Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal

Oleh Nasrulloh Afandi

Bulan Ramadhan bukanlah momentum simbolis takwa massal. Tetapi di momentum yang hanya datang setahun sekali itu, setiap individual (Muslim) harus menjadikannya semaksimal mungkin ladang untuk menanamkan nilai-nilai positif yang relevan dengan seruan agama (Islam) muaranya untuk menghasilkan ketakwaan secara massal di ranah publik.?

Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal

Yusuf Al-Qardhawi, dalam bukunya “Fiqhu Ash-Shiyam” , ia menegaskan, selain berbagai manfaatnya pencerahan – medis, psikologis, spritual, ? dan lainnya. Puasa Ramadhan sejatinya adalah sekolah unggulan untuk pendidikan yang sangat berharga, dan mempunyai arti tertinggi, dibuka oleh Islam setiap tahun, untuk setiap individu yang beriman kepada Allah SWT.

Perspektif ushul fiqih, Ia disebut Sar’un Man Qoblana (syariat yang sudah ada sejak masa umat para Nabi terdahulu) namun demikian, esensinya tetap sama, momentum menempa diri bagi setiap Muslim untuk menjadi lebih baik.?

Ditegaskan oleh firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S. Al-Baqoroh: 183)

“Puasa adalah syariat lama yang diwajibkan semenjak umat era Nabi pertama, Adam AS”, demikian komentar para ulama tafsir.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selain ibadah puasa kewajiban setiap muslim (Fardu ‘Ain) Rukun Islam ke-empat umat Nabi Muhammad. Di sisi lain sungguh merugi, jika (esensi) Ramadhan tidak maksimal dijadikan momentum evalusi dan penempaan diri, plus mendekatkan diri pada Allah SWT (taqorrub ilalloh) oleh setiap Muslim. Juga mengimplementasikan berbagai hal positif religius. Vertikal yang berkaitan dengan Sang Pencipta, maupun horizontal yang berkaitan dengan sesama hamba-Nya.

Imam Syafi’I berpendapat: Berbagai ibadah dalam beragama Islam, itu dilatar belakangi maksud diciptakannya makhluk.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Firman Allah SWT: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariat: 56)

Ramadhan adalah “garis start” Keberuntungan yang dianugerahkan kepada orang beriman. Identiknya, dengan datangnya Ramadhan, pasca-Ramadan nanti, setiap individu muslim bukan hanya (akan) Menjadi orang bertakwa kepada Allah SWT, untuk meraup “mutiara“ di luasnya "lautan” keberuntungan bernama Ramadan. Menjadi manusia yang lebih meningkatkan kualitas sumber daya dirinya dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan.?

Dalam tinjauan Maqhosid Asy-Syar’iah (tujuan Syariat) ibadah puasa Ramadan, esensinya adalah, agar orang yang beriman, bisa menjadi bagian dari orang-orang yang bertakwa (La’allakum Tattaqun) Ketakwaan dimaksud adalah, bukan hanya semasa bulan Ramadhan belaka, tetapi tetap bertakwa meski ? Idul Fitri berlalu, dan sampai dengan datangnya Ramadan tahun berikutnya.

Syeikh Abdul Qodir Jailani, dalam Tafsir Al-Jailani-nya menyimpulkan: Takwa adalah hasil dari sebuah pekerjaan (taat kepada Allah SWT) Dengan melaksanakan segala perintahnya, dan menjauhi segala larangannya. Hal itu diungkapkan dalam penafsirannya terhadap surat Al-Baqoroh ayat dua: “Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”(QS. Al-Baqoroh: 2)

Yang dimaksud oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani itu adalah, barang siapa yang menjadikan Alquran pedomannya, maka Ia akan menjadi bagian dari orang bertakwa. Alhasil takwa adalah “Honoris Causa” Bagi setiap pribadi orang beriman yang telah berusaha maksimal (dan mampu) tunduk pada Syariat Ilahi.

Hal ini, perspektif maqhosid syariah (tujuan syariat) menurut Syeikh Muhammad Ratib An-Nabulsy, salah satu ulama terkemuka asal Syiria. Ia berpendapat: ”Maksud Allah SWT yang Maha Agung memerintahkan kita untuk berpuasa adalah, agar kita bisa menjadi bagian dari golongan orang yang bertakwa. ? Dan Allah SWT memenuhi hati kita dengan petunjuk, dan untuk bisa membedakan antara perkara yang hak dan bathil”.

Kesadaran individual untuk massal

Hemat penulis, kesalehan atau ketakwaan massal nihil terwujud jika tidak diawali oleh kesalehan (kesadaran) masing-masing individu di dalamnya. Dengan implementasi unsur-unsur positif (agama) kesalehan dan hal-hal positif yang dimaksud adalah, bukan hanya yang berkaitan dengan Sang Pencipta (vertikal) tetapi juga yang erat dengan sesama manusia (horisontal). Hal itu identik dengan sebagian hikmah disyariatkannya puasa Ramadhan: Untuk mebentuk pribadi Muslim yang kian kokoh dalam mengamalkan atau menerapkan nilai-nilai positif, yang berkaitan dengan Illahi, maupun sesama insani.

Contoh kecil, jika di suatu keluarga misalnya, masing-masing anggota keluarga telah menjadi individu yang saleh, maka keluarga tersebut telah menempati posisi keluarga saleh. Yang akan merembet kepada tetangga, terus lingkungannya. Karena suatu lingkungan tidak bisa menempati posisi lingkungan saleh, jika masing-masing warga di lingkungan tersebut tidak menjadi keluarga saleh. Dan level seterusnya yang lebih luas.

Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS.At-Tahrim: 6)

Adalah jelas sebuah perintah dari Sang Pencipta, untuk memprioritaskan -- diri sendiri -- ? secara individual sebagai orang bertakwa, kemudian berikutnya barulah melebar ke level keluarga dan orang sekitarnya.

Kebalikannya, tentu ? jika di suatu lingkungan terdapat satu individu atau oknum keluarga yang rusak akhlaknya, maka dari jauh pun publik menilai bahwa lingkungan tersebut tidak religius, warga satu lingkungan kena getahnya.?

Alhasil, kondisi (proses) takwa, bagi totalitas suatu bangsa dan negara, harus diawali dari kesadaran dan upaya unsur-unsur individu yang berada dalam lingkup tersebut. Jika setiap individu muslim, maksimal dalam beramal ibadah di bulan Ramadhan, niscaya secara estafet suatu bangsa (akan) menjadi bangsa yang bertakwa secara masal dengan level nasional bahkan internasional, bukan? Efek samping simbolis “kesalehan massal”.

Empat mazhab fiqih (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) sepakat bahwa, autentisitas ibadah puasa adalah vertikal, hanya Allah SWT yang tahu. Tidak seperti ibadah lainnya yang terkadang masih bisa dibuat pura-pura dilaksakan di mata sesama manusia.

Di sisi lain, jika Ramadan diposisikan sebagai simbolis “kesalehan masal”, berisiko setiap individu terjangkit virus tangung jawab (beribadah) pribadinya kurang maksimal. Rawan ? menganggap Ramadhan sebagai “kewajiban bersama”, bukan momentum lautan pahala (unsur positif) dan proteksi untuk diri sendiri. Sehingga kurang bersemangat dalam menggapai anugerah Illahi untuk dirinya sendiri di bulan suci itu, dianggap “hajatan” massal belaka.

Publik Muslim memang dianjurkan untuk bersuka cita menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sayangnya, di ranah Muslimin Indonesia “akar rumput”, hal yang kurang tepat adalah, adalah memposisikan Ramadan sebagai momentum “kesalehan masal”, yang datang setahun sekali, sehingga banyak sekali yang salah kaprah. Dan beresiko sikap “tidak perlu” menyiapkan diri sendiri (individual) secara maksimal dalam menyambut datangnya bulan penuh Rahmat itu, dominan menyambut Ramadan secara “Simbolis massal” sebagai suatu “seremonial” tahunan.?

Di pranata Muslim Indonesia pun akut menjangkit, mulai mentradisi dan menguat. Bahkan terjadinya “pemutar balikan” fakta. Fenomenanya seolah-olah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan "tidak syah" jika tidak menjadi “orang Saleh” secara massal, bila perlu di muka publik, bahkan diekspose media. Cukup memprihatinkan.

Selamat melaksanakan berbagai ibadah di bulan Ramadhan. Mari kita (berusaha maksimal) menjadi individu bertakwa, sebagai upaya ? --partisipasi Individual-- menyumbangkan diri kita, untuk estafet membentuk totalitas sebuah bangsa yang bertakwa.***

Nasrulloh Afandi



Mustasyar PCINU Maroko. Pengajar senior Asy-Syafiiyyah Kedungwugu Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 01 Maret 2018

Kisah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal

Seorang pemuda bernama Idris berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat buah delima yang hanyut terbawa air. Ia ambil buah itu dan tanpa pikir panjang langsung memakannya.

Ketika Idris sudah menghabiskan setengah buah delima itu, baru terpikir olehnya, apakah yang dimakannya itu halal? Buah delima yang dimakan itu bukan miliknya.

Kisah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal

Idris berhenti makan. Ia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan aliran sungai, mencari dimana ada pohon delima. Sampailah ia di bawah pohon delima yang lebat buahnya, persis di pinggir sungai. Dia yakin, buah yang dimakannya jatuh dari pohon ini.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Idris lantas mencari tahu siapa pemilik pohon delima itu, dan bertemulah dia dengan sang pemilik, seorang lelaki setengah baya.

“Saya telah memakan buah delima anda. Apakah ini halal buat saya? Apakah anda mengihlaskannya?” kata Idris.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Orang tua itu, terdiam sebentar, lalu menatap tajam. “Tidak bisa semudah itu. Kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama sebulan tanpa gaji,” katanya kepada Idris.

Demi memelihara perutnya dari makanan yang tidak halal, Idris pun langsung menyanggupinya.

Sebulan berlalu begitu saja. Idris kemudian menemui pemilik kebun.

“Tuan, saya sudah menjaga dan membersihkan kebun anda selama sebulan. Apakah tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?”

“Tidak bisa, ada satu syarat lagi. Kamu harus menikahi putri saya; Seorang gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh.”

Idris terdiam. Tapi dia harus memenuhi persyaratan itu.

Idris pun dinikahkan dengan gadis yang disebutkan. Pemilik menikahkan sendiri anak gadisnya dengan disaksikan beberapa orang, tanpa perantara penghulu.

Setelah akad nikah berlangsung, tuan pemilik kebun memerintahkan Idris menemui putrinya di kamarnya. Ternyata, bukan gadis buta, tulis, bisu dan lumpuh yang ditemui, namun seorang gadis cantik yang nyaris sempurna. Namanya Ruqoyyah.

Sang pemilik kebun tidak rela melepas Idris begitu saja; Seorang pemuda yang jujur dan menjaga diri dari makanan yang tidak halal. Ia ambil Idris sebagai menantu, yang kelak memberinya cucu bernama Syafi’i, seorang ulama besar, guru dan panutan bagi jutaan kaum muslimin di dunia. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 25 Februari 2018

NU dan Muhammadiyah Surabaya Tangkal Radikalisme Agama

Surabaya, NU? Online. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Jawa Timur mengeluarkan Resolusi Ramadhan. Resolusi tersebut merupakan kerja sama kedua organisasi masyarakat (ormas) untuk bersatu menangkal kota pahlawan tersebut dari arus radikalisme agama.

Kerja sama dua ormas ini dilakukan di Kantor PCNU Kota Surabaya di Jalan Bubutan, Rabu (15/6). Ketua PCNU Surabaya H A Muhibbin Zuhri menjelaskan, paham radikalisme jangan sampai berkembang di Surabaya.

NU dan Muhammadiyah Surabaya Tangkal Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Muhammadiyah Surabaya Tangkal Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Muhammadiyah Surabaya Tangkal Radikalisme Agama

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut mendorong Pemkot Surabaya bergandengan tangan dengan NU dan MU dalam membentengi warga Surabaya dari pengaruh radikalisme dan terorisme. "NU dan MU jaga ligkungan masing-masing. Jangan sampai Surabaya dirusak oleh yang aneh-aneh," terangnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Muhibbin menegaskan, Pemkot Surabaya perlu bersinergi dengan NU dan MU dalam menyelesaikan isu terorisme. Deteksi dini terhadap aktifitas radikalisme dan terorisme sangat perlu, dan ini harus melibatkan ormas islam.

Menurutnya, tujuan dari kerja sama ini untuk kebaikan warga Surabaya. Kemaslaharan warga Surabaya secara kultural pekerjaan NU dan Muhammadiyah. Namun semuanya bergantung dari kemauan Pemkot Surabaya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Kerja sama NU dan Muhammadiyah dalam rangka? mewujudkan maslahat umat terutama dalam bidang agama dam ekonomi," ucapnya.

Wakil Ketua PDM Surabaya Hamri Al Jauhari menambahkan, kerja sama yang dibangun merupakan relasi non formal. Tujuannya ingin mencari solusi bersama di tengah karut marut masalah Kota Surabaya.

"Dorong pemkot dan Forpimda berisnergi dengan ormas dalam deteksi dini? atasi ancaman radikalisme dan terorisme," tandasnya. (Rof Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 20 Februari 2018

Gusdurian Bahas Perubahan Pola Komunikasi dan Budaya

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan GusDurian kembali digelar Jumat (6/5) malam di Griya Gus Dur, Menteng, Jakarta Pusat. FJP kali ini bertema Gus Dur dan Pembebasan, dengan menghadirkan pembicara Arswendo Atmowiloto.

Dalam penampilannya, Arswendo membawakan orasi "Jalan Budaya Ketika Langit Tak Lagi Sama" yang dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama diberi judul Jalan Budaya dan bagian kedua berjudul Langit yang Berubah.

Gusdurian Bahas Perubahan Pola Komunikasi dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Bahas Perubahan Pola Komunikasi dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Bahas Perubahan Pola Komunikasi dan Budaya

Pada bagian pertama, Arswendo menyampaikan unsur-unsur kebudayaan, yaitu pertama kreativitas, kedua mengedepankan dialog dan bukan kekerasan, ketiga ada tanpa meniadakan yang lain, keempat daya berkarya, kelima religiusitas atau mungkin soal humor.

Arswendo memberi catatan pada unsur keempat daya berkarya, bahwa jalan budaya dibuktikan bukan hanya dengan rencana dan wacana. Dalam berkarya, need for achievement adalah dorongan untuk membuat sesuatu tanpa disuruh, tanpa diminta atau diiming-imingi. Dorongan untuk berbuat yang akhirnya melahirkan suatu larya, suatu bentuk jadi.

“Ketika menulis Keluarga Cemara, saya tidak menerima honor khusus, gaji juga tidak naik karenanya. Daya berkarya membuahkan hasil ketika cerita pendek itu dikumpulkan, dibukukan, dan diterbitkan, kemudian diproduksi sebagai sinetron seri,” ujar Arswendo.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kaitannya dengan Gus Dur, Arswendo menyebut dorongan berbuat sesutau ini atau semangat pembebasan bisa diteruskan. Gethok tular (penyebaran berita/cerita dari mulut ke mulut-red) di antara para murid Gus Dur—langsung atau tidak, para santri, cantrik, atau mereka yang terinspirasi, terpesona oleh Gus Dur, melakukan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri.

Sementara pada bagian kedua Langit yang Berubah, Arswendo menyampaikan, komunikasi pada masa dahulu, komunikasi dimulai dari atas, dari langit atau kejauhan, dalam bentuk inspirasi, perintah, ilham, kepada orang-orang tertentu yang terpilih. Sementara komunikasi saat ini tergantung pada satelit. Langit pun berubah, tak lagi memilih orang-orang tertentu, melainkan siapa saja yang memiliki akses dengan satelit, hingga puncaknya adalah media sosial.

Unsur-unsur dalam jalan budaya, bisa dipakai sebagai pendekatan dalam menyoba memahami keberadaan media sosial. Pendekatan humor mungkin saja sebagai andalan menyikapi langit yang berubah. Dengan humor atau lelucon, seperti kata Gus Dur, kita melupakan kesulitan hidup, walau sejenak.

Dalam pola komunikasi ‘langit yang telah berubah’, akan lebih tepat bila semangat Gus Dur tidak menjadi luntur karenanya. Arswendo mengajak justru melalui media sosial, kita mampu menyebarkan kabar dan pesona segala hal yang baik.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Arswendo lalu menceritakan pengalamannya saat pergi menghadiri diskusi di daerah Puncak Bogor bersama Gus Dur. Saat itu Gus Dur mengutarakan gagasannya bahwa pengguna jalan tol yang membayar mestinya mendapat diskon setelah masuk tol beberapa kali.?

Gagasan sederhana terlontar dan berkat pemberitaan media, terwujud. Kisah ini, kata Arswendo, barangkali tak banyak didengar. Tetapi pasti inilah kisah yang pantas didengarkan, ditularkan karena membawa kebaikan tanpa merugikan salah satu pihak. Yang menerima kebaikan bisa saja tak mengenal Gus Dur, namun merasakan manfaatnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 25 Januari 2018

Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia

Surabaya,VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Kunjungan sejumlah ulama dan akademisi negeri jiran Malaysia ke pesantren di Jawa Timur menyisakan kekaguman yang mendalam. Mereka rencananya akan menindaklanjuti temuan tersebut negaranya.

Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia

Prof Dato Dr Abdul Razak Hj Omar mengatakan kekaguman itu kepada sejumlah media usai pembukaan seminar internasional yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jawa Timur di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Selasa (23/12/2014).

"Kami melihat bahwa pesantren yang kami kunjungi merupakan model lembaga pendidikan yang sangat bagus," kata Penolong Naib Canselor Hubungan Industri Masyarakat di UTHM Malaysia ini.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Baginya, pesantren merupakan lembaga yang integral sehingga menyatukan antara pendalaman agama dengan pengamalan materi keagamaan dalam keseharian. Ia lalu membandingkan model pendidikan peserta didik di negerinya, Malaysia.

"Di tempat kami, kewajiban mengawasi dan mendidik murid hanya dilakukan saat mereka berada di lembaga pendidikan," katanya. Sedangkan saat pulang ke rumah masing-masing, maka hal itu menjadi kewajiban para orang tuanya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Padahal waktu berada di luar sekolah demikian panjang. "Dan murid dengan mudah bergaul dengan masyarakat dan lingkungannya yang beragam," terangnya. Dan bukan tidak mungkin selama bergaul dengan lingkungan inilah, banyak hal negative yang diterima oleh para muris dan siswa.

Dato Abdul Razak juga menyayangkan banyaknya murid yang cenderung mencari pengetahuan dan pendalaman agama dari media internet. "Bukan tidak mungkin banyak materi keagamaan yang salah dari situs yang dibaca para murid," katanya. Belum lagi mereka dipengaruhi oleh isi dari media sosial yang semakin digemari.

Karena itu, kemunculan para murid yang hanya memiliki pengetahuan agama yang dangkal demikian juga tidak terjaga validitas pengetahuan selama mencari di internet sebagai biang keladi lahirnya generasi muda yang ekstrim.

"Pesantren di Indonesia ternyata bisa memberikan jawaban bagi ketersediaan generasi muda yang memiliki pengetahuan agama secara utuh dan tangguh," bangganya. Karenanya, usai kunjungan ini mereka akan membahas dan meniru pola pendidikan pesantren di Malaysia.

Sejak Jumat lalu, 23 orang ulama dan staf pengajar di Malaysia mengunjungi empat pesantren yakni al-Fitroh Kedinding Surabaya, Sidogiri Pasuruan, Zainul Hasan Genggong Probolinggo serta Bumi Shalawat Sidoarjo.

Apalagi pada akhir seminar internasional juga telah dilakukan penandatanganan kerjasama antara PW Aswaja NU Center dengan kontingen dari Malaysia untuk melakukan pendalaman Ahlus Sunnah wal Jamaah secara lebih intensif.

Seminar internasional ini dihadiri para ulama di antaranya KH Miftachul Akhyar (Rais PWNU Jawa Timur), KH Hasan Mutawakkil Alallah (ketua), KH Abdus Shomad Bukhori (MUI Jatim) serta utusan PCNU se Jawa Timur dan peserta daurah Aswaja dari seluruh Indonesia. (Syaifullah/Abdullah))

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits, Humor Islam VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 24 Januari 2018

Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa

Demak, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Para pengasuh pondok pesantren dan ulama se-Jawa Tengah dan DIY mengadakan silaturrahim di Ponpes Futuhiyyah Mranggen Demak, Jawa Tengah pada Sabtu (28/2) untuk mendeklarasikan Forum Peduli Bangsa yang bertajuk ‘Membangun Kemandirian Pengasuh Pondok Pesantren dan Pesantrennya’.

Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa

Kegiatan yang dihadiri oleh kiai, ulama, dan para cendekiawan ini membahas persoalan bangsa terutama dalam membangun ekonomi umat. Tak kurang dari 60 ulama se-Jawa Tengah dan DIY memadati Aula Yayasan Ponpes Futuhiyyah Mranggen.

Hadir sebagai tamu kehormatan yaitu, KH Mahfudz Shobari (Pacet, Mojokerto), Habib Ja’far bin Muhammad Assegaf (Jepara), Prof Dr Imam Suprayogo (Mantan rektor UIN Malang), Prof Dr KH Abdul Hadi Muthohar, MA., KH Zaim Ahmad Ma’shum (Lasem), dan KH Muhammad Asyiq (Ketua MUI Demak).

Tepat pukul. 10.00 WIB, acara silaturahmi ini dibuka oleh pengasuh Ponpes Futuhiyyah, KH Muhammad Hanif Muslih. ? Melalui sambutan singkatnya, Kiai Muslih menyampaikan, bahwa pembentukan Forum Peduli Bangsa ini sangat penting karena di Jawa Timur sudah banyak dibentuk dan hasilnya sangat bermanfaat sekali terutama pondok pesantren dalam meningkatkan potensi ekonomi pesantrennya.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Untuk itulah, kita mengundang para kiai dan ibu Nyai agar dapat belajar langsung kepada KH Mahfudz Shobari yang dikenal sebagai wirausahawan sukses agar nantinya dapat dikembangkan dalam memberdayakan ekonomi pesantren,” urainya.

Sementara itu, KH Mahfudz Shobari, pendiri dan pengasuh Ponpes Riyadlul Jannah, Pacet Mojokerto memaparkan, kita ini adalah negeri yang mempunyai poteni kekayaan alam yang melimpah ruah, sebut saja emas, batu bara, minyak, gas alam, timah, tembaga, nikel, semen, kelapa sawit, mutiara, ikan, kayu dan lain-lain.

“Akan tetapi sekarang ini potensi kekayaan alam tersebut banyak dikuasai oleh negara asing. Kita ingin santri dapat mengelola kekayaan tersebut sehingga ? menjadi penguasaha yang mandiri. Itulah salah satu tujuan dari dibentuknya Forum Peduli Bangsa ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof Dr Imam Suprayoga mengatakan, pembicaraan tentang kewirausahaan ? ternyata semakin banyak terdengar di mana-mana. Mungkin orang ? semakin ? sadar, bahwa untuk menjadikan orang bisa hidup mandiri, cara terbaik adalah memilih berwirausaha.?

“Di pesantren sendiri banyak sekali potensi wirausaha yang dapat dikembangkan,” jelasnya.

KH Zaim Ahmad Ma’shum yang juga ketua Majlis Permusyawarahan Pengasuh Pesantren se Indonesia (MP3I) mengungkapkan seperti yang dikatakan oleh Simbah KH Ali Ma’shum bahwa diakhir zaman para kiai haruslah kaya ilmu dan materi karena masyarakat hanya akan mendengar mereka yang kaya.

“Kecenderungan seperti yang dikatakan oleh Simbah KH Ali Ma’shum sekarang ini sudah mulai menggejala, untuk itulah penguatan dan pemberdayaan ekonomi pesantren harus terus digalakkan,” ujarnya. (Zabidy/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 21 Januari 2018

Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka

Rembang, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Ratusan warga menerima sembako murah pada acara bakti sosial yang dilaksanakan Pramuka Madrasah Aliyah (MA) Yayasan Sosial Pendidikan Islamiyah Syafiiyah (YSPIS) Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Ahad (26/3).

Kegiatan dilaksanakan di dua desa, yakni Desa Dadapan, Kecamatan Sedan dan Desa Mojokerto Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang itu, panitia membagikan sebanyak 800 paket sembako yang berisi gula, minyak goreng, mie instan dan sabun.

Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanamkan Generasi Intelektual dan Sosial Lewat Pramuka

Kepala MA YSPIS Muhtar Nur Halim mengatakan, bahwa pramuka ini bagian dari pada santri, IPNU dan IPPNU juga bagian dari santri.

"Pramuka bagian dari santri, IPNU-IPPNU juga bagian dari santri. Maka kita harus menanamkan cinta alam, pengembangan pribadi dan menggalakkan sosial," ungkap Muhtar yang juga menjabat sebagai Ketua MWC NU Sedan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ia melanjutkan, bahwa ini merupakan media yang ideal untuk menggarap mereka (peserta didik), bagaimana didalam dirinya tertanam jiwa intelektual, jiwa sosial dan cinta lingkungan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Salah satu warga penerima paket sembako, Suminah mengungkapkan sangat senang menerima paket sembako. Ia mengatakan bahwa ini dapat meringankan beban perekonomian warga.

"Terima kasih kepada panitia. Semoga acara seperti ini sering dilaksanakan," kata warga Desa Mojokerto, Kecamatan Kragan yang kini berusia 62 tahun tersebut. (Aan Ainun Najib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits, Warta, Sunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 16 Januari 2018

Perlu Dinamisasi Pembelajaran Tilawatil Quran

Oleh M Haromain

Seorang qori muda berbakat asal Jepara pernah bertanya kepada saya bagaimana agar bisa melantunkan Al-Quran dengan penuh penjiwaan alias memiliki dzauq, yaitu pembacaan yang melibatkan perasaan, penghayatan dan emosi?

Perlu Dinamisasi Pembelajaran Tilawatil Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlu Dinamisasi Pembelajaran Tilawatil Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Perlu Dinamisasi Pembelajaran Tilawatil Quran

Sebenarnya tak hanya dalam pelantuan wahyu Ilahi saja yang memerlukan kemampuan hidupnya rasa emosi dan hati, tapi juga deklamasi puisi, peran drama dan sebangsanya. Pasalnya keberlangsungan akivitas seperti itu tanpa dibarengi dengan hadirnya dzauq, meski sudah bermodal suara merdu dan persiapan lagu bagus, tetap sulit tampil sempurna.

Menurut saya, pertanyaan itu bisa dianalogikan pada bagaimana agar bisa shalat khusuk dan khidmat. Yaitu selain perlu mengerti makna dari ayat-ayat yang dibaca; tilawah merupakan bagian dari ibadah yang sudah semestinya menghadirkan rasa khusuk. Bukankah teks-teks Al-Quran sangat sakral lantaran ia adalah kalamullah? Dari sudut pandangan ini saja sudah bisa diketahui bahwasanya membaca Al-Quran dengan sendirinya menuntut datangnya dzauq, berbeda sekali ketimbang karaoke dan sejenisnya yang kegiatan bersifat profan.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Saya pun sangat memaklumi esensi pertanyaan kawan di atas yang sebenarnya telah menjadi problem klasik siapa saja. Karena memang selama ini pembelajaran tilawatil Quran di mana-mana; baik di pesantren, sekolah umum hingga perguruan tinggi, sistem dan metodenya masih monoton, stagnan, tidak dinamis, bahkan obyek yang dipelajarinya sangat sempit, yaitu melulu yang diajarkan sebatas penguasaan lagu-lagu an sich. Pengajaran tilawah macam ini merupakan pengajaran yang masih parsial (sepotong-potong), tidak komprehnsif atau menyeluruh. Sebagai akibatnya pembelajaran Tilwatatil Quran menjadi begitu kering. Kurang menggigit.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Seyogianya para guru dan ustadz pengajar Tilawatil Quran di samping mengajarkan praktek atas lagu-lagu normatif Tilawatil Quran yang jumlahnya tujuh, juga mendesak untuk disertai pemberian materi sejarah dan filosofi di balik lagu-lagu tersebut. Selanjutnya para qori perlu dipahamkan pentingnya menyusun format komposisi lagu yang koheren dan klop dengan ayat-ayat yang dibacanya. Maksudnya komposisi lagu tilawah tidak dicukupkan hanya memenuhi rumus-rumusnya lagu belaka, tapi kesesuaian pilihan lagu dengan konteks makna ayat-ayatnya juga tak kalah pentingnya. Misalnya lagu nahawand cocoknya disematkan pada ayat-ayat tentang taubat atau ancaman dosa (tandzir). Lagu hijaz pasnya dimasukkan pada ayat-ayat yang berisi kabar gembira (tabsyir); demikian seterusnya.

Jujur untuk merealisasikan model pembelajaran seperti itu tidak gampang. Soalnya ilmu Tilawatil Quran belum memiliki metodologi (manhaj) yang memungkinkan untuk bisa mengembangkannya. Padahal tiap cabang ilmu dapat berkembang dinamis sebab punya metodologinya. Ilmu fiqih punya usulul fiqh dan qowaidul fiqh sehingga fikih bisa fleksibel sesuai konteks zaman wal makan. Ketiadaan metodologi itu pula barangkali alasan mengapa kreativitas dalam dunia tilawah menjadi lambat. Setidaknya jika dikomparasikan dalam ranah sastra arab misalnya yang terlihat lebih dinamis. Kita tahu perkembangan penyusunan syiir Arab saat ini tidak terpaku lagi pada uslub atau gaya syiir Jahiliah Umruil Qois, sang maestro puisi yang sangat masyhur itu. Melainkan sudah sekian lama merambah gaya syiir moderen walaupun style tradisional tidak ditinggalkan.

Kalaupun ada qori yang mampu membuat inovasi dan terobosan dalam memperkaya variasi lagu seperti qori internasional Mumin Ainul Mubarok, itu lebih didapat oleh faktor otodidak dan kerja keras individual dalam mengasah kemungkinan kreativitas lahirnya variasi baru yang sebelumnya belum ada. Jadi tidak diperoleh dari bagusnya pembelajaran.

Akhirnya bagaimana pun dalam belajar Tilawatil Quran jangan sampai  qori terpedaya pada tujuan semu yaitu mengejar popularitas dan juara MTQ sebagai prioritas utama (nihayah). Yang mafhumnya jika tidak ada MTQ atau undangan tampil, lantas berhenti belajar Al-Quran. Namun komitmennya lebih karena menjalani proses pendalaman kitab suci yang merupakan tugas tiap muslim. Memang tidak salah dan wajar, tiap orang butuh berekspresi sesuai minatnya masing-masing. Setidaknya dalam perspektif psikologi teori motivasinya Abraham Maslow meyatakan tiap-tiap individu butuh untuk beraktualisasi diri. Bagi qori salah satu bentuk aktualisasinya ialah unjuk kebolehan dalam bertilawatil Quran.  

Alhasil sebenarnya tugas membangun metodologi dalam ilmu tilawah ini utamanya adalah menjadi tugas mereka yang telah mendapat sebutan qori nasional dan internasional dan tentunya para ulama dalam bidang ini.

M. Haromain, aktivis Forum Intlektual, santri NU Temanggung dan alumnus Universitas Sains Al-Qurán (Unsiq) Wonosobo.  

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Minggu, 07 Januari 2018

Lakpesdam Jepara Fasilitasi Suku Dayak Losarang Belajar Inklusi

Jepara, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia NU (Lakpesdam NU) Jepara memfasilitasi kelompok Perempuan Cahaya Mandiri Desa Dermolo Kembang dan Suku Dayak Losarang Indramayu melakukan kunjungan belajar inklusi di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jepara, Jawa Tengah.

Kegiatan yang berlangsung Jumat (22/4) tersebut, menurut Ketua PC Lakpesdam NU Jepara, Ahmad Sahil bertujuan agar prinsip toleransi antarumat beragama sangat diperlukan untuk menghindari konflik yang disebabkan oleh perbedaan keyakinan.

Lakpesdam Jepara Fasilitasi Suku Dayak Losarang Belajar Inklusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Jepara Fasilitasi Suku Dayak Losarang Belajar Inklusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Jepara Fasilitasi Suku Dayak Losarang Belajar Inklusi

“Semoga dengan agenda belajar kunjungan inklusi ini, kita bisa menambah wawasan dan pembelajaran tentang arti kemajemukan. Kita berharap perbedaan dalam bentuk apapun, baik agama, budaya, maupun etnis, tidak menjadikan penghambat untuk saling menghargai dan menghormati,” kata Gus Sahil sebagaimana rilis yang diterima VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dipilihnya Desa Plajan sebagai lokasi kunjungan karena mempunyai kultur masyarakat yang heterogen dan terdiri dari berbagai macam agama seperti Islam, Hindu, dan Kristen.

Uniknya, mereka mampu hidup berdampingan secara harmonis. Hal ini tidak lepas dari peran aparat pemerintah desa yang selalu melibatkan warganya dalam setiap perumusan kebijakan yang bersifat publik.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Pemeluk Islam di Plajan ada 7.223 orang, Kristen 37 orang, dan Hindu 789 orang. Untuk mencegah konflik, pemerintah desa berusaha melibatkan seluruh golongan dalam setiap kebijakan yang akan diambil. Kami duduk bersama, dialog, kira-kira apa saja yang perlu kita kerjakan bersama,” urai Priyatin, Petinggi Desa Plajan.

Dalam acara tersebut, masing-masing perwakilan tokoh lintas agama di desa Plajan memberikan pandangannya mengenai pentingnya makna multikulturalisme dan kebhinekaan.

Tupomo selaku perwakilan tokoh agama Islam berpandangan bahwa keyakinan agama seseorang tidak bisa dipaksakan, sebab berkaitan dengan hati dan petunjuk Tuhan.

“Bagi umat Islam, agama adalah hidayah. Itu adalah hak prerogatif Allah. Sampai kini, kami tidak curiga terhadap agama Hindu dan Kristen karena mereka juga bersikap baik kepada kami,” ujarnya.

Berbeda dengan Islam, agama Hindu memegang teguh ajaran memanusiakan manusia dan mempercayai Karmapala.

“Jika kita memaksakan orang lain untuk ikut agama kita, itu bertentangan dengan ajaran Hindu, karena kami mengusung humanisme. Di Hindu juga ada konsep karmapala, yaitu setiap perbuatan baik maupun buruk pasti akan kembali pada diri kita. Jika saya memaksakan agama Hindu untuk dianut orang lain, pasti agama lain juga akan bertindak yang sama. Makanya, masing-masing agama harus saling instropeksi dari dalam,” kata Mulyadi, Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Jepara.

Hal senada juga diungkapkan Pdt. Sumihar Tambunan dari perwakilan tokoh agama Kristen. “Saya berterima kasih kepada pemerintah desa Plajan dan seluruh masyarakat. Meskipun kami termasuk golongan minoritas, tapi selaludilibatkan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan.”

Acara dihadiri oleh tokoh lintas agama desa Plajan, Lakpesdam Indramayu, Perangkat Desa Krimun Kecamatan Losarang Indramayu, IPNU-IPPNU,? Karang Taruna Desa Dermolo, dan Perangkat Desa Dermolo Kembang Jepara.

Peserta juga diajak berkeliling ke kawasan Gong Perdamaian Duniadi desa Plajan sebagai simbol kerukunan yang sudah diakui oleh 202 Negara yang ada di dunia. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth AlaSantri, Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 23 Desember 2017

Penguatan Karakter ala Kiai Bisri Musthofa

Oleh A. Musthofa Asrori

Hingga hari ini, isu Penguatan Karakter yang diatur dalam Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang delapan jam belajar dengan lima hari sekolah masih menuai pro-kontra. Meski Presiden Jokowi segera menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Penguatan Karakter yang menganulir Permendikbud tersebut, publik tetap saja ribut.

Namun, tulisan ini tak hendak memasuki arena perdebatan tersebut. Penulis justru ingin memperkenalkan kepada masyarakat tentang sebuah kitab berisi penguatan karakter (baca: akhlak/tata krama) ala kaum Nahdliyin (sebutan warga NU). Sejatinya, penguatan karakter melalui pendidikan dasar telah dilakukan kaum Nahdliyin melalui Madrasah Diniyah (Madin) ratusan tahun silam.

Penguatan Karakter ala Kiai Bisri Musthofa (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan Karakter ala Kiai Bisri Musthofa (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan Karakter ala Kiai Bisri Musthofa

Soal karakter atau akhlak, masih lekat dalam ingatan penulis saat belajar tentang pendidikan akhlak di Madin 25 tahun silam. Pendidikan akhlak tersebut diajarkan melalui syi’iran (syair) yang penulis masih hafal beberapa bait hingga hari ini. Berikut bait-bait syair tersebut:?

iki syi’ir kanggo bocah lanang wadon # nebihake tingkah laku ingkang awon

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

sarto nerangake budi kang prayogo # kanggo dalan podo mlebu ing suwargo

bocah iku wiwit umur pitung taun # kudu ajar toto keben ora getun

(Syiir ini untuk anak laki-laki dan perempuan, untuk menjauhkan dari perbuatan yang tercela. Serta menerangkan budi pekerti yang baik, sebagai jalan menuju surga. Anak itu sejak usia tujuh tahun, harus belajar tata karma supaya kelak tidak menyesal).

Tiga bait syair tersebut sangat membekas di hati sanubari penulis. Goresan kata yang indah ini hendak mematri pesan bahwa sejak dini kita musti belajar tata krama agar kita menjadi orang berkarakter kuat di masa mendatang. Penulis merasa, ajaran luhur melalui syi’iran tersebut menjadi bekal utama dalam mengarungi kehidupan di masa kini. Bahkan, masih terus relevan hingga masa-masa mendatang.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rasa penasaran dan keinginan mengenang masa remaja yang penuh jadual sekolah, baik pagi maupun sore, membuat penulis kembali menelaah kitab tersebut. Belakangan, penulis tahu bahwa kitab syi’ir Ngudi Susilo ini dikarang oleh Allahuyarham KH Bisri Musthofa Rembang, ayahanda Mustasyar PBNU KH A Musthofa Bisri.

Kitab berisi 84 bait tersebut merupakan kitab berbahasa Jawa dalam bentuk sya’ir (puisi). Nama lengkapnya, Syi’ir Ngudi Susilo Suko Pitedah Kanthi Terwelo (Syair Belajar Akhlak yang memberi Petunjuk dengan Jelas). Buku antologi syi’iran berisi pelajaran budi pekerti atau akhlak ini ditulis Mbah Bisri Musthofa di Rembang, Jawa Tengah, pada bulan Jumadil Akhir 1373 H (1954 M).

Kitab tersebut kemudian dicetak oleh Penerbit Menara Kudus, di Kudus Jawa Tengah. Hampir seluruh madin di Jawa Tengah dan sebagian pondok pesantren menjadikan Syiir ini sebagai mata pelajaran hafalan untuk tingkat dasar. Teknik belajar di pesantren atau madin memang mengedepankan sistem hafalan. Sebab, sda kaidah yang menyebut bahwa pemahaman tak akan sempurna tanpa menghafal. Tegasnya, hafalan justru menguatkan pemahaman. Pada titik tertentu, hafalan juga bisa mengasah kecerdasan.

Satu hal yang penulis ingat, syiir ini didendangkan dengan irama membahagiakan. Kata Pak Guru waktu itu, irama yang digunakan adalah Bahar Rajaz yang diadopsi dari sastra Arab. Hal tersebut meneladani Nabi Muhammad sewaktu menyiapkan Perang Khandaq. Rasulullah SAW menggali parit sembari bernyanyi/bersyair riang gembira bersama para sahabat dengan irama Bahar Rajaz tersebut.

Berbakti kepada orang tua

“Kudu tresno ring ibune kang ngerumati # kawit cilik marang bopo kang gemati

Ibu bopo rewangono lamun repot # ojo koyo wong gemagus ingkang wangkot

Lamun ibu bopo prentah inggal tandang # ojo bantah ojo sengol ojo mampang”

Di bab-bab awal, KH Bisri Musthofa menjelaskan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua (ortu). Kata beliau, anak harus cinta kepada ibu yang telah merawat sejak kecil, juga pada ayah yang telah memberikan belain kasih sayang. Jika keduanya sibuk, sebagai anak kita harus membantu mereka. Jangan diam saja seperti anak sok kecakepan nan sombong. Lalu, jika ibu dan ayah memerintahkan sesuatu (selama tidak bertentangan dengan perintah agama) segeralah memenuhinya, jangan membantah sembari menunjukkan wajah marah.

Sudah tentu, bait-bait pertama ini seolah menyindir siapa saja yang berani melawan orang tua. Hemat penulis, karakter ini penting ditanamkan sejak dini kepada anak. Bait keempat, kelima dan keenam juga mendahulukan ibu daripada bapak. Ini juga pelajaran utama yang harus dikenang. Pasalnya, Rasulullah sendiri saat ditanya siapa yang musti dihormati, menjawab “ibumu” hingga tiga kali. Memang, derajat sang ibu lebih tinggi tiga tingkat dibanding ayah. Yakni, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Tiga tugas inilah yang tak mungkin tergantikan oleh siapapun.

Kemudian, sejak awal kita diingatkan agar juga menaruh hormat kepada orang tua lainnya. Terpenting lagi, kita diajari agar berkata dengan orang tua harus dengan halus dan pelan, namun jelas. Tidak boleh kasar, berkata jorok, dan marah-marah. Kalau orang tua duduk di bawah, jangan sampai anak duduk di atas. Jika orang tua tidur tidak boleh ramai. Kalau lagi membaca dipelankan, kalau lewat di depan orang tua harus punya tata karma. Kalau orang tua marah lebih baik diam, jangan mendebat.

Jika karakter dasar tersebut sudah tertanam kuat di benak sang anak, ke depan tinggal mengingatkan sembari menguatkan kembali jika teledor. Sikap-sikap terpuji ini sudah dikenalkan dan dipraktikkan sejak anak-anak belajar di madin. Tak berlebihan jika soal penguatan karakter ini menjadi tradisi lama bagi kaum Nahdliyin.

Relevansi penguatan karakter

Setelah menunjukkan tata krama kepada orang tua sebagaimana penulis paparkan di atas, Mbah Bisri Musthofa kemudian menguraikan isi kitab berikutnya dengan menurunkan tujuh bab penting, yakni: cara membagi waktu, adab di sekolah, adab di rumah/pulang sekolah, adab bersama guru, adab jika ada tamu, sikap/ perilaku yang sopan, dan cita-cita luhur. Nilai-nilai karakter positif dalam kitab besutan Mbah Bisri Musthofa tersebut pada titik tertentu memiliki relevansi penguatan karakter dalam “Nawa Cita” Jokowi.

Pada titik ini, penulis sepakat dengan Jauhar Hatta (2013) yang menyebut adanya sejumlah benang merah dari seluruh muatan kitab syi’ir tersebut jika dikaitkan dengan 18 karakter yang dikembangkan pemerintah sebagaimana dicanangkan Kemendikbud.

Pertama, religius. Sebagaimana termaktub dalam syair berikut:

kenthong subuh inggal tangi nuli adus # wudlu nuli sholat khusuk ingkang bagus

rampung sholat tandang gawe opo bahe # kang prayogo koyo nyaponi omahe

lamun ora iyo moco-moco quran # najan namung sithik dadiyo wiridan

budal ngaji awan bengi sekabehe # toto kromo lan adabe podo bahe

(Jika masuk waktu shubuh segera bangun lalu mandi, wudlu, kemudian sholat dengan khusyu’. Setelah sholat lalu beraktivitas apa saja yang baik seperti menyapu rumah. Jika tidak, bacalah Al-Qur’an, meski hanya sedikit hendaknya menjadi kebiasaan. Berangkat ke tempat mencari ilmu, baik siang maupun malam, sama saja tata krama dan adabnya).

Kedua, jujur. Perhatikan syair berikut:

Wahid Hasyim santri pondok gak sekolah # dadi mentri karo liyan ora kalah

kabeh mau gumantung ing sejo luhur # kanthi ngudi ilmu sarto laku jujur

(Wahid Hasyim santri pondok yang tidak sekolah, bisa jadi menteri dengan yang lain tidak kalah. Semua itu tergantung niat luhurnya, dengan disertai upaya mencari ilmu dan perilaku jujur).

Di bait-bait selanjutnya, Hatta yang juga Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini dengan teliti menemukan benang merah isi syair kitab ini dengan isu-isu kekinian. Misalnya toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, dan aneka karakter positif lainnya. Sudah tentu, isi kitab tersebut relevan sekali dengan pengembangan dunia pendidikan saat ini, terutama dalam penanaman akhlak, dan pengembangan karakter anak.?

Hal penting lainnya adalah pemakaian syair/lagu sebagai sarana pembelajaran dan pelestarian budaya daerah, khususnya bahasa Jawa. Ini menjadi kekuatan untuk terus menjaga kearifan lokal (local wisdom).

Kehadiran kitab Syi’ir Ngudi Susilo merupakan khazanah berharga bagi perkembangan karya tulis di Nusantara. Bangsa Indonesia, khususnya di pulau Jawa, sejak lama memakai syi’ir sebagai salah satu media pembelajaran. Banyak hal yang bisa diteladani dari kitab syair karya orator ulung asal Rembang ini. Satu di antaranya adalah pembelajaran dan penguatan karakter bagi anak didik.

Saran penulis, Mendikbud beserta jajarannya berkenan membaca sekaligus menelaah kitab sederhana namun membahana ini. Tak hanya Dirjen Pendidikan, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud mestinya turut melap-lap “intan permata” ini. Kalau perlu, kitab tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia agar bangsa ini bisa memetik inspirasi untuk membangun negeri.

Penulis pernah bersekolah di Madrasah Diniyah, kini tinggal di Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits, Ahlussunnah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 20 Desember 2017

Jeju, Permata Wisata Korea

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Jeju merupakan pulau terbesar di Korea Selatan yang memiliki otonomi khusus. Kini aktifitas utamanya adalah wisata dan pertanian. Setelah menjadi anggota salah satu tujuh keajaiban alam dunia bersama Komodo di Indonesia, pemerintah Jeju sangat aktif mempromosikannya untuk menarik turis datang ke pulau ini.

Sejak dahulu, tempat ini sudah dikenal sebagai pulau untuk bulan madu bagi warga Korea. Pada tahun 1970-an hanya ada satu penerbangan dari Seoul ke Jeju, kini setiap tahunnya, pulau ini dipadati oleh 10.5 juta turis, padahal penduduknya hanya 500 ribu jiwa. Pengelolaan tempat wisata secara profesional membuat wisatawan merasa nyaman dan puas dengan.

Jeju, Permata Wisata Korea (Sumber Gambar : Nu Online)
Jeju, Permata Wisata Korea (Sumber Gambar : Nu Online)

Jeju, Permata Wisata Korea

Dari bandara Gimpo, kami menggunakan pesawat Korean Air dengan waktu tempuh sekitar 1 jam penerbangan. Saya lihat tiketnya berharga 53.000 won. 1 won sekitar 10-11 rupiah, jadi kalau di rupiahkan harga tiket sekitar 550.000-600.000, sama dengan Indonesia, harga tersebut standar untuk penerbangan selama satu jam. Yang kami suka di bandara Korea, baik Incheon, Gimpo, atau Jeju, proses pengambilan bagasi sangat cepat. Begitu kami turun dari pesawat, hanya beberapa menit menunggu di tempat pengambilan bagasi, tas-tas bagasi sudah mulai muncul. Ini merupakan bagian dari tradisi kerja keras dan selalu ingin cepat orang Korea.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Satu masalah yang kami hadapi di Korea adalah urusan toilet. Di bandara, hotel, atau tempat rekreasi, toilet selalu menggunakan sensor elektronik. Begitu selesai kencing, beberapa detik kemudian air akan mengucur membersihkan tempat buang air. Orang Indonesia yang terbiasa “cebok” agak susah dengan gaya toilet canggih ini. Akhirnya, kebiasaan kami ketika di toilet, yang semakin sering dari biasanya karena udara yang dingin, terpaksa geser kiri-geser kanan atau mundur dulu agar air mengucur dan kami bisa menampung sedikit air di tangan untuk “cebok.” Untuk temen-teman perempuan, mereka kemana-mana bahkan harus membawa botol aqua kosong kalau sedang di toilet. Secara berseloroh, kami menyebut toiletnya “ngak Islami”. Orang Indonesia dari kecil diajarkan membersihkan kelaminnya setelah kencing.

Kami terbang dari Gimpo pukul 12.30 waktu setempat dan tiba di Jeju satu jam kemudian. Selama di pesawat kami gunakan untuk sedikit terlelap menghilangkan kepenatan akibat perjalanan panjang. Begitu turun, kami kembali segar. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selamat datang Jeju, acara jalan-jalan dimulai. Dengan menggunakan bis, tujuan pertama adalah batu kepala naga yang dalam bahasa Korea dikenal dengan nama Yongduam (yong=naga), yang lokasinya tak jauh dari Bandara, kira-kira hanya memerlukan waktu 10 menit dari bandara. 

Legenda menyatakan bahwa kurir raja naga dikirim ke Gunung Halla untuk mengumpulkan bullocho (herbal terkenal untuk memberikan hidup yang kekal). Utusan tersebut tewas oleh panah dari dewa gunung yang marah. Bagian tubuhnya tenggelam ke dalam air sementara kepala tetap di atas air ketika berusaha untuk kembali ke langit. Kalau menurut pendekatan ilmiah, batu berbentuk kepala naga ini merupakan hasil erupsi gunung berapi jutaan tahun lalu.

Masuk ke lokasi ini tidak di pungut tiket. Disini, kami belajar tentang tradisi dan kepercayaan orang Jeju. Banyak sekali rombongan wisatawan yang datang, terlihat dari seragam yang mereka kenakan. Tampaknya ada tradisi berwisata dengan baju seragam di Korea, beda dengan di Indonesia yang lebih memilih baju santai.

Kami hanya sebentar di lokasi ini, foto-foto. Saya sempat mengambil gambar Kiai Masdar, Prof Suwito, dan Prof Bambang Pranowo dengan latar belakang pantai dan gedung-gedung tinggi di seberangnya.

Kami selanjutnya bergerak ke Jalan Berhantu atau dalam bahasa lokal disebut Dokkaebi yang terletak di sebuah bukit di kaki gunung. Saya langsung terbayang Jabal Magnet di Arab Saudi yang katanya, karena tarikat magnet, mobil bisa jalan sendiri ke atas, melawan gravitasi. Jalan ini terkenal mulai tahun 1980-an ketika seorang sopir taksi mengantarkan satu pasangan yang sedang berbulan madu. Mereka berhenti di lokasi tersebut untuk foto-foto, tiba-tiba, mobil yang diparkir jalan sendiri, bukannya turun ke bawah, tapi malah naik ke atas dan mereka mengira ada hantu yang mengusiknya. Cerita tersebut akhirnya tersebar dari mulut ke mulut dan semakin banyak orang mencoba keajaiban tersebut. Karena semakin banyaknya orang mencoba, jalanan jadi macet dan pemerintah membuat jalan baru. 

Pada titik yang ditentukan, sopir bis mematikan mesin, dan ajaib, bis seperti bergerak naik ke atas, pelan, pelan dan semakin lama semakin kencang sampai akhirnya sopir menghidupkan lagi mesinnya. Kami tidak ada yang turun dari bis untuk lokasi ini. 

Bagaimana fenomena sesungguhnya dari kejadian ini. Sebenarnya, jalanan tersebut tidak menanjak, tetapi karena sekeliling jalan tersebut merupakan perbukitan, maka terjadi ilusi optik, seolah-olah jalan tersebut naik. 

Kini tujuan selanjutnya adalah Sumokwon Theme Park yang didalamnya terdapat museum es, pertunjukan film lima dimensi.

Dengan tiket seharga 7.000 won atau USD 7, kami bisa masuk museum yang didalamnya dipenuhi dengan patung-patung yang dibuat dari es. Sebelum masuk, petugas memberi selimut. Begitu masuk dalam ruangan, patung-patung indah terpahat dari es. Bagi kami yang berasal dari daerah tropis, destinasi ini sangat menarik. Hanya dalam beberapa menit, tubuh sudah menggigil kedinginan. Untung saja sebelum berangkat, kami sudah siap dengan pakaian tebal dan kaos tangan, bisa sedikit membantu. Tangan terasa beku, sudah tidak bisa merasakan lagi sentuhan. Tapi, kesempatan ini tidak kami sia-siakan, semuanya segera jeprat-jepret memilih lokasi terbaik, bergaya dengan posisi terindah untuk kenang kenangan atau narsis-narsisan di media sosial. Ada yang dibentuk seperti gua dengan stalaktitnya yang runcing-runcing, seolah-olah akan patah dan menusuk, ngeri juga membayangkannya bagaimana kalau benar-benar patah esnya. Ada pula patung beruang dan patung tradisional Jeju, tapi yang paling menarik adalah berfoto di depan iglo, rumah dari salju berbentuk kubah khas orang Eskimo yang selama ini hanya bisa dilihat di foto dan video saja. Kami antri bergaya di depan pintu masuk berbentuk lengkung yang diatasnya dibuat patung beruang. profesor dan kiai juga turut ambil angle terbaiknya. 

Untuk masuk harus sedikit merunduk. Saya masuk di dalam iglo tersebut dan didalamnya, tidak menjadi lebih dingin seperti bayangan saya semula. Didalamnya ada kursi dan ranjang yang terbuat dari es, kami bisa bergaya didalamnya, berfoto-foto sambil tiduran diatas es, he he he,… dingiiiin.

Dalam museum, juga ada luncur-luncuran dari es. Beberapa anggota rombongan pun meluncur dari atas, sambil menjerit-jerit kecil sambil ketawa cekikikan diatas luncuran yang dingin, sementara kawan kami yang dibawah diminta mengambil fotonya. Yah, kami kembali ke masa kecil yang mengasyikkan.

Kami selanjutnya pindah ke lantai dua, untuk menyaksikan pertunjukan film lima dimensi, tentu saja dengan menggunakan kacamata khusus. Untuk nonton pertunjukan, tiketnya berharga 5.000 won atau USD 5.

Ruangan berbentuk melingkar dan ditangahnya kami duduk di bangku-bangku yang telah disediakan. Begitu lampu dimatikan, dunia bawah lain seolah-olah muncul di depan mata dengan ikan yang berseliweran. Inilah hasil teknologi dan kreatifitas manusia yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, melampaui imajinasi.

Sebenarnya masih ada satu wahana lagi di lantai atas untuk berfoto-foto ria dengan background 3 dimensi, seolah olah kami  sedang surfing, terkena seruduk banteng, ditengah-tengah panasnya lava, dan lainnya. Sayang, waktu sudah mepet karena ada jadual pertemuan dengan Jeju Tourism Organization (JTO).

Kami disambut oleh Jinki Hwang, Overseas Promotion Assistant Manager yang mempromosikan Jeju sebagai destinasi yang layak untuk dikunjungi. CNN menasbihkan Jeju sebagai Asia’s new best weekend gateway dengan julukan “Hawaii of Korea”. UNESCO menempatkan Jeju sebagai biosphere reserver (2002) World Natural Heritage (2007) dan Global Geoparks (2010). 

Jeju juga sudah mulai membangun infrastruktur untuk wisatawan Muslim seperti layanan hotel untuk ruangan sholat dan penentuan arah kiblat serta makanan halal. Disini, sudah ada Cabang Federasi Muslim Korea, yang dipimpin oleh Shaikh Hji Bashir Kim Dae Yong, lulusan fakultas syariah Universitas Qatar.

Jumlah kunjungan turis dari Indonesia ke Jeju juga semakin meningkat. Tahun 2012, terdapat hampir 150 ribu turis ke Korea dan sekitar 24 ribu atau 15.9 persen berkunjung ke Jeju, meningkat dari tahun 2011 yang hanya 10.1 persen dan 2010 yang hanya 3.9 persen.

Kami sholat jamak dan qashar di sini seusai acara dengan memindah-mindahkan meja dan kursi yang sebelumnya digunakan untuk presentasi. Di ruangan tersebut sudah disediakan beberapa sajadah, Qur’an dan kompas kiblat. Kiai Masdar memimpin sholat jamaah ini.

Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah seharian capek bermain-main dengan di berbagai wahana, kini waktunya makan malam. JTO menjamu kami di Shangri La seafood buffet Jungmun Marine Park Pacific Land, sebuah restoran yang sangat populer di kawasan tersebut. Jungmun merupakan kawasan resort dan hotel terbaik di Jeju, seperti di Nusa Dua Bali. Disini juga dibangun sebuah convention center untuk menggelar berbagai acara besar.

Disini benar-benar makan besar, berbagai jenis makanan laut terhidang. Ada berbagai jenis sushi, makanan Jepang, biasanya daging ikan salmon yang diletakkan diatas kepalan kecil nasi yang dimakan sekali telan. Selain itu ada kerang, ikan, kepiting yang cukup besar juga udang yang merupakan hasil lain Jeju. Kami mencobanya sedikit-sedikit, menikmati petualangan rasa setelah sebelumnya menjalani petualangan fisik selama seharian. Harganya sih cukup menguras kantong rata-rata orang Indonesia, sekitar 500 ribu rupiah per kepala. 

Setelah kenyang menikmati hidangan yang lezat, kini waktunya merebahkan tubuh. Kami menginap di The Suite Hotel, salah satu hotel terbaik di Jungmun, yang nyaman untuk istirahat. Kami menyiapkan energi untuk petualangan esok hari. (mukafi niam) . Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 14 Desember 2017

PCINU Jerman Kirim Surat Terbuka Soal Pemberantasan Korupsi Jokowi

Kepada Yth. Presiden Republik Indonesia

Ir. H. Joko Widodo

di Jakarta

PCINU Jerman Kirim Surat Terbuka Soal Pemberantasan Korupsi Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Jerman Kirim Surat Terbuka Soal Pemberantasan Korupsi Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Jerman Kirim Surat Terbuka Soal Pemberantasan Korupsi Jokowi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Bapak Presiden yang kami hormati, kami ingin menyampaikan aspirasi masyarakat pecinta Indonesia bersih dan adil mengenai perkembangan penegakan hukum dan pemberantasan kejahatan korupsi di era Bapak menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Kita semua ingat bahwa reformasi bergulir untuk memperkuat sistem demokrasi yang ditopang oleh supremasi hukum yang berkeadilan sosial. Ini adalah visi kebangsaan dan cita-cita luhur yang tidak bisa ditawar-tawar.

Melihat perkembangan akhir-akhir ini, kami merasa terpukul dengan tidak adanya langkah kongkret dari pemimpin tertinggi negara dalam memperkuat perjuangan melawan kejahatan korupsi yang telah menghancurkan negeri ini dari berbagai aspek: sosial, politik, ekonomi dan mental. Oleh karena itu kami mengingatkan –jika memang Bapak Presiden sedang lupa– dan menyeru agar Bapak sebagai pemimpin tertinggi Republik Indonesia untuk,

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

(1) berada di garis terdepan memimpin langsung pemberantasan korupsi di Indonesia;

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

(2) tegas menolak berkompromi dengan segala macam jenis praktek korupsi dan oknum-oknumnya;

(3) menghentikan kriminalisasi terhadap para pegiat anti korupsi;

(4) segera melakukan reformasi mendasar pada Kepolisian Republik Indonesia; dan

(5) mengembalikan dan menegakkan supremasi hukum yang berkeadilan Demikian surat ini kami buat. Besar harapan kami Bapak Presiden segera melakukan langkah kongkret untuk menyelamatkan masa depan anak bangsa dari cengkraman kejahatan korupsi.Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,

Berlin, 6 Maret 2015

Komunitas Nahdlatul Ulama (NU) Jerman

Hormat kami,

Munirul Ikhwan & Zacky Khairul Umam

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits, Aswaja, Hikmah VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 09 Desember 2017

Pengusaha Ancam Tak Beli Garam, Petani Marahi Pemerintah

Pamekasan, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Para pengusaha garam mengancam tidak akan membeli garam hasil jerih payah petani Madura. Pasalnya, para pengusaha geram karena pemerintah cenderung abai dalam menyikapi bukti serap kaitannya dengan hasil garam di Madura khususnya di Pamekasan. Para petani pun memarahi pemerintah.

Pengusaha Ancam Tak Beli Garam, Petani Marahi Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengusaha Ancam Tak Beli Garam, Petani Marahi Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengusaha Ancam Tak Beli Garam, Petani Marahi Pemerintah

Hal itu mengemuka dalam hearing antara petani garam dengan pemerintah Pamekasan di Lantai II Gedung Pemkab Pamekasan, Rabu (16/1). Hearing tersebut dikomandani oleh Asosiasi Petani Garam Rakyat (APGAR), Faisol, dan dihadapi langsung oleh Kadisperindag Pamekasan Bambang Edy Suprapto.

Pertemuan tersebut cukup alot, dari sekitar pukul 09.00 hingga pukul 12.09. Ketua Komisi Garam Pamekasan yang tercatat Rektor Unira, Amiril, juga terlibat aktif dalam pertemuan tersebut.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Awalnya, pertemuan tersebut berlangsung datar. Tidak ada persetegangan. Namun, setelah bergulir beberapa jam kemudian, nuansa ketegangan mulai terasa. Faisol selaku Ketua APGAR, bahkan berani mengatakan bahwa pemerintah selama ini suka membuat peraturan garam untuk kemudian dilanggar sendiri.

“Kami katakan dilanggar sendiri, karena pemerintah tidak mampu mengeksekusi atau menghukum para pengusaha yang rakus dan membuat petani garam menjerit,” tegas Faisol sembari enggan menyebutkan para pengusaha yang mengancam tidak akan membeli garam.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sementara itu, Bambang Edy Suprapto menegaskan, setidaknya terdapat 53 ribu total serapan yang diajukan oleh pihaknya. Dan bukti serap yang dipersoalkan penguasaha, hakikatnya tidak berdasar.

“Pemerintah daerah akan berupaya untuk tetap melingdungi petani garam,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu ditegaskan, para petani masih merasakan dampak tataniaga garam yang masih rendah, akibat banyaknya garam impor mengalir ke madura.

Dikatakan Faisol, kondisi garam rakyat saat ini kian pelik. Sekalipun telah ada HPP garam konsumsi, harga garam rakyat justru merosot, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan harga tahun lalu.?

“Pemerintah juga telah menetapkan pembatasan impor garam, tetapi muncul indikasi rembesan garam impor yang memukul harga garam petani. Petani garam rakyat akan mati kalau terus dibiarkan bertarung dengan pengusaha, petani, dan arus garam impor. Petani tidak akan berdaya dan pasti kalah menghadapi kondisi pasar yang tidak sehat,” kata Faisol geram.

Bahkan Menurut Faisol, harga garam rakyat saat ini sulit terangkat karena masih ada produsen yang merusak pasar dengan memasarkan garam berharga rendah. Garam geo yang diproduksi PT Garam saat ini dipasarkan seharga Rp 600 per kg.

Padahal, katanya, garam merupakan komoditas strategis sebagai bahan pangan dan bahan baku industri sehingga kegiatan produksi, penyediaan, pengadaan, dan distribusi garam menjadi sangat penting dalam rangka menunjang masyarakat melalui program iodisasi dan peningkatan pendapatan serta kesejahteraan petani garam ataupun dalam rangka memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Untuk itu, para petani berharap ? pemerintah tegas untuk memberikan sanksi kepada pengusaha yang memaksa membeli garam impor, jika produksi garam rakyat masih mencukupi.

Siswadi, petani garam Galis yang hadir, menyatakan bahwa sinar matahari, air laut, dan angin adalah sangat dibutuhkan oleh petani garam. Tahun 2010, katanya, tidak ada sinar matahari sehingga tidak panen garam. “Tahun 2013 ini, setidaknya pemkab membantu dengan pengadaan mesin pemompa angin atau kincir angin,” tekannya.

H Fathorrahman, Petani Garam Pandan, Galis, menekankan bahwa pemerintah kurang serius menangani impor garam. Selama ini, pemerintah sebatas membuat peraturan saja. Tidak berani mengeksekusi perusahaan yang melanggar peraturan tersebut.?

Bambang Edy Suprapto, berkali-kali berdalih akan menyeriusi persoalan garam tersebut.

Sementara itu, Agus Sumantri, salah seorang aktivis asal Desa Pandan, Galis, yang getol menyuarakan hak petani garam, menyatakan bahwa pertemuan di atas hanyalah bagian dari strategi sok peduli kepada petani garam.

“Kita bisa lihat saja nanti, apakah pertemuan tersebut ada tindak lanjutnya atau tidak,” ujarnya dengan nada sinis saat berjumpa dengan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth di Jalan Kabupaten di depan Kantor DPRD Pamekasan.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Lomba, Hadits, Halaqoh VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 04 Desember 2017

Ratusan Warga NU Garut Gelar Pawai Syiar Aswaja

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth - Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Dano Kecamatan Leles Kabupaten Garut memiliki cara tersendiri dalam memperkuat pemahaman aswaja. Mereka mendukung pawai syiar Aswaja yang diikuti sedikitnya 1500 orang, Kamis (5/5).

Peserta pawai yang datang dari pelbagai daerah ini menempuh rute selama 2 jam perjalanan. Selama perjalanan para peserta mengampanyekan Islam Aswaja sambil bersholawat.

Ratusan Warga NU Garut Gelar Pawai Syiar Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Warga NU Garut Gelar Pawai Syiar Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Warga NU Garut Gelar Pawai Syiar Aswaja

Lomba membuat nasi tumpeng dan membuat jampana menambah kemeriahan pawai syiar Aswaja. Acara ini terselenggara atas kerjasama MUI dan Yayasan Al-Mustofa Tambakbaya Desa Dano. Kendati baru pertama kali digelar, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momentum perbaikan kualitas ibadah.

Menurut Katib Syuriyah NU Desa Dano Dadan Ahmad Zaini Dahlan, acara ini ditargetkan dapat memberi pemahaman yang mendalam kepada umat mengenai paham Ahlussunnah wal jama’ah.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Hal ini penting dilakukan di tengah kemunculan paham di luar Aswaja yang cenderung berbahaya,” kata Dadan. (Red Alhafiz K)

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 02 Desember 2017

Seluruh Persidangan Muktamar NU Didokumentasikan

Surabaya, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Panitia Muktamar Ke-33 NU tengah mempersiapkan segala perlengkapan dokumentasi. Dengan persiapan itu, mereka menginginkan setiap persidangan yang membahas kebijakan organisasi maupun permasalah hukum agama masuk dalam dokumantasi.

Seluruh Persidangan Muktamar NU Didokumentasikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Seluruh Persidangan Muktamar NU Didokumentasikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Seluruh Persidangan Muktamar NU Didokumentasikan

"Setidaknya ada 6 handycamp yang akan digunakan untuk merekam seluruh persidangan selama muktamar," kata Afif Amrullah kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth, Rabu (54/2).?

Sekretaris Panitia Daerah (Panda) Muktamar divisi dokumentasi ini menegaskan, ada 6 kru yang akan disiapkan di empat pesantren yang dijadikan sebagai lokasi sidang.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kebutuhan merekam seluruh sidang sebagai sarana untuk menjadi bukti sejarah bagi pelaksanaan muktamar kali ini. "Agar para pengurus, warga NU dan juga pengamat yang memiliki perhatian kepada dinamika jamiyah ini dapat mengetahui secara detil jalannya persidangan," kata alumnus pascasarjana UIN Sunan Ampel ini.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Seluruh kebutuhan dokumentasi ini telah disetujui pada rapat gabungan Panda Muktamar di aula PWNU Jatim, Selasa (24/2) petang kemarin.

"Dokumentasi yang disetujui saat rapat gabungan adalah berupa video maupun foto kegiatan selama sidang berlangsung," kata Afif. Dengan demikian, panitia akan memiliki dokumentasi yang memadai dalam merekam seluruh jalannya persidangan.

Bila tidak ada perubahan, pesantren Tebuireng Cukir akan digunakan untuk rapat komisi rekomendasi. Sedangkan pesantren Darul Ulum Peterongan membahas komisi program, dan komisi organisasi di pesantren Mambaul Maarif Denanyar. Untuk komisi bahtsul masail diniyah waqiiyah, maudluiyah, serta qonuniyyah dipusatkan di pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

"Ini masih akan dibicarakan lebih teknis lagi karena mempertimbangkan lokasi peserta dan ketersediaan gedung yang memungkinkan untuk menampung para peserta sidang," pungkasnya. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Penderita HIV Meningkat, Remaja Wonosobo Diimbau Hindari Pergaulan Bebas

Wonosobo, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Para remaja dan pelajar di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, diimbau mengendalikan diri dari pergaulan bebas menyusul meningkatnya jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) di daerah ini. Ironisnya, para penderita kebanyakan tengah memasuki usia produktif, yakni 24-35 tahun.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Wonosobo Ahmad Haryanto saat selapanan rutin (pertemuan bulanan) bersama Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Kejajar, Wonosobo, di Gedung Olah Raga (GOR) Desa Tieng, Kejajar, Selasa (19/11).

Penderita HIV Meningkat, Remaja Wonosobo Diimbau Hindari Pergaulan Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Penderita HIV Meningkat, Remaja Wonosobo Diimbau Hindari Pergaulan Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Penderita HIV Meningkat, Remaja Wonosobo Diimbau Hindari Pergaulan Bebas

Menurutnya, perlaku seks bebas di kalangan pelajar dan remaja sangat disayangkan, mengingat di usia produktif ini mereka semestinya memanfaatkan lebih banyak kesempatan untuk meraih prestasi atau melakukan hal positif lainya. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Untuk meminimalisir agar penyakit ini tidak semakin meluas, cara yang bisa dilakukan adalah dengan membentuk Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat (PIKM) , dimana para pengurusnya adalah mereka yang ahli di bidangnya,” tegas Ahmad Haryanto. 

Pengasuh Pondok Pesantren Nur Hidayah Kongsi Bumirejo, Mojotengah, Wonosobo, Hakim Muzaki, saat memberi taushiyah mendorong hadirin untuk meneladani semangat juang para ulama NU. Pelajar NU harus sanggup menggunakan masa mudanya untuk berkontribusi kepada NU dan bangsa. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWC NU) Kecamatan Kejajar, Mashud, mengaku senang dengan pertemuan PAC IPNU-IPPNU Kejajar kali ini. Tak hanya dihadiri kader IPNU-IPPNU ditingkat anak cabang tapi juga para pengurus di tingkat cabang. (Fathul Jamil/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits, Budaya, AlaNu VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 20 November 2017

Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela

Di mata sastrawan yang dikenal kritikus film dan fotografer, Seno Gumira Ajidarma, NU saat ini harus berperan dengan menggunakan media baru, didukung dengan teknologi, agar hasilnya maksimal. NU harus bergerak secara anggun dan pendekatan intelektual. Peran NU semacam itu ditunggu banyak orang. ?

Jika NU tidak melakukan hal semacam itu, menurut dia, dikhawatirkan Islam yang oleh sebagian kalangan diimagekan sebagai “keras” akan menjadi kebenaran umum. NU harus membersihkan image tersebut.?

Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela (Sumber Gambar : Nu Online)
Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela (Sumber Gambar : Nu Online)

Sastrawan: Kita Tunggu Islam Cerdas dan Pembela

Seno Gumira Ajidarma mengungkap usulan-usulan untuk NU saat ini selepas menjadi narasumber ngaji film dan sejarah dalam rangka peringatan harlah ke-91 NU yang berlangsung di gedung PBNU, Jakarta, Senin (30/1).?

Ia mennyampaikan usulan tersebut kepada Abdullah Alawi dari VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sembari menuruni tangga dari lantai delapan sampai lantai dasar. Berikut petikannya:?

Bisa cerita, tahu dan mengenal NU sejak kapan?

Sejak lama.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dalam konteks apa Anda mengenal NU?

Dalam konteks pembaca koran.

Melihatnya bagaimana?

Eksotik.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Maksudnya bagaimana?

Eksotik itu ya sesuatu yang tidak terlalu saya kenal, menarik, tampak indah; sampai sekarang saya juga tidak terlalu kenal. Artinya, saya hanya kenal mitosnya. Mitosnya apa ya, menarik, berwibawa, lama, lawasan gitu ya. Tapi itu omongan orang yang enggak kenal ya.?

Ada pengelaman bersentuhan dengan orang NU atau tokoh NU?

Kebetulan saya kenal Mbak Nur (Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, red.). Itu kan teman saya wartawan, di sebelah meja saya. Tidak seperti bayangan saya. Modern, pinter. Kemudian kenal Gus Dur. Kemudian kenal anak-anaknya, Yenny segala. Ya beda, memang, tapi jangan-jangan mereka tidak bisa mewakili NU. Begitu lho.?

Lalu bagaimana mitos itu ketika dikaitkan dengan kenyataan?

Kadang-kadang mitos itu pudar, tapi bukankah realitas lebih baik dari mitosnya?





Bisa usul tentang peran-peran yang harus dijalankan NU saat ini?

Dia mesti mencegah, melawan, dan menjelaskan segala sesuatu yang sekarang ini membingungkan. Image Islam yang keras, saya kira bisa dibersihkan oleh NU.?





NU potensial untuk itu?

NU potensial, punya, asal menjadi policy (kebijakan). Jadi, dia harus bergerak dengan anggun.?





Maksudnya anggun bagaimana?

Bergerak dengan intelektual, wawasan, konstruktif, menjelaskan keislaman yang benar itu kayak apa. Begitu. Membuat orang tidak pesimis terhadap Islam. Tidak sinis. Kalau yang ngomong orang NU kan menjadi sah. Kenapa? Karena dia orang yang mengerti agama gitu lho. Dia harus bicara. Semua orang menunggu-nunggu, kenapa intelektual Islam diam saja. Kenapa organisasi Islam diam saja. Menunggu-menunggu. Konferensi pers juga bisa. Media baru kan bisa bicara. Dan saya enggak percaya orang tidak mengerti media baru. Itu hal yang mudah sekali.?

(Image Islam keras) Itu harus dilawan karena kalau tidak lawan. Berita bohong akan menjadi kebenaran. Itu saja. Kenapa kebohongan menjadi kebenaran karena tidak ada alternatif lain. Mau tanya siapa, mau membaca apa. Orang NU harus masuk kepada media baru. Makanya saya bilang tadi, NU didirikan kan untuk syiar Islam. Sekarang medianya sudah ada untuk menggandakan itu tidak tergantung satu juru bicara, tidak tergantung satu da’i-da’i berbakat. Capek kan kalau orang ngomong terus, klik, klik, klik werrr…kita tunggu, dan kita-kita menunggu-menunggu bahwa Islam sebagai wacana kecerdasan dan pembelaan terhadap yang lemah termasuk yang lemah pikirannya itu menjadi nyata. Kapan disuplai? Begitu saya kira.?





NU sudah melakukan hal yang dimaksud. Namun belum maksimal.

Makanya itu kalau bersekutu dengan para ahli media baru, pasti itu gampang. Diajak saja. Dan NU belajar sendiri saja bisa, asal ada policynya. Nah, policynya saya kilik-kilik nih, sudah waktunya, sebelum semua orang bertambah bodoh.?

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Pendidikan, Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 07 November 2017

PMII Unas Sowan ke Deklarator Murnajati Bahas Independensi

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Beberapa kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Nasional mengadakan pertemuan dengan salah satu deklarator Independensi Murnajati, Profesor Umar Basalim pada Jumat (24/7) sore kemarin.

PMII Unas Sowan ke Deklarator Murnajati Bahas Independensi (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unas Sowan ke Deklarator Murnajati Bahas Independensi (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unas Sowan ke Deklarator Murnajati Bahas Independensi

Pertemuan yang membahas isu masuknya PMII menjadi badan otonom NU tersebut juga merupakan rangkaian silaturahim Idul Fitri.

"Pertemuan ini juga dalam rangka momen lebaran, kita silaturahim dengan orang tua kita yang juga mantan rektor Unas Prof Umar. Beliau juga merupakan pelaku sejarah Deklarasi independensi Murnajati," kata Satria Permana, Ketua Komisariat PMII UNAS.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dalam agenda itu, Prof Umar menceritakan konstelasi saat deklarasi tahun 1972 tersebut.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Saat itu tentu beda dengan sekarang, dimana kita masih melihat NU sebagai partai yang mempunyai banyak kepentingan," ungkap mantan Sekretaris Jenderal MPR RI itu.

Sementara itu, perwakilan IKA PMII Unas Don Gusti Rao mengungkapkan pentingnya pertemuan ini dalam rangka konsolidasi internal PMII Unas dan DKI Jakarta.

"Silaturahim ini begitu penting mengingat akan dibahasnya PMII menjadi banom NU pada muktamar di Jombang Agustus nanti. Dan Prof Ubas adalah deklarator yang harus kita dengar pendapatnya secara objektif," tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa apapun keputusannya saat muktamar nanti, kader PMII harus tetap legowo.

"Soal keputusannya ya harus legowo, apapun itu. Meski secara pribadi saya menolak. Adanya pro kontra hal yang lumrah," tutup bendahara umum PKC PMII DKI Jakarta tersebut. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth IMNU, Budaya, Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 18 Oktober 2017

IPNU Bantah Dukung Partai Politik

Jakarta, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) membantah pihaknya telah mendukung partai politik tertentu.

IPNU Bantah Dukung Partai Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Bantah Dukung Partai Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Bantah Dukung Partai Politik

Ketua Umum PP IPNU Khairul Anam HS menegaskan bahwa, IPNU adalah organisasi independen, tidak terikat dengan partai politik manapun.

“Kalau ada oknum yang membawa nama institusi organisasi ke ranah praktis, maka mereka telah berada diluar jalur perjuangan khittah IPNU,” tegas Khairul Anam, dalam pers rilis kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth, Jakarta, Jumat, (8/2).

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jika ada oknum kader yang mengatasnamakan IPNU ke partai tertentu, akan menimbulkan bias informasi di ranah publik dan kalangan kader IPNU di seluruh Indonesia. Bias informasi ini akan merugikan NU secara umum, maupun IPNU secara khusus.

Maka dengan ini PP IPNU menyatakan bahwa IPNU adalah organisasi pelajar yang bergerak di bidang pengawalan dan pelaksanaan pendidikan dan pengkaderan anak muda NU. Kedua, Membantah adanya keterlibatan beberapa oknum yang mengatasnamakan sebagai pengurus IPNU yang mencoba berafiliasi ke partai politik tertentu.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ketiga, bahwa, adanya kader IPNU, yang mengatasnamakan pengurus IPNU yang mencoba membawa IPNU ke politik praktis, adalah atas nama individu, bukan atas nama organisasi. Karena hingga detik ini belum ada pihak yang berkonsultasi dengan kami, Pengurus Pusat IPNU, selaku pemegang mandat tertinggi organsasi terkait masuknya.

Keempat, oleh karena itu, PP IPNU menyatakan bahwa kalau ada oknum yang membawa nama institusi organisasi ke ranah praktis, maka mereka telah berada di luar jalur perjuangan khittah IPNU. Kelima, apabil ada pengurus IPNU di semua tingkatan, tanpa kecuali, yang masuk dalam kepengurusan partai politik, itu merupakan hak dasar perorangan dan diharuskan untuk mengundurkan diri dari kepengurusan IPNU seperti yang diatur dalam PD/ PRT yang merupakan aturan hukum yang mengikat seluruh kader IPNU.

Pers rilis yang ditandatangani Ketua PP IPNU Khairul Anam HS dan Sekretaris Jenderal PP IPNU H. Muhammad Nahdhy ini, merupakan bantahan pemberitaan di media massa, bahwa sebanyak 48 aktivis muda Nahdlatul Ulama menyatakan bergabung ke Partai NasDem.

Beberapa aktivis yang masuk ke partai tersebut mengklaim tergabung dalam kepengurusan berbagai organisasi yang bernaung dibawah NU, salah satunya IPNU.

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Senin, 25 September 2017

PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting

Pringsewu, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Ketertiban dan kelengkapan administrasi dalam sebuah organisasi merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh pengurus. Tertib administrasi dimaksudkan untuk menunjang kelancaran semua program yang telah disusun sekaligus cermin keseriusan dalam mengelola organisasi.

Pentingya hal tersebut ditindak lanjuti oleh PCNU Pringsewu dengan menggelar Lomba Majelis Wakil Cabang Nahadlatul Ulama (MWCNU) dan Ranting NU sehat yang penilaiannya digelar selama 4 bulan mulai Februari sampai dengan Mei 2016.?

PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pringsewu Gelar Lomba Kelengkapan Administrasi MWC dan Ranting

Kegiatan yang merupakan salah satu rangkaian menyambut Harlah ke-93 NU pada 16 Rajab 1437 H ini akan menilai sisi kelengkapan administrasi organisasi disamping beberapa kriteria lainnya.

Menurut Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim, Lomba ini diharapkan dapat memicu kesemangatan NU di tingkat kecamatan dan ranting untuk menata ulang keadministrasian masing masing.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

"Surat menyurat, dokumen kegiatan dan keberadaan Plang merupakan perwajahan sebuah organisasi. Hal ini juga bisa menjadi tolok ukur keaktifan dan keberhasilan organisasi," katanya, Rabu (17/02/16).

Taufiq menambahkan bahwa Lomba ini akan diikuti oleh seluruh tingkatan kepengurusan yang terdiri 9 MWC dan 124 Ranting yang ada di Kabupaten Pringsewu. "Untuk memperlancar program ini, PCNU Pringsewu telah menyusun Tim yang bertugas menilai kelengkapan yang telah ditentukan serta Tim Pendamping yang bertugas membina serta mengarahkan hal-hal yang diperlukan untuk menyukseskan lomba ini," jelasnya.

Untuk memberikan stimulus dalam kegiatan Lomba ini, PCNU Pringsewu, jelas Taufiq, sudah menyiapkan bentuk Apresiasi bagi pemenang lomba. "Bagi MWC dan Ranting yang memiliki kelengkapan administrasi paling lengkap akan mendapatkan satu set komputer dan dana pembinaan," terang Taufiq sekaligus berharap Komputer tersebut dapat membantu kelancaran administrasi organisasi.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Taufiq juga berharap setelah program ini dilaksanakan seluruh tingkatan dapat mempertahankan ketertiban administrasi yang telah disusun selama lomba. "Tentunya tertib organisasi ini tidak hanya dilakukan selama lomba saja namun setelah lomba selesai semua tingkatan dapat mempertahankannya sekaligus merawat dokumen organisasi untuk kelanjutan program di masa yang akan datang," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock