Sabtu, 17 Maret 2018

PCNU Probolinggo Luncurkan KBIH NU

Probolinggo, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo secara resmi meluncurkan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) NU, Ahad (13/12) sore. Peluncuran ini disaksikan kurang lebih 127 orang calon jamaah haji yang akan berangkat tahun 2016 mendatang.

PCNU Probolinggo Luncurkan KBIH NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Probolinggo Luncurkan KBIH NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Probolinggo Luncurkan KBIH NU

Kegiatan yang dilakukan di Kantor PCNU Kabupaten Probolinggo di Desa Warujinggo Kecamatan Leces ini dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin Al Hariri, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi, Ketua IPHI Kabupaten Probolinggo KH Masrur Nashor, Ketua KBIH NU KH Taufiq Sholih dan Kasubbag TU Kemenag Kabupaten Probolinggo H Atok Illah.

Ketua KBIH NU Kabupaten Probolinggo KH Taufiq Sholih mengatakan, KBIH NU akan siap mengantarkan para jamaah haji asal Kabupaten Probolinggo supaya bisa memahami manasik, tata cara ibadah haji, rukun dan wajib haji.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Petugas KBIH NU juga akan mengawal perjalanan calon jamaah haji sampai perjalanan di tanah suci, termasuk ziarah ke beberapa tempat bersejarah di Makkah dan Madinah,” katanya.

Menurut Kiai Taufiq, launching sendiri bertujuan untuk mengenalkan bahwa PCNU Kabupaten Probolinggo sudah mempunyai KBIH sendiri dan siap memahamkan warga NU yang akan menunaikan ibadah haji. “Bergabung dengan KBIH NU berarti ikut berperan serta membesarkan NU,” jelasnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sementara Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi meminta agar calon jamaah haji mulai memperbaiki niat haji sejak awal. “Jangan haji karena faktor ingin disebut pak haji, abah atau sebutan lainnya. Intinya harus benar-benar diniati dari hati untuk beribadah kepada Allah SWT,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri. Dirinya berharap agar semua calon jamaah haji nantinya bisa menjalankan ibadah haji dengan baik. “Insya Allah para pembimbing di KBIH NU akan memberikan bimbingan dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Sedangkan Ketua IPHI Kabupaten Probolinggo KH Masrur Nashor menyampaikan bahwa merupakan sebuah langkah tepat jika para calon jamaah haji bergabung dengan KBIH NU. Sebab para tutor di PCNU Kabupaten Probolinggo sudah berpengalaman. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Daerah, Berita, Aswaja VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 14 Maret 2018

Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal

Oleh Nasrulloh Afandi

Bulan Ramadhan bukanlah momentum simbolis takwa massal. Tetapi di momentum yang hanya datang setahun sekali itu, setiap individual (Muslim) harus menjadikannya semaksimal mungkin ladang untuk menanamkan nilai-nilai positif yang relevan dengan seruan agama (Islam) muaranya untuk menghasilkan ketakwaan secara massal di ranah publik.?

Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, dari Individual Menuju Taqwa Massal

Yusuf Al-Qardhawi, dalam bukunya “Fiqhu Ash-Shiyam” , ia menegaskan, selain berbagai manfaatnya pencerahan – medis, psikologis, spritual, ? dan lainnya. Puasa Ramadhan sejatinya adalah sekolah unggulan untuk pendidikan yang sangat berharga, dan mempunyai arti tertinggi, dibuka oleh Islam setiap tahun, untuk setiap individu yang beriman kepada Allah SWT.

Perspektif ushul fiqih, Ia disebut Sar’un Man Qoblana (syariat yang sudah ada sejak masa umat para Nabi terdahulu) namun demikian, esensinya tetap sama, momentum menempa diri bagi setiap Muslim untuk menjadi lebih baik.?

Ditegaskan oleh firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S. Al-Baqoroh: 183)

“Puasa adalah syariat lama yang diwajibkan semenjak umat era Nabi pertama, Adam AS”, demikian komentar para ulama tafsir.?

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selain ibadah puasa kewajiban setiap muslim (Fardu ‘Ain) Rukun Islam ke-empat umat Nabi Muhammad. Di sisi lain sungguh merugi, jika (esensi) Ramadhan tidak maksimal dijadikan momentum evalusi dan penempaan diri, plus mendekatkan diri pada Allah SWT (taqorrub ilalloh) oleh setiap Muslim. Juga mengimplementasikan berbagai hal positif religius. Vertikal yang berkaitan dengan Sang Pencipta, maupun horizontal yang berkaitan dengan sesama hamba-Nya.

Imam Syafi’I berpendapat: Berbagai ibadah dalam beragama Islam, itu dilatar belakangi maksud diciptakannya makhluk.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Firman Allah SWT: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariat: 56)

Ramadhan adalah “garis start” Keberuntungan yang dianugerahkan kepada orang beriman. Identiknya, dengan datangnya Ramadhan, pasca-Ramadan nanti, setiap individu muslim bukan hanya (akan) Menjadi orang bertakwa kepada Allah SWT, untuk meraup “mutiara“ di luasnya "lautan” keberuntungan bernama Ramadan. Menjadi manusia yang lebih meningkatkan kualitas sumber daya dirinya dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan.?

Dalam tinjauan Maqhosid Asy-Syar’iah (tujuan Syariat) ibadah puasa Ramadan, esensinya adalah, agar orang yang beriman, bisa menjadi bagian dari orang-orang yang bertakwa (La’allakum Tattaqun) Ketakwaan dimaksud adalah, bukan hanya semasa bulan Ramadhan belaka, tetapi tetap bertakwa meski ? Idul Fitri berlalu, dan sampai dengan datangnya Ramadan tahun berikutnya.

Syeikh Abdul Qodir Jailani, dalam Tafsir Al-Jailani-nya menyimpulkan: Takwa adalah hasil dari sebuah pekerjaan (taat kepada Allah SWT) Dengan melaksanakan segala perintahnya, dan menjauhi segala larangannya. Hal itu diungkapkan dalam penafsirannya terhadap surat Al-Baqoroh ayat dua: “Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”(QS. Al-Baqoroh: 2)

Yang dimaksud oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani itu adalah, barang siapa yang menjadikan Alquran pedomannya, maka Ia akan menjadi bagian dari orang bertakwa. Alhasil takwa adalah “Honoris Causa” Bagi setiap pribadi orang beriman yang telah berusaha maksimal (dan mampu) tunduk pada Syariat Ilahi.

Hal ini, perspektif maqhosid syariah (tujuan syariat) menurut Syeikh Muhammad Ratib An-Nabulsy, salah satu ulama terkemuka asal Syiria. Ia berpendapat: ”Maksud Allah SWT yang Maha Agung memerintahkan kita untuk berpuasa adalah, agar kita bisa menjadi bagian dari golongan orang yang bertakwa. ? Dan Allah SWT memenuhi hati kita dengan petunjuk, dan untuk bisa membedakan antara perkara yang hak dan bathil”.

Kesadaran individual untuk massal

Hemat penulis, kesalehan atau ketakwaan massal nihil terwujud jika tidak diawali oleh kesalehan (kesadaran) masing-masing individu di dalamnya. Dengan implementasi unsur-unsur positif (agama) kesalehan dan hal-hal positif yang dimaksud adalah, bukan hanya yang berkaitan dengan Sang Pencipta (vertikal) tetapi juga yang erat dengan sesama manusia (horisontal). Hal itu identik dengan sebagian hikmah disyariatkannya puasa Ramadhan: Untuk mebentuk pribadi Muslim yang kian kokoh dalam mengamalkan atau menerapkan nilai-nilai positif, yang berkaitan dengan Illahi, maupun sesama insani.

Contoh kecil, jika di suatu keluarga misalnya, masing-masing anggota keluarga telah menjadi individu yang saleh, maka keluarga tersebut telah menempati posisi keluarga saleh. Yang akan merembet kepada tetangga, terus lingkungannya. Karena suatu lingkungan tidak bisa menempati posisi lingkungan saleh, jika masing-masing warga di lingkungan tersebut tidak menjadi keluarga saleh. Dan level seterusnya yang lebih luas.

Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS.At-Tahrim: 6)

Adalah jelas sebuah perintah dari Sang Pencipta, untuk memprioritaskan -- diri sendiri -- ? secara individual sebagai orang bertakwa, kemudian berikutnya barulah melebar ke level keluarga dan orang sekitarnya.

Kebalikannya, tentu ? jika di suatu lingkungan terdapat satu individu atau oknum keluarga yang rusak akhlaknya, maka dari jauh pun publik menilai bahwa lingkungan tersebut tidak religius, warga satu lingkungan kena getahnya.?

Alhasil, kondisi (proses) takwa, bagi totalitas suatu bangsa dan negara, harus diawali dari kesadaran dan upaya unsur-unsur individu yang berada dalam lingkup tersebut. Jika setiap individu muslim, maksimal dalam beramal ibadah di bulan Ramadhan, niscaya secara estafet suatu bangsa (akan) menjadi bangsa yang bertakwa secara masal dengan level nasional bahkan internasional, bukan? Efek samping simbolis “kesalehan massal”.

Empat mazhab fiqih (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) sepakat bahwa, autentisitas ibadah puasa adalah vertikal, hanya Allah SWT yang tahu. Tidak seperti ibadah lainnya yang terkadang masih bisa dibuat pura-pura dilaksakan di mata sesama manusia.

Di sisi lain, jika Ramadan diposisikan sebagai simbolis “kesalehan masal”, berisiko setiap individu terjangkit virus tangung jawab (beribadah) pribadinya kurang maksimal. Rawan ? menganggap Ramadhan sebagai “kewajiban bersama”, bukan momentum lautan pahala (unsur positif) dan proteksi untuk diri sendiri. Sehingga kurang bersemangat dalam menggapai anugerah Illahi untuk dirinya sendiri di bulan suci itu, dianggap “hajatan” massal belaka.

Publik Muslim memang dianjurkan untuk bersuka cita menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sayangnya, di ranah Muslimin Indonesia “akar rumput”, hal yang kurang tepat adalah, adalah memposisikan Ramadan sebagai momentum “kesalehan masal”, yang datang setahun sekali, sehingga banyak sekali yang salah kaprah. Dan beresiko sikap “tidak perlu” menyiapkan diri sendiri (individual) secara maksimal dalam menyambut datangnya bulan penuh Rahmat itu, dominan menyambut Ramadan secara “Simbolis massal” sebagai suatu “seremonial” tahunan.?

Di pranata Muslim Indonesia pun akut menjangkit, mulai mentradisi dan menguat. Bahkan terjadinya “pemutar balikan” fakta. Fenomenanya seolah-olah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan "tidak syah" jika tidak menjadi “orang Saleh” secara massal, bila perlu di muka publik, bahkan diekspose media. Cukup memprihatinkan.

Selamat melaksanakan berbagai ibadah di bulan Ramadhan. Mari kita (berusaha maksimal) menjadi individu bertakwa, sebagai upaya ? --partisipasi Individual-- menyumbangkan diri kita, untuk estafet membentuk totalitas sebuah bangsa yang bertakwa.***

Nasrulloh Afandi



Mustasyar PCINU Maroko. Pengajar senior Asy-Syafiiyyah Kedungwugu Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Hadits VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Sabtu, 10 Maret 2018

Wakil Rais ‘Aam PBNU Kritik Gerakan HTI dan FPI

Kubu Raya, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dalam Halaqah Alim Ulama NU yang digelar PWNU Kalimantan Barat di Pondok Pesantren Darul Ulum, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Ahad (30/4/2017), Wakil Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar mengungkapkan perlunya kewaspadaan warga NU terhadap organisasi transnasional seperti HTI, Wahabi, Syiah, termasuk Jaulah.

Wakil Rais ‘Aam PBNU Kritik Gerakan HTI dan FPI (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Rais ‘Aam PBNU Kritik Gerakan HTI dan FPI (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Rais ‘Aam PBNU Kritik Gerakan HTI dan FPI

"Kalau kita runut, kelompok ini adalah kelompok Khawarij. Karena mereka nolak madzhab," ujarnya.

Mengenai maraknya penolakan-penolakan terhadap kelompok tersebut, menurut Kiai Miftah adalah wajar. "Kalian datang melawan tradisi dan madzhab di Indonesia. Ingin membentuk madzhab dan akidah baru, secara frontal, jadi wajar ditolak," tandasnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Lebih lanjut, kata Kiai Miftah, penolakan terhadap kelompok transnasional ini semakin mengental lantaran kelompok tersebut juga ingin mengubah dasar negara RI, serta rajin menebar fitnah dan berita palsu.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kebiasaan menebar kabar dusta tanpa tabayyun itu juga kerap dilakukan oleh FPI. Laskar bentukan Habib Rizieq itu, menurut Kiai Miftah, juga kurang melakukan tabayyun. Sehingga FPI juga mendapat penolakan di berbagai tempat, termasuk di Kalbar.

"Ini kritik saya terhadap FPI. Meski amar maruf nahi munkar perlu diupayakan, tapi harus lebih santun. FPI juga sering bicara keras, menuduh kita (NU), tanpa tabayyun. Ini kekurangan FPI yang membuat banyak resistensi masyarakat," ungkapnya.

Kiai Miftah juga menyesalkan para pengurus FPI yang kurang selektif dalam rekrutmen anggotanya. Sehingga banyak anggota yang masuk berlatar belakang dendam dan menunggangi gerakan-gerakan FPI.

"Jadi banyak anggota FPI berlatar belakang tidak jelas. Sehingga malah menunggangi dan merusak citra FPI," ujarnya. Meski demikian, Kiai Miftah mengakui bahwa secara amaliah dan akidah, FPI serupa dengan NU. (Malik Mughni/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Berita VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Jumat, 09 Maret 2018

Koordinasi dengan Polisi, GP Ansor Subang Amankan Natal

Subang,VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Subang, Jawa Barat turut membantu mengamankan gereja saat perayaan hari Natal 2014.

Ketua GP Ansor Kabupaten Subang, Asep Alamsyah Heridinata mengatakan, sesuai instruksi dari pimpinan pusat, GP Ansor yang berada di tingkatan cabang harus turut serta pengamanan Hari Raya Natal.

Koordinasi dengan Polisi, GP Ansor Subang Amankan Natal (Sumber Gambar : Nu Online)
Koordinasi dengan Polisi, GP Ansor Subang Amankan Natal (Sumber Gambar : Nu Online)

Koordinasi dengan Polisi, GP Ansor Subang Amankan Natal

“Kita sudah istruksikan juga kepada seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor di semua kecamatan yang ada di Kabupaten Subang untuk mengerahkan pasukan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di tingkatan masing-masing untuk mengamankan gereja,” ujar Asep Rabu (24/12).

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dikatakan, salah satu titik pengamanan yang akan dilakukan pengamanan adalah gereja-gereja yang ada di kawasan Subang Pantai Utara (Pantura). “Namun tetap harus ada koordinasi dengan semua Kepolisian Sektor (Polsek) di masing-masing kecamatan,” katanya.

Sementara, Sekretaris PAC GP Ansor Kecamatan Pusakajaya, Rohmatullah menyatakan kesiapannya untuk mengerahkan puluhan anggota Banser yang ada di Satuan Koordinator Rayon (Satkoryon) Kecamatan Pusakajaya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Kita sudah siap akan amankan di Gereja yang ada di Pusakajaya, kita sudah koordinasi dengan  pihak gereja dan pihak Polsek Pusakajaya. Mereka pun menyambut baik dengan rencana kita, mudah-mudahan bisa berjalan dengan lancar,” kata Rohmatullah didampingi Komandan Satkoryon Banser Pusakajaya, Saefulloh.

Selain itu, lanjut dia, apa yang dilakukan GP Ansor yang merupakan bagian dari visi sayap organisasi Nahdlathul Ulama (NU) tersebut merupakan agenda rutin tahunan setiap perayaan hari Raya natal.

“Kita ingin menjaga prularitas, karena dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, kita dituntut untuk menjunjung tinggi nilai-nilai dan sikap toleransi sesama umat. Dan itu merupakan visi NU,” pungkasnya. (ade/alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Meme Islam VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Kamis, 08 Maret 2018

Muslim NTT Bangun Toleransi Lewat Ramadhan

Kota Kupang, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Selain mendorong peningkatan ketakwaan, puasa Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk membangun persatuan dan persaudaraan kemanusiaan. Ibadah puasa menitipkan pelajaran saling menghargai sesama kepada umat Islam tanpa melihat asal usul masing-masing.

Dalam acara buka puasa bersama di aula kediaman Gubernur Nusa Tenggara Timur di Kota Kupang, Senin (14/7), ustadz Muhammad Camuda dalam taushiyahnya mengajak umat Islam NTT untuk bersatu meningkatkan keimanan.

Muslim NTT Bangun Toleransi Lewat Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim NTT Bangun Toleransi Lewat Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim NTT Bangun Toleransi Lewat Ramadhan

“Keimanan dalam Islam mencakup keyakinan kepada rukun Iman dan menjaga kepercayaan terhadap sesama. Di sini letak substansi puasa. Muslim dan nonmuslim perlu perlu mempererat tali persaudaraan dengan menjunjung tinggi nilai toleransi,” kata ustadz Camuda di hadapan ratusan hadirin dari kalangan NU dan sejumlah ormas Islam lainnya.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Persaudaraan, lanjut ustadz Camuda, tidak mengenal agama, suku, dan budaya. Kalau rasa persaudaraan terbangun, maka satu sama lain akan saling melindungi.

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

“Contoh, kita tidak perlu memagar rumah dengan tembok yang setingi-tingginya. Kita cukup memagarnya dengan kebaikan. Jika kita baik terhadap sesama, maka tetangga kita dan orang lain yang akan menjaga rumah dan lingkungan kita,” tandas Camuda.

Wakil Gubernur NTT Beni Litel Noni dalam sambutannya membenarkan taushiyah agama Camudi. Bulan puasa bagi umat Islam NTT, menurut Beni, bulan penuh berkah.

“Puasa yang penuh hikmah ini harus dijadikan kesempatan agar kita saling menjaga suka cita di antara kita. Buka puasa bersama ini mencerminkan kita saling mengedepankan nilai toleransi antarkelompok beragama dan antarumat beragama yang ada di NTT,” tutup Beni. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Internasional VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Rabu, 07 Maret 2018

Makna Penyucian Jiwa

Oleh M Sadullah

--Jiwa adalah ruh. Dengan ruh, manusia bisa mengenal kebaikan dan juga bisa menangkap hal-hal yang baik bagi dirinya. Tidak hanya sebagai fungsi jasadinya saja, tetapi juga sebagai fungsi intelektual, penalaran, dan emosional. Oleh karena adanya sebuah ruh tersebut, fungsi-fungsi di atas dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

Marilah kita membayangkan sebuah besi. Besi itu fisiknya kuat. Dapat dipakai untuk konstruksi bangunan, menopang jembatan, menahan beban ratusan ton pada setiap harinya, lalu lalang kendaraan dengan muatan yang sangat berat. Ketika besi dicampur dengan baja, maka akan menjadi sedemikian tahan untuk menerima beban yang sangat berat. 

Makna Penyucian Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Penyucian Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Penyucian Jiwa

Pertanyaannya, Apakah besi suatu saat akan berkarat dan berkurang fungsinya? Jawabannya adalah iya. Pengurangan fungsi dan kekuatan terjadi karena karat tersebut. Demikian pula dengan ruh kita, suatu saat akan mengalami sifat dan hal-hal yang mengganggu fungsi dan kegunaan utama ruh itu sendiri. Ketika hal tersebut terjadi, akan berakibat pada berkurangnya fungsi dalam menangkap kebaikan. Pada saat itulah kita membutuhkan upaya untuk menyucikan jiwa kita. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Terkait konsep tentang penyucian jiwa, hal ini telah difirmankan oleh Allah SWT melalui, “Qad aflaha man tazakka”(sungguh bahagialah orang yang dapat menyucikan dirinya). Pada ayat selanjutnya diterangkan, “wadzakarasma rabbihi fa shalla” (kemudian mengingat Allah, asma Allah dan kemudian shalat). 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Mengingat di sini dapat bermakna mengingat Asma Allah, bisa juga bermakna lebih meningkat lagi yaitu mengingat Allah.Atau dapat pula dimaknai dengan hadirnya hati di dalam menyebut asma Allah, yaitu lisan kita menyebut dan hati kita mengingat-Nya. Lebih tinggi lagi dari hal tersebut adalah menghadirkan kebaikan-kebaikan di dalam pikiran, hati, dan perbuatan kita sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT. Itulah tingkatan berdzikir yang sangat tinggi. 

Berdzikir kepada Allah bisa berarti menyebut asma Allah, misalnya melafadzkan kata ”Allah, subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar dan hauqalah. Demikian bacaan dzikir bisa kita pelajari, terutama yang ma’tsurat seperti yang telah diajarkan oleh Rasullullah SAW. 

Kita menyebut asma Allah saja, sudah terbimbing pelan, selanjutnya berangsur ke pikiran dan hati kita. Apabila kita dapat memasukkan asma Allah yang baik itu dalam memori kita, berarti kita menyertakan ingatan kita pada saat menyebut nama Allah, maka kita mencapai tahap yang nomer dua. Apabila kita berusaha atau mewujudkan kebaikan yang Allah berikan kepada kita menjadi perbuatan, ucapan dan sikap kita, maka kita mencapai tahap dzikir yang nomer tiga, yaitu tahap dzikir yang sangat tinggi.

Mengapa kita perlu menyucikan jiwa? Penyucian jiwa itu menjadi penting, karena iman dan kebaikan manusia itu mengalami  pasang surut. Oleh karena manusia itu hidup dalam pergaulan antar sesamanya, perasaan manusia tidak semuanya stabil terus menerus, melainkan kadang-kadang sedih, bergembira, bersemangat, kurang semangat, maka penyucian jiwa itu penting bagi kita. 

Prof M Adnan dalam bukunya, Ta’yid Al Islam, disana dikutip bahwa hati manusia itu bisa berkarat. Kemudian orang-orang bertanya, “Apa obat bagi hati yang berkarat itu?”. Jawabnya, “Membaca Al-Qur’an dan mengingat kematian”.  Apa maksud dari hati yang berkarat itu? Artinya, kalau suatu saat hati kita merasa sulit menerima nasihat, sulit melaksanakan kebaikan,  putus harapan, lemah harapan dan lain sebagainya, saat itulah hati kita diperlukan penyucian jiwa untuk menjaga kesetabilan jiwa kita.

Apakah dalam penyucian jiwa itu harus menyertakan jasad, akal dan kalbu? Jawabnya, “betul”. Dalam penyucian jiwa, Allah SWT memberikan modal kepada kita yang berupa akal pikiran dan panca indera. Tidak hanya itu saja, ternyata Allah SWT memberikan kepada kita semua berupa ruh. Karena dengan ruh tersebut yang paling peka dalam menangkap kebaikan, yang dibantu dengan akal dan panca indera. 

Menurut keterangan Sayid Naqib Al Athas yang dikutip dari Imam Ghazali, ada sesuatu yang disebut dengan jiwa. Didalam jiwa ternyata ada akal. Dimana akal tersebut tidak sendirian dalam membentuk jiwa kita. Ia berkaitan dengan kalbu dan nafs. Akal adalah satu jenis kecakapan yang ada dalam diri kita yang membuat kita sadar dan memiliki kecerdasan. 

Dengan kecerdasan tersebut maka kita dapat mempunyai penalaran. Dengan penalaran maka kita bisa menyusun abstraksi, dan pengetahuan yang makin lama terhimpun semakin banyak. Itulah kemampuan akal manusia. 

Dalam jiwa juga ada kalbu (qalbu). Ketika kita melihat sesuatu sebagai bimbingan dari Tuhan, cahaya dari Tuhan, misalnya ini baik, ini menyelamatkan, maka pada saat itulah sisi kalbu yang bekerja. Contohnya, kalau kawan kita terbaring di rumah sakit maka kita akan merasa bersyukur kepada Allah SWT dengan nikmat kesehatan yang kita miliki. 

Selain itu, ada nafs. Nafs ini sesuatu yang berurusan dengan badan. Contohnya adalah, kalau kita membutuhkan makan dan minum, maka kita merasakan haus dan lapar. 

Maka dari itu, disebut menyucikan jiwa apabila kita mengasah akal kita agar menjadi lebih cerdas, mengasah kalbu kita agar lebih peka dengan kebaikan, dan mengasah nafs kita agar peka terhadap gejala-gejala badaniyah yang kesemuanya kita arahkan dalam kebaikan. 

Mudah mudahan dengan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa ini kita semua mendapat berkahnya bulan Ramadhan, ibadah kita diterima oleh Allah, Amal kebaikan kita dilipat gandakan dan kualitas puasa kita lebih baik dari pada hari-hari sebelumnya. Wallahu A’lam.

M Sa’dullah, (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah, Purwokerto Banyumas dan Sekretaris LBM PCNU Banyumas).

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Pertandingan, Sholawat VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Selasa, 06 Maret 2018

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab

Bekasi, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth 

Siti Zubaidah, istri Muhammad Al-Zahra (MA)—pria yang meninggal dunia karena penyiksaan yang dilakukan massa setelah diduga mencuri amplifier dari sebuah mushala di Bekasi, menceritakan ada kenangan dari almarhum suamiya yang sangat berkesan dalam ingatannya.

“Ya dia selalu mengingatkan saya supaya memakai hijab. Saya kan orangnya tomboi, dia selalu mengingatkan saya,” ujar Zubaidah kepada VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth ketika ditemui di kediamannya di  Kampung Jati, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Sabtu (5/8) siang.

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab

Zubaidah sangat kehilangan suaminya, apalagi peristiwa yang menyebabkan suaminya meninggal dunia, sangat tidak manusiawi. 

Seperti diberitakan sebelumnya, MA, pria berusia 30 tahun, berprofesi sebagai ahli reparasi alat-alat elektronik diduga mencuri amplifier di mushala Al-Hidayah di Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Selasa (1/8) pukul 16.30 WIB. 

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Tuduhan itu membuat orang-orang melakukan pengejaran dan penyiksaan termasuk membakar MA hidup-hidup hingga menyebabkan kematiannya sekitar pukul 17.30 di Kampung Muara Rt.012/007 Desa Muara bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

“Sekarang nggak ada yang ngingetin lagi (agar selalu berjilbab),” kata perempuan berusia 25 tahun itu.

Zubaidah mengaku tidak mendapat firasat apa-apa sebelum peristiwa tersebut. Pagi hari sebelum berangkat, MA membuat papan untuk salon (sound system). 

“Saya baru tahu sekitar jam delapan pada malam harinya. Karena ada polisi yang memberi tahu dan mengantarkan jenazah suami saya,” tambah Zubaidah. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Warta, Ahlussunnah, Sholawat VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock