Muara Enim, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. NU akan terus menjadi kelompok yang ummatan wasathan. Yakni kelompok yang dapat hadir membangun masyarakat, budaya, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.
| Ini Penjelasan Umatan Wasathan Menurut Ketua Umum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online) |
Ini Penjelasan Umatan Wasathan Menurut Ketua Umum PBNU
Demikian ditegaskan Prof Dr KH Said Aqil Siroj dalam Tausyiah pembukan Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan akhir pekan lalu di Hotel Grand Zury, Jl Jendral Sudirman Talang Jawa Muara Enim, Sumsel.Setiap sikap tengah harus punya argumentasi ilmiah, lanjut Kiai Said, sehingga menjadi ummatan wasathan itu tidaklah mudah. Dimulai dari Imam Hasan Basri (21-110 H) yang mengingatkan umat Islam jangan larut dalam perpecahan politik antara syiah, jabariah, mu’tazilah, qadariah, dan murji’ah.
VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth
“Imam Hasan Basri berpesan, mari kita warisi dan ambil prinsip-prinsip Islam dan ilmu-ilmu keislaman kita kembangkan. Jangan hanya partai politik. Dari situlah muncul gerakkan ilmiah di kalangan tabi’ut tabi’in,“ tegas Guru Besar Bidang Tasawuf ini.Ketua Umum PBNU ini mencontohkan, moderat dalam berakidah (beriman) melahirkan sebuah konsep teologi ilmu kalam. Memahami akidah kalau hanya dengan al-Qur’an dan Hadis saja tidak akan meresap dalam hati. Tapi kalau didukung dengan teori-teori rasional, kreatifitas para ulama yang namanya ilmu kalam, maka bisa mengenal Allah dengan meresap.
VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth
“Allah Tuhan yang satu. Memiliki sifat yang wajib 20, yang mustahil 20 dan jaiz satu. Yang 20 dibagi lagi menjadi nafsiyah, salbiyah, ma’ani. Itu sebuah temuan. Hasil sikap tawasuth para ulama akidah menggabungkan antara al-Qur’an, Hadis dan mantiq aqliyah,” jelas Kiai lulusan Universitas Ummul Qura Makkah ini.Adapun sikap tawasut dalam ber-syariah, lanjut Kiai Said, melahirkan produk yang luar biasa, namanya ilmu fiqh. Tanpa fiqh, umat Islam tidak bisa berbuat banyak. Al-Qur’an memerintahkan umat Islam mendirikan shalat sebanyak 62 kali. Tapi al-Qur’an tidak menjelaskan berapa kali shalat yang wajib itu. Namanya apa shalat yang wajib itu? Tapi penjelasan itu ada di dalam hadis. Tapi hadis tidak menjelaskan syarat dan rukun shalat itu apa saja.
“Lalu, dari mana kita tahu shalat yang kita lakukan sekarang? Jawabannya dari ijtihadnya para ulama yang melahirkan ijma’ (konsensus). Ulama itu bukan kita, tapi Imam Hanafi, Imam Asy-Syafi’i, Imam Hanbali dan lainnya. Jadi siapa orang yang tidak mengikuti ulama, maka dia tidak akan bisa shalat sampai hari kiamat,” jelas Kiai kelahiran Cirebon ini.
Jauh sebelum NU dan NKRI lahir, tambahnya, Hadhratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sudah memiliki pandangan yang sangat visioner. Yakni dengan menggagas semangat agama (ukhuwah islamiyah) harus paralel dengan semangat berbangsa dan nasionalisme (ukhuwah wathaniyah).
Menurutnya, agama saja belum tentu bisa mempersatukan umat. Seperti kasus konflik saudara di beberapa negara di Timur Tengah yang terjadi sekarang. Makanya bagi NU, Indonesia bukan negara agama, tetapi darus salam. “Negara milik bersama yang di dalamnya banyak suku, agama, dan ras, sebagaimana keputusan dalam Muktamar Banjarmasin tahun 1936,” tandasnya. (Suhendra/Fathoni)
Dari Nu Online: nu.or.id
VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Quote, Pendidikan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth
