Minggu, 25 Desember 2016

Menjelang Hari Kemerdekaan, Gus Mus Revisi Puisi "Rasanya Baru Kemarin"

Rembang, VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945, ? KH Ahmad Mustofa Bisri merevisi puisinya berjudul ? Rasanya Baru Kemarin. Selain pengantian “setengah abad” menjadi "71 tahun", puisi yang pertama kali terbit tanggal 11 Agustus 1995 ini juga lebih disesuaikan konteks kekinian.?

Gus Mus, demikian kiai ini biasa disapa, menyentil lewat beberapa bait seperti “Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi. Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi”. Atau sentilan bernas, “Petinggi-petinggi yang dulu suka korupsi. Sudah banyak yang meneriakkan reformasi. Tanpa merasa risi”.

Berikut ini puisi Rasanya Baru Kemarin yang sudah direvisi dan dipublikasikan melalui akun resmi facebooknya, Ahmad Mustofa Bisri.

Menjelang Hari Kemerdekaan, Gus Mus Revisi Puisi Rasanya Baru Kemarin (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjelang Hari Kemerdekaan, Gus Mus Revisi Puisi Rasanya Baru Kemarin (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjelang Hari Kemerdekaan, Gus Mus Revisi Puisi "Rasanya Baru Kemarin"

Rasanya Baru Kemarin



VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth



Rasanya

Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

Atas nama kita menyiarkan dengan seksama

Kemerdekaan kita di hadapan dunia. Rasanya

Gaung pekik merdeka kita

Masih memantul-mantul tidak hanya

Dari para jurkam PDI saja.?

Rasanya

Baru kemarin.

Padahal sudah 71 tahun lamanya.

Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia

Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya

Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha

Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa

Sudah banyak yang turun tahta

Taruna-taruna sudah banyak yang jadi

Petinggi negeri

Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi

Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.

Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.

Petinggi-petinggi yang dulu suka korupsi

Sudah banyak yang meneriakkan reformasi.

Tanpa merasa risi

Rasanya baru kemarin

Rakyat yang selama ini terdaulat

sudah semakin pintar mendaulat

Pejabat yang tak kunjung merakyat

pun terus dihujat dan dilaknat

Rasanya baru kemarin

Padahal sudah enam puluh tahun lamanya

Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh

Padahal pembangunan badan

yang kemarin dibangga-banggakan

sudah mulai runtuh

Kemajuan semu masih terus menyeret dan mengurai

pelukan kasih banyak ibu-bapa

dari anak-anak kandung mereka

Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi

Masih terus menutup mata

banyak saudara terhadap saudaranya

Daging yang selama ini terus dimanjakan

kini sudah mulai kalap mengerikan

Ruh dan jiwa

sudah semakin tak ada harganya

Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan

para penguasa berlaku sewenang-wenang

kini sudah pandai menirukan

Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya

Semakin bertambah besar pengaruhnya

Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda

Kepentingan sendiri dan golongan

sudah semakin melecehkan kebersamaan

Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah 71 tahun kita merdeka.

....................

....................

....................

....................

Rasanya

Baru kemarin

Tokoh-tokoh angkatan empatlima

sudah banyak yang koma

Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah

banyak yang terbenam

Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya

sudah banyak yang tak jelas maunya

Rasanya

Baru kemarin*

(Hari ini ingin rasanya

Aku bertanya kepada mereka semua

Bagaimana rasanya merdeka?

Ingin rasanya?

bertanya kepada kalian semua

Sudahkah kalian

Benar-benar merdeka?)

*edisi revisi

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth Ulama VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth

VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Web Site berita Islam Indonesia, berita jihad dan berita dunia Islam. Dilengkapi artikel keislaman, konsultasi agama, kristologi, counter liberalisme, intelligent leaks, ruang khusus Muslimah dan Remaja.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA ISLAM : Voice of Al Islam - Voice of the Truth dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock