore hingga malam hari, meski tidak mondok 24 jam di pesantren.

Sekolah Lima Hari di Jateng Dinilai Bisa Rusak Budaya Religi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Lima Hari di Jateng Dinilai Bisa Rusak Budaya Religi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Lima Hari di Jateng Dinilai Bisa Rusak Budaya Religi

Jika kebijakan Gubernur Jateng yang sekarang dalam tahap uji coba itu benar-benar diberlakukan, maka para murid sekolah formal akan kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan agama dan moral. Padahal itu adalah hak konstitusional peserta didik yang selama ini tidak pernah bisa dipenuhi negara melalui sistem pendidikan nasionalnya.

Jika murid sekolah pulang sore, hingga jam 17 sampai rumah, kemungkinan besar sudah kelelahan. Itu artinya, hilang kesempatan untuk mengaji di malam ? hari. Terlebih malam hari harus belajar menggarap Pekerjaan Rumah (PR) dan sebagainya.

Hal itu mengemuka dalam Halaqoh Ulama bertema "Plus-minus Kebijakan 5 Hari Sekolah di Jawa Tengah" yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng di Kampus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Kamis (26/11).

Para ulama menyatakan keberatan terhadap kebijakan Gubernur Jateng yang dituangkan dalam Surat Edaran nomor 420/006752/2015. Para utusan MUI daerah mendorong MUI Jateng agar bersikap tegas menolak kebijakan tersebut atas pertimbangan kemaslahatan umat.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Tegas Menolak

Narasumber dalam Halqoh Ulama, Ketua Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyyah NU (RMI NU; asosisasi pesantren NU) Jateng KH Abdul Ghoffar Rozien tegas menolak kebijakan tersebut. Ia menyatakan, kepuitusan gubernur Jateng tersebut tidak didasari studi dan kajian yang? memadai sehingga tidak mencerminkan kebutuhan riil masyarakat Jateng.

Disebutkannya, alasan Ganjar Pranowo yang mengatakan akan meningkatkan kualitas hubungan? orang tua dan anak di hari Sabtu dan Minggu, tidak bisa diterima nalar karena mayoritas orang tua di Jateng masih beraktivitas di hari Sabtu dan Minggu.? Justru kekosongan rumah di saat orang tua tidak ada di hari libur sekolah, menurut Gus Rozien, panggilan akrabnya, berpotensi menimbulkan perilaku negatif yang tidak terkontrol.

"Marilah jujur, para siswa sekolah kita itu semakin banyak yang rusak moralnya. Miris kita kalau mengetahui di setiap malam Valentine Day, semua apotek dan toko kehabisan stok kondom," tuturnya sedih.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Pernyataan Rozien didukung para peserta Halaqoh. Setiap Rozin memaparkan argumennya tentang penolakan itu, disambut tepuk tangan hadirin. Beberapa ketua MUI daerah yang mendapat kesempatan bicara, meminta agar MUI Jateng mengeluarkan sikap tegas menolak.

Argumen paling banyak disampaikan adalah pesantren, madrasah diniyah (Madin) dan taman pendidika al-Quran (TPQ) yang telah ada puluhan tahun, bahkan sudah ada sejak Islam masuk Indonesia, akan tutup karena tiada kesempatan anak-anak mengenyam pendidikan agama di sore hari di lembaga pendidikan keagamaan tersebut.

"Madin dan TPQ akan gulung tikar. Bukan soal tutupnya yang menyedihkan, tapi tiadanya kesempatan anak-anak kita mendapat pendidikan moral agama. Mau jadi apa mereka nanti?" tutur Kasi Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jateng Mustasit yang juga anggota MUI itu.

Disebutkan Rozien, satu-satunya benteng moral masyarakat adalah pendidikan agama, dan itu didapat secara maksimal di Madin dan pesantren, yang umumnya diselenggarakan pada sore hari. Pemberlakukan surat edaran gubernut, jelas dia, telah mengancam keberlangsungan lebih dari 11 ribu madrasah diniyyah di Jateng dengan ratusan ribu santri.

Pengasuh Ponpes Maslakul Huda Kajen Pati ini menegaskan, libur sekolah di hari Sabtu dan Minggu, perlu ditimbang lagi manfaat dan mudharat (kerugian) nya. Jika tidak diisi dengan kegiatan produktif, maka tidak ada manfaatnya. Kebijakan? tersebut hanya cocok jika diterapkan di kota Metropolitan semisal Jakarta.

Dukungan penolakan disampaikan MUI Grobogan. Di forum tersebut, Sekretaris Umum MUI Grobogan HM Mahbub Ulil Albab meminta agar MUI Jateng tegas menolak kebijakan lima hari sekolah.

Ia mengaku prihatin mengapa pemerintah yang jelas-jelas telah melanggar konstitusi, tidak mampu memberi pendidikan agama? yang cukup sesuai amanah konstitusi, malah akan mematikan Madin? dan TPQ yang sudah puluhan tahun menutupi kesalahan dan kekurangan pemerintah tersebut.

"Pemerintah sudah tidak bisa memenuhi amanah konstitusi memberi pendidikan agama kepada anak sekolah. Buktinya pelajaran agama cuma dua jam seminggu. Jangan ditambah dengan menutup akses siswa ke madrasah diniyah," tuturnya.

Diminta Beradaptasi

Meski dinamika dalam Halaqoh cenderung menolak, namun dua narasumber menyatakan mendukung. Ketua Dewan Penasehat MUI Jateng Ali Mufiz mengajak masayrakat untuk mengambil hikmah atas kebijakan gubernur tersebut. Ia mengajak para guru Madin dan TPQ untuk menyesuaikan diri dengan membuka Sekolah Ahad, Sekolah Alternatif, Sekolah Tematik Agama, atau semacamnya.

Mantan Gubernur Jateng ini bahkan mempersilakan Gubernur Jateng menerapkan kebijakan tersebut untuk semua sekolah. Tidak hanya untuk SMA dan SMK, melainkan juga sekalian ke SMP dan SD. Agar semua anak pulang sore hari dengan masuk lima hari sekolah.

"Sekalian diterapkan untuk semua jenjang sekolah saja. Kita menyesuaikan diri dan mengambil hikmah dari kebijakan Pak Gubernur. Toh masyarakat akan memilih pendidikan untuk anak-anaknya," tuturnya seraya menyatakan bahwa Kabupaten Sragen meminta penerapan sekolah lima hari untuk SD sampai SLTA.

Narasumber lain, Rektor Unissula Anis Malik Toha menyatakan dukungannya dengan mengatakan bahwa kebijakan Gubernur Jateng membuka peluang bagi madrasah dan TPQ untuk berimprovisasi dan inovasi. Namun ia tidak merinci seperti apa wujud improvisasi dan inovasi tersebut bagi Madin dan TPQ.

Dalam makalahnya ia hanya menuliskan, perlunya diversifikasi pendidikan diniyah secara inovatif, lalu ada formalisasi pendidikan diniyah sebagai sistem pendidikan alternatif di semua level. Lalu ada reformulasi kurikulum.

Anis menyebut madrasah diniyah sebagai tempat pendidikan agama, itu terjebak pada hegemoni budaya asing yang mendikotomikan ilmu umum dan ilmu agama. Maka konsepsi seperti itu harus diubah.

Namun pernyataannya ini diprotes Mahbub dari Grobogan. Menurutnya, menyalahkan madrasah sebagai korban hegemoni asing itu kurang bijaksana. Ia menyebut perlunya formalisasi pendidikan diniyyah sebagai sistem pendidikan alternatif di semua level.

"Madrasah itu sudah ada sejak Islam masuk di Indonesia. Menyatakan Madin terjebak hegemoni asing itu kurang bijaksana," tutur Mahbub disambut tepuk tangan hadirin.

Ketua PP RMI NU Abdul Ghoffar Rozien sendiri dalam tanggapanya mengatakan, meminta madrasah menyesuaikan diri dari kebijakan gubernur Jateng itu ibarat ada orang sudah merebut rumah, lalu disuruh membuat rumah baru.

Hingga kini, kebijakan Gubernur tersebut telah ditolak oleh beberapa Pemda. Yakni Surakarta, Kendal, Pekalongan, dan Kabupaten Semarang Serta Boyolali, Temanggung, dan Batang dan Rembang.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Nur Hadi Amiyanto yang hadir sebagai narasumber menjelaskan, kebijakan tersebut baru sebatas uji coba di SMA dan SMK negeri. Setelah satu semester akan dievaluasi. Ia mempersilakan masyarakat termasuk ulama memberi masukan dan pihaknya akan membahasnya secara mendalam.

"Kebijakan ini masih uji coba. Akan kami evaluasi setelah satu semester," tuturnya.

Pemerintah Justru yang Ikut Asing

Menanggapi kebijakan Gubernur Jateng ini, seorang alumni Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Dawam Muallim menguraikan, dulu pada zaman Wali Songo, pendidikan di Indonesia adalah pendidikan yang berbasis padepokan dan pondok pesantren. Pendidikan di padepokan biasanya menitikberatkan pada pengajaran ilmu silat dan bela diri serta ilmu budi pekerti, sedangkan pendidikan di pondok pesantren biasanya juga mengajarkan ilmu silat dan bela diri namun lebih dominan pada pengajaran ilmu-ilmu agama.

Ia melanjutkan, pendidikan model seperti itu berlanjut hingga zaman Belanda, dan kebanyakan laskar perebut kemerdekaan didominasi para pendekar dan para kiai yang dibantu oleh para santri.

Belanda pun selalu kewalahan menghadapi mereka, sehingga Belanda harus memeras otak untuk menghilangkan pendidikan berbasis pondok pesantren dan padepokan. Maka Belanda membuat pendidikan tandingan yang berbasis ilmu-ilmu duniawi, namun saat itu para kyai mengharamkan penduduk pribumi belajar di sekolah Belanda.

"Penduduk pribumi saat itu masih banyak yang taat kepada fatwa kiai, sehingga selama ratusan tahun sekolahan Belanda masih sepi dari penduduk pribumi," ujar ustadz yang kini mendirikan pesantren di Kalimantan ini.

Lebih lanjut ia mengatakan, ketika Belanda masih kalah sama fatwa kiai, akhirnya penjajah melarang para bupati dan wedana menerima pegawai selain dari lulusan sekolahan Belanda.? Hal itu dilawan lagi oleh kiai dengan mengeluarkan fatwa haram bagi santri dan anak cucu kiai menjadi pegawai.

"Namun lambat laun, sekolah Belanda itu akhirnya laku juga, yang pada akhirnya mampu mengalahkan pendidikan pesantren dan padepokan.? Dan sekarang guru yang dianggap sah oleh pemerintah Indonesia adalah para guru sekolah model Belanda, sungguh kenyataan yang sangat menyedihkan," pungkasnya. (Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Jadwal Kajian, Kajian Sunnah, Meme Islam VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 03 November 2017

Kemendes Ubah Paradigma Pembangunan Perbatasan Menjadi Investasi

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menjalankan berbagai program untuk merubah paradigma pembangunan perbatasan negara, dari semula lebih pada pendekatan keamanan menjadi pusat pertumbuhan dan investasi.

Kemendes Ubah Paradigma Pembangunan Perbatasan Menjadi Investasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendes Ubah Paradigma Pembangunan Perbatasan Menjadi Investasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendes Ubah Paradigma Pembangunan Perbatasan Menjadi Investasi

"Isu paling dominan di perbatasan saat ini adalah investasi, kita susun buku potensi investasi perbatasan. Perbatasan selama ini diabaikan dalam konteks koridor ekonomi. Inilah target kami, bagaimana merubah paradigma ini menjadi investasi," ujar Dirjen Pengembangan Daerah Tertentu (PDTu) Kemendes PDTT, Suprayoga Hadi di Jakarta, Senin (30/5).

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Suprayoga mengakui, untuk merubah paradigma menjadi investasi membutuhkan waktu dan ketekunan. Dalam hal ini, Kemendes PDTT akan mencoba model KEK (Kawasan Ekonomi Khusus), dan memberikan kemudahan bagi investor untuk masuk ke kawasan tersebut.

"Meyakinkan investor itu perlu waktu. Sebelum MEA, kita buka Kalimantan untuk dibuka perkebunan kelapa sawit, itu sudah antre investor," ujarnya.

Menurut Suprayoga, daerah perbatasan selama ini tidak pernah dipandang sebagai growth areas (area pertumbuhan). Inilah yang menyebabkan wilayah perbatasan sulit terentas dari ketertinggalan.

"Inilah kekurangan kita. Maka, pengembangan perbatasan juga harus dilakukan melalui pendekatan investasi. Tanpa investasi daerah akan sulit untuk maju, mereka hanya akan menjadi saksi," ujarnya.

Suprayoga melanjutkan, daerah perbatasan menjadi semakin seksi ketika dihadapkan dengan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Di mana pada era tersebut, daerah perbatasan akan menjadi sentra pertemuan antara Indonesia dengan negara-negara lainnya.

"Dalam MEA, yang paling terpapar adalah perbatasan. Dan investasi di wilayah perbatasan yang diawali oleh pemerintah itu iya. Investasi tersebut berupa investasi dasar seperti listrik, air bersih, telekomunikasi, dan sebagainya. Setelah investasi dasar terpenuhi baru investor biasanya mau masuk, jika dari awalnya biasanya tidak mau," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 30 Agustus 2017

Imam Masjid Riyadh Solo Habib Alwi Al-Habsyi Wafat

Solo, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Kabar duka datang dari Kota Solo Jawa Tengah. Ulama dan Imam Masjid Riyadh Pasar Kliwon Solo, Habib Alwi bin Anis Al-Habsyi tutup usia, Jumat (1/5).

Imam Masjid Riyadh Solo Habib Alwi Al-Habsyi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Masjid Riyadh Solo Habib Alwi Al-Habsyi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Masjid Riyadh Solo Habib Alwi Al-Habsyi Wafat

Habib Alwi menjadi Imam dan pengasuh Ribath (pesantren) Masjid Riyadh pasca-wafatnya sang ayah, Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi. Masjid Riyadh merupakan masjid yang didirikan oleh Habib Alwi, putra Habib Ali Al-Habsyi Muallif kitab Simtuddurar.

Kabar ini cukup mengejutkan bagi jamaah Masjid Riyadh, sebab sebentar lagi di Masjid ini akan mengadakan kegiatan tahunan Khatmil Bukhari, pada akhir bulan Rajab ini.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Di mata beberapa tokoh, sosok Habib Alwi dikenal sebagai ulama yang suka membantu orang lain.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Habib Alwi, merupakan sosok yang sabar dan suka menolong orang lain yang punya masalah, serta tidak neko-neko,” ungkap Rais Syuriyah PCNU Sukoharjo KH Ahmad Baidlowi.

Menurut penuturan dari pihak keluarga, jenazah Habib Alwi, rencananya akan dimakamkan di Pemakaman Klumprit Polokarto Sukoharjo, Sabtu (2/5). Lahu al-Fatihah. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ahlussunnah, Kajian Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 18 Juni 2017

Ketabiban Pagar Nusa Menjadi Sarana Bimbingan Agama

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pembina Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa KH Fuad Anwar mengatakan, aktivitas ketabiban yang dilakukan oleh para anggota Pagar Nusa menjadi salah satu sarana untuk memberikan bimbingan agama kepada masyarakat. Kenyataannya, masyarakat tidak hanya datang untuk berobat, tetapi juga menyampaikan persoalan yang dihadapi.

Demikian disampaikan KH Fuad Anwar saat memberikan taushiyah pada kegiatan istighotsah rutin Selasa Kliwon malam yang dilaksanaan PP Pagar Nusa di Masjid An Nahdlah lantai dasar gedung PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (17/3)

Ketabiban Pagar Nusa Menjadi Sarana Bimbingan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketabiban Pagar Nusa Menjadi Sarana Bimbingan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketabiban Pagar Nusa Menjadi Sarana Bimbingan Agama

“Masyarakat yang datang tidak hanya berobat tetapi juga minta nasihat agama dan berkonsultasi masalah pribadi. Ada yang usahanya macet. Ada yang suaminya kawin lagi, dan lain-lain. Jadi ketabiban ini menjadi sarana syiar Islam,” katanya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Menurut mantan ketua umum Pagar Nusa ini, sebagian besar pendekar Pagar Nusa juga mempunyai kemampuan di dunia ketabiban seperti ahli patah tulang, herbal atau pengobatan alternatif. Ketabiban menjadi salah satu bidang utama dalam  struktur kepengurusan Pagar Nusa dari pusat sampai ke daerah.

“Menjadi dukun atau tabib memang bukan cita-cita. Awalnya ada orang minta tolong lalu kita tolongin. Dan kemampuan ketabiban ini minallah (karunia Allah). Misalnya ada yang memberikan ramuan dan doanya sama, namun khasistnya bisa berbeda,” katanya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kegiatan istighotsah rutin yang diselenggarakan oleh PP Pagar Nusa sekaligus menjadi sarana untuk menambah kemampuan dan pengetahuan soal ketabiban. Hadir Selasa malam kemarin beberapa tabib yang membuka praktik di Jabodetabek antara lain, tabib Yusuf Habibi dari Kampung Siluman Tambun, Ki Bogem Bakriani dari Parung Bogor dan Gus Heru yang membuka praktik di kawasan Senen Jakarta Pusat.

Istighotsah malam itu juga sekaligus membahas persiapan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pencak Silat Pagar Nusa yang akan diselenggarakan pada akhir 27 Maret di Pondok Pesantren Az Zuhri Semarang. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth AlaSantri, Kajian Sunnah, Kajian VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 23 April 2017

IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil

Mataram, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth



Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat merayakan hari lahir (Harlah) yang ke-62 dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) bersama Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang IPNU se-NTB (19/02/16).

IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU NTB Rayakan Harlah Sekaligus Rakerwil

Acara harlah ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Asep Irpan Mujahid dan dihadiri juga oleh ketua PWNU NTB ? Tgh A Taqiudin Mansur dan jajaran pengurus.

Asep Irpan dalam sambutannya mengatakan, "IPNU hari ini harus kita jaga dan kita tingkatkan kualitasnya."?

Dikatakan juga, karena IPNU hari ini adalah NU di masa depan, kalau IPNU hari ini main-main maka NU ke depan juga hasilnya juga akan main-main, tegasnya?

Ketua PWNU NTB juga mengatakan bahwa IPNU hari ini jauh lebih berkembang dari sebelumnya, terbukti dengan program-program yang di laksanakan oleh IPNU terutama di NTB, terangnya. Red: Mukafi Niam

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Sunnah, Meme Islam VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 21 April 2017

Jenderal Moeldoko: Posisi NU Jelas, Kawal NKRI

Sidoarjo, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko menyatakan bahwa pihaknya akan ada di antara warga NU dalam menjaga NKRI bersama Ansor dan Banser. Pernyataan tersebut ia sampaikan di sela-sela kunjungannya ke rumah dinas Bupati Sidoarjo, H. Saiful Ilah, Rabu (28/6).

Menurut Moeldoko, posisi NU sudah jelas dan tegas dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu ditunjukkan dengan peran NU sebelum Indonesia merdeka sampai saat ini.

Jenderal Moeldoko: Posisi NU Jelas, Kawal NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Jenderal Moeldoko: Posisi NU Jelas, Kawal NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Jenderal Moeldoko: Posisi NU Jelas, Kawal NKRI

"Saya berada di antara NU dalam menjaga NKRI. Jika NU goyah, negara ini bisa saja ikut goyah," katanya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ia berharap, NU bisa menjadi penyeimbang yang dinamis. Artinya, mengikuti perkembangan zaman demi menjaga kestabilan negara. "NU harus mengikuti perkembangan waktu demi waktu menjaga kestabilan tanpa memunculkan ketidakstabilan," harapnya di depan para anggota Ansor dan Banser yang hadir.

Ia mengatakan, meski sudah pensiun, tetapi hati dan pikirannya dalam mengawal NKRI tidak akan pernah mati.

Hadir di acara Safari Idul Fitri Pengurus Cabang GP Ansor dan Banser Kabupaten Sidoarjo sekitar 250 orang perwakilan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor dan Banser dari 18 kecamatan yang ada di Sidoarjo. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Kajian Sunnah, Nahdlatul, Doa VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 15 September 2016

Pengobatan Gratis untuk Harlah ke-83 NU

Pekalongan, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Dalam rangka peringatan hari lahir (Harlah) ke-83 NU tahun 2009 Pengurus Cabang NU Kota Pekalongan menyelenggarakan pengobatan gratis yang digelar, Ahad (4/1) bertempat di rumah H. Ahmad Rofiq, ketua PCNU Kota Pekalongan, di Gamer Pekalongan Timur Kota Pekalongan.

Acara ini mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat. Tercatat hingga akhir kegiatan? ada 425 calon pasien dan semuanya sudah mendapat pelayanan kesehatan dari tim dokter yang sengaja disiapkan oleh panitia setempat.

Pengobatan Gratis untuk Harlah ke-83 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengobatan Gratis untuk Harlah ke-83 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengobatan Gratis untuk Harlah ke-83 NU

Kegiatan perdana dari empat kegiatan sejenis akan digelar, di samping donor darah, ziarah makam pejuang Nahdlatul Ulama dan istighotsah kubro pada puncak acara peringatan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kegiatan pengobatan gratis selalu dibanjiri pasien dan mendapat perhatian dari perbagai pihak. Tidak kurang dari Pemerintah Kota Pekalongan memberikan obat-obatan dan tenaga medis secara gratis. Kemudian dari Pimpinan Cabang Muslimat NU mengerahkan dokter dan tenaga medisnya, hingga partisipasi dan dukungan warga NU dimana kegiatan pengobatan gratis di gelar.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Wakil Ketua panitia kegiatan Abdul Basyir, SH kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth mengatakan, kegiatan pengobatan gratis dijadualkan akan digelar di empat kecamatan, yakni Kecamatan Pekalongan Timur hari Ahad ini, Kecamatan Pekalongan Barat tanggal 11, Pekalongan Utara tanggal 18 dan Pekalongan Selatan tanggal 25 Januari mendatang.

“Jika dibandingkan tahun lalu, alhamdulillah kondisinya lebih baik. Tahun ini semula panitia hanya menargetkan melayani 300 pasien, ternyata mengalami peningkatan baik dari jumlah pasien, tenaga medis hingga obat-obatan yang disediakan juga mengalami penambahan,” katanya.

Basyir yang juga anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pekalongan berharap, pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh PCNU Kota Pekalongan bisa menjadi agenda rutin tahunan, sehingga masyarakat merasakan manfaatnya atas kiprahnya Nahdlatul Ulama.

Wakil Walikota Pekalongan, H Abu Almafachir mengatakan, apa yang telah dilakukan oleh Pengurus Cabang NU Kota Pekalongan dengan kegiatan seperti pengobatan gratis telah membantu secara nyata program pemerintah di bidang penanganan kesehatan. Sehingga pemerintah dengan senang hati membantu obat-obatan dan tenaga medis untuk pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan secara gratis.

Sementara itu, Ketua PCNU Kota Pekalongan, H Ahmad Rofiq mengatakan, untuk kegiatan peringatan Harlah ke-83 kali ini sengaja tidak dilaksanakan secara meriah seperti tahun kemarin, akan tetapi dikemas dalam format yang sederhana dengan hasil yang maksimal dengan prioritas kegiatan pengabdian masyarakat. Sehingga diharapkan dengan kegiatan ini NU setiap tahunnya dapat melaksanakan kegiatan bulan pengabdian NU setiap bulan Januari yang digelar di wilayah yang berbeda.

Hadir dalam acara pengobatan gratis selain Wakil Walikota Pekalongan juga tampak hadir segenap Pengurus Harian Syuriyah dan Tanfidziyah NU Kota Pekalongan serta beberap tamu undangan lainnya juga hadir pada acara pengobatan gratis NU. [miz]Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Makam, Kajian Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock